Tradisi malam tujuh Likur, Bintan

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tradisi Malam Tujuh likur adalah sebuah bentuk ungkapan syukur dan suka cita masyarakat melayu Bintan yang telah menjadi tradisi turun temurun. Malam Tujuh Likur biasa di peringati pada malam ke 27 bulan ramadan. Minggu terakhir di bulan ramadan di percaya sebagai saat yang istimewa bagi umat islam, dimana pada minggu minggu terakhir di bulan ramadan, di percaya sebagai malam di turunkan nya Al-qur’an oleh Allah sebagai kitab suci yang dijadikan petunjuk oleh umat islam, di minggu terakhir dan malam malam ganjil nya itu pula di percaya ada sebuah malam yang istimewa, malam Lailatul Qadar. Malam yang dikenal sebagai malam seribu bulan, dimana pahala yang di ganjarkan atas ibadah pada malam itu akan diganjarkan pahala seperti beribadah selama seribu bulan. Maka dari itu, pada malam malam terakhir bulan ramadan, umat islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah pada malam hari dan beribadah di masjid. tiada yang tahu kapan malam istimewa itu datang, dan kepada siapa yang beruntung mendapatkannya, tiada yang tahu.

Meskipun sudah jarang di jumpai, Tradisi Tujuh Likur Di bintan masih di laksanakan oleh beberapa daerah di pulau bintan, seperti kampung tua Mentigi dan teluk sebong. Tradisi Malam tujuh likur menggambarkan semangat masyarakat muslim di pulau bintan untuk meraih keutamaan di sepuluh malam terakhir ramadan, dengan meningkatkan ibadah pada malam hari. Selain itu dalam tradisi ini masyarakat menyemarakkan suasana malam-malam akhir ramadan di perkampungan, jalan-jalan kampung, masjid dan mushala, hingga halaman rumah penduduk dihiasi pelita. Kegiatan semacam ini dilakukan secara swadaya dan gotong royong oleh masyarakat. selain jalanan kampung dan halaman rumah, gapura atau gerbang perkampungan dan masjid juga dihiasi sedemikian rupa dengan puluhan bahkan ratusan pelita. Suasana perkampungan sungguh terlihat bersemarak pada malam malam akhir ramadan. Tidak diketahui dengan pasti asal muasal tradisi malam Tujuh Likur, yang pasti di Indonesia tradisi ini di kenal di daerah dengan etnis melayu seperti Lampung, banjarmasin, bangka, Riau dan kepulauan Riau.

 

Iklan

2 pemikiran pada “Tradisi malam tujuh Likur, Bintan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s