[catper] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 8)

kami terus mengayuh sepeda di tengah rintik hujan meninggalkan pancur,  sepeda meluncur diatas jalan setapak yang membelah kampung Duara, sebagain jalan setapak terbuat dari beton sedangkan sebagian nya lagi terdiri dari pelantar papan, sepeda bergetar ketika melintasi jalan pelantar papan. Di ujung kampung kami berhenti sejenak di sebuah masjid, ada tulisan yang menarik hingga kami berhenti di masjid ini.  pada papan nama masjid tertera tulisan yang menyatakan masjid ini didirikan pada 10 November 1957, sama umurnya dengan ibukota KEPRI tanjungpinang, dari tulisan pada masjid tersebut memberi tanda bahwa kampung kecil ini sudah di huni sejak lama. Meskipun demikian suasana kampung ini tetap  seperti suasana kampung kampung melayu tempo dulu seperti  dalam film-film P.Ramlee.

Setelah berhenti sebentar mengambil foto sebagai kenang kenangan, sepeda kembali kami kayuh keluar kampung Duara menuju Resun. Jalanan tanah kuning yang basah disiram hujan seharian membuat kami harus mengurangi laju sepeda agar tidak terpeleset di jalanan yang licin, sementara itu laju sepeda yang pelan serasa jalan yang di tempuh ini bagai tak berujung, jalan tanah kuning terus membentang panjang membelah bukit naik dan turun.

 

 

 

Rasa letih dan jenuh mulai menyerang, hingga akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah kebun Lada di tepi jalan.  di kiri dan kanan jalan dari desa Duara menuju Resun banyak terdapat kebun lada, orang disini menyebutnya sahang. Konon sahang telah di budidayakan sejak lama di Lingga, dalam sejarah kerajaan Riau-Lingga juga tercatat bahwa jenis rempah rempah ini adalah salah satu komoditas  perdagangan pada masa itu selain timah.

Sepeda kami sandarkan di pepohonan di sebuah kebun milik pak eko, lahan kebun sahang milik keluarga nya ini ia garap sebagai usaha sampingan, kala waktu senggang berkeja sebagai honorer di kantor desa  ia manfaatkan untuk merawat kebun sahang bersama saudaranya, “hasilnya lumayan” ungkap pria berkulit gelap itu. “Beberapa tahun belakangan orang-orang di lingga utara ini mulai giat kembali menanam sahang” ujar nya.  Geliat Sahang memang terlihat sepanjang jalan ini, punggung punggung bukit digarap menjadi  lahan lahan baru untuk menanam sahang.

 

Setelah beristirahat kami kembali melanjutkan gowes ke Resun, jarak pancur dan resun semestinya hanya kurang lebih 15 kilometer, bagi pesepeda yang terlatih, jarak itu mungkin hanya memakan waktu tempuh dalam satu jam atau satu jam setengah jam saja, sedangkan kami hingga saat itu telah memakan waktu satu jam, namun belum juga separuh rute yang kami lalui. Namun menikmati perjalanan ini adalah hal yang lebih penting ketimbang mengejar-ngenar waktu, tidak ada garis finish di ujung sana, jadi tidak pelu buru-buru, nikmatilah…..

Hujan mulai reda dan kami sampai di sungai besar, waktu menunjukkan pukul 10 pagi, tak jauh setelah melewati perkampungan di sungai besar. Kami menjumpai hamparan sawah yang tengah menghijau menyambut kami di depan. Inilah persawahan Desa sungai besar, yang menjadi sentra produksi padi di lingga, bahkan bupati Lingga menargetkan bahwa Lingga akan menjadi lumbung beras nya provinsi KEPRI. Hamparan sawah itu  konon adalah mimpi sang bupati sebagai “anak pulau” , ia merasakan betul betapa susahnya hidup sebagai “orang pulau” untuk mendapatkan  pasokan bahan pokok terutama beras, ketika musim gelombang laut sedang tidak bersahabat, kapal kapal pembawa kebutuhan pokok dari sumatra enggan berlayar. Sehingga, dari latar belakang tersebut sang bupati betul betul serius mewujudkan impiannya tersebut. Terdengar kabar bahwa bupati tersebut tak segan-segan mengelontorkan dana dari kantong pribadinya untuk mewujudkan persawahan itu. Dalam hati saya bergumam, jika memang benar adanya, sungguh beliau sosok pemimpin yang langka. Kami berhenti sejenak di persawahan Sungai Besar, sambil mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan, tak lama kemudian perjalanan kami lanjutkan, persawahan sawah sungai besar kami tinggalkan dengan rasa kagum dan bangga atas kegigihan pak bupati.

 

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.