[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 12)

 

pak Budi Berpose di sebuah penjara tua peninggalan Belanda di tengah kota Daek-Lingga

 

Menginap Di LP

Gunung yang juga di kenal sebagai sebutan gigi naga itu masih tampak tersamar oleh kabut. Pukul empat lebih tigapuluh menit, kota Daek masih terus di guyur hujan, sementara itu kami menunggu hujan reda di beranda museum linggam cahaya. Sementara itu, diantara derasnya hujan dari kejauhan tampak seorang menunggang sepeda motor, dengan tubuh di balut jas hujan jenis ponco, pria itu menghampiri kami yang sedang duduk di depan pintu museum, ternyata dia bang Fauzi yang kami tunggu tunggu.

 

“Luar Biase, akhirnye bise berjumpe lagi” ucap bang Fauzi dalam logat melayu menyapa saya. “Ape kaba…?” kami berjabat tangan , “Allhamdulillah baek bang….” Jawab saya. Saya dan bang Fauzi sudah lama tidak bertemu. Kami pertama kali bertemu dan saling mengenal  pada sebuah acara fotografi setahun yang lalu di Surabaya. Beliau sosok yang ramah, rendah  hati, apa adanya, serta piawai memotret. Kepiawaian nya dalam bermain kamera sudah terbukti dalam berbagai prestasi, salah satu yang saya sangat ingat sekali adalah, ketika karya nya berjudul “dumped off” terpilih menjadi juara pertama kategori Landscape pada gelaran kontes foto internasional “ Kuwait Grand Photography Contest 2016 ” tahun lalu. Prestasi ini pula yang membawanya melawat ke negeri nan kaya miyak, Kuwait 2016 lalu. Itu pengalaman yang tidak pernah terlupakan dan sangat berkesan katanya. “Tak pernah terbayangkan sebelumnye, saye anak kampong ni bise berdiri sejajar menerime Award bersame fotografer dari berbagai negare waktu itu” kenang nya.  Menang di kancah internasional adalah sebuah pengalaman yang tidak pernah terlupakan dan ia duga-duga sebelumnya, jangankan Ia, kami sesama warga KEPRI pun turut merasa bangga.

 

Dari kiri: Saya, Bang Fauzi dan pak Budi

 

Angin laut berhembus menuju darat, dinding dinding bukit dan gunung itu memantulkannya  kembali menuju lembah, hingga menerpa tubuh kami yang tengah kedinginan. Kami masih menunggu hujan reda di beranda museum, bang Fauzi membakar sebatang Dji Sam Soe  dan mengisapkanya dalam sebelum mulai bercerita. “Mike kurang beruntung datang kali ini, beberape hari ni cuace disini tak bagos…, tak bise dapat foto cantek untuk di bawa balek hehe…” sambil mengepulkan asap dari mulutnya ia berseloroh, ia  mungkin sedang menganggap saya sedang melancong saat itu, mendung dan hujan seperti ini adalah kabar buruk bagi pelancong yang datang dari jauh, pelancong yang datang disaat seperti itu adalah kesia siaan saja, mungkin lebih baik tidur saja dirumah. Namun perjalanan ini sudah saya niatkan dari awal bukan sebagai kegiatan pelancongan. Perjalanan ini adalah cara saya menarik diri dari “kelelahan” saya. saya butuh istirahat, saya butuh ruang bagi jiwa, raga dan fikiran saya untuk mendapatkan kembali hak nya, saya butuh  pengalaman baru yang memperkaya pengalaman dan pemikiran saya yang atas izin yang kuasa mungkin saja saya dapatkan dalam perjalanan ini, Saya butuh bertemu orang orang baru dan belajar hal hal baik dari mereka yang saya temui di perjalanan. Saya ingin berada di tempat yang asing bagi saya,  jika kesusahan yang saya dapati, mudah mudahan itu akan menjadikan saya lebih dekat kepada Tuhan, sedangkan jika kesenangan dan kemudahan yang saya dapatkan, maka itu adalah alasan saya untuk lebih bersyukur pada Nya.

 

Bang fauzi banyak bercerita tentang keindahan negerinya pulau Lingga pada kami. Ia bercerita tentang masyarakat yang bersahaja, tradisi melayu yang selalu terjaga, misteriusnya gunung daek yang bercabang tiga, Suku Laut, pantai serta pulau-pulau indah yang masih belum terjamah di lingga, Sedikit banyak kisah dan ceritanya itu yang menuntun saya ke perjalanan yang entah berantah ini.Obrolan kami semakin jauh berkelana entah kemana, hingga tak terasa hari sudah hampir gelap di Daek, sepertinya kita butuh waktu lebih lama untuk bercerita, di situasi yang lebih baik dari ini, tidak dengan pakaian basah hingga membuat tubuh menggigil seperti ini. Akhirnya bang Fauzi Menitipkan kami untuk menginap di LP, seperti pertama kali saya mendengar isitlah LP ini, and Jangan terkejut dahulu, kami tidak menginap di Lembaga Permasyarakat (LP), tadi di sebuah wisma tua bernama Lingga Pesona, orang disini menyebutnya LP. Sepeda kami kayuh menuju LP.

Bersambung….

 

Iklan

[CATPER] Jelajah Lingga Bersepeda (Bagian 11)

Jauh-jauh hari sebelum menjelajah pulau lingga , saya sempat menghubungi seorang sahabat lama di pulau tersebut. Ia adalah Bang Fauzi, saya mengenal beliau sebagai seorang juru foto dari kabupaten lingga. Lewat aplikasi “chatting” saya ungkapkan niat saya kepada beliau untuk menjelajah pulau lingga dengan sepeda, dan sekaligus saya meminta saran dari beliau tentang rute yang akan dilewati. Jadi, salah satu sumber informasi tentang perjalanan ini saya dapatkan salah satunya dari beliau, dan saya berjanji untuk menjumpai beliau di kota Daek ketika saya sampai disana kelak.

Tak ada tanda tanda sepertinya hari ini akan cerah, sepanjang perjalanan dari pancur hingga ke kota daek hari ini selalu di guyur hujan.  Waktu telah menujukkan pukul 3 petang, kami memutuskan untuk berhenti dan berteduh dari hujan di sebuah halaman “markas bomba” kantor pemadam kebakaran kota Daek.

Hendak apa dan kemana setelah sampai di kota ini, kami pun tidak tahu, satu satunya yang terlintas di benak saya adalah segera menelepon bang Fauzi. Lewat sambungan telepon saya berbicara dengan bang fauzi, celakanya beliau belum bisa menjembut kami lantaran hujan begitu deras saat itu. Bang Fauzi mengarahkan kami untuk datang ke komplek Istana Damnah Kota Daek, beliau sedang disana dan kami janjian untuk berjumpa.

Dalam hujan deras, saya dan pak Budi mengayuh sepeda meluncur di jalanan kota daek yang sepi. beruntung penunjuk arah di dalam kota ini cukup jelas, sebelum menuju komplek Istana Damnah kami sempatkan berkeliling kota meskipun dalam guyuran hujan. kami mengamati dan menikmati suasana kota sembari mengayuh sepeda. Meriam tua di tepi jalan, jejeran bangunan toko-toko tua di Jln, datuk Laksamana, sebuah bangunan bekas penjara, dan rumah-rumah tradisional  melayu yang berupa rumah panggung, banyak di temui disini dan terawat. Sebuah pemandangan yang langka di ata saya.

 

Nostalgia di Linggam Cahaya,

 

Sebuah Gapura di depan kami. Sebuah keterangan menujukkan gapura tersebut sebagai pintu masuk komplek istana Damnah. Komplek Istana Damnah adalah salah satu tujuan wisatawan di kota Daek, di komlpek istana  tersebut terdapat situs Puing istana Damnah itu sendiri, benda-benda peninggalan sejarah dan bukti sejarah lainnya tentang peninggalan kesulatan Lingga di Kota Daek, termasuk keberadaan Museum Linggam cahaya di Kompel terebut.

 

Sepeda kami kayuh memasuki komplek tersebut, jalanan lurus dan lebar, di ujung jalan dari kejauhan tampak bediri gagah gunung daek, ikon kota Lingga. Hujan dan cuara mendung membuat gunung daek tidak tampak begitu jelas, tersamarkan wujudnya oleh kabut. Di kiri jalan berdiri beberapa kantor, semua nya tampak sudah tutup, mungkin karena saat ini telah lewat jam kantor, namun pintu museum masih tampak terbuka, kami berdua memutuskan untuk masuk ke bangunan museum untuk berteduh sembari menunggu bang Fauzi disana.

 

Kami berdua menunggu di halaman depan museum, karena badan telah basah kuyub, kami pun enggan untuk masuk kedalam museum, kami hanya berdiri saja di beranda. Namun bertahan diluar sini membuat kami berdua menggigil kedinginan. Petugas Museum yang baik hati mempersilahkan kami mesuk ke museum, tahu kami adalah pendatang, sang penjaga museum mengantarkan kami berkeliling melongok isi  museum yang berlantai dua itu. Tiada siapapun pengunjung waktu itu selain kami berdua. Saya dan pak budi terkagum kagum melihat koleksi museum, banyak benda benda peninggalan zaman kerajaan masih tersimpan dengan baik disana, seperti perhiasan, senjata, mesin ketik kuno, radio kuno, peralatan makan, dokumen-dokumen lama dan lain lain.

 

Pria muda petugas museum itu mengantarkan kami menaiki lantai dua, di lantai dua museum kala itu cahanyanya remang remang karena sebagian besar jendela di tutup karena hujan. Suasana di lantai dua terasa begitu berdeba, imajinasi saya melayang jauh seperti dalam buku buku sejarah tentang kerajaan lingga. Pria penjaga Museum itu mengoceh bagai tanpa jeda, menjelaskan segala sesuatu tentang museum dan sejarah lingga.

Dinding-dingin di lantai dua dihiasi dengan figura-figura berukuran besar,  terpasang berjejer di tiap sisi dinding musem, figura figura tersebut memuat foto foto dan lukisan wajah tokoh tokoh kerajaan pada zaman dahulu, saya menatap lama lama wajah tiap foto dan lukisan tersebut, suasana ruangan seketika menjadi dingin ketika petugas museum memutarkan sebuah lagu dengan menggunakan gramophone, entah sebab apa bulu kuduk saya berdiri dan saya seketika merinding.

Bersambung….

[CATPER] JELAJAH LINGGA BERSEPEDA ( BAGIAN 10 )

Tanpa berganti pakaian kami langsung menceburkan diri ke sungai yang jernih, sehingga pakaian di badan semua  basah. perasaan girang bukan kepalang menceburkan diri kedalam air yang sejuk dan jernih itu. Kami berdua bagai anak anak yang kegirangan bermain di sungai, melompat lompat kesana kemari  dan menceburkan diri berkali kali ke dalam airnya, untung saat itu hanya kami berdua saja pengunjung di tempat itu,  jadi serasa tempat ini seperti milik kami, tanpa perlu sungkan dengan orang lain.

 

Puas mandi mandi di bawah air terjun resun, kami beristirahat sejenak di sebuah kedai yang tak jauh dari air terjun. Mie rebus dan segelas kopi hangat kami pesan, hidangan sederhana itu rasanya menjadi santapan yang nikmatnya tak dapat di kira. Kami habiskan waktu satu jam di kedai itu, mengobrol apa saja dengan si pemilik warung , dia bercerita tak henti bagai senjata mesin yang tanpa jeda mengeluarkan peluru, dia bercerita banyak hal dan tentang apa saja mulai dari keluhan hidup nya sampai mahluk gaib tak kasat mata di air terjun Resun.

Pukul satu lewat tiga puluh menit, kami memutuskan meninggalkan Resun. Masih dalam guyuran hujan yang tak begitu deras, sepeda terus kami kayuh menelusuri jalan aspal yang mulus dan sepi. Kurang dari 15KM di depan sana dalah kota Daek. Hujan semakin deras ketika kami tiba di Daek, pemandangan hutan dan kebun di sepanjang jalan mulai berganti dengan pemandangan rumah rumah penduduk yang terlihat mulai rapat. Saat itu, kota Daek seakan masih sebuah tanda tanya dalam fikiran saya, seperti apa wujud ibukota lingga itu, sedangkan penujuk jalan menujukkan kami sudah sampai di kota pusat kota, tetapi kota ini tak seperti sebuah kota dalam pemikiran saya.

 

Kota Daek, meskipun statusnya adalah Ibukota dari Kabupaten Lingga, namun kota ini tidak  terlalu ramai, rumah rumah penduduk masih terlihat memiliki pekarangan yang luas, lingkungan yang masih asri dan tenang, juga tidak terlalu banyak kendaraan.  Pasar atau pusat keramaian terletak di kampung cina. Di kampung cina ini adalah pusat perniagaan, toko toko dan kedai kopi juga penginapan banyak terdapat disana.  Sebagai daerah otonomi yang baru saja lahir sejak tahun  2003 lalu, hingga kini kabupaten lingga dan ibukotanya terus membenahi infrastruktur.

 

 

[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda ( Bagian 9 )

Desa sungai besar telah jauh kami lewati, kini di kiri dan kanan jalan hanya hutan dan kebun kebun sahang . sedangkan kami berdua terus mengayuh sepeda di jalanan tanah kuning yang basah disirami hujan. Seperti nya tak ada tanda tanda cuaca akan cerah hari itu, awan gelap seakan terus mengikuti kami sepanjang jalan, bukit dan gunung yang berdiri anggun  tampak samar tertutup kabut bagai wajah gadis yang ter-samarkan oleh cadar .

hari ini adalah hari kedua perjalanan kami bersepeda menelusuri kepulauan lingga. Sebuah perjalanan “buta” tanpa tahu arah dan tidak berbekal peta, hanya berharap pada tanya dan rambu rambu penunjuk arah sepanjang jalan pulau lingga. Setelah dua jam menelusuri jalanan tanah yang basah, akhirnya kami berjumpa dengan jalanan aspal mulus dan menurun pula, ini bagai bonus setelah betis dan paha menegang menaklukkan tanjakan, seperti quote para pesepeda,  jangan dulu menangis ketika menjumpai tanjakan, setelahnya pasti ada turunan yang menyenangkan, pak Budi sampai melepaskan tangan dari stang sepeda sembari menari-nari diatas sepeda menikmati turunan dan jalan aspal yang mulus.

Jalanan aspal mulus dan sepi, udara segar serta kicau burung sepanjang jalan, pohon pohon sahang berdaun hijau terang berjejer di kiri dan kanan, dan gemericik air sungai yang mengalir deras di bawah kolong jembatan ketika kami tiba di Resun. sambil mengayuh saya tak henti mengucap syukur kepada Sang pencipta atas segala suguhan alam yang saya dapatkan sepanjang rute ini, sungguh suatu yang diluar dugaan saya, sampai titik ini saya sudah jatuh cinta dengan pulau lingga, pe-touring sepeda mana yang tidak mendambakan suasana seperti ini.

Pukul 11.53 kami tiba di resun, di tepi jalan tampak gapura besar dengan gerbang menganga, “itu gerbang masuk menuju air terjun Resun” kata seorang warga yang kami jumpai, “tak jauh dari sini,  masuk saja, retribusi nya hanya Rp.3000 saja” beliau mengakhiri. Dari gerbang, sepeda sudah kami tuntun, sebuah tanjakan langsung menunggu di depan gerbang air terjun resun, setelah sampai di puncak tanjakan ternyata urusan menaklukkan tanjakan belum usai, paha dan betis terus di buat tegang sepanjang jalan hingga ke air terjun rusun. Saking banyak nya tanjakan sampai saya tak sempat menghitung ada berapa banyak tanjakan yang kami lalui, yang hanya saya ingat hingga saat ini adalah sebuah tanjakan yang membuat kami harus menuntun sepeda dan bejalan zigzag untuk sampai ke ujung nya.

 

Dari kejauhan sudah terdengar deru air yang jatuh dari ketinggian, entahkan itu deru dari suara air terjun  atau hanya aliran sungai, kami tak tahu, di depan hanyalah jalanan aspal yang terus menanjak. Biar semangat tetap terus menyala, anggap saja Air terjun resun telah dekat, dan sepeda terus kami kayuh meskipun lebih sering di tuntun. Disini kami hampir kehabisan tenaga, kaki sudah gemetar, nafas tersengal sengal, perut pun keroncongan, tapi syukurlah nestapa ini segera berakhir setelah sebuah papan bertuliskan “Air Terjun Resun” kami jumpai. penat penat seketika hilang ketika kami ceburkan badan di bawah air terjun resun sebagai sebuah selebrasi kami telah sampai di Resun.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

[catper] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 8)

kami terus mengayuh sepeda di tengah rintik hujan meninggalkan pancur,  sepeda meluncur diatas jalan setapak yang membelah kampung Duara, sebagain jalan setapak terbuat dari beton sedangkan sebagian nya lagi terdiri dari pelantar papan, sepeda bergetar ketika melintasi jalan pelantar papan. Di ujung kampung kami berhenti sejenak di sebuah masjid, ada tulisan yang menarik hingga kami berhenti di masjid ini.  pada papan nama masjid tertera tulisan yang menyatakan masjid ini didirikan pada 10 November 1957, sama umurnya dengan ibukota KEPRI tanjungpinang, dari tulisan pada masjid tersebut memberi tanda bahwa kampung kecil ini sudah di huni sejak lama. Meskipun demikian suasana kampung ini tetap  seperti suasana kampung kampung melayu tempo dulu seperti  dalam film-film P.Ramlee.

Setelah berhenti sebentar mengambil foto sebagai kenang kenangan, sepeda kembali kami kayuh keluar kampung Duara menuju Resun. Jalanan tanah kuning yang basah disiram hujan seharian membuat kami harus mengurangi laju sepeda agar tidak terpeleset di jalanan yang licin, sementara itu laju sepeda yang pelan serasa jalan yang di tempuh ini bagai tak berujung, jalan tanah kuning terus membentang panjang membelah bukit naik dan turun.

 

 

 

Rasa letih dan jenuh mulai menyerang, hingga akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah kebun Lada di tepi jalan.  di kiri dan kanan jalan dari desa Duara menuju Resun banyak terdapat kebun lada, orang disini menyebutnya sahang. Konon sahang telah di budidayakan sejak lama di Lingga, dalam sejarah kerajaan Riau-Lingga juga tercatat bahwa jenis rempah rempah ini adalah salah satu komoditas  perdagangan pada masa itu selain timah.

Sepeda kami sandarkan di pepohonan di sebuah kebun milik pak eko, lahan kebun sahang milik keluarga nya ini ia garap sebagai usaha sampingan, kala waktu senggang berkeja sebagai honorer di kantor desa  ia manfaatkan untuk merawat kebun sahang bersama saudaranya, “hasilnya lumayan” ungkap pria berkulit gelap itu. “Beberapa tahun belakangan orang-orang di lingga utara ini mulai giat kembali menanam sahang” ujar nya.  Geliat Sahang memang terlihat sepanjang jalan ini, punggung punggung bukit digarap menjadi  lahan lahan baru untuk menanam sahang.

 

Setelah beristirahat kami kembali melanjutkan gowes ke Resun, jarak pancur dan resun semestinya hanya kurang lebih 15 kilometer, bagi pesepeda yang terlatih, jarak itu mungkin hanya memakan waktu tempuh dalam satu jam atau satu jam setengah jam saja, sedangkan kami hingga saat itu telah memakan waktu satu jam, namun belum juga separuh rute yang kami lalui. Namun menikmati perjalanan ini adalah hal yang lebih penting ketimbang mengejar-ngenar waktu, tidak ada garis finish di ujung sana, jadi tidak pelu buru-buru, nikmatilah…..

Hujan mulai reda dan kami sampai di sungai besar, waktu menunjukkan pukul 10 pagi, tak jauh setelah melewati perkampungan di sungai besar. Kami menjumpai hamparan sawah yang tengah menghijau menyambut kami di depan. Inilah persawahan Desa sungai besar, yang menjadi sentra produksi padi di lingga, bahkan bupati Lingga menargetkan bahwa Lingga akan menjadi lumbung beras nya provinsi KEPRI. Hamparan sawah itu  konon adalah mimpi sang bupati sebagai “anak pulau” , ia merasakan betul betapa susahnya hidup sebagai “orang pulau” untuk mendapatkan  pasokan bahan pokok terutama beras, ketika musim gelombang laut sedang tidak bersahabat, kapal kapal pembawa kebutuhan pokok dari sumatra enggan berlayar. Sehingga, dari latar belakang tersebut sang bupati betul betul serius mewujudkan impiannya tersebut. Terdengar kabar bahwa bupati tersebut tak segan-segan mengelontorkan dana dari kantong pribadinya untuk mewujudkan persawahan itu. Dalam hati saya bergumam, jika memang benar adanya, sungguh beliau sosok pemimpin yang langka. Kami berhenti sejenak di persawahan Sungai Besar, sambil mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan, tak lama kemudian perjalanan kami lanjutkan, persawahan sawah sungai besar kami tinggalkan dengan rasa kagum dan bangga atas kegigihan pak bupati.

 

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

[Catper] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 7)

Pagi Di Pancur

Hari ini tanggal 28 februari 2017, merupakan  hari kedua kami di pulau lingga. Pagi itu, kira kira kurang lebih pukul lima  pagi saya sudah terjaga, kumandang adzan subuh dari pengeras suara masjid di tengah pasar pancur memecah keheningan pagi ,  malam ini saya merasakan tidur berkualitas sekali, badan terasa segar ketika bangun tidur, pegal pegal dan penat setelah gowes kemarin tiada terasa lagi, meskipun kuantitas tidur nya kurang.

Setelah urusan kamar mandi dan ibadah subuh, saya tinggalkan ruang kamar dan pak budi yang masih tertidur lelap, saya berniat hendak jalan jalan pagi di sekitaran pasar . Matahari sudah tampak memancarkan cahaya nya, meskipun berselimut mendung. Sepertinya hari ini juga akan turun hujan sama seperti hari kemarin, langit terlihat samar samar di tutupi awan gelap yang bergumpal. Saya seorang diri berkeliling pasar pancur yang masih lengang, menikmati suasana pagi yang tenang. saya memandang ke arah lautan.  dari pelantar pasar pancur ini panorama alam terlihat begitu menawan,  sampan nelayan terlihat melintas di atas laut yang tenang dengan latar belakang bukit dan gunung menjulang yang puncaknya berselimut kabut. dalam hati saya terkagum dan takjub, saya mengucapkan pujian dan kalimat syukur kepada sang pencipta atas indah  ciptaan-Nya…

Hari ini sebagian pasar akan tutup, menurut ibu maria pedagang  libur lantaran hari ini adalah puncak perayaan IMLEK, meski demikian ada beberapa kedai tampak buka, yaitu kedai kopi dan penjual sarapan pagi.  Setelah puas berkeliling pasar saya berhenti di sebuah lapak penjual sarapan  di pangkal jembatan pasar pancur. Saya pesan sepiring lontong sayur dan secangkir teh hangat, Teh hangat sudah di seduh di dalam sebuah ceret, pembeli boleh menuang kan nya sendiri. Saya duduk di kursi yang ter-susun di kedai kedai yang masih tutup itu sambil menikmati tenangnya sungai pancur dan aktivitas di sekitaran sungai dan pasar.  Dari kejauhan tampak penghuni rumah rumah pelantar  tengah bercengrama di teras rumah masing masing sementara perahu pompong satu persatu terlihat hilir mudik di sungai pancur.

Tak sampai menunggu lama, sepiring lontong sayur di hantarkan ibu pemilik kedai ke meja saya, potongan lontong, buncis dan kentang bercampur dalam kuah gulai yang kental, aroma makanan laut pun tercium dari kuah gulai yang mengepulkan asap, ternyata di dalam nya juga terdapat irisan sotong yang di potong dadu. Ini pertama kali saya temukan lontong sayur bercampur olahan seafood, rasanya tiada masalah dan enak saja. Saya menikmati lontong sayur seafood ala pasar pancur ini sambil memandang pompong yang lalu lalang.

Lotong sayur seafood ala pasar pancur dan secangkir the hangat saya bayar seharga 7000 rupiah, sangat murah jika di banding harga lontong sayur di  bintan ataupun tanjungping. Usai sarapan saya kembali ke penginapan untuk segera mempersipakan seluruh barang bawaan  guna persiapan sebelum melanjutkan perjalanan hari ini. Pak Budi sudah bangun dan mandi, saya sarankan iya untuk sarapan di pasar saja karena kedai ibu maria belum buka. Pak Budi pergi mencari sarapan, sedangkan saya mempersiapkan seluruh barang bawaan di kamar.

Seluruh barang bawaan saya masukkan kedalam tas pannier, batrai cadangan kamera dan handphone telah di charge semalaman.  Kamera saya simpan di dalam tas yang dilidungi raincoat. Dalam perjalanan hari ini sepertinya kami akan  lalui dalam guyuran hujan, karena pagi pagi langit sudah terlihat gelap dilapisi awan tebal sekeliling. Pakaian yang di jemur semalaman tidak kering sempurna, masih terasa lembab, saya hanya membawa pakaian secukupnya untuk perjalanan 3 hari ini, guna menghemat pakaian, terpaksa harus pakai pakaian lembab.  pukul 8 hujan gerimis mulai menguyur pasar pancur, sementara saya terus mempersipakan sepeda di teras kedai ibu Maria, tak lama pak budi pun menyusul mempesiapkan barang bawaan dan sepeda.

Semua barang bawaan telah siap diatas sepeda. Kami berpamitan kepada pemilik kedai., saat itu Kami tak jumpa bu Maria atau pun Hellen, hanya ada saudara bu Maria saat itu. kami membayar sewa kamar, makan dan minuman kami malam tadi, 90ribu rupiah untuk semuanya. Sebuah angka yang cukup bersahabat bagi kantong kami. Sebelum berangkat tak lupa kami mengucapkan terima kasih telah di perbolehkan untuk menginap disini,  “sama sama….semoga kita berjumpa lagi di lain kesempatan” tutup ibu itu sembari tersenyum.

20170128_081048.jpg

Dalam rintik rintik hujan sepeda kami kayuh perlahan meninggalkan pancur, meskipun hanya semalam disini, namun suasana tenang dan tentram disini memberikan kenangan yang membekas , semoga suatu saat bisa berkunjung lagi.  Sepeda kami meluncur di jalan pelantar yang di penuhi sesak rumah di kiri dan kanan nya, setelah pancur kami memasuki kampung Duara, di kampung ini suasana melayu kental terasa,  rumah-rumah di bangun di sepanjang pesisir pantai berbentuk rumah panggung yang terbuat dari papan.

sepeda kami kayuh menelusuri jalan kampung, sebagian warga kampung masih  terlihat enggan keluar rumah  karena hujan. Selanjutnya tujuan kami berikutnya Resun. Dari pancur menuju resun kami pilih jalan darat, meskipun lebih dekat jika menggunakan jalur laut dengan pilihan menaikkan sepeda keatas perahu pompong dari pasar pancur.  namun kami memutuskan untuk memilih jalur darat saja, kami masih banyak waktu untuk menempuh Resun, tidak ada yang harus di kejar dengan tergesa gesa,  di hari kedua ini kami masih merencanakan untuk berada di pulau lingga, kami akan bermalam di kota daek hari ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Besambung…..

[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (Bagian 6)

 

Sore hari  yang mendung di pancur, sepeda kami kayuh pelan menelusuri pelantar beton di tengah pasar pancur yang sepi, toko toko di pasar pancur  sore itu tampak telah banyak yang tutup, kami berdua terus mengayuh  menuju ujung pelantar yang mengarah ke laut. Di mana tempat menginap malam ini belum juga pasti. Sampai di ujung pelantar kami berhenti, sejenak melepaskan lelah, melempar pandangan ke teluk pancur yang indah, perpaduan laut dan pegunungan  menciptakan panorama yang indah dari pancur. Tak jauh di ujung pelantar , kami menemukan satu satunya kedai makan yang masih tampak buka petang hari itu, tanpa fikir panjang kami singgah di kedai tersebut, berharap bisa menyelesaikan urusan mengisi perut yang sempat tertunda sejak dari pelabuhan sungai tenam tadi, meskipun telah di “ganjal” oleh roti dan makanan ringan, namanya juga orang Indonesia, tetap belum makan rasanya kalau tidak makan nasi. Sepeda kami  tuntun dan parkirkan di halaman kedai yang menghadap tepi laut itu, dengan pandangan tajam ibu si pemilik warung menatap heran, mungkin dalam hati-nya bertanya, datang dari mana dua orang aneh bersepeda ini…?

 

 

 

Menginap di Rumah Ibu Maria,

 

“Wah… bersepeda dari mana dan mau kemana ini abang abang berdua…?”  dengan logat jawa ibu pemilik warung itu bertanya. ”Kami dari sungai tenam mau ke kota daek, tapi  ingin singgah di pancur ini”. Jawab saya. ”trus, dalam rangka apa ini bersepeda…? berdua saja…?”  tanya si ibu penuh selidik.  “Ia, kami hanya berdua saja dari tanjunguban  pulau bintan, kesini  ingin bersepeda berkeliling lingga,”. saya mencoba menjelaskan kepada . wanita paruh baya itu yang belakangan saya ketahui bernama Maria.

Pakaian basah karena sepanjang jalan di guyur hujan, namun kini telah kering di badan. Berniat menghangatkan badan, saya dan pak budi masing masing memesan secangkir teh hangat kepada ibu Maria, ia kemudian meneriaki seseorang di dapur, “chong no pue teh o lai”,  ibu maria berseru,  seketika saya terkejut, ternyata ibu ini berbahasa hokkien. Sembari menunggu teh hangat dari dapur, ibu Maria bercerita tentang banyak hal, ia bercerita tentang keluarga nya,  kenangan masa ke-emasan pasar pancur yang dahulunya ramai di datangi orang orang pencari ikan, serta bagaimana suku apa saja disini mampu berbahasa Hokkien. Penghuni pasar pancur mayoritas adalah warga keturunan toinghoa, ada yang menyebut pancur dengan istilah “Macau” nya pulau lingga , meskipun demikian, mereka hidup dengan tentram dan damai bersama suku lainya. selain mayoritas keturunan Tionghoa, pancur  juga di huni  oleh  suku Melayu, minang, jawa, dan flores.

Ibu Maria telah tinggal di pancur sejak puluhan tahun lalu. Jodoh telah mempertemukan wanita muslim asal jawa timur ini dengan seorang pria keturunan TiongHoa, mereka menikah di Surabaya, kemudian merantau hingga ke lingga utara, dari pernikahan dengan latar belakang berbeda, ibu Maria dan suami mampu hidup berbahagia, hingga suatu ketika, beberapa tahun lalu sang suami mangkat.  Almarhum suami meninggalkan ibu maria dan dua anak laki laki serta satu perempuan yang kesemuanya sudah tumbuh dewasa.  Dua anak laki laki nya juga telah berkeluarga, hidup merantau ke luar provinsi, sedangkan si bungus merantau ke ibu kota provinsi tanjungpinang. Ibu maria hidup berdua dengan seorang saudari iparnya yg keturunan tionghoa , rumah kedai peninggalan sang suami menjadi  satu satunya pengharapan ibu  maria menggantungkan hidup di sisa hari tuanya.

setelah panjang Lebar bercerita kesana kemari, teh yang di pesan pun datang. Dari balik pintu dapur mucul seorang perempuan muda berbaju biru berwajah sendu, ia membawa nampan yang berisikan dua cangkir teh hangat  yang mengepulkan asap. Seketika suara bu maria seakan tersamar di telinga saya, perempuan muda pembawa teh itu membuyarkan obrolan kami dengan ibu maria, kehadirannya bagai magnet besar yang menarik sebuah paku. “Ini Hellen… anak bungsu saya”, dia tinggal dan berkerja di tanjungpinang” ibu maria memperkenalkan putri bungsunya itu. Hellen si bungsu merantau meninggalkan kampung, ia berkerja sebagai personalia di sebuah perusahaan swasta  kota tanjungpinang,  iya baru saja datang tak lama berselang kedatangan kami, hellen pulang ke pancur dalam rangka libur Imlek, seperti warga keturunan tionghoa yang lainnya, momen ini ia jadikan sebagai kesempatan untuk bertemu sanak keluarga. Perempuan muda itu sekarang duduk di bangku panjang disamping saya, ikut nimbrung obrolan bersama kami.

Seperti ibunya, helen  juga suka ngobrol dan bercerita. Ia bercerita apa saja, tentang kehidupan, pekerjaan hingga kisah asmaranya dengan calon suaminya yang jauh di pulau Sumatra sana. sebagai si bungsu dan masih tergolong muda tak lantas membuat nya jadi anak gadis manja.  dari pembawaan dan pemikirannya ia tampil sebagai perempuan dewasa. “tak mungkin terus bergantung hidup dengan ibu disini, minimal bisa cari uang untuk kebutuhan sendiri “ ia menjelaskan alasannya merantau.  Tak lama lagi Hellen berencana akan menikah dengan pilihan hatinya itu, itu pertanda hellen akan merantau lebih jauh lagi, pergi meninggalkan ibu maria beserta bibinya di teluk pancur.

 

Langit senja sudah mulai Gelap, tempat menginap belum juga dapat. keasikan mengobrol dengan hellen membuat lupa waktu, teh hangat yang di bawa nya tadi pun belum tersentuh meskipun sudah terasa dingin. “abang berdua mau nginap dimana…?” tanya hellen,  saya menggeleng. “adakah penginapan di daerah sini….?”pak Budi bertanya pada hellen. “Di ujung pelantar sana ada penginapan, tapi kalau abang abang mau menginap disini boleh juga, meskipun kamarnya sederhana saja, tidak ada AC, hanya  kipas angin. 50 ribu satu malam, seperti kamar kost lah…” hellen menawarkan. Tanpa fikir panjang kami menerima tawaran hellen, Allhamdulillah, tidak susah susah lagi mencari tempat menginap, sepertinya mengingap disini pun cukup nyaman, ibu maria menjual makanan di kedainya, sehingga kami pun tak perlu khawatir kelaparan.

Rumah toko berlantai dua milik ibu maria ini dahulunya adalah penginapan, semenjak suami mangkat, ibu maria kesusahan untuk mengurusinya hingga akhirnya di tutup, tapi kadang kamar kamar di lantai dua itu masih di sewakan untuk anak anak buah kapal yang singgah di sini. dari ibu  maria saya ketahui bahwa disini ada beberapa penginapan, dalam hati saya bertanya heran, pasar kecil seperti ini ada banyak penginapan, siapa yang hendak menginap disini…?

Hellen meninggalkan kami menuju ke dalam rumah toko, tak lama kemudian ia keluar dengan ibu maria sembari menyodorkan kunci kamar, “ini kunci kamarnya, abang abang silahkan bersih bersih dan istirahat diatas”. Kami berkemas menuju kamar, tas pannier satu persatu kami turunkan dari sepeda,  dan minta izin kepada ibu maria untuk memarkirkan sepeda di teras toko, sepeda kami parkirkan dan kunci di teras toko, kami berpamitan pada bu Mari dan hellen untuk membersihkan diri dan istirahat di kamar.

 

 

 

Malam Imlek Di Pancur, 

Disini tenang sekali, hanya suara perahu pompong yang sesekali terdengar melintasi perairan yang tepat berada di depan penginapan kami, setelah itu hanyalah sunyi. Adzan isya’ berkumandang memecah keheningan malam di pancur, kami telah siap bersih bersih dan berbenah untuk shalat dan kemudian makan malam. Kami turun ke lantai dasar mencari makan malam, hari sudah malam, tapi kedai ibu maria masih tetap buka, beberapa orang pria tampak duduk duduk sambil menyeruput kopi didalam kedai, .  belakang saya ketahui mereka adalah crew kapal penyebrangan tanjungpinang-pancur yang menginap juga disini. Para ABK itu tampak  tengah serius memperhatikan televisi yang menyiarkan secara langsung debat terbuka PILKADA DKI episode dua. Sungguh begitu hebohnya kisah pilkada DKI itu sehingga menyita seluruh perhatian orang Indonesia hingga ke pelosok pulau ini, termasuk para ABK ini.

”Mau makan dengan lauk apa…?”  tanya adik ipar ibu maria yang berwajah oriental itu. Di etalase makanan saya melihat  beberapa lauk pauk sudah terhidang, tidak heran kalau dominasi makanan olahan hasil laut, karena begitu berlimpahnya hasil laut disini, ada ikan goreng sambal, gulai sotong,  udang  dan lain lain, ikan goreng sambal saya pilihan, saya minta di campurkan dengan orak arik tempe dan beberapa sendok kuah gulai. Kami menyantap hidangan makan malam yang sederhana ini, Entah kenapa makan disini terasa nikmat sekali, oh ya… saya baru sadar seharian ini baru kali ini kami berdua makan nasi, pantas saja.

Kami menyelesaikan makan dengan cepat, pria pria pengamat politik Jakarta masih asik memelototi debat di layar kaca. Kami segera berpamitan kepada adik ipar bu maria yang menjaga kedai malam itu, saya mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu untuk membayar makan malam dan minum kami saat itu, ibu penjaga warung itu menolak “sudah…Nanti saja sekalian  di bayar ketika checkout” ujarnya. “di vihara malam ini ada acara menyambut imlek, orang ramai berkumpul disana, mana tau kalian mau jalan jalan ” ujar ibu penjaga kedai itu, Saya dan pak budi berpamitan dan meninggaklan kedai itu berjalan kaki menelusuri pasar pancur sembari menikmati suasana malam di pancur.

 

Kami berjalan kaki menelusuri jalanan pasar pancur menuju vihara, sesekali kembang api meluncur dan meledak di udara, anak anak bersorak sorai menyaksikan kembang api, musik musik khas negeri tirai bambu bersahut sahutan dari dalam rumah pelantar, orang orang berkumpul di depan terasa rumah nya masing masing, saling bercengkrama dengan sanak keluarga, suasana malam imlek terasa sangat meriah meskipun dalam suasana sederhana di kampung  kecil ini. Saya menelusuri gang gang sempit yang diapit oleh rumah rumah pelantar, setiap rumah memasang lampion yang memancarkan cahaya warna merah dan keemeasan membuat semarak malam Imlek, masyarakat tampak berjalan beramai ramai menuju vihara, saya dan pak budi pun mengikuti mereka dari belakang. Entah apa yang kami cari di vihara itu, yang penting jalan jalan saja sampai mata mengantuk. Setelah sampai di vihara dan tidak tentu apa yang hendak kami tunggu dan ingin kami lihat disana, akhirnya kami memutuskan pulang ke penginapan ibu maria, mata sudah mulai terasa mengantuk. Malam ini adalah malam pertama dalam perjalanan kami menjelajah kepulauan lingga, kami beristirahat dengan nyaman malam ini di pancur dalam hingar bingar kembang api malam imlek

 

 

Bersambung……