[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (Bagian 4)

Tanjungpinang – Sungai Tenam (Pulau Lingga)

DSC_9396

Di dalam kapal, Penyanyi “dangdut koplo” menggoyang goyangkan pinggul nya di layar televisi, menari  mengaduk-aduk perasaan hingga tak tentu, sementara itu gelombang laut mengoyang se-isi kapal ke kiri dan kekanan. Kepala saya mulai pusing, entah karena gelombang laut atau karena “dangdut Koplo”. Meski badan terasa letih, namun mata sukar untuk di pejamkan. Disebelah saya, pak Budi terlihat tertidur, saya meninggalkan tempat duduk, berjalan kearah bealakang kapal berharap menemukan ruangan yang sedikit terbuka, pelan pelan saya terobos jalan  penuh sesak  yang diisi oleh penumpang itu, sebagian penumpang ada yang duduk di tangga yang menghubungkan dengan lantai dua. Tampak sebagian besar penumpang adalah warga keturunan tionghoa, sepertinya mereka hendak merayakan imlek dengan keluarga pulau lingga. Saya terus berjalan ke buritan kapal mencari tempat duduk yang lebih terbuka. akhirnya saya duduk di buritan bersama beberapa pria yang tengah asik mengisap tembakau. Meskipun di terpa panas dan hembusan angin yang kuat, di buritan ini saya merasa lebih nyaman, bisa memandang luas lautan, menghirup udara segar, dan sesekali di suguhi pemandangan  sederetan pulau-pulau.

DSC_9398

Satu jam berlayar, Kami sudah memasuki perarian kabupaten Lingga, dan kapal sandar di pulau pertama, pulau Benan namanya. Pulau Benan adalah salah satu andalan pariwisata kabupaten lingga, ke-elokan pantai dan pesona bawah lautnya  bagai magnet yang menarik para pelancong datang ke pulau ini, 5 tahun lalu saya pernah berkunjung ke pulau  yang indah ini dan pernah saya tulis di sini, waktu itu dalam kegiatan promosi wisata yang di gelar oleh pemerintah kabupaten Lingga. Di pulau ini  sudah di  lengkapi dengan fasilitas yang cukup memadai, sudah ada home stay dan restaurant . Meskipun demikian, listrik hanya hidup dari sore hingga tengah malam saja, paket snorkeling dan diving juga tersedia disini, tentu saja dengan seluruh kelengkapan nya, selain menginap di home stay, pengunjung bisa juga menginap di rumah penduduk.

DSC_9400

DSC_9401

MV.Arena II sudah merapat di pelabuhan pulau Benan, satu persatu barang dan penumpang turun dari kapal, sebagian penumpang banyak yang turun disini, ternyata mereka adalah wisatawan yang hendak liburan ke pulau Benan. Koper-koper dan travel bag ukuran besar diturunkan dari atas kapal, dari barang bawaan mereka terlihat para wisatawan itu sepertinya akan menetap beberapa hari di pulau itu, sebagian terlihat sangat gembira bisa menginjakkan kaki di darat setelah satu jam mengarungi lautan yang bergelombang, mereka memotret sana sini dan dan ber-selfi. Tidak hanya menurunkan penumpang tujuan pulau Benan, penumpang baru dari pulau ini pun bergantian naik, sebagai satu satunya transportasi umum antar pulau di jalur ini, MV.Arena tidak pernah sepi. Tak sampai 10 menit bersandar, kapal kemudian meniggalkan dermaga pulau Benan, MV.Arena kembali melaju membelah lautan biru.

20170130_081402

Matahari bersinar terik siang itu, Saya masih bertahan disini, di buritan kapal MV.Arena II,  lebih nyaman rasanya disini, bisa melempar pandangan ke lautan dan sesekali memotret. Di buritan kapal, pria-pria pengisap tembakau datang dan pergi silih berganti, mereka merokok sembari saling mengobrol apa saja meskipun tanpa harus mengenal nama, rokok jadi pembuka obrolan. Seorang pria agak berumur yang baru saja naik dari pulau benan bercerita bahwa  beberapa hari yang lalu iya dan beberapa rekan nelayan  baru saja memusnahkan sebuah kapal yang di duga telah melakukan pencurian ikan dengan pukat di perairan ini. Saya hanya mendengarkan saja cerita mereka , apalah yang saya tau tentang pukat, lautan  dan kehidupan nelayan. Lalu dengan logat melayu pria itu menyapa saya, “mike hendak kemane..?, mike wartawan…? Pencurian ikan itu patut mike masukkan koran”, ujar pria dengan kulit gelap tersebut. Ia mengira saya wartawan, mungkin karena kamera yang saya sandang, saya coba jelaskan bahwa tujuan saya hanya jalan-jalan ke lingga dengan sepeda sambil memotret sebagai kenang kenangan, sepertinya beliau tampak tak begitu percaya, lantas bapak yang belakangan saya ketahui adalah seorang nelayan tersebut mulai bercerita masalah politik,  tak luput pula curhatan nya tentang pemimpin yang obral janji saat PILKADA, “kalau  butuh die orang ingat kite, tapi kalau dah jadi, mane ade cerite die orang nak tengok kite kat pulau ni. Saya berusaha menjadi pendengar yang baik saja, entah berapa batang rokok yang telah ia hisap saking semangat nya bercerita, hingga akhirnya kapal merapat di Rejai, pulau kedua yang di singgahi MV.Arena II.

DSC_9407

Di Rejai langit mulai gelap, rintik-rintik hujan mulai turun, saya dan beberapa pria yang tengah mengisap tembakau kembali menempati kursi masing masing di dalam kapal, muatan kapal kini mulai berkurang beberapa orang penumpang turun di Rejai, namun lebih banyak barang barang yang di turunkan oleh anak buah kapal, barang barang tersebut merupakan kebutuhan pokok yang di suplai dari tanjungpinang. Kapal agak lama berhenti disini, namun tidak lebih dari 30 menit melaju kembali, menurut salah seorang penumpang di buritan kapal tadi, satu kali pemberhentian lagi adalah Tanjung Kelit, dan kemudian  adalah pelabuhan sungai tenam . Setelah melewati Rejai, Hujan mulai reda, gelombang laut terasa lebih tenang,  kami  melalui selat, di kiri dan kanan  pulau pulau melindungi selat ini dari gelombang. Suatu ketika kapal mengurangi kecepatan dengan tiba tiba hingga saya terperanjat, kemudian langsung berdiri melihat ke luar jendela, ada apakah di luar sana sehingga kapal tiba tiba mengurangi kecepatannya. Ternyata MV.Arena II  melewati selat yang sempit, di pesisir pulau banyak pemukiman penduduk yang berdiri diatas air, kapal harus mengurangi kecepatannya agar gelombang tak menghempas kuat perkampungan atas air itu, saya tak  ingat nama kampung tersebut, anak buah kapal menyebutnya kampung orang suku laut. Tidak ingin kehilangan moment, saya berjalan cepat menuju buritan kapal untuk dapat memotret perkampungan diatas air itu sebagai kenang kenagan.

DSC_9408

saya kembali duduk di buritan kapal, tempat pria-pria merokok dan mengobrol, seorang pria dengan atribut POLRI asik mengisap tembakau dan mengobrol dengan seorang pria lainnya di buritan, Kemudian Polisi tersebut  menghampiri saya dan bertanya kepada saya hendak kemana dengan penuh selidik, saya jelaskan  bahwa saya hanya jalan-jalan bersepeda dengan seorang rekan saya dari pulau Bintan menelusuri beberapa daerah di kepulauan Lingga, “oh…mau ngukur jalan ya…?” tandas pria berseragam POLRI itu sambal tertawa, belakangan saya ketahui polisi tersebut bertugas di POLSEK Dabo Pulau Singkep. “Disini kalian  aman dan nyaman bersepeda” ungkap-nya, bercerita meyakinkan saya bak seorang duta pariwisata, beberapa jalanan di Lingga sudah bagus, tingkat kriminal rendah disini, selain pelanggaran lalu lintas, hanya saja Kasus narkoba dan tindakan cabul menjadi masalah polisi disini. “ saya baru saja mengawal tahanan, memindahkan nya dari  Dabo singkep ke tanjungpinang dalam kasus narkoba”.

Pukul 3 sore, kapal bersandar di sebuah dermaga yang sederhana di Tanjungkelit kecamatan senayang, satu keluarga kecil turun dari kapal, di dermaga telah menanti para penjemput dengan wajah penuh harap dan gembira, penumpang yang turun kemudian berganti dengan penumpang yang baru, beberapa orang naik ke kapal dengan tas dan kardusukuran besar di naikan keatas kapal. Dari atas kapal saya melihat  rumah rumah diatas air berjejer padat di tanjungkelit, beberapa nelayan sedang merapikan jala di teras rumah yang terbuat dari papan, sedangkan sebagain nya lagi terlihat tengah memperbaiki perahu. Dari balik dapur rumah pelantar, tampak seorang ibu tengah menggendong balita, menatap harap ke arah MV.Arena  seperti sedang menanti seseorang. MV.Arena tak berhenti lama, dan kini telah berlalu dari tanjungkelit, di dalamnya membawa barang baranang kebutuhan manusia dan segudang cerita rindu orang-orang pulau.

 

DSC_9423

Berselang dua puluh menit dari tanjung kelit, anak buah kapal terlihat kembali bergegas mempersiapkan tali kapal untuk persiapan kapal sandar. “Kita sudah sampai di sungai tenam” ujar anak buah kapal kepada saya, dari kejauhan saya melihat sebuah pelabuhan beratap biru dengan menara suar di depannya, dari kejauhan terlihat bangunan pelabuhan ini cukup besar di banding pelabuhan pelabuhan di pulau-pulau sebelumnya. Inilah Sungai Tenam, pelabuhan yang baru saja resmi di gunakan tahun lalu itu. Dua pelayaran domestik dari tanjungpinang dan Batam menyinggahi pelabuhan ini tiap harinya. Konon keberadaan pelabuhan ini bertujuan untuk menampah kenyamanan dan kelancaran pelayaran menuju ibukota Daek Lingga, di saat musim angin selatan penumpang kapal kapal dari tanjung pinang dan Batam cenderung takut untuk berlayar hingga ke tanjung buton (pulau lingga) atau jagoh (pulau singkep) di karenakan gelombang yang besar, sehingga keberadaan pelabuhan sungai tenam menjadi alternatif dikala musim gelombang kuat tersebut untuk mencapai pulau Lingga. Dari sungai tenam menuju ibu kota Daek Lingga, bisa menempuh jalan darat kurang lebih 30 menit, kendaraan sewa biasanya telah standby di saat kapal dari batam dan tanjungpinang bersandar disini.

DSC_0282

Pukul 3.20, kami pertama kali menjejakkan kaki di pulau Lingga, tanah yang di juluki “Bunda Tanah Melayu”. Sepeda sudah tergeletak di pelantar beton pelabuhan, anak buah telah menurunkannya untuk kami.  Banyak penumpang turun disini, sehingga muatan MV.Arena II tampak terlihat banyak berkurang, baik manusia maupun barang barang nya. Beberapa mobil pribadi tampak berjejer menunggu penumpang di pelabuhan, para penumpang kapal langsung berpindah ke dalam mobil mobil sewa tersebut, MV.arena II pun kembali berlayar meninggalkan pelabuhan sungai tenam. Tak ada lagi keriuhan penumpang, Arena II adalah kapal terakhir yang bersandar di sungai tenam hari ini, hingga pelabuhan sungai tenam sunyi dan sepi, hanya kami berdua penumpang kapal yang tersisa di pelabuhan itu.

DSC_9426

Kami meninggalkan dermaga menuju gerbang pelabuhan. “Selamat datang di Sungai Tenam kabupaten Lingga, Bunda Tanah Melayu“ begitu isi sebuah papan ucapan selamat datang dengan memampang wajah Bupati Lingga dan wakilnya, Saya berseloroh pada pak Budi, “lihat pak, kita di sambut oleh Bupati Lingga dan wakilnya, meskipun hanya gambarnya saja, Mari kita ber-selfi, hahaha…”  saya dan pak Budi tertawa. kami berfoto di depan papan ucapan selamat datang tersebut sebagai kenang kenangan. 

DSC_9435

Saya dan pak Budi memutuskan istirahat dan mengisi perut di pelabuhan ini. Kami bertanya kepada seorang petugas, adakah ada kantin di pelabuhan ini, “Disana ada kantin dan mushala” ungkap seorang petugas pelabuhan sambil menunjukkan kearah bangunan utama pelabuhan. Namun ternyata kami tidak beruntung, “tidak ada lagi makanan” ungkap penjaga kantin, “jam segini kami sudah berkemas, berhubung sudah tidak aka nada lagi  pembeli,  Arena II tadi adalah kapal terakhir hari ini “ pungkas petugas kantin menjelaskan. Akhirnya kami hanya menumpang istirahat  sambil mengisi perut dengan bekal yg kami bawa,  dan kemudian shalat di mushala nya, ruang mushala yang terletak di sebelah kanan kantin masih terlihat sangat bersih dan nyaman layaknya bangunan yang masih baru,  namun sedikit di sayangkan keadaan toilet dan tempat wudhunya tidak terawat, dan ketersediaan air bersih pun terbatas, mungkin itu yang menyebabkan toilet kotor dan bau.

Usai shalat, saya dan pak budi segera memulai mengayuh sepeda, di dalam tas pannier persediaan makanan masih cukup menjelang sampai ke tujuan selanjutnya, sehingga kami tidak perlu khawatir,  . Tujuan kami selanjutnya adalah Pancur, sebuah daerah pesisir utara pulau lingga yang berjarak kurang lebih 14 kilometer dari pelabuhan Sungai tenam ini. menurut seorang pria yang kami jumpai usai shalat tadi, “Pancur tidak jauh dari sini, jika dengan kendaraan hanya 15 menit saja sudah sampai” ungkap nya. Ok… 15 menit, dalam hati saya bergumam, jika dengan sepeda mungkin saja akan mengabiskan waktu dua jam atau bahkan lebih, semoga kami tidak akan kemalaman sebelum mencapai Pancur”. Tanpa berbekal peta ataupun GPS, perjalanan di depan nanti adalah rangkaian  dari kejutan-kejutan, hanya berbekal arahan pria yang kami jumpai usai shalat di kantin pelabuhan tadi, kami mulai mengayuh dari sini menuju Pancur.

Besrsambung……

jangan lupa pula Simak juga catatan jalan jalan dari si pejalan cantik Choty  di  www.piknikcantik.com

Iklan

30 pemikiran pada “[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (Bagian 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s