[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 13)

Rupanya “LP” itu tak begitu jauh dari Museum Linggam cahaya. Tentu saja… jika masih di dalam kota daek ini kemana mana tak terasa jauh, karena kotanya kecil saja. Bang Fauzi memandu kami dengan sepeda motor  menuju Penginapan., kami diantarkan nya ke Wisma Lingga pesona di Jl. Datuk Laksamana No 09 Daek lingga. Sebuah Wisma tua dengan bangunan kayu yang lebih menyerupai kedai kedai pencinaan disebuah kota lama.

Menurut bang Fauzi, Lingga pesona adalah penginapan yang pertama yang ada Daek. Bangunan Wisma lama terletak di jalan Datuk Laksamana no 09 ini. sampai sekarang, bangunan wisma lama tersebut masih di pertahankan hingga kini dan masih di gunakan untuk pengunjung,  Sedangkan bangunan wisma baru di bangun memanjang tersambung dengan bangunan wisma lama, sehingga kedua bangunan tersebut terhubung. Saya masuk dari pintu bangunan wisma lama dan berjalan menuju reception yang berada di bangunan wisama baru, suasana perubahan bangunan ini dari waktu kewaktu amat sangat terasa ketika saya menelusurinya. Sebuah kamar dengan harga sewa 70 ribu rupiah permalam yang terletak di bangunan wisma lama kami pesan, kamar hanya terdiri dari dua tempat tidur sebuah lemari dengan kipas angin tergantung di langit langit kamar, cukup nyaman buat pe-“touring” “budget mepet” seperti kami.

Sepeda kami parkirkan di dalam gudang wisma yang berada di lantai dasar, semua barang bawaan telah di turunkan dari rak, sepeda telah di kunci dan pannier kami pindahkan kedalam kamar.

Bang Fauzi pun berpamitan setelah semua perlengkapan kami simpan di dalam kamar. “nah… silahkan istirahat dulu, nanti malam kita wisata kuliner ” tandas nya mengakhiri perjumpaan dengan kami senja hari itu.

Magrib telah usai, namun rintik hujan terus saja membasahi bumi bunda tanah melayu itu, awan seperti tak kuasa menahan bebannya, seperti air mata bunda yang mengiringi kepergian anak nya untuk selama lamanya, , kadang dapat di tahan, tapi kemudian mengalir jua.

 

Makan malam “hikmat”, ayam goreng sambal Mercon

Hari mulai gelap, angin dingin dari dinding dinding bukit yang melingkungi kota daek berhembus hingga dinginnya menusuk sampai ke tulang, perut yang sudah kosong membuat situasi seakan makin “sempurna” nelangsanya. Saya dan pak Budi memutuskan untuk tidak menunggu ajakan bang Fauzi, urusan perut ini sepertinya tidak dapat di tunda lagi.kami bergegas tinggakan kamar wisma untuk mencari penambal dinding dinding lambung ini.  Bersamaan dengan itu pula bang Fauzi baru saja tiba di depan wisma hendak menjemput kami, dayung ternyata bersambut.

Bang Fauzi dan seorang teman bernama Ferdy menjemput kami dengan sepeda motor untuk berwisata kuliner di kota daek. Pak Budi di bonceng oleh bang fauzi sedangkan saya bersama Ferdy. Di atas kendaraan yang melaju,  Ferdy dan saya berkenalan untuk pertama kali,  saya ketahui beliau berkerja untuk pemerintah mengawasi terumbu karang di perairan kabupaten lingga, sebenarnya bang Fauzi dan bg ferdy ini penjelajah alam lingga,  sudut mana yang mereka belum pernah jelajahi di lingga ini, dari daratannya  hingga dasar laut telah di telusurinya.

Sepeda motor berhenti di sebuah halaman rumah yang telah di tata sedemikian rupa hingga menjadi kedai makan, “Kedai sambal Mercon” namanya. Mendengar namanya saja air liur saya seakan tak sadar meleleh. Ini sepertinya akan menjadi makan malam yang “serius”, panas dan berkeringat.

Kami memilih duduk disebuah gazebo di halaman kedai, ukurnnya satu meja pas untuk kami ber-empat. Bang fauzi menepukkan kedua tangganya memanggil pelayan kedai, seketika dengan sigap pelayan kedai datang membawa daftar menu dan sebuah buku catatan, 3 porsi ayam goreng dengan sambal mercon di pesan bang Fauzi, sedangkan bg Ferdy memesan semangkok mie rebus. di gazebo kami “berbual” mengulur-ulur rasa lapar, namun  menu yang di pesan tak secepat datangnya si pelayan pembawa daftar menu itu. Sungguh kesabaran sang kelapran ini sedang diuji.

Akhirnya yang di tunggu tunggu pun datang, “Nah…jom kita makan” kata bang Fauzi, tanpa menunda waktu urusan mengisi perut segera kami tuntaskan, hening tanpa bersuara. hanya terderngar sesekali suara benturan gelas dan piring dari meja makan. Sambal mercon ini jadi pelampiasan hasrat “makan Besar” seharian ini, seingat saya seharian ini hanya makan mie instan tengah hari tadi di Air terjun resun. pantas saja rasanya dua orang pesepeda ini terlihat kalap  malam ini, sampai sampai pak budi pun meminta tambah satu porsi.

 

Jelajah Lingga dari Meja Makan

Kami berdua tak akan banyak punya waktu untuk berkeliling kota Daek, dikarenakan waktu yang terbatas . Esok pagi pagi sekali kami harus mengejar penyebrangan menuju Pulau singkep dengan menumpang kapal Roll and Roll (RORO) dari pelabuhan Penarik. Menurut bang Fauzi, kapal akan berangkat pukul 11 siang dari pelabuhan penarik (Lingga) ke Pelabuhan Jagoh (Pulau Singkep),

Saya hanya memendam harapan untuk mengenal lebih jauh negeri bunda tanah melayu ini, tapi beruntung nya saya berjumpa dengan dua orang yang akan membawa saya “berkelana” imajinasinya  menelusuir kepulauan lingga dengan kisah perjalanan mereka dari meja makan ini. Bang fauzi dan Ferdy adalah sebagian dari generasi muda lingga yang aktif memperkenalkan keindahan alam dan budaya Lingga lewat media internet. Jangkauan jejalah mereka akan kepulauan  Lingga  tiada yang meragukan , daratan hingga dasar laut kepulauan lingga telah mereka sambangi. Jika tak percaya coba singgahi akun Instagram mereka @said_fauzi_dive dan @ferdyoi.

Dari meja makan malam itu mereka bercerita bagaimana mereka hidup beberapa hari di perkampungan suku laut di kepulauan senanyang, menyelami dasar laut menemukan warna warni terumbu karang, menari nari dengan berbagai jenis ikan dan menikmati keheningan di dasar laut kepulauan lingga. Menikmati indahnya matahari terbit di puncak permata, kisah kisah ekpedisi pendakian gunung Daek, serta pantai pantai indah nan sepi, tersebunyi dan tak terjamah di kabupaten kepulaun Lingga. Sungguh cerita mereka membuat perasaan ingin kembali lagi suatu hari.

 

Melewatkan Malam Di Taman Tanjungbuton

Sudah pukul 10 malam, bang fauzi dan Ferdy menawarkan saya untuk menikmati suasana malam di kota nya, meskipun kantuk sudah menyerang namun saya terima saja tawaran mereka. Tak ada salahnya melawan kantuk sejenak untuk sebuah cerita yang akan di bawa pulang tentang daerah yang baru saya  kenal ini. Bang Fauzi dan Ferdy mengajak kami ke tempat dimana orang orang kota daek “kongkow” melewatkan waktu malam sebelum mata mengantuk, Mereka ajak kami ke sebuah taman terbuka, sebuah taman bernama “TB” alias Taman Tanjungbuton

Taman Tanjung buton adalah sebuah taman yang terletak persis di depan pelabuhan Tanjung Buton. Pelabuhan ini merupakan salah satu gerbang utama untuk menuju Daek, meskipun keberadaan pelabuhan penarik juga menjadi alternatifnya sebagai pintu masuk ke pulau lingga, namun nama pelabuhan tanjungbuton lebih populer sebagai sebuah pintu gerbang.

Warga tampak bersantai di sekitaran taman yang di kiri dan kanan nya adalah lautan itu, muda mudi bercengkrama, sebagian dari mereka duduk duduk diatas sepeda motor yang terparkir di pinggir pinggir jalan. “ini adalah salah satu tempat terbaik menikmati sunset di kota ini” ujar bang Fauzi. Namun di kiri dan kanan jalan saya tak melihat apa apa melaikan gelap lautan.

Malam itu terdapat suatu keramaian di tengah jalan, tepat di depan gerbang pelabuhan tanjungbuton, sebuah panggung hiburan sederhana berdiri,  panggung dengan banner besar bermotif warna merah kuning hijau layaknya bendera negara Jamaica, jelas sepertinya akan ada pertunjukan musik Reggae disini, saya sempat berfikir bagaimana musik dari benua afrika itu bisa sampai ke negeri yang tersuruk di seberang laut dan di balik gunung ini, ah sudahlah… kabar  seperti apa sekarang ini yang tak dapat di ketahui sampai ke pelosok negeri, kalau jaringan internet sudah menjangkaunya, segala informasi bahkan idologi macam apapun akan sampai jua ke ujung negeri. Kami memilih untuk menikmati sajian musik yang dekat dengan kaum Rastafarian itu

Di atas panggung berdiri pria dengan suara lantang, tanpa pengeras suara pun suaranya terdengar keras, ia  berbicara laksana orator demonstrasi, ucapan ucapan menyuarakan perlawanan generasi muda terhadap generasi generasi tua yang korup, penindasan, dan ke-tidakadilan pemimpin. namun entah siapa orator itu, dan  pada siapa orasinya ia tujukan saya tidak memahaminya, yang jelas panggung musik reggae belum juga kunjung dimulai.

Tak lama setelah orasi, beberapa bujang dan gadis belia berbusana melayu meliuk liuk menari dengan tarian melayu yang lincah di depan panggung. Meksipun panggungnya ber-“aroma” Jamaica, namun Identitas melayu tetap di taruh di muka. Setelah semarak musik dan gerakan tarian melayu yang enerjik tampil di hadapan masyarakat kota daek, suasana seketika hening, seorang penyair tampak bersiap membacakan sajak

 

“Puncak Permata”

Di ketinggian ini
ingin kuceritakan kepadamu tentang isyarat langit yang bercakap-cakap dengan laut, sejauh mata memandang semuanya hijau dan biru.

 

Seketika saya ingat penggalan bait sajak itu, rasanya pernah saya baca sebelumnya, dimana saya membaca pun saya tidak ingat. “Ia adalah Nofriadi Putra, ia piawai menulis syair dan puisi  ”  kata bang Fauzi, “Pria berdarah minang yang sudah lama tinggal di sini, mungkin cinta nya akan tanah kelahirannya serupa sebagaimana ia mencintai tanah rantaunya ini” bang fauzi menjelaskan. Wah… saya sungguh merasa beruntung, bisa mendengarkan lantunan sajak indah yang pernah say abaca,  yang kemudian di bacakan oleh penulisnya sendiri, dan sungguh tidak terduga.

Nofriandi membacakan bait-bait sajak dengan nada tenang, Saya menikmati bait demi bait sajak berjudul “Puncak Permata” itu.  Saya membayangkan, mungkin saja Nofriadi menulis bait bait sajak itu ketika ia sedang duduk menikmati indahnya bentang alam kepulauan lingga dari puncak permata itu.  Mungkin saja…

Nofriandi mekahiri puisinya, suasana hening berganti riuh tepukan tangan penonton yang berkumpul di depan panggung. Mata saya mengantuk di buai angin bait bait sajak Nofriandi dan juga henbusan angin laut. Karena tak kuasa lagi menahan kantuk, kami pun bergegas pulang meninggalkan panggung musik  ber aliran impor dari benua afrika itu.

Esok Pagi pagi sekali kami harus mengayuh sepeda kembali menuju Pulau singkep.

Terima kasih bang Fauzi dan Ferdy atas satu malam di Daek Lingga yang tak terlupakan…

 

Bersambung…..

Update : Wisma Lingga Pesona (LP) sebagain bangunannya telah habis terbakar pada sebuah kebakaran hebat yang melanda perkampungan cina di Kota Daek pada tanggal 28 november 2017). termasuk kamar kami menginap dan bangunan yang terdapat pada foto diatas

Iklan

2 pemikiran pada “[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 13)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s