[Ini Bintan] jalan jalan ke Sentra Budidaya Ikan kerapu Pulau Bintan

Peternak kerapu sedang memberi pakan

Peternak kerapu sedang memberi pakan

Postingan kali ini melanjutkan cerita jalan jalaan murah meriah saya yang terdahulu di Pulau Bintan ini J, yeah… yang penting memanjakan diri sendiri itu perlu, tidak perlu liburan mahal mahal J, yang penting bisa jalan-jalan, foto-foto, makan-makan 🙂 .
Trip saya selanjutnya di pulau bintan adalah mengunjungi tempat yang terkenal dengan budidaya ikan Kerapu di Pulau bintan, tepatnya di Desa pengujan kecamatan teluk Bintan, Pulau Bintan J. Desa penghujan terdiri dari tiga bagian, Desa pengujan I diterdapat di pulau pengujan, dan Desa pengujan II dan pengujan III terdapat di daratan pulau bintan. Pulau pengujan (Desa pengujan I) dengan desa pengujan II dan pengujan III hanya terpisah dengan sebuah selat yang benama selat Bintan, daerah ini terkenal dengan hasil laut, tempat budidaya ikan kerapu dan bawal, serta restoran seafoodnya 🙂 , disana terdapat beberapa restoran yang menyajikan hidangan seafood, diantaranya yang terkenal adalah seafood Cia Yong, keistimewaan dari restoran seafood yang berada di selat bintan ini adalah, selain bahan olahan seafood yang masih segar (langsung dari penangkaran) , restoran disini juga terkenal murah di banding restoran seafood yang lain di pulau bintan J lainnya, sayang nya saya datang terlalu pagi yaitu pukul 7.30, jadi tidak bisa mencicipi hidangan seafood disana, karena restoran baru buka pukul 10.00.

tambak Ikan Tawar di Desa pengujan

tambak Ikan Tawar di Desa pengujan

Kekayaan hasil laut di daerah selat bintan baru baru ini dimanfaatkan dan di kelola dengan baik oleh masyarakat, setelah pembangunan balai pembibitan dan budidaya ikan kerapu dan bawal di kembangkan oleh pemerintah daerah pada tahun 2009. Hal ini terbukti berhasil dengan indicator hasil panen perdanan di tahun 2012 lalu, dengan hasil panen seberat 3 Ton yang bernilai jual Rp.500 juta. Desa Pengujan memang sangat strategis dijadikan sebagai pusat budidaya ikan kerapu, dikarenakan kondisi alam dan geografis yang sangat mumpuni. Benih dan anakan ikan kerapu sangat sensitive terhadap gangguan dari alam, seperti air yang bergelombang dan gangguan dari predatornya, karena desa penghujan terletak di daerah selat yang air nya tenang tanpa banyak aktivitas transportasi di perarain, maka desa ini sangat baik untuk bududaya ikan kerapu.

Bak Berisi alga sebagai pakan Rotifer

Bak Berisi alga sebagai pakan Rotifer

Disini Juga terdapat balai pembenihan, bangunan yang di bangun tahun 2009 ini terlihat sangat rapi dan terawat. Pagi itu saya berkesempatan untuk melihat proses produksi pakan buatan untuk larva (benih) ikan kerapu dan bawal. Sebagai orang awam yang tidak banyak tau tentang budidaya ikan, jadinya penasaran dengan proses membuatan pakan larva ini sehingga banyak bertanya 🙂 untunglah petugas yang baik hati itu mau berbagi informasi dengan saya yang awam ini :).

bak yang berisi Alga sebagai cikal bakal pakan Larva (Benih)

bak yang berisi Alga sebagai cikal bakal pakan Larva (Benih)

Nah.. menurut petugas tersebut, larva yang berusai 0-3 hari hanya berbentuk gelembung berisi cairan yang merupakan perut larva, setelah 4 hari gelemung trsebut mongering dan larva pun sudah mulai menampakkan wujud seperti ikan, sudah ada kepala dan ekornya, ketika usia larva sudah lebih dari 4 hari, larva harus di supply dengan pakan buatan yang berupa Rotifer.

Foto diambil dari google

Larva (Foto diambil dari google)

Sesuai dengan habitat aslinya Rotifer adalah sejenis bakteri di dalam air yang merupakan pakan dari larva, setelah agak besar dan sudah berbentuk layaknya ikan, bibit bibit ini baru di lepas kedalam keramba yang terdapat tidak jauh dari palai pembenihan. Ketika sudah didalam keramba, bibit ikan sudah bisa dberi pakan berupa pellet.

Ikan kerapu yang di budidayakan didaerah ini adalah jenis ikan kerapu Macan, dipasaran di pulau bintan biasanya dihargai Rp.35000/Kg nya. Ikan jenis ini akan mahal harganya ketika sudah memasuki berat idealnya, yaitu sekitar 500-1000 gram, jika melebihi berat tersebut biasanya harganya menjadi lebih murah,  lagi lagi saya yang awam ini terheran, kenapa kok makin berat justru harganya turun, ternyata setelah di jelaskan oleh petugas pembibitan baru saya faham… 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s