[CATPER] Jelajah Lingga Bersepeda (Bagian 11)

Jauh-jauh hari sebelum menjelajah pulau lingga , saya sempat menghubungi seorang sahabat lama di pulau tersebut. Ia adalah Bang Fauzi, saya mengenal beliau sebagai seorang juru foto dari kabupaten lingga. Lewat aplikasi “chatting” saya ungkapkan niat saya kepada beliau untuk menjelajah pulau lingga dengan sepeda, dan sekaligus saya meminta saran dari beliau tentang rute yang akan dilewati. Jadi, salah satu sumber informasi tentang perjalanan ini saya dapatkan salah satunya dari beliau, dan saya berjanji untuk menjumpai beliau di kota Daek ketika saya sampai disana kelak.

Tak ada tanda tanda sepertinya hari ini akan cerah, sepanjang perjalanan dari pancur hingga ke kota daek hari ini selalu di guyur hujan.  Waktu telah menujukkan pukul 3 petang, kami memutuskan untuk berhenti dan berteduh dari hujan di sebuah halaman “markas bomba” kantor pemadam kebakaran kota Daek.

Hendak apa dan kemana setelah sampai di kota ini, kami pun tidak tahu, satu satunya yang terlintas di benak saya adalah segera menelepon bang Fauzi. Lewat sambungan telepon saya berbicara dengan bang fauzi, celakanya beliau belum bisa menjembut kami lantaran hujan begitu deras saat itu. Bang Fauzi mengarahkan kami untuk datang ke komplek Istana Damnah Kota Daek, beliau sedang disana dan kami janjian untuk berjumpa.

Dalam hujan deras, saya dan pak Budi mengayuh sepeda meluncur di jalanan kota daek yang sepi. beruntung penunjuk arah di dalam kota ini cukup jelas, sebelum menuju komplek Istana Damnah kami sempatkan berkeliling kota meskipun dalam guyuran hujan. kami mengamati dan menikmati suasana kota sembari mengayuh sepeda. Meriam tua di tepi jalan, jejeran bangunan toko-toko tua di Jln, datuk Laksamana, sebuah bangunan bekas penjara, dan rumah-rumah tradisional  melayu yang berupa rumah panggung, banyak di temui disini dan terawat. Sebuah pemandangan yang langka di ata saya.

 

Nostalgia di Linggam Cahaya,

 

Sebuah Gapura di depan kami. Sebuah keterangan menujukkan gapura tersebut sebagai pintu masuk komplek istana Damnah. Komplek Istana Damnah adalah salah satu tujuan wisatawan di kota Daek, di komlpek istana  tersebut terdapat situs Puing istana Damnah itu sendiri, benda-benda peninggalan sejarah dan bukti sejarah lainnya tentang peninggalan kesulatan Lingga di Kota Daek, termasuk keberadaan Museum Linggam cahaya di Kompel terebut.

 

Sepeda kami kayuh memasuki komplek tersebut, jalanan lurus dan lebar, di ujung jalan dari kejauhan tampak bediri gagah gunung daek, ikon kota Lingga. Hujan dan cuara mendung membuat gunung daek tidak tampak begitu jelas, tersamarkan wujudnya oleh kabut. Di kiri jalan berdiri beberapa kantor, semua nya tampak sudah tutup, mungkin karena saat ini telah lewat jam kantor, namun pintu museum masih tampak terbuka, kami berdua memutuskan untuk masuk ke bangunan museum untuk berteduh sembari menunggu bang Fauzi disana.

 

Kami berdua menunggu di halaman depan museum, karena badan telah basah kuyub, kami pun enggan untuk masuk kedalam museum, kami hanya berdiri saja di beranda. Namun bertahan diluar sini membuat kami berdua menggigil kedinginan. Petugas Museum yang baik hati mempersilahkan kami mesuk ke museum, tahu kami adalah pendatang, sang penjaga museum mengantarkan kami berkeliling melongok isi  museum yang berlantai dua itu. Tiada siapapun pengunjung waktu itu selain kami berdua. Saya dan pak budi terkagum kagum melihat koleksi museum, banyak benda benda peninggalan zaman kerajaan masih tersimpan dengan baik disana, seperti perhiasan, senjata, mesin ketik kuno, radio kuno, peralatan makan, dokumen-dokumen lama dan lain lain.

 

Pria muda petugas museum itu mengantarkan kami menaiki lantai dua, di lantai dua museum kala itu cahanyanya remang remang karena sebagian besar jendela di tutup karena hujan. Suasana di lantai dua terasa begitu berdeba, imajinasi saya melayang jauh seperti dalam buku buku sejarah tentang kerajaan lingga. Pria penjaga Museum itu mengoceh bagai tanpa jeda, menjelaskan segala sesuatu tentang museum dan sejarah lingga.

Dinding-dingin di lantai dua dihiasi dengan figura-figura berukuran besar,  terpasang berjejer di tiap sisi dinding musem, figura figura tersebut memuat foto foto dan lukisan wajah tokoh tokoh kerajaan pada zaman dahulu, saya menatap lama lama wajah tiap foto dan lukisan tersebut, suasana ruangan seketika menjadi dingin ketika petugas museum memutarkan sebuah lagu dengan menggunakan gramophone, entah sebab apa bulu kuduk saya berdiri dan saya seketika merinding.

Bersambung….

Iklan

Satu pemikiran pada “[CATPER] Jelajah Lingga Bersepeda (Bagian 11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s