[CATPER] Masjid Keramat di Kerinci

dsc_7189_34586007315_o

Mahatahari telah meninggi di atas kota sungaipenuh, Kerinci. Namun udara masih terasa sangat sejuk bagi saya ,orang pesisir  yang baru saja tiba di kota yang di kelilingi bukit barisan ini. Sudah beberapa hari ini saya, dan keluarga kecil saya tiba di Kerinci, negeri dingin yang dijuluki atap Sumatra itu. Kunjungan ke-Kerinci kali ini adalah kebiasaan tahunan  kami sebagai perantau, “pulang kampung nih”. Sebagai perantau yang dipisahkan ratusan kilometer dari rumah, tradisi pulang kampong adalah sesuatu yang sangat di dambakan, meskipun perjalanan sekali setahun itu tidak mudah untuk mewujudkannya, perlu persiapan matang akan banyak hal terutama waktu dan biaya, maka sejak jauh jauh hari, mungkin bahkan setahun sebelumnya mesti di persiapkan, Bagi perantau, Uang habis tak mengapa, asal kan bias berbagahia… melepas rindu pada ayah dan bunda, serta  nenek dan kakek terhadap cucunya

Saat pulang kampung seperti ini, saya selalu mengajak anak dan istri untuk jalan-jalan mengenal tanah kelahiran saya, mendatangi tempat tempat yang indah dan menarik serta tempat-tempat kenangan semasa saya kecil, Dengan semangat dan bangga saya selalu bercerita bak pemandu wisata setiap tempat tempat yang kami datangi. Dahulu, ketika masih tinggal di sungai penuh, saya bukanlah orang yang “suka jalan”, jadi tak banyak tempat yang saya ketahui meskipun itu di tanah kelahiran saya sendiri, Malang nya….

Pagi itu kami akan berencana menebus rasa penasaran  tentang sebuah masjid bernama “Masjid Keramat” di koto tuo Pulau Tengah, kerinci. Keramat…? Iya,  Tiga Kejadian diluar jangkauan nalar manusia pernah terjadi dahulu kala pada masjid ini, pada 1903, ketika itu penjajah belanda pernah membumi hanguskan seluruh bangunan di pulau tengah itu, namun namun masjid yang berada di detngah kampong itu bagai tak tersentuh oleh api, selanjutnya terjadi lagi kejadian yang sama pada tahun 1939, belanda membakar seluruh bangunan kampung, masjid kampung itu sepeti di lindungi, tiada tersentuh api. Selain itu, beberapa gempa besar pernah mengguncang kerinci diantaranya gempa besar pada tahun 1942 (masa pendudukan Jepang), masjid itu tetap berdiri kokoh, oleh Karena itu, hingga kini masjid tersebut dianggap keramatkan dan di beri nama masjid Keramat..

Kami Bertiga meluncur dengan “scouter matic” 110cc di jalanan kota sungai penuh yang  padat, sepeda motor pribadi, mobil, ojeg melaju seperti saling adu cepat, tak ada satupun yang ingin mengalah, semuanya seperti tergesa-gesa seperti mengejar sesuatu, entah apa yang sedang mereka kejar di kota kecil ini, saya bertanya dalam hati. Kami memilih jalan Depati Parbo menuju Desa Pulau Tengah yang terletak di arah selatan dan berjarak hanya 15Km dari kota sungai penuh itu, Jalanan mulai terasa agak “lega” ketika kami memasuki Kumun, Kiri dan kanan jalan mulai terlihat petak petak sawah yang terjepit diantara tembok tembok beton bangunan rumah, sawah sawah di kota ini telah banyak beralih fungsi sebagai  pemukiman, sebuah pemandangan yang sangat berbeda 20 tahun  yang lalu ketika saya masih di kerinci. Kami terus bergerak ke arah luar kota, semakin keluar kota pemadangan semakin membuat saya ingin memperlambat laju kendaraan, hamparan sawah yang luas membentang di kiri dan kanan jalan membuat mata tak bosan memandang, di tengah sawah terlihat berbagai aktivitas petani yang tengah menggarap lahan, sebagian  sedang menanam benih sedangkan yang lainnya tengah panen.   Memasuki Desa Semerap,  hamparan sawah tampak sedang menguning, di ujung horizon sana  tampak sisi danau kerinci dengan jejeran rumah rumah di tepi danau tertata begitu rapi dan indah, bagai pemandangan didalam lukisan… sungguh Maha besar sang pencipta alam

15 menit berkendara kami telah melewati beberapa kampong di antranyta Kumun, Semerap, Tanjung pauh dan akhirnya kami tiba di Pulau Tengah. Pengikuti penunjuk jalan yang ada di pinggir jalan , akhirnya kami menjumpai Masjid Keramat. Masjid berbentuk limas ini terletak ditengah perkampungan, Koto Tuo namanya. Di kampong tersebut saya masih melihat beberapa rumah masih menggunakan rumah larik, rumah tradisional kerinci , meskipun sebagian besar bangunan rumah telah ber- gaya minimalis, mode rumah orang orang di kota. Sungguh sangat disayangkan, identitas asli masyarakat sudah mulai terganti dengan identitas kekinian.

Saya parkirkan kendaraan di halaman masjid yang telah di kelilingi tembok setinggi daa orang dewasa itu, dua orang wanita tmpak tengah menyapu halaman masjid. Karena pintu masjid di tutup, saya meminta izin untuk masuk guna menunaikan shlalat Dzuhur, salah satu perempuan penjaga masjid tersebut membuka kan pintu dan dengan ramah dan mempersilahkan saya masuk. Sebelum masuk ruang utama masjid, saya ber-wudhu. Di tempat wudhu air senantiasa dialirkan seperti tak perlu khawatir akan kekeringan, sumber air yang berasal dari sungai masih berlimpah di desa ini. Saya kemudian shalat di ruang utama masjid sedangkan Daffa dan ibunya berkeliling mengamati masjid dari halaman.

Usai shalat, saya duduk bebera saat mengamati sekeliling ruangan utama masjid. Saya terkagum melihat sekeliling ruangan. Tiang-tiang penyangga, dinding kayu penuh ukiran yang sudah terlihat tua, namun masih sangat terawat dan kokoh. Sebuah Tiang utamam (Soko Guru)  berukuran besar, lebih besar dari semua tiang yang ada di masjid itu tertancap ditengah tengah ruangan masjid. Selain sebagai tiang utama yang menyangga bangunan masjid, Tiang tersebut  juga terdapat tempat adzan, meskipun sudah tidak di ngunakan lagi sejak lama semenjak di kenalnya pengeras suara. sebuah tangga dan selasar dihubungkan dengan tiang utama itu yang berfungsi sebagai tempat laluan bagi muadzin menuju tempat adzan. Selain satu tiang utama, terdapat empat tiang yang berfungsi menopang bangunan masjid, Tiang segi delapan, dan dinding dihiasi oleh ukiran bermotif bunga pakis merupakan identitas bangunan tradisional kerinci. Di pintu gerbang dihiasi keramik dengan motif bunga, konon keramik tersebut adalah pemberian belanda, di bawa langsung dari negeri kincir angin itu

Bangunan masjid Keramat yang dilihat pada saat ini adalah tak jauh berbeda dengan kondisi aslinya, menurut penjaga masjid, tidak dibenarkan merubah bentuk masjid ini, hanya saja bagian atapnya saja telah di ganti dengan bahan seng, dimana sebelumnya adalah ber-atap ijuk. sejak tahun 1931 pemerintah telah menetapkan masjid keramat koto tuo ini sebagai monument ordonantie yang melindungi  dan cagar Budaya, berupa Benda, Struktur, Bangunan, Situs dan Kawasan.

Iklan

3 pemikiran pada “[CATPER] Masjid Keramat di Kerinci

  1. Saya pernah kesana waktu naik gunung kerinci, dari kersik tuo naik bis lagi sekitar 45 menit (mungkin 30 menit, ga yakin), memang disana hijau banget ya, jadi Robby orang sana toh, kotanya kayak dikelilingi bukit gitu yah, unik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s