Pria Berkamera, Fotografer dan tukang pijat

886627_3016531708972_481090110_o

Suatu ketika dalam sambungan telepon, seorang fotografer dan calon client sedang melakukan percakapan.

Calon klien : Mas fotografer, saya mau tanya-tanya paket foto wedding.

Fotografer: ok, Baik mbak… silahkan…

Calon klien: paket nya apa aja ya mas?

Fotografer : Baik mbak…, kita kebetulan punya paket wedding bla bla bla….. ( mas fotografer menjelaskan  dengan detail paket )

Calon klien : Oh begitu ya mas…?,    Jadi gini mas, saya tu acara wedding nya sederhana saja, nga pakai resepsi-resepsi gitu, jadi paling sebentar doang sudah selesai, fotografer bakalan nga perlu standby lama kok mas.

Fotografer: Hmm…Oh baiklah mbak… saya aturkan secara fleksibel, kebetulan kita sudah siapkan paket per jam, bagaimana…?

Calon klien : nah, berapa itu budget paket per jam nya?

Fotografer : baik mbak… untuk paket per jam nya adalah bla bla bla….. ( fotografer menyebutkan nominal dan detail paket per jam )

Calon klien: Ooo… bgtu ya mas.     Bgini mas… saya kebetulan kemarin baru beli kamera juga, bagus juga kameranya, bisa di putar putar itu lensanya kayak kamera wartawan itu.. nah.., kalau nanti mas motretnya pas waktu acara saya pakai kamera saya aja gimana mas? harganya boleh kurang lagi nga? (calon client mulai bicara dengan tersendat sendat seperti sedang mikir sesuatu)

Fotografer: (di balik telepon fotografer menarik nafas dalam sembari mengurut dada, ) Hhm… bgini mbak.., harganya sudah di ditetapkan sekian ya mbak…, masalah kamera yang saya gunakan, boleh boleh saja mbak menawarkan kamera tapi, jasanya tetap demikian mbak…

Calon client: Oooo…. ya udah, nanti saya telepon lagi ya. Terima kasih

Fotografer : baiklah mbak….

Dan calon client tidak pernah kembali menelepon.

Teman teman fotografer mungkin pernah mengalami kejadian seperti ini, dan respon nya bisa bermacam macam, ada yang malas malasan melayani clinet seperti ini, ada yang mengurut dada sabar melayani, ada juga mungkin yang  jutek  dan galak hingga bilang seperti ini ke calon client, “Ya udah…, motret pakai HP aja sendiri ”.  semoga saja teman teman fotografer tidak seperti contoh yang ketiga itu, bagaimanapun fotografer harus menyadari calon client bisa datang dari latar belakang yang berbeda beda. Tidak semua client mengerti tetang layanan jasa fotografi, mungkin saja client orang awam atau belum pernah menggunakan jasa fotografi sebelumnya. Contoh saja untuk acara wedding, mungkin saja sebagian besar orang yang memesan jasa foto wedding adalah belum pernah menjalani wedding atau mengurus wedding dan ber urusan dengan fotografer sebelumnya. Tugas fotografer adalah memberi penjelasan dengan baik kepada calon client.

Bukan hal yang suatu hal yang baru disadari lagi kalau era digital menjadi tantangan sendiri bagi fotografer. Mengutip pernyataan dari arbain fotografer senior yang bertugas pada harian kompas,  Perbandingan era kamera film dan digital, perbedaan nya sudah seperti bumi dan langit dari sisi kemudahan memotret, demikian ungkapan beliau.

Dengan munculnya teknologi  kamera DSLR tugas fotografer agak lebih terbantu dan mudah, muncul fenomena hampir kebanyakan orang bisa memiliki kamera dengan harga kamera yang semakin terjangkau pula, semua orang bisa memotret, bahkan anak taman kanak kanak saja kalau di berikan kamera digital sudah bisa menghasilkan gambar.  Kembali mengutip pernyataan jurnalis foto senior kompas Arbain Rambe, orang berkamera dan fotografer itu bagaikan fenomena tukang pijat, “semua orang punya tangan, tapi nga semuanya pintar mijat, yang membedakan mereka adalah skill dan pengalaman”

Dari percakapan client dan fotografer tadi mungkin bisa disimpulkan kalau calon client masih awam dengan tugas fotografer. Dia berfikir tugas memotret tak lebih dari berhitung dari angka satu ke  tiga kemudian menekan shutter saja, client tidak mengerti untuk melaksanakan tugas memotret perlu keahlian dan pengalaman untuk bisa memutuskan kapan saat terbaik menekan tombol shutter yang terlihat pekerjaan itu tampak mudah.

Dan kemudian, sebagian client mungkin bertanya “kok tarif foto terlalu mahal…?”, “ah.. apa sih susahnya motret, tinggal jpret jpret aja kok bayarnya mahal gitu”.  Sekali lagi…, mungkin client tidak faham bagaimana proses dari memotret hingga album mereka terima. Di balik proses memotret Fotografer melakukan pekerjaan kreatif yang melibatkan ide dan imajinasi, bukan kah imajinasi itu lebih berharga dari ilmu pasti…? Fotografer perlu banyak belajar, berlatih dan proses tersebut tentu tidak di dapati dengan mudah atau pun gratis…, disisi lain dalam tugas fotografi, fotografer harus memikirkan biaya operasional (transport,makan,dll), biaya produksi (jasa editor, biaya listrik saat editing, cetak foto, album dsb) , biaya penyusutan alat fotografi yang jika semakin sering di gunakan makin berkurang pula daya alat tersebut beroperasi seperti contoh kamera dan lampu flash…, ada lagi biaya peningkatan skill fotografi, kadang fotografer belajar dalam wokshop workshop fotografi agar hasil karya  yang di hasilkan untuk client menjadi lebih baik, ataupun ia belajar dari secara mandiri melalui internet dll, semua hal tersebut tentu butuh biaya. , belum lagi biaya operasional toko yang harus di perhirungkan jika memiliki toko, dan yang terpenting perlu sadari adalah fotografer juga adalah suatu profesi, fotografer berkerja tentu untuk penghidupannya dan keluarganya.

Mencari referensi, informasi atau pun survey adalah ciri klien yang bijak. Semestinya tidak ada fotografer yang memberikan harga tidak masuk akal kepada client nya, dan semestinya pula tidak akan ada client yang kecewa atas layanan fotografer jika client telah melalui riset seperti yang di sebutkan di awal paragraf ini. What you pay is what you get.  Mahal adalah relatif. Mungkin anda akan menemui dilapangan tarif dari jasa fotografi yang sangat beragam, mulai dari yang ratusan ribu bahkan hingga puluhan juta rupiah, yang perlu anda cermati adalah apa yang akan anda dapatkan dari paket yang di tawarkan fotografer tersebut. Mungkin fotograger A lebih mahal dari fotografer B, tapi coba anda telusuri mengapa paketnya lebih mahal, hak anda sebagai client meminta penjelasan paket fotografi yang di tawarkannya. Satu hal yang tak kalah penting lagi yang perlu anda lakukan sebagai client adalah melakukan riset terhadap hasil karya dari calon fotografer anda, fotografer yang baik biasanya memiliki porfolio yang baik dan mudah diakses oleh client nya. Seperti trend saat ini, fotografer merangkum karyanya dalam akun media sosial nya seperti facebook ataupun instagram. Anda bisa mengamati karya karya atau pekerjaan yang telah mereka lakukan dalam tugas fotografi. Pilihlah fotografer yang sesuai dengan harapan anda hasil karyanya.

Klien yang kurang referensi kadang dipengaruhi oleh fotografer yang mematok tarif dibawah pasaran, fotografer yang melakukan tindakan seperti ini berkemungkinan adalah yang sedang belajar dibidang usaha jasa fotografi. Fotografer yang tengah dalam tahapan belajar terkadang tidak terlalu memikirkan materi, hal yang lebih utama baginya adalah mendapatkan portfolio, pengalaman memotret, dan meraih perhatian klien ketimbang memikirkan materi seperti halnya pelaku usaha fotografi. Sah sah saja kalau alasan belajar untuk bertindak demikian. Toh nanti tiba saatnya fotografer tersebut akan meningkatkan level nya tadinya dalam tahap belajar, kemdian terjun menjadi pelaku usaha fotografi, sehingga mereka pun akan memikirkan dan melakukan hal-hal bagaimana seorang profesional berkerja. Tipikal fotografer yang belajar seperti  tadi patut mendapat arahan dan pembinaan dari senior agak lebih baik . Tapi yang berbahaya justru adalah yang melakukan nya dengan tidak serius atau iseng iseng aja. Hanya bermodal kamera kemudian tanpa bekal pengetahuan fotografi yang memadai cetak kartu kemudian berjualan jasa fotografi. Fenomena seperti ini kadang menciptakan situasi buruk bagi usaha fotografi. Usaha fotografi menjadi tidak sehat, kualitas jasa fotografi yang menurun, pemahaman masyarakat tentang seni fotografi rendah, dan kurang di hargai nya profesi fotografi. Sebagai mana sebuah ungkapan lama, “orang lain akan menghargai anda sebagaimana anda menghargai diri anda sendiri”

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Pria Berkamera, Fotografer dan tukang pijat

  1. sudah baca dari pagi baru skrg bisa komen.

    Bekerja (freelance) di industri kreatif memang nggak mudah apalagi di Indonesia. Aku pernah beberapa tahun jadi grafik desainer, pernah bikin desain 50 ribuan (sedih kalau ingat ini). Dan kalau kaya gini terus yang dirugikan senimannya dong. Makanya tugas kita nih seniman / pekerja seni / insan kreatif juga harus mengedukasi pasar bahwa yang dibayar nggak cuma kerjaanya tapi ide dan kreativitas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s