[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 12)

 

pak Budi Berpose di sebuah penjara tua peninggalan Belanda di tengah kota Daek-Lingga

 

Menginap Di LP

Gunung yang juga di kenal sebagai sebutan gigi naga itu masih tampak tersamar oleh kabut. Pukul empat lebih tigapuluh menit, kota Daek masih terus di guyur hujan, sementara itu kami menunggu hujan reda di beranda museum linggam cahaya. Sementara itu, diantara derasnya hujan dari kejauhan tampak seorang menunggang sepeda motor, dengan tubuh di balut jas hujan jenis ponco, pria itu menghampiri kami yang sedang duduk di depan pintu museum, ternyata dia bang Fauzi yang kami tunggu tunggu.

 

“Luar Biase, akhirnye bise berjumpe lagi” ucap bang Fauzi dalam logat melayu menyapa saya. “Ape kaba…?” kami berjabat tangan , “Allhamdulillah baek bang….” Jawab saya. Saya dan bang Fauzi sudah lama tidak bertemu. Kami pertama kali bertemu dan saling mengenal  pada sebuah acara fotografi setahun yang lalu di Surabaya. Beliau sosok yang ramah, rendah  hati, apa adanya, serta piawai memotret. Kepiawaian nya dalam bermain kamera sudah terbukti dalam berbagai prestasi, salah satu yang saya sangat ingat sekali adalah, ketika karya nya berjudul “dumped off” terpilih menjadi juara pertama kategori Landscape pada gelaran kontes foto internasional “ Kuwait Grand Photography Contest 2016 ” tahun lalu. Prestasi ini pula yang membawanya melawat ke negeri nan kaya miyak, Kuwait 2016 lalu. Itu pengalaman yang tidak pernah terlupakan dan sangat berkesan katanya. “Tak pernah terbayangkan sebelumnye, saye anak kampong ni bise berdiri sejajar menerime Award bersame fotografer dari berbagai negare waktu itu” kenang nya.  Menang di kancah internasional adalah sebuah pengalaman yang tidak pernah terlupakan dan ia duga-duga sebelumnya, jangankan Ia, kami sesama warga KEPRI pun turut merasa bangga.

 

Dari kiri: Saya, Bang Fauzi dan pak Budi

 

Angin laut berhembus menuju darat, dinding dinding bukit dan gunung itu memantulkannya  kembali menuju lembah, hingga menerpa tubuh kami yang tengah kedinginan. Kami masih menunggu hujan reda di beranda museum, bang Fauzi membakar sebatang Dji Sam Soe  dan mengisapkanya dalam sebelum mulai bercerita. “Mike kurang beruntung datang kali ini, beberape hari ni cuace disini tak bagos…, tak bise dapat foto cantek untuk di bawa balek hehe…” sambil mengepulkan asap dari mulutnya ia berseloroh, ia  mungkin sedang menganggap saya sedang melancong saat itu, mendung dan hujan seperti ini adalah kabar buruk bagi pelancong yang datang dari jauh, pelancong yang datang disaat seperti itu adalah kesia siaan saja, mungkin lebih baik tidur saja dirumah. Namun perjalanan ini sudah saya niatkan dari awal bukan sebagai kegiatan pelancongan. Perjalanan ini adalah cara saya menarik diri dari “kelelahan” saya. saya butuh istirahat, saya butuh ruang bagi jiwa, raga dan fikiran saya untuk mendapatkan kembali hak nya, saya butuh  pengalaman baru yang memperkaya pengalaman dan pemikiran saya yang atas izin yang kuasa mungkin saja saya dapatkan dalam perjalanan ini, Saya butuh bertemu orang orang baru dan belajar hal hal baik dari mereka yang saya temui di perjalanan. Saya ingin berada di tempat yang asing bagi saya,  jika kesusahan yang saya dapati, mudah mudahan itu akan menjadikan saya lebih dekat kepada Tuhan, sedangkan jika kesenangan dan kemudahan yang saya dapatkan, maka itu adalah alasan saya untuk lebih bersyukur pada Nya.

 

Bang fauzi banyak bercerita tentang keindahan negerinya pulau Lingga pada kami. Ia bercerita tentang masyarakat yang bersahaja, tradisi melayu yang selalu terjaga, misteriusnya gunung daek yang bercabang tiga, Suku Laut, pantai serta pulau-pulau indah yang masih belum terjamah di lingga, Sedikit banyak kisah dan ceritanya itu yang menuntun saya ke perjalanan yang entah berantah ini.Obrolan kami semakin jauh berkelana entah kemana, hingga tak terasa hari sudah hampir gelap di Daek, sepertinya kita butuh waktu lebih lama untuk bercerita, di situasi yang lebih baik dari ini, tidak dengan pakaian basah hingga membuat tubuh menggigil seperti ini. Akhirnya bang Fauzi Menitipkan kami untuk menginap di LP, seperti pertama kali saya mendengar isitlah LP ini, and Jangan terkejut dahulu, kami tidak menginap di Lembaga Permasyarakat (LP), tapi di sebuah wisma tua bernama Lingga Pesona, orang disini menyebutnya LP. Sepeda kami kayuh menuju LP.

Update : Wisma Lingga Pesona (LP) sebagain bangunannya telah habis terbakar pada sebuah kebakaran hebat yang melanda perkampungan cina di Kota Daek pada tanggal 28 november 2017). termasuk kamar kami menginap dan bangunan yang terdapat pada foto dibawah

Bersambung….

 

Iklan

4 pemikiran pada “[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 12)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s