[Catper] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 7)

Pagi Di Pancur

Hari ini tanggal 28 februari 2017, merupakan  hari kedua kami di pulau lingga. Pagi itu, kira kira kurang lebih pukul lima  pagi saya sudah terjaga, kumandang adzan subuh dari pengeras suara masjid di tengah pasar pancur memecah keheningan pagi ,  malam ini saya merasakan tidur berkualitas sekali, badan terasa segar ketika bangun tidur, pegal pegal dan penat setelah gowes kemarin tiada terasa lagi, meskipun kuantitas tidur nya kurang.

Setelah urusan kamar mandi dan ibadah subuh, saya tinggalkan ruang kamar dan pak budi yang masih tertidur lelap, saya berniat hendak jalan jalan pagi di sekitaran pasar . Matahari sudah tampak memancarkan cahaya nya, meskipun berselimut mendung. Sepertinya hari ini juga akan turun hujan sama seperti hari kemarin, langit terlihat samar samar di tutupi awan gelap yang bergumpal. Saya seorang diri berkeliling pasar pancur yang masih lengang, menikmati suasana pagi yang tenang. saya memandang ke arah lautan.  dari pelantar pasar pancur ini panorama alam terlihat begitu menawan,  sampan nelayan terlihat melintas di atas laut yang tenang dengan latar belakang bukit dan gunung menjulang yang puncaknya berselimut kabut. dalam hati saya terkagum dan takjub, saya mengucapkan pujian dan kalimat syukur kepada sang pencipta atas indah  ciptaan-Nya…

Hari ini sebagian pasar akan tutup, menurut ibu maria pedagang  libur lantaran hari ini adalah puncak perayaan IMLEK, meski demikian ada beberapa kedai tampak buka, yaitu kedai kopi dan penjual sarapan pagi.  Setelah puas berkeliling pasar saya berhenti di sebuah lapak penjual sarapan  di pangkal jembatan pasar pancur. Saya pesan sepiring lontong sayur dan secangkir teh hangat, Teh hangat sudah di seduh di dalam sebuah ceret, pembeli boleh menuang kan nya sendiri. Saya duduk di kursi yang ter-susun di kedai kedai yang masih tutup itu sambil menikmati tenangnya sungai pancur dan aktivitas di sekitaran sungai dan pasar.  Dari kejauhan tampak penghuni rumah rumah pelantar  tengah bercengrama di teras rumah masing masing sementara perahu pompong satu persatu terlihat hilir mudik di sungai pancur.

Tak sampai menunggu lama, sepiring lontong sayur di hantarkan ibu pemilik kedai ke meja saya, potongan lontong, buncis dan kentang bercampur dalam kuah gulai yang kental, aroma makanan laut pun tercium dari kuah gulai yang mengepulkan asap, ternyata di dalam nya juga terdapat irisan sotong yang di potong dadu. Ini pertama kali saya temukan lontong sayur bercampur olahan seafood, rasanya tiada masalah dan enak saja. Saya menikmati lontong sayur seafood ala pasar pancur ini sambil memandang pompong yang lalu lalang.

Lotong sayur seafood ala pasar pancur dan secangkir the hangat saya bayar seharga 7000 rupiah, sangat murah jika di banding harga lontong sayur di  bintan ataupun tanjungping. Usai sarapan saya kembali ke penginapan untuk segera mempersipakan seluruh barang bawaan  guna persiapan sebelum melanjutkan perjalanan hari ini. Pak Budi sudah bangun dan mandi, saya sarankan iya untuk sarapan di pasar saja karena kedai ibu maria belum buka. Pak Budi pergi mencari sarapan, sedangkan saya mempersiapkan seluruh barang bawaan di kamar.

Seluruh barang bawaan saya masukkan kedalam tas pannier, batrai cadangan kamera dan handphone telah di charge semalaman.  Kamera saya simpan di dalam tas yang dilidungi raincoat. Dalam perjalanan hari ini sepertinya kami akan  lalui dalam guyuran hujan, karena pagi pagi langit sudah terlihat gelap dilapisi awan tebal sekeliling. Pakaian yang di jemur semalaman tidak kering sempurna, masih terasa lembab, saya hanya membawa pakaian secukupnya untuk perjalanan 3 hari ini, guna menghemat pakaian, terpaksa harus pakai pakaian lembab.  pukul 8 hujan gerimis mulai menguyur pasar pancur, sementara saya terus mempersipakan sepeda di teras kedai ibu Maria, tak lama pak budi pun menyusul mempesiapkan barang bawaan dan sepeda.

Semua barang bawaan telah siap diatas sepeda. Kami berpamitan kepada pemilik kedai., saat itu Kami tak jumpa bu Maria atau pun Hellen, hanya ada saudara bu Maria saat itu. kami membayar sewa kamar, makan dan minuman kami malam tadi, 90ribu rupiah untuk semuanya. Sebuah angka yang cukup bersahabat bagi kantong kami. Sebelum berangkat tak lupa kami mengucapkan terima kasih telah di perbolehkan untuk menginap disini,  “sama sama….semoga kita berjumpa lagi di lain kesempatan” tutup ibu itu sembari tersenyum.

20170128_081048.jpg

Dalam rintik rintik hujan sepeda kami kayuh perlahan meninggalkan pancur, meskipun hanya semalam disini, namun suasana tenang dan tentram disini memberikan kenangan yang membekas , semoga suatu saat bisa berkunjung lagi.  Sepeda kami meluncur di jalan pelantar yang di penuhi sesak rumah di kiri dan kanan nya, setelah pancur kami memasuki kampung Duara, di kampung ini suasana melayu kental terasa,  rumah-rumah di bangun di sepanjang pesisir pantai berbentuk rumah panggung yang terbuat dari papan.

sepeda kami kayuh menelusuri jalan kampung, sebagian warga kampung masih  terlihat enggan keluar rumah  karena hujan. Selanjutnya tujuan kami berikutnya Resun. Dari pancur menuju resun kami pilih jalan darat, meskipun lebih dekat jika menggunakan jalur laut dengan pilihan menaikkan sepeda keatas perahu pompong dari pasar pancur.  namun kami memutuskan untuk memilih jalur darat saja, kami masih banyak waktu untuk menempuh Resun, tidak ada yang harus di kejar dengan tergesa gesa,  di hari kedua ini kami masih merencanakan untuk berada di pulau lingga, kami akan bermalam di kota daek hari ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Besambung…..

Iklan

[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (Bagian 6)

 

Sore hari  yang mendung di pancur, sepeda kami kayuh pelan menelusuri pelantar beton di tengah pasar pancur yang sepi, toko toko di pasar pancur  sore itu tampak telah banyak yang tutup, kami berdua terus mengayuh  menuju ujung pelantar yang mengarah ke laut. Di mana tempat menginap malam ini belum juga pasti. Sampai di ujung pelantar kami berhenti, sejenak melepaskan lelah, melempar pandangan ke teluk pancur yang indah, perpaduan laut dan pegunungan  menciptakan panorama yang indah dari pancur. Tak jauh di ujung pelantar , kami menemukan satu satunya kedai makan yang masih tampak buka petang hari itu, tanpa fikir panjang kami singgah di kedai tersebut, berharap bisa menyelesaikan urusan mengisi perut yang sempat tertunda sejak dari pelabuhan sungai tenam tadi, meskipun telah di “ganjal” oleh roti dan makanan ringan, namanya juga orang Indonesia, tetap belum makan rasanya kalau tidak makan nasi. Sepeda kami  tuntun dan parkirkan di halaman kedai yang menghadap tepi laut itu, dengan pandangan tajam ibu si pemilik warung menatap heran, mungkin dalam hati-nya bertanya, datang dari mana dua orang aneh bersepeda ini…?

 

 

 

Menginap di Rumah Ibu Maria,

 

“Wah… bersepeda dari mana dan mau kemana ini abang abang berdua…?”  dengan logat jawa ibu pemilik warung itu bertanya. ”Kami dari sungai tenam mau ke kota daek, tapi  ingin singgah di pancur ini”. Jawab saya. ”trus, dalam rangka apa ini bersepeda…? berdua saja…?”  tanya si ibu penuh selidik.  “Ia, kami hanya berdua saja dari tanjunguban  pulau bintan, kesini  ingin bersepeda berkeliling lingga,”. saya mencoba menjelaskan kepada . wanita paruh baya itu yang belakangan saya ketahui bernama Maria.

Pakaian basah karena sepanjang jalan di guyur hujan, namun kini telah kering di badan. Berniat menghangatkan badan, saya dan pak budi masing masing memesan secangkir teh hangat kepada ibu Maria, ia kemudian meneriaki seseorang di dapur, “chong no pue teh o lai”,  ibu maria berseru,  seketika saya terkejut, ternyata ibu ini berbahasa hokkien. Sembari menunggu teh hangat dari dapur, ibu Maria bercerita tentang banyak hal, ia bercerita tentang keluarga nya,  kenangan masa ke-emasan pasar pancur yang dahulunya ramai di datangi orang orang pencari ikan, serta bagaimana suku apa saja disini mampu berbahasa Hokkien. Penghuni pasar pancur mayoritas adalah warga keturunan toinghoa, ada yang menyebut pancur dengan istilah “Macau” nya pulau lingga , meskipun demikian, mereka hidup dengan tentram dan damai bersama suku lainya. selain mayoritas keturunan Tionghoa, pancur  juga di huni  oleh  suku Melayu, minang, jawa, dan flores.

Ibu Maria telah tinggal di pancur sejak puluhan tahun lalu. Jodoh telah mempertemukan wanita muslim asal jawa timur ini dengan seorang pria keturunan TiongHoa, mereka menikah di Surabaya, kemudian merantau hingga ke lingga utara, dari pernikahan dengan latar belakang berbeda, ibu Maria dan suami mampu hidup berbahagia, hingga suatu ketika, beberapa tahun lalu sang suami mangkat.  Almarhum suami meninggalkan ibu maria dan dua anak laki laki serta satu perempuan yang kesemuanya sudah tumbuh dewasa.  Dua anak laki laki nya juga telah berkeluarga, hidup merantau ke luar provinsi, sedangkan si bungus merantau ke ibu kota provinsi tanjungpinang. Ibu maria hidup berdua dengan seorang saudari iparnya yg keturunan tionghoa , rumah kedai peninggalan sang suami menjadi  satu satunya pengharapan ibu  maria menggantungkan hidup di sisa hari tuanya.

setelah panjang Lebar bercerita kesana kemari, teh yang di pesan pun datang. Dari balik pintu dapur mucul seorang perempuan muda berbaju biru berwajah sendu, ia membawa nampan yang berisikan dua cangkir teh hangat  yang mengepulkan asap. Seketika suara bu maria seakan tersamar di telinga saya, perempuan muda pembawa teh itu membuyarkan obrolan kami dengan ibu maria, kehadirannya bagai magnet besar yang menarik sebuah paku. “Ini Hellen… anak bungsu saya”, dia tinggal dan berkerja di tanjungpinang” ibu maria memperkenalkan putri bungsunya itu. Hellen si bungsu merantau meninggalkan kampung, ia berkerja sebagai personalia di sebuah perusahaan swasta  kota tanjungpinang,  iya baru saja datang tak lama berselang kedatangan kami, hellen pulang ke pancur dalam rangka libur Imlek, seperti warga keturunan tionghoa yang lainnya, momen ini ia jadikan sebagai kesempatan untuk bertemu sanak keluarga. Perempuan muda itu sekarang duduk di bangku panjang disamping saya, ikut nimbrung obrolan bersama kami.

Seperti ibunya, helen  juga suka ngobrol dan bercerita. Ia bercerita apa saja, tentang kehidupan, pekerjaan hingga kisah asmaranya dengan calon suaminya yang jauh di pulau Sumatra sana. sebagai si bungsu dan masih tergolong muda tak lantas membuat nya jadi anak gadis manja.  dari pembawaan dan pemikirannya ia tampil sebagai perempuan dewasa. “tak mungkin terus bergantung hidup dengan ibu disini, minimal bisa cari uang untuk kebutuhan sendiri “ ia menjelaskan alasannya merantau.  Tak lama lagi Hellen berencana akan menikah dengan pilihan hatinya itu, itu pertanda hellen akan merantau lebih jauh lagi, pergi meninggalkan ibu maria beserta bibinya di teluk pancur.

 

Langit senja sudah mulai Gelap, tempat menginap belum juga dapat. keasikan mengobrol dengan hellen membuat lupa waktu, teh hangat yang di bawa nya tadi pun belum tersentuh meskipun sudah terasa dingin. “abang berdua mau nginap dimana…?” tanya hellen,  saya menggeleng. “adakah penginapan di daerah sini….?”pak Budi bertanya pada hellen. “Di ujung pelantar sana ada penginapan, tapi kalau abang abang mau menginap disini boleh juga, meskipun kamarnya sederhana saja, tidak ada AC, hanya  kipas angin. 50 ribu satu malam, seperti kamar kost lah…” hellen menawarkan. Tanpa fikir panjang kami menerima tawaran hellen, Allhamdulillah, tidak susah susah lagi mencari tempat menginap, sepertinya mengingap disini pun cukup nyaman, ibu maria menjual makanan di kedainya, sehingga kami pun tak perlu khawatir kelaparan.

Rumah toko berlantai dua milik ibu maria ini dahulunya adalah penginapan, semenjak suami mangkat, ibu maria kesusahan untuk mengurusinya hingga akhirnya di tutup, tapi kadang kamar kamar di lantai dua itu masih di sewakan untuk anak anak buah kapal yang singgah di sini. dari ibu  maria saya ketahui bahwa disini ada beberapa penginapan, dalam hati saya bertanya heran, pasar kecil seperti ini ada banyak penginapan, siapa yang hendak menginap disini…?

Hellen meninggalkan kami menuju ke dalam rumah toko, tak lama kemudian ia keluar dengan ibu maria sembari menyodorkan kunci kamar, “ini kunci kamarnya, abang abang silahkan bersih bersih dan istirahat diatas”. Kami berkemas menuju kamar, tas pannier satu persatu kami turunkan dari sepeda,  dan minta izin kepada ibu maria untuk memarkirkan sepeda di teras toko, sepeda kami parkirkan dan kunci di teras toko, kami berpamitan pada bu Mari dan hellen untuk membersihkan diri dan istirahat di kamar.

 

 

 

Malam Imlek Di Pancur, 

Disini tenang sekali, hanya suara perahu pompong yang sesekali terdengar melintasi perairan yang tepat berada di depan penginapan kami, setelah itu hanyalah sunyi. Adzan isya’ berkumandang memecah keheningan malam di pancur, kami telah siap bersih bersih dan berbenah untuk shalat dan kemudian makan malam. Kami turun ke lantai dasar mencari makan malam, hari sudah malam, tapi kedai ibu maria masih tetap buka, beberapa orang pria tampak duduk duduk sambil menyeruput kopi didalam kedai, .  belakang saya ketahui mereka adalah crew kapal penyebrangan tanjungpinang-pancur yang menginap juga disini. Para ABK itu tampak  tengah serius memperhatikan televisi yang menyiarkan secara langsung debat terbuka PILKADA DKI episode dua. Sungguh begitu hebohnya kisah pilkada DKI itu sehingga menyita seluruh perhatian orang Indonesia hingga ke pelosok pulau ini, termasuk para ABK ini.

”Mau makan dengan lauk apa…?”  tanya adik ipar ibu maria yang berwajah oriental itu. Di etalase makanan saya melihat  beberapa lauk pauk sudah terhidang, tidak heran kalau dominasi makanan olahan hasil laut, karena begitu berlimpahnya hasil laut disini, ada ikan goreng sambal, gulai sotong,  udang  dan lain lain, ikan goreng sambal saya pilihan, saya minta di campurkan dengan orak arik tempe dan beberapa sendok kuah gulai. Kami menyantap hidangan makan malam yang sederhana ini, Entah kenapa makan disini terasa nikmat sekali, oh ya… saya baru sadar seharian ini baru kali ini kami berdua makan nasi, pantas saja.

Kami menyelesaikan makan dengan cepat, pria pria pengamat politik Jakarta masih asik memelototi debat di layar kaca. Kami segera berpamitan kepada adik ipar bu maria yang menjaga kedai malam itu, saya mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu untuk membayar makan malam dan minum kami saat itu, ibu penjaga warung itu menolak “sudah…Nanti saja sekalian  di bayar ketika checkout” ujarnya. “di vihara malam ini ada acara menyambut imlek, orang ramai berkumpul disana, mana tau kalian mau jalan jalan ” ujar ibu penjaga kedai itu, Saya dan pak budi berpamitan dan meninggaklan kedai itu berjalan kaki menelusuri pasar pancur sembari menikmati suasana malam di pancur.

 

Kami berjalan kaki menelusuri jalanan pasar pancur menuju vihara, sesekali kembang api meluncur dan meledak di udara, anak anak bersorak sorai menyaksikan kembang api, musik musik khas negeri tirai bambu bersahut sahutan dari dalam rumah pelantar, orang orang berkumpul di depan terasa rumah nya masing masing, saling bercengkrama dengan sanak keluarga, suasana malam imlek terasa sangat meriah meskipun dalam suasana sederhana di kampung  kecil ini. Saya menelusuri gang gang sempit yang diapit oleh rumah rumah pelantar, setiap rumah memasang lampion yang memancarkan cahaya warna merah dan keemeasan membuat semarak malam Imlek, masyarakat tampak berjalan beramai ramai menuju vihara, saya dan pak budi pun mengikuti mereka dari belakang. Entah apa yang kami cari di vihara itu, yang penting jalan jalan saja sampai mata mengantuk. Setelah sampai di vihara dan tidak tentu apa yang hendak kami tunggu dan ingin kami lihat disana, akhirnya kami memutuskan pulang ke penginapan ibu maria, mata sudah mulai terasa mengantuk. Malam ini adalah malam pertama dalam perjalanan kami menjelajah kepulauan lingga, kami beristirahat dengan nyaman malam ini di pancur dalam hingar bingar kembang api malam imlek

 

 

Bersambung……