[catper] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 3)

Pelabuhan Seri Bintan Pura Tanjungpinang

Pagi yang riuh di pelabuhan Sri Bintan pura. Kerumunan orang menutupi pintu utama masuk pelabuhan, calon penumpang, pengantar, supir taksi dan porter berdiri di depan gerbang  tidak terlalu jelas alasan mereka berkerumun di sana, entah apa yang mereka tunggu, mungkinkah pelabuhan ini tidak ada ruang tunggu yang memadai sehingga orang- orang menumpuk di  depan gerbang pelabuhan. Penjual tiket kapal ke berbagai pulau berteriak teriak memanggil calon penumpang dari balik loket loket yang sempit, kebisingan pelabuhan semakin sempurna.

Saya dan pak Budi menuntun sepeda mengarah ke dermaga tempat kapal sandar, menerobos kerumunan manusia di depan gerbang, semua mata tertuju pada kami yang menuntun sepeda sarat muatan, mungkin dalam hati mereke berkata “dari planet mana manusia ini”. Menjelang ujung dermga langkah kami terhenti oleh petugas boarding pass pelabuhan yang menanyakan tiket dan tujuan. kami baru sadar, telah melewati penjual tiket di tempat orang orang berkerumun di depan gerbang tadi dan kami belum membelinya, “Ya sudah… kalaian masuk saja, nanti beli tiket di sana” petugas boarding pass menunjuk ke arah dermaga, sepertinya disini tiket tidak hanya di jual di loket saja.

Sepeda kembali kami tuntun melalui koridor yang penuh sesak penumpang, dermaga yang di tunjukkan petugas tadi terletak di sebelah ruang kedatangan, tak ada tampak penjual tiket kapal beredar disini, beberapa orang kami tanyai menunjukkan jawaban yang membingungkan, bahkan jawaban dari seorang petugas syahbandar yang sempat kami tanyai membuat kami khawatir tidak dapat tiket, “ saya kurang tau juga mas, saya baru beberapa hari tugas disni, kami selalu berpindah pindah tugas, coba tanya saja kesana”  ungkap petugas berseragam itu sambil menunjukkan kearah kerumunan orang di dermaga. Saya dan pak Budi mulai khawatir, waktu keberangkatan sudah dekat namun kami belum juga mendapatkan tiket.

Hingga akhirnya kami bertanya pada seorang ibu yang sepertinya sedang menunggu keberangkatan juga,  ibu tersebut juga akan ke daerah lingga namun tidak melalui rute yang sama dengan kami, dengan logat melayu ia memberi pencerahan , “Besok imlek, biasenye hari-hari besar macam ni tiket susah nak dapat, sebab calo dah borong semue, di loket memang tak ade jual lagi, saye pon dapat beli dengan calo juge. Cube mike pegi ke kedai di dalam sane, tanye dengan orang dalam kedai tu,… mudah mudahan masih ade ” .  Saya baru sadar besok adalah hari besar imlek, saya tidak menyangka kalau akan banyak orang orang keturunan tonghoa pulang kampung ke tanah yang punya julukan bunda tanah melayu tersebut untuk merayakan imlek.
Akhirnya saya menemukan penjual tiket di dalam sebuah kedai makan di dalam bangunan utama pelabuhan, dan kami beruntung sekali, calo itu memegang dua tiket terakhir untuk hari itu, “ini tiket Arena II , kebetulan hanya tinggal dua, kamu beruntung” ungkap si calo itu, dalam hati saya bersyukur, sempat saja telat mungkin rencana perjalanan ini akan berantakan, karena tidak mungkin rasanya untuk menunda keberangkatan meskipun hanya sehari saja, jika gagal berangkat hari ini,  maka gagal pula lah perjalanan bersepeda ini. Segera dua tiket tadi saya bayar seharga Rp.320.000,-  ini adalah harga regular, tidak ada kenaikan harga meskipun ini “hari raya”. Saya kembali ke dermaga mengabari pak Budi, bahwa kita jadi berangkat, dua tiket MV.Arena II sudah ada di tangan saya. Pak Budi tampak tenang dan sumringah.

Angin dari utara berhembus cukup kuat siang itu, gelombang menghempas ke tepian, ponton tempat kapal bersandar pun begoyang goyang di terpa gelombang. Hilir mudik kapal dan perahu pompong , perahu pompong lalu-lalang mengantar penumpang dan sesekali  bersandar ke pelabuhan seri bintan pura mengantarkan penumpang yang hendak naik ke kapal. Seri Bintan Pura adalah sebuah pelabuhan yang sibuk, selain itu juga merupakan salah satu “pintu gerbang” gerbang  Indonesia di provinsi kepulauan Riau, selain sebagai tempat berlabuhnya kapal kapal penumpang dari berbagai pulau dari wilayah provinsi KEPRI dan provinsi lain, pelabuhan ini juga melayani pelayaran tanjungpinang – johor baru Malysia.

Dari pelabuhan Sri Bintan Pura menuju pulau Lingga  terdapat 3 kapal dengan jadwal keberangkatan dengan waktu yang hampir berdekatan, namun ketiga kapal ini akan menuju daerah yang berbeda beda di  pulau lingga, diantaranya,  MV. Istiqomah Jaya tujuan Pancur yang berlayar pukul 10.30. MV. Super Jet yang berlayar pukul 12.00 menuju Pulau Cempah dan Jagoh (pulau Singkep), kemudian  MV. ARENA tujuan Pulau Benan, Pulau Rejai, Tanjung Kelit (pulau Bakung), Sungai Tenam (pulau Lingga), Jagoh (pulau Singkep) dan Tanjungbuton (pulau Lingga). Kami memilih menggunakan MV.ARENA karena hanya kapal tersebut yang singgah ke sungai tenam,  sebuah daerah di ujung utara pulau lingga, dimana kami akan mulai mengayuh sepeda di pulau Lingga.

MV. ARENA II , tujuan Pulau Benan, Rejay, Tanjung Kelit, Sungai Tenam (Pulau lingga), Jagoh (pulau singkep), Tanjung Buton (Daek Lingga)

MV. Istiqomah Jaya Tujuan Pancur (pulua Lingga)

MV. Super Jet Tujuan Pulau Cempa, dan Jagoh (pulau Singkep)

Pukul 11.30, MV. Istiqomah Jaya tujuan pancur lepas dari dermaga, kapal Arena II yang akan mengangkut kami pun bersandar di dermaga. Penumpang belum saja masuk, tapi  muatan tampak sudah memenuhi lantai dua kapal itu, kardus-kardus, karung ukuran besar , serta barang barang yang sudah di pakcing sedemian rupa memenuhi deck di lantai dua, tidak hanya memuat penumpang, MV.Arena juga  juga membawa barang barang berbagai kebutuhan dari ibukota ke pulau pulau di Lingga. Terdengar kabar, ini satu satunya kapal yang bersubsidi di rute ini, dan kapal ini menjadi salah satu andalan trasnportasi antar pulau di kabupaten lingga. sepanjang pelayaran nya dari Tanjungpinang ke Daik, kapal bersubsidi ini akan berhenti di beberapa pulau ,guna menurunkan dan menaikkan penumpang demikian juga barang.

Tak berapa lama setelah sandar,  pintu kapal di buka, beberapa helai papan di bentang kan anak buah kapal dari pinggiran dermaga ke pintu kapal sebagai jembatan,  penumpang satu persatu masuk ke kapal di tengah dermaga yang bergoyang goyang di terpa gelombang., anak buah kapal dengan cekatan memuat barang bawaan penumpang, termasuk sepeda yang kami bawa, ABK meletakkan sepeda di bagain atap deck , “apakah aman…?” tanya saya, ABK mengacungkan jempol, sebuah isyarat bahwa saya untuk tidak perlu mengkhawatirkan sepeda itu.  Kami tidak dikenakan biaya tambahan untuk memuat sepeda kecuali tiket yang telah kami bayar. Ternyata disini masih ada perihal yang tidak berbayar,  meskipun mungkin bisa saja mereka lakukan, di tempat lain, menbantu memindahkan barang dengan jarak beberapa meter saja anda bisa dikenakan tarif, itu pun kadang sesukanya dan setengah memaksa pula.

Di dalam kabin kapal yang memiliki 138 jumlah kursi itu  penumpang berdesakan, tak sabar menemukan tempat duduk, saya dan pak Budi masing masing duduk di kursi nomor 32 dan 33 yang terletak di bagian depan kapal. Perkara tempat duduk, penumpang tertib. Mereka duduk sesuai nomer yang tertera pada tiket, namun muatan kapal terlihat  melebihi kapasitas, sebagain penumpang terlihat duduk di kursi-kursi plastik di bagian tengah kapal tempat biasa di gunakan penumpang berlalu-lalang. Kondisi armada yang terbatas dan jumlah penumpang yang tak sepadan terpaksa membuat penyedia jasa dan penumpang sama sama membandel memuat kapal lebih dari kapasitas nya. Meskipun demikian suasana di dalam MV.Arena cukup nyaman bagi pengembara seperti kami, ruangan dilengkapi dengan pendingin ruangan yang sejuk, televisi dengan pemutar video sepanjang pelayaran,  tempat duduk yang empuk dan nyaman.

di dalam MV. Arena II

Tepat pukul sebelas siang, sirine MV.Arena II  berbunyi memecah kebisingan pelabuhan, suara menderu di badan kapal, mesin kapal dihidupkan. Sebentar lagi kapal akan berlayar, anak buah kapal dengan sigap melepaskan tali pengikat kapal di dermaga, petugas syahbandar berdiri di dermaga mengamati kapal yang sarat muatan dan penumpang itu, badan kapal mulai merenggang dari sisi dermaga, air laut berbuih seiring deru mesin  yang memutar baling baling kapal, 11.30 MV Arena II meninggalkan Seri Bintan Pura membelah lautan.

Bersambung….

mampir dan simak juga cerita  mbak  Sri Murni, seorang ibu sang penjelajah di rumah digitalnya   http://menixnews.com/ 

Iklan

27 pemikiran pada “[catper] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 3)

    • nga ada kak Eha handa, ku rasa karena kami hany aberdua, jadi dianggap barang bawaan saja, mungkin lain cerita kalau rombongan touring dgn jumlah yg ramai… mungkin ada biaya tambahan

    • bilang suka sekali mungkin tidak terlalu mbak Ira… ini bersepeda pun karena alasan ingin memotret, terasa lebih detail jika menjelajah dgn sepeda di banding dengan kendaraan, jadi berepeda nya untuk memotret 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s