Jelajah Lingga Bersepeda ( Persiapan II )

Salah satu hal yang paling mengasyikan dalam sebuah perjalanan selain perjalanan itu sendiri ialah ketika melakukan persiapan perjalanan. Persiapan  menyusun “itinerary” akan membiarkan  fikiran ber-imajinasi sejauh jauhnya, berandai-andai, bahkan sebagian orang di fase ini muncul perasaan bersemangat,  meledak ledak, ,  kadang seperti orang jatuh Cinta, menunggu seminggu saja rasanya begitu lama,  “over exiting” istilahnya.

Waktu yang di rencanakan semakin dekat, perasaan makin “exited”.  Tanggal keberangkatan  sudah saya  tentukan 27 januari 2017, cuti pun  sudah saya ajukan ke bagian personalia, sengaja saya pilih tanggal tersebut karena berbagai hal, salah satu pertimbangan utama ialah alasan kesiapan keuangan, dari awal saya rencanakan perjalanan ini akan di selesaikan dalam tiga hari saja, saya akan ambil jatah cuti satu hari di hari jumat, dan sisanya saya gunakan jatah libur saat weekend sabtu dan minggu, jadi saya bisa berhemat cuti yang akan saya gunakan di hari jumat tersebut.

Memilih Rute terbaik

1st_day_2_tour_daek_lingga_-_dabo

 

Saya melakukan reset kecil kecilan, salah satunya dengan mencari sumber sumber  di internet tentang catatan perjalanan ke pulau Lingga dan Singkep. Ada banyak catatan yang saya temukan di internet, informasi wisata sepertinya tidak susah di dapatkan tentang kabupaten lingga, kebanyakan catatan perjalanan bercerita tentang tempat tempat menarik yang dapat di kunjungi di kabupaten lingga, namun bagi saya informasi jalur bersepeda dan keadaan jalan di sana adalah yang utama harus saya ketahui lebih dulu. Akhirnya saya menemukan beberapa catatan perjalanan dari pesepeda, namun catatan rute  mereka umumnya  hanya langsung menuju kota atau tempat tempat wisata saja, sementara dalam  perjalnan ini saya berharap bisa menelusuri pulau Lingga dan Singkep.

Akhirnya saya minta saran dari sahabat saya  mas Roy Fadli. Mas Roy adalah  pemuda asal pulau Lingga. Ia  sering bolak balik Lingga dan tanjungpinang, karena kampung halaman nya di Lingga dan saat ini ia berkerja di kota tanjungpinang. Beberapa minggu sebelum berangkat saya kontak kontak dengan mas Roy, saya utarakan niat saya bersepeda kepadanya, kepada mas Roy saya sampaikan harapan untuk dapat bersepeda dari ujung utara pulau Lingga ke selatan dan meyeberang ke pulau singkep hingga berakhir di Kota Dabo Singkep. Dalam “chat” ia memandu saya memilihkan rute,  menyebutkan beberapa nama kampong yang dilalui sepanjang rute yang saya sendiri belum ketahui sebelumnya, saya catat nama nama kampong itu  dan telusuri dengan fasilitas “google Map”,  Ternyata saya beruntung, mas Roy  memilihkan saya rute  seperti yang saya harapakan, dari utara ke selatan, hingga saya bisa jelajahi pulau tersebut sekali jalan tanpa bolak-balik. Mas Roy menyarankan saya untuk memulai bersepeda Dari sungai Tenam, sebuah daerah di utara pulau Lingga.  Dengan beroperasinya pelabuhan Sungai tenam, maka memungkinkan saya untuk menjelajahi pulau ini dari utara ke selatan dengan sakali jalan, perjalanan akan di mulai dari Pelabuhan Sungai Tenam, Pancur, Resun dan Kota Daek sebagai pemberhentian terakhir di Pulau Lingga, dan kemudian menyeberang ke pulau singkep melalui pelabuhan penarik Di lingga menuju Jagoh (pulau Singkep) dan berakhir di Kota Dabo singkep di selatan pulau Singkep.

 

 “Partner” Menjelajah Jelajah Lingga,

Processed with VSCO with b1 preset

Satria Budi, Partner Jelajah Lingga

 

Dari awal saya yakinkan diri saya kalau saya akan memalukan perjalanan ini  hanya seorang diri. Sebenarnya bukan betul betul  niat untuk pergi sendiri, tepatnya saya pasrah. Karena saya fikir siapa sih yang mau menemani saya bersepeda sejauh itu, lagian ini misi pribadi, belum tentu orang lain mau ikut dalam misi ini, karena setiap orang tentu punya “goal” masing masing dalam perjalanan nya. Meskipun saya punya banyak rekan pesepeda, namun “goal” mereka bersepeda belum tentu cocok dengan tujuan saya bersepeda. Di perjalanan ini saya tidak menargetkan untuk sampai di suatu tempat dengan waktu tertentu, karena sepanjang perjalanan saya akan berhenti sesukanya, saya akan berhenti kalau fisik saya sudah letih, berhenti untuk memotret di tempat yang menurut saya menarik untuk di potret, berhenti untuk mengobrol dengan siapa saja yang asik diajak mengobrol yang saya jumpai sepanjang perjalanan, kalau bisa saya akan menikmati setiap jengkal perjalanan saya ini. Mungkin saja teman teman pesepeda saya yang lain bakal suntuk ngikutin saya, jarak cuma 30-an kilometer mungkin bisa jadi seharian jika bersepeda seperti saya. Saya tidak ingin egois memaksakan kehendak atau memanfaatkan orang lain untuk mencapai “goal” saya. Akhirnya, mau tidak mau saya harus yakin kan dan persiapkan diri maupun mental  untuk pergi seorang diri.

Rencana perjalanan ini hanya saya beritahukan kepada beberapa orang saja yang saya anggap perlu untuk saya beri tahu demi kelancaran perjalanan saya, yang terutama adalah istri, beberapa teman di Lingga, dan seorang teman komunitas sepeda. Pada suatu kesempatan, saya bercerita niat saya untuk bersepeda ke pulau lingga dengan Pak Budi, salah soerang rekan kerja yang juga aktif bersepeda, tujuan saya minimal minta “advice” dari  beliau yang lebih lebih dahulu kenal dunia sepeda jauh sebelum saya bersepeda. Di luar dugaan, pak Budi malah tertarik untuk ikut,“ biar saya kawal kamu” begitu katanya. Saya pun terkejut  tak menyangka beliau mau ikut, saya pun tegaskan kembali misi saya bersepeda  agar dia tidak salah pemahaman,  pak Budi pun menyatakan, “tidak ada masalah bagi saya, saya juga ingin bersepeda ke sana, belum pernah” katanya.  Saya pun tentu senang dapat partner, perjalanan akan makin seru sepertinya.

 

Perlengkapan Diri, Perlengkapan “camping”,  alat fotografi dan , “Lifie Jacket”

 

20161225_155251

mencoba Loading beban ke sepeda

 

Satu minggu sebelum berangkat saya telah menyiapkan “list” barang bawaan, barang bawaan saya kelompokan menjadi tiga, diantaranya perlengkapan diri seperti , sepeti pakaian ganti, peralatan mandi, beberapa peralatan P3K, dan beberapa bekal makanan buat mengganjal perut buat jaga jaga jika tak berjumpa penjual makanan. Selanjutnya adalah perlengkapan menginap. Saya sengaja menyiapkan perlengkapan menginap untuk jaga jaga sekiranya situasi memaksa saya menginap di jalan. Saya  bawa tenda kecil kapasitas dua orang, Matras tidur, sleeping bag. Dan yang terakir adalah peralatan fotografi.  perlengkapan fotografi saya bawa untuk mengabadi perjalanan dan memotret hal hal menarik yang saya jumpai di sepanjang perjalanan. Peralatan foto ini saya usahakan bawa seperlunya, menginat perlengkapan ini akan jadi beban saya yang paling berat diatas sepeda, saat itu saya membawa satu kamera DSLR, dengan 3 lensa diantara lensa dengan “range” lebar, lensa “zoom”, dan sebuah lensa tele, saat itu juga saya melengkapi dengan sebauh tripod dan sebuah filter lensa yang keduanya saya pinjam dari mas Arry dan Mas Heru, teman fotografer.

Selain terus latihan bersepeda tiap hari dalam jarak dekat tiap pagi sebelum berangkat kerja, saya juga sembari melengkapi semua kebutuhan perjalanan dan mempesiapkan segala sesuatu nya menjelang hari keberangkatan tiba. Hari yang di nanti nanti akhirnya akan datang, besok pagi adalah hari keberangkatan yang sudah di rencanakan. Perlengakapan mulai saya kumpulkan dan  masukkan kedalam tas pannier, Satu tas pannier penuh berisi perlengkapan diri, peralatan fotografi saya muat dalam tas kamera tipe selempang yang saya modifikasi agar bisa di gantung di depan stem sepeda. Tripod dan Tenda saya letakkan diatas “rack” belakang diantara dua tas pannier.

Satu lagi tas pannier berisikan matras dan sebuah “lifejacket” . Lifejacket…? Iya, saya juga membawa sebuah pelampung untuk keselamatan saat berlayar. Tinggal di kepualaun bertahun tahun tidak serta merta membuat saya berani untuk berpergian hilir mudik menggunakan alat ransportasi laut, malah jika musim sedang tidak bersahabat, jika tidak ada keperluan yang amat sangat penting sekali, saya tidak akan mau menyeberang. Beberapa hari sebelum hari keberangkatan, saya selalu memantau perkiraan cuaca dan gelobang laut yang selalu di “update” BMG, dalam kendaraan jemputan, tiap pagi  saya selalu  simak laporan BMG “via” radio, saat itu ada memang ada peringatan tentang gelombang dan arus laut yang kuat di perarain Natuna, anambas, bintan serta perairan Lingga, di tambah pula beberapa hari sebelum berangkat tersiar kabar sebuah kabal pengankut barang di kabarkan tenggelam di perarian Lingga saat berlayar dari Jambi menuju Tanjungpinang.  Ini bukan masalah takut atau berani mati, setiap orang, dimana saja, dan kapan saja tentua bisa saja tertimpa musibah, saya hanya berusaha membekalkan diri sebaik baik nya agar selamat, setelah itu biarlah Tuhan yang menentukan selanjutnya….

 

 Sepeda Masuk Bengkel Dinamo 

Sehari sebelum berangkat, sepeda saya kirim ke bengkel “Dimano”, Dinamo adalah nama sebuah bengkel sepeda di tanjunguban. kota kecil dimana saya tinggal. Sebelum berangkat, pak Sonny  pemilik bengkel mengecek kondisi sepeda, termasuk kerusakan yang terjadi saat touring tanjungpinang – tanjung uban beberapa minggu sebelum nya. Pada saat touring tersebut saya sengaja menjajal sepeda lawas merk Federal ini agar tampak “penyakit “nya, dan ternyata saya pun menjumpai “trouble”  pada sepeda saya saat touring itu , beruntung saat itu rombongan touring di dampingi oleh pak Sonny, sepeda saya di perbaiki “on the spot”, hingga bisa meluncur kembali. Saya bersyukur masalah pada sepeda saya sudah jumpai sebelum perjalanan yang sebenarnya.

Pak Sonny, telah mengecek semua kondisi sepeda, kondisi sudah siap untuk di ajak jalan. Sebelum berangkat saya membekalkan sepeda dengan sebuah ban dalam  untuk jaga jaga jika bocor , dan sebuah lampu senter LED yang keduanya saya beli dari bengkel pak Sonny. Saya membayar sebesar 120 ribu rupiah untuk dua item yang saya beli itu, sementara ongkos service di berikan gratis oleh pak Sonny, “ini sebagai bentuk support saya untuk kamu , saya juga dulu suka touring dan ingin melakukan touring sambil memotret, namun belum tersampaikan, semoga kamu sukses “ tutup pak Sonny.

Sepeda sudah “ready”, Besok pagi pagi sekali saya berangkat, meskipun telah larut malam saya baru bisa istirahat karena masih persiapan sana sini.

 

 

Bersambung….

Iklan

8 pemikiran pada “Jelajah Lingga Bersepeda ( Persiapan II )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s