Masjid Agung Pondok Tinggi, Sebuah Mahakarya dari semangat Gotong Royong

9301473989_4b565a7d7e_o

Penulis ingat sekali suasana ketika subuh di kota sungai penuh kerinci. Lantunan suara adzan yang bersahut sahutan dan dipantulkan oleh dinding dinding bukit barisan yang mengelilingi kota sungai penuh , seolah olah sebuah lubang resonansi, membuat merdu suara adzan menggema memecah keheningan subuh di lembah kerinci. Masyarakat kerinci telah memeluk islam sejak lama, terbukti dengan adanya beberapa masjid tua yang telah berusia ratusan tahun, salah satunya adalah Masjid Agung Pondok Tinggi di Kota sungai penuh.

IMG_2307

Masjid agung pondok tinggi telah berusia 140-an tahun, sejak pertama didirikan secara bergotong royong oleh masyarakat pondok tinggi pada 1 Juni 1874, masjid yang berbahan dasar kayu ini kokoh berdiri hingga kini meskipun dalam perjalanan waktu, kerinci pernah terjadi gempa besar sebanyak 3 kali dan beberpa gempa kecil, namun Masjid ini tetap kokoh dan digunakan sebagaimana fungsinya hingga sekarang. Masjid agung adalah saksi sejarah dan bukti bahwa sifat gotong royong adalah salah satu budaya bangsa ini, Dimana dalam pembangunannnya melibatkan seluruh masyarakat pondonk tinggi Tua, muda, Laki laki maupun perempuan. Mulai dari pengumpulan material kayu, meramu kayu, mendirikan tiang tiang utama masjid, dan menyediakan makanan bagi masyarakat yang berkerja.
Masjid ini awalnya hanya terdiri dari bangunan sederhana beratap ijuk, dinding yang terbuat dari bamboo bulat, ditegakkan dan disusun sedemikian rupa, namun telah mengalami beberapa perubahan terutama pada atap dan dinding, selebihnya masih dalam kondisi aslinya. Pada tahun 1953, Bpk Moh.Hatta, wakil presiden kala itu sempat berkunjung ke masjid ini dan meresmikan nama masjid ini menjadi masjid Agung Pondok tinggi dari nama masjid pondok tinggi sebelumnya, saat itu Kerinci masih menjadi bagian dari Pesisir selatan Sumatra Barat. Pada kunjungan tersebut wakil Presiden sangat terkagum dengan keberadaan masjid ini dan berpesan agar masyarakat pondok tinggi terus menjaga keasliannya.

DSCF4893

Selain bentuk dan kostruksi bangunan yang membuat penulis terkagum, ide pembangunan dari bentuk bangunan masjid juga mengandung makna yang menarik , bukti sebuah ide yang mendalam untuk pembangunan masjid ini.
Pada bangunan atap berbentuk limas yang tak lazim seperti kubah masjid pada umumnya mengandung beberapa makna dalam bahasa pondok tinggi diantaranya sebagai berikut;

1. “Bapucouk Satau” yang artinya Ber-atap satu, bangunan Masjid Agung terdiri dari satu atap, dimana mengandung makna selalu tunduk atas syarak atau aturan dari yang “Satu” ALLAH SWT dan satu pemimpin adat adat yaitu Depati Payung pondok tinggi
2. “Barampek Jure” yang berarti Empat sisi, bangunan masjid yang berbentuk segi empat ini dimana keempat sisinya mengandung makna para empat tokoh di pondok tinggi yang terdiri dari empat Rio atau Ninik Mamak, dan Empat Imam pegawai masjid yang mana berkerja sama dengan depati untuk membangun masyarakat dan agama di pondok tinggi
3. “Betingkat tige”. Atap masjid yang memiliki tiga tingkatan, memiliki makna “Sko nan tige takah” atau Tiga tingkatan Pusaka di Masyarakat pondok tinggi yaitu Sko Taganai, Sko Ninik Mamak , dan Sko Depati. Dan bisa artikan masjid Agung ini dijaga layaknya pusaka bagi masyarakat pondok tinggi.

Bangunan masjid di topang oleh 36 buah yang di bagi menjadi empat kelompok, terdiri dari

– Tiang panjang sambilea, terdiri dari 4 Tiang, yang merupakan tiang utama atau disebut “Tian Tuao”, masing masing tiang berjarak 10-11 meter, luas keempat tiang ini konon menyamaai luas kabbah di baitullah dan di dasarnya tiang tertanambenda logam dari Emas.
– Tiang panjang limaou, 8 tiang, dengan panjang tiang sekitar lima depa atau kurang lebih 8 meter.
– Tiang panjang Duea, adalah tiang paling besar berukuran dua depa atau kurang lebih 3.4 meter, untuk menopang dinding masjid yang sekarang terdapat 23 buah tiang
– Tiang Gantung, “tiang gantung” terdiri dari dua tiang yang berfungsi untuk menopang puncak masjid yang tingginya sekitar 7 meter, dan .tiang gantung sambut.

IMAG1983

Uniknya bangunan masjid Agung pondok tinggi ini tidak menggunakan Paku atau logam, kayu yang digunakan adalah jenis kayu yang keras dan tidak dimakan rayap, masyarakat menyebut jenis kayu ini dengan “kayu latae” atau “kayu Tuai”, didapat dari hutan di sekitaran wilayah kerinci. Dinding dan tiang diukir dengan ukiran ukiran dengan pola tumbuhan, seperti pola bunga teratai dan tumbuhan pakis.
Jika menara masjid pada umunya terletak di luar masjid, namun Masjid agung pondok tinggi menaranya redapat di dalam Masjid, digunakan untuk mengumandakan adzan dahulu nya, hingga saat ini menara masih ada, namun tidak digunakan lagi untuk adzan, menara dihubungkan dengan sebuah tangga tangga, untuk muadzin naik keatasnya. Jumlah anak tangga yang terdiri dari 17 anak tangga memiliki symbol jumlah raka’at shalat wajib bagi umat muslim yang harus dilaksanakan dalam satu hari.

IMAG1981

Masjid agung didirikan dari hasil musyawarah penduduk desa pondok tinggi pada zaman dahulu, masyarakat pondok tinggi dahulunya sepakat untuk membuat sebuah masjid yang besar dan megah. Sebelum sebuah rapat besar untuk rencanana pembangunan masjid ini dilaksanakan, diadakanlah rapat kecil di setiap “Rio” atau lurah bersama para depati dan ninik mamak dari masing masing lurah. Pembangunan masjid ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat dahulunya, Pemuka adat, dan agama, pemuda, laki laki dan perempuan. Setelah kesepakatan untuk membuat sebuah masjid yang megah ini terbentuk, masyarakat secara beramai ramai mencari bahan kayu kedalam rimba dimana banyak terdapat kayu “Latea” dan kayu “Tuai” yang merupakan material bermutu. Peramuan kayu dilakukan di dalam hutan secara bergotong royong oleh masyarakat, dikomandoi oleh Tukang yang ahli di bidang tersebut pada masa itu. Para pemuka agama memanjatkan doa selamat, perempuan-perempuan menabuh rebana menyemangati para pria yang berkerja menarik balok balok kayu besar dari tengah hutan menuju lokasi pembangunan masjid, disamping itu masyarakat dari setiap Rio secara bergiliran menyediakan makanan bagi yang berkerja tersebut.

Masjid agung adalah bukti sebuah mahakarya Indonesia dari semangat gotong Royong masyarakat di sekitarnya, nilai yang hanya dimiliki bangsa ini, gotong royong adalah budaya yang sudah ada jauh sebelum bangsa ini ada. Nilai yang mengedepankan kebersamaan, mementingkan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi dan menikmati hasilnya secara bersama sama. mudah mudahan dengan tetap dilestarikannya keberadaan masjid Agung Pondok tinggi, membuat terus terjaganya nilai nilai religious dan semangat gotong royong di masyarakat di sekitarnya.

 

Sumber referensi : publikasi Pengurus Masjid Agung Pondok Tinggi

Iklan

5 pemikiran pada “Masjid Agung Pondok Tinggi, Sebuah Mahakarya dari semangat Gotong Royong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s