[catper] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 1)

dsc_93330

Semalam saya tidur agak telat, meskipun telah jauh jauh hari segala sesuatu di persiapkan, namun tetap saja  disana sini masih keteteran, selalu saja mulai sibuk ketika waktu sudah mepet. Banyak hal dapat di ambil sebagai pelajaran ketika melakukan perjalanan, salah satunya adalah masalah disiplin, dalam mempersiapkan perjalanan, saya di tuntut belajar disiplin lebih baik lagi.

Pukul tiga dini hari saya sudah terbangun, mata sudah tidak ingin lagi di pejamkan, lagi pula tidak beberapa jam lagi waktu subuh tiba , saya akan berangkat lepas shalat subuh. Saya memanfaatkan waktu untuk mempersipakan diri sebelum berangkat. sarapan saya siapkan sendiri, sengaja istri tidak saya bangunkan, ini terlalu pagi. Saya pun sengaja membuat suasana rumah hening, agar  Daffa (3 tahun) anak saya tidak terbangun, saya bisa telat kalau dia bangun, karena pasti butuh waktu membujuk nya, karena kalau tau saya akan pergi, Daffa selalu  ingin ikut, kalau sudah begini harus dibujuk dahulu. Semalam Daffa ikut tidur telat tidak seperti biasanya, karena ikut pula sibuk sibuk membantu saya mempersipakan sepeda dan bawaan dalam tas pannier, saya sibuk memasukkan barang barang ke dalam tas pannier, sedangkan dia pun sibuk mengeluarkan nya.

Sayup sayup adzan subuh memecah keheningan subuh, bergegas saya tunaikan niat untuk shalat, diujung shalat saya berdoa lebih lama dari biasanya, dalam Do’a saya memohon kepada Tuhan atas harapan saya akan perjalanan ini, semoga saya di berikan kelancaran dan dilindungi selama perjalanan, di lindungi keluarga yang tinggalkan, dan supaya perjalanan ini bermanfaat bagi saya sendiri maupun orang lain nantinya.

Usai shalat, Tas pannier  EIGER saya naikkan ke atas rack belakang sepeda Federal saya, berikut sebuah tenda dan “tripod”, semua saya letakkan di belakang di rak bagian belakang. Sebuah tas kamera selempang Lowepro  sengaja saya bawa untuk menyimpan peralatan fotografi, di karenakan sepeda saya belum memiliki rak depan ,  maka tas kamera saya modifikasi sebelumnya, agar dapat di gantungkan di stem sepeda, supaya saya dapat dengan mudah meraih kamera setiap saat. 35Kg adalah berat keseluruhan bawaan yang sempat saya timbang saat itu.

Saya berganti pakaian dengan “seragam gowes”  yang sudah saya siapkan, celana “jeans” pendek sedengkul dengan atasan jersey komunitas sepeda tanjunguban saya kenakan. Karena  berhubung masih pagi dan dingin, saya melapis lagi jersey sepeda dengan sehelai baju kaos untuk mengurangi rasa dingin, sehelai baju kaos bertuliskan “wonderfulKepri” dipundak. Wondefulkepri adalah slogan atau branding yang dimiliki oleh Dinas Pariwisata Provonsi kepulauan Riau (KEPRI) untuk mempromosikan potensi pariwisata KEPRI. Sengaja saya siapkan beberapa kaos dengan “branding” tersebut  yang kebetulan saya memiliki,  tujuannya agar orang-orang di sepanjang perjalanan dengan mudah mengenali saya di sepanjang perjjalanan, kalau saya adalah rombongan pe-sepeda dari provinsi kepri .

Waktu sudah menunjukan pukul lima lewat sepuluh menit, istri sudah bangun sebelum nya, dan saya berpamitan. Dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka, saya melihat Daffa anak saya masih tertidur,  saya berharap dia tidak terbangun ketika saya pergi, saya tidak akan mengusik dia, namun dalam hati saya sudah merasakan kerinduan akan tingkah polahnya yang akan selalu terbayang bayang nanti, beberapa hari mungkin dia juga tidak akan melihat saya, pasti dia akan bertanya tanya. Akhirnya saya dekati dia dan cium kening Daffa yang sedang tertidur, sesekali dia mengeliat saat kening nya di cium, saya harus segera pergi, jangan sampai Daffa terbangun dan melihat saya pergi.

Saya rasa semuanya sudah lengkap, lampu depan sepeda dan lampu hijau berkedip kedip di belakang saya hidupkan, Sepeda saya tuntun keluar rumah, saya berpamitan pada istri, ketika melewati pintu rumah, dalam hati saya berdoa sekali lagi agar di lindungi oleh Tuhan selama perjalanan dan bisa berkumpul kembali bersama keluarga. Perasaan senang, sedih, dan gundah bercampur dalam hati, apapun bisa terjadi di perjalanan nanti, namun tugas saya selain harus siap menghadapi segala sesuatu yang terjadi, juga selanjutnya berserah diri pada yang Kuasa. Sepeda mulai saya kayuh pelan meninggalkan rumah, Jln. Bakti praja yang masih lengang dan gelap saya telusuri, saya mengambil jalan ini untuk memintas jalan menuju  Jln.Indunsuri yang merupakan salah satu jalan utama keluar masuk kota tanjunguban. Saya akan memilih menggunakan jalur lintas barat untuk mencapai kota tanjungpinang, Karena jalan ini bisa di tempuh lebih cepat dibanding jalan Lintas tengah.

Sehari sebelum berangkat saya sudah janjian dengan pak Budi, partner gowes saya dalam perjalanan ini. Pak budi Tinggal di daeral Lobam, kurang lebih 15km dari tempat saya tinggal. Pagi ini, kami janjian  akan berjumpa lepas shalat subuh di halte  pertigaan RSUD tanjung uban. tak lama meninggalkan rumah menuju  halte tempat pertemuan, saya sudah diuji dengan  tanjankan panjang di depan gereja katolik Jln. Indunsuri yang berujung di tanjakan “bukit celake”, dua tanjakan tersebut berhasil membuat saya tidak kedinginan lagi, saya berkeringat dan bernafas tersengal sengal mengayuh sepeda dengan 35kg berat barang bawaan diatas nya. Sebuah penggalan nasehat pesepeda mengatakan, “jangan patah semangat  melalui tanjakan, Karena setelah tanjakan itu akan ada penurunan yang dinanti nantikan, maka bersemangatlah”. Tanjakan “bukit celake” saya sudahi, kini saatnya membalasanya di penurunan, saya menikmati penurunan, membiarkan angin meniup badan dan mengeringkan keringat, sepeda sengaja saya biarkan meluncur dengan pedal tidak di kayuh.

Kurang lebih pukul 5.20 Saya tiba di halte tempat saya dan pak Budi janji bertemu, saya tiba lebih awal dan suasana di sekitaran  halte masih gelap,  ternyata di halte saya tidak sendiri, ada seorang  terlihat tertidur di halte, sepertinya tukang ojeg yang mangkal disini,  tidurnya seakan akan nyenyak sekali,  tidak terusik sedikitpun akan kedatangan saya. Tak lebih dari lima menit menunggu,  dari kejauhan saya melihat di persimpangan terlihat kerlap kelip lampu ber-warna merah, lampu indicator sepeda, cahaya merah itu menuju arah saya, bisa di pastikan itu adalah cahaya dari sepeda pak budi, saya beri sinyal penanda dengan lonceng sepeda, dan ia pun membalas dari kejauhan. Pak Budi sampai di Halte, dan kami berbincang sebentar, ia  mengutarakan kalau lampu sepeda nya tiba tiba ber masalah, tidak bisa menyala maksimal, “tidak masalah pak”, ungkap saya,  “biar saya di depan, ini lampu saya masih baru, semalam baru beli dari toko pak sonny” ungkap saya. Kami tak terlalu lama di halte itu, mengingat  harus segera sampai di pelabuhan Sri bintan pura tanjung pinang tepat waktu untuk mendapatkan kapal yang akan menyeberang ke Lingga pukul 11 nanti, maka kami bergegas pergi  meninggalkan halte beserta tukang ojeg yang masih sedang tertidur pulas itu.

Dalam gelap, saya dan pak Budi terus mengayuh sepeda, di bantu lampu senter LED yang membuka jarak pandang  hanya sekitar 2 meter saja, kami meluncur di jalur lintas barat bintan yang masih sepi dan gelap. Semenjak resmi di buka pada tahun 2009, jalur lintas barat bintan ini kini lebih ramai di gunakan sebagai jalan lintas untuk menuju  kota tanjungpinang  ketimbang jalur lama lintas tengah yang memakan waktu tempuh lebih lama, Sebelum jalan sepanjang 45 kilometer ini di resmikan, lama perjalanan dari tanjunguban ke kota tanjungpinang  via lintas tengah adalah 1.5 hingga 2 jam, namun saat ini  waktu tempuh bisa di pangkas lebih banyak, waktu tempuh dari tanjunguban ke kota tanjungpinang kini hanya 45 menit saja, itu tentu saja jika menggunakan kendaraan bermotor, namun jika bersepeda seperti kami pemula ini bisa 3 atau 4 jam.

Sepeda terus meluncur hingga akhirnya kami berjumpa dengan jembatan pertama,  jembatan ini sebagai penghubung antara desa Busung dan Kuala Sempang dengan panjang 260m di atas sungai busung. Bias mentari mulai tampak memancarkan rona merah menerpa awan awan tipis di sebelah timur pulau bintan, nelayan busung dan kuala sempang tampak telah hilir mudik se-pagi ini, beberapa perahu pompong membelah sungai busung yang tenang pagi itu , ada yang baru saja pulang dari melaut semalam, ada pula yang hendak menyeberang dari kuala sempang ke busung maupun sebaliknya dari desa  busung, meskipun jembatan telah menghubungkan kedua desa tersebut, namun sampan  terkadang masih di gunakan untum menyeberang bagi sebagian mereka. Pemandangan sangat bagus dari atas jembatan ini, namun saya enggan untuk berhenti, karena jika berhenti, saya khawatir akan telat sampai di tanjungpinang, lagi pula, ini baru saja 16 kilometer dari rumah, terlalu awal untuk berhenti disini dan sepeda terus kami kayuh.

Jalan lintas barat cenderung lurus dan datar, hanya akan ada empat tanjakan sepanjang jalan lintas ini menjelang sampai ke batas kota tanjung pinang, di samping itu terdapat  6 jembatan yang menghubungkan jalur lintas barat ini hingga sampai ke tanjung pinang., sesekali ketika melintasi jembatan kita akan di suguhi pemandangan indah dari atas jembatan, air sungai  yang tenang memantulkan bias cahaya matahari bagaikan kaca, liukan alirannya membelah rimbun hutan bakau yang menghijau, di suatu sudut  di kejauhan saya melihat gunung bintan yang dari baliknya  muncul dari s warna kuning keemasan bias sinar dari matahari pagi, masyaallah indahnya… Kami sempat berhenti beberapa kali, namun bukan karena lelah mengayuh sepeda, tapi rasanya tidak ingin membiarkan begitu saja pemandangan indah  ini terlewatkan , belum tentu suatu saat bisa berada di moment seperti ini.

 

Besrsambung….

Iklan

14 pemikiran pada “[catper] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s