[catper] Jelajah Lingga Bersepeda (Bagian 5)

Sungai Tenam – Pancur

 

Sungai Tenam – Pancur

Jauh hari sebelum berangkat, saya dapat gambaran dari teman saya Roy tentang rute pancur. Roy bercerita bahwa perjalanan  dari sungai tenam ke pancur akan menelusuri tepian bukit, sementara di  kiri dan kanan jalan adalah hutan belantara, tidak ada perkampungan, separuh jalan beraspal, dan sisanya masih jalan tanah. Perkampungan hanya akan di jumpai ketika mendekati daerah pancur, “jika sudah bertemu kampung, berarti sudah dekat dengan pancur” ungkap Roy dalam Chatting room.  Lalu, Apa yang ingin kami cari di pancur..? tidak ada. Terkadang kita harus tersesat dan tanpa arah untuk menemukan hal baru bukan…? yang penting berjalan saja.

Dari pelabuhan sungai tenam, sepeda kami kayung kayuh secepat yang kami bisa agar sampai di pancur sebelum gelap, namun apa daya, alam tak mengizinkan kami memacu sepeda dengan cepat. Baru saja keluar dari pintu pelabuhan dengkul si pesepeda pemula ini telah di tunggu jalan menanjak dan berkelok meliuk liuk di tepian bukit, belum sampai satu kilometer berjalan, nafas saya sudah tersengal-sengal dan kayuhan terasa berat, mungkin karena terlalu lama duduk di kapal tadi jadi dengkul berat mengayuh, mestinya harusnya pemanasan dulu.

Mengayuh sepeda disini seketika saya jadi ingat tanah kelahiran di kerinci, tanah yang subur di “puncak Sumatra”, dari lingga utara ini, Pulau Lingga dan kerinci bagai serupa tapi tak sama,  daerah  berbukit bukit dan jalanan berkelok kelok di sisinya, kiri dan kanan jalan adalah hutan lebat, pepohonan khas hutan hujan topis berumur tua tampak tak terjamah dan terjaga. Dalam lindung hutannya yang lebat konon terdapat pula puluhan jenis tumbuhan langka yang hampir punah.  Oh iya, Lingga adalah satu satunya daerah di KEPRI yang dilalui garis ekuator, tidak banyak  yang menyadari,  mungkin tak se-tersohor tugu ekuator di kota Pontianak sana. Sebuah tugu titik nol katulistiwa di bangun di tanjung Teludas tak berapa jauh dari pelabuhan sungai tenam, jika hendak merapat ke pelabuhan sungai tenam, di sebelah kanan akan tampak tugu ekuator Tanjung Telundas. 0 sampai 11 derajat utara dan selatan wilayah yang dilalui garis ekuator adalah daerah yang di karuniai curahan hujan hampir sepanjang tahun, dan juga sinar matahari yang cukup untuk membuat tanah di lalui garis katulistiwa ini subur. Di daerah titik nol katulistiwa ini  pula dapat di saksikan fenomena  tanpa bayangan ketika matahari tepat berada di katulistiwa.

Sepeda terus kami kayuh meilntasi jalan aspal di tengah rimba pulau Lingga. Jalanan sunyi, kami mengayuh sepeda dengan nyaman di petang hari yang tengah mendung,   jalanan ini seperti hanya milik kami, setelah kapal terakhir sandar, hampir tidak ada lagi yang lewat di rute ini, selain orang kebun atau pencari kayu di hutan. Dalam suasana jalanan sepi sepeda kami kayuh, tak ada suara apa apa kecuali suara serangga uir-uir yang melengking memecah keheningan rimba. Jalan menanjak dan meliuk liuk di depan selalu memberi kejutan.

 

 

Kami menjumpai pertigaan dengan rambu rambu penunjuk arah, disana menunjukkan Pancur belok ke kiri,  sedangkan lurus adalah arah menuju ke Resun, Sei Pinang, panggak darat dan kota Daek. Kami belok ke kiri dan mengayuh sekuat tenaga, tanpa bisa memperkirakan berapa kilometer lagi pancur di depan sana, tak ada peta maupun GPS, perjalanan ini seakan penuh kejutan dan mendebarkan.

 

 

Jalan Tanah Berkerikil dan Guyuran Hujan

Setelah melewati simpang pancur barulah kami temui beberapa kebun masyarakat, sepeda terus kami kayuh dijalan aspal yang mulus, sesekali di kiri kanan jalan tampak beberapa lahan hutan yang baru saja di tebang, sepertinya akan di gunakan untuk kebun. kurang lebih 500 meter dari simpang pancur jalan aspal mulai berganti jalan tanah dan berkerikil. Wah…ini tampak akan menjadi masalah untuk sepeda saya yang ban nya tidak cocok dengan medan tanah dan berkerikil seperti ini, sedangkan pak budi meluncur tanpa masalah dengan sepeda tipe mountain bike nya. dengan sangat terpaksa saya megurangi kecepatan, sedangkan pak budi telah jauh meninggalkan saya di belakang.

 

 

Langit terlihat mulai gelap, dalam hati bergumam, di depan sepertinya akan turun hujan. Benar saja, tak berapa lama dalam gumam itu tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras dan mendadak, sampai-sampai saya tak sempat memasang raincoat pada pannier. Saya menepi, tidak ada tempat berteduh, ini hutan belantara,  raincoat saya pasang pada tas pannier dalam guyuran hujan, tak ada pilihan, selain membiarkan seluruh badan basah di guyur hujan, baru saya sadari kalau saya lupa mempersiapkan diri dalam situasi  ini, saya tidak membawa raincoat untuk diri saya sendiri selain yang dimiliki tas pannier,  apa boleh buat, saya harus terima semua situasi atas kelalaian saya, saat ini  yang penting adalah barang-barang di dalam tas jangan sampai basah pula, kamera saya simpan ,bisa kacau kalau peralatan foto, pakaian dan bekal saya basah. Dalam hati saya berdoa diberi kekuatan fisik untuk melewati situasi ini,  saya membuang jauh fikiran yang negatif, dalam hati dan fikiran saya katakana pada diri saya, bahwa saya harus tetap sehat, bersemangat untuk terus menuntaskan perjalanan ini. Saya berusaha membuat diri berbahagia dalam situasi seperti ini, saya membayangkan bagaimana senangnya bermain bola kaki di lapangan dalam guyuran hujan ketika masa kecil dulu, ini pasti menyenangkan. Dalam guyuran hujan sepeda kembali saya kayuh dengan bersemangat, saya harus mengayuh dengan lebih kuat agar badan saya tetap hangat.

 

 

Akhirnya saya mampu menyusul pak Budi yang tengah membalut tas panniernya dengan plastik. Kami saling  tertawa, menertawakan atas kelalaian diri masing masing, dia menertawakan saya yang badan nya basah kuyup  karena saya tidak pakai raincoat , sedangkan saya menertawakan pak Budi karena dia juga lupa mempersipakan raincoat untuk tas bawaan nya, namun dia sedikit beruntung dengan membawa kantong plastik yang cukup besar untuk membungkus tas pannier nya. “inilah ucapan selamat datang dari pulau Lingga untuk dua “goweser” bintan yang lalai hahaha” ungkap saya, kami saling tertawa menghibur diri.

Hari makin petang, guyuran hujan belum juga berhenti, jangankan sampai di pancur , perkampungan saja belum juga tampak, hanya hutan dan kebun sahang (lada) dikiri kanan jalan, serta jalan tanah kuning yang panjang seakan tak berunjung. Hingga akhirnya kegundahan sedikit sirna karena kami sudah menjumpai beberapa rumah penduduk, belakangan di ketahui ini adalah desa sungai besar. Kami beristirahat sejenak disni sembari bertanya bertanya arah pada seseorang pria yang tengah duduk-duduk di sebuah kedai. “ oh.. pancur tak jauh lagi… lurus je, nanti jumpe masjid, nah.. kelok ke kanan, kemudian lurus dan ikuti jalan pelantar, dah sampai pancur” ujar pria di kedai tersebut memandu kami. Mendengar penjelasan itu hati kami sudah sedikit tenang, kami tidak perlu khawatir karena tempat yang dituju sudah dekat. Pancur adalah sebuah pasar, orang orang dari pulau dan desa desa di lingga utara umumnya berbelanja ke pancur , sebagian bahan kebutuhan pokok yang  masuk ke pulau lingga salah satunya melewati daerah ini.

Kami berpamitan dan kembali mengayuh sepeda, pancur harus kami capai sebelum gelap. Akhirnya kami mulai menjumpai perkampungan yang makin rapat, Sebagian besar rumah di kampung ini adalah rumah panggung yang dibawahnya adalah rawa, sepeda kami melaju menelusuri jalanan kampung  yang terbuat dari pelantar kayu, Selamat datang di Desa Duara, tulisan pada sebuah gapura, kami berasakan semakin dekat dengan pesisir, rumah rumah pelantar mulai  berjejer rapat di kiri dan kanan jalan setapak, sesekali saya melihat lautan dari  sela-sela rumah pelantar yang rapat itu, rasanya tak lama lagi kami sampai di teluk pancur.

 

Rumah-rumah pelantar  kemudian berganti dengan rumah rumah semi permanen yang berjajar rapi di kiri kanan jalan  yang terbuat dari beton, seketika saya teringat kampung cina  di Senggrang kota tanjungpinang, bentuk rumah rumah di sini hampir sama seperti yang ada di kampung senggarang, Sebagian besar rumah rumah pelantar itu berhiaskan lampion berwarna merah. Suasana kampung terlihat semarak seperti sedang menyambut sebuah perayaan. Oh iya, saya baru teringat, besok adalah hari besar imlek, sebagian besar orang disini tanpak bercengkrama dengan hangat dengan keluarga nya di teras rumah mereka, irama riang musik khas negeri tirai bambu terdengar bersahut sahutan dari dalam rumah rumah pelantar, hari sudah senja ketika kami sampai di pasar pancur, sementara dimana kami menginap malam ini masih belum jelas…

 

 

 

 

Bersambung…..

 

simak juga cerita perjalanan menjelajah eropa mengunjungi tempat tempat menarik disana di tautan ;  www.jokka2traveller.com

Iklan