[CATPER] JELAJAH LINGGA BERSEPEDA ( BAGIAN 10 )

Tanpa berganti pakaian kami langsung menceburkan diri ke sungai yang jernih, sehingga pakaian di badan semua  basah. perasaan girang bukan kepalang menceburkan diri kedalam air yang sejuk dan jernih itu. Kami berdua bagai anak anak yang kegirangan bermain di sungai, melompat lompat kesana kemari  dan menceburkan diri berkali kali ke dalam airnya, untung saat itu hanya kami berdua saja pengunjung di tempat itu,  jadi serasa tempat ini seperti milik kami, tanpa perlu sungkan dengan orang lain.

 

Puas mandi mandi di bawah air terjun resun, kami beristirahat sejenak di sebuah kedai yang tak jauh dari air terjun. Mie rebus dan segelas kopi hangat kami pesan, hidangan sederhana itu rasanya menjadi santapan yang nikmatnya tak dapat di kira. Kami habiskan waktu satu jam di kedai itu, mengobrol apa saja dengan si pemilik warung , dia bercerita tak henti bagai senjata mesin yang tanpa jeda mengeluarkan peluru, dia bercerita banyak hal dan tentang apa saja mulai dari keluhan hidup nya sampai mahluk gaib tak kasat mata di air terjun Resun.

Pukul satu lewat tiga puluh menit, kami memutuskan meninggalkan Resun. Masih dalam guyuran hujan yang tak begitu deras, sepeda terus kami kayuh menelusuri jalan aspal yang mulus dan sepi. Kurang dari 15KM di depan sana dalah kota Daek. Hujan semakin deras ketika kami tiba di Daek, pemandangan hutan dan kebun di sepanjang jalan mulai berganti dengan pemandangan rumah rumah penduduk yang terlihat mulai rapat. Saat itu, kota Daek seakan masih sebuah tanda tanya dalam fikiran saya, seperti apa wujud ibukota lingga itu, sedangkan penujuk jalan menujukkan kami sudah sampai di kota pusat kota, tetapi kota ini tak seperti sebuah kota dalam pemikiran saya.

 

Kota Daek, meskipun statusnya adalah Ibukota dari Kabupaten Lingga, namun kota ini tidak  terlalu ramai, rumah rumah penduduk masih terlihat memiliki pekarangan yang luas, lingkungan yang masih asri dan tenang, juga tidak terlalu banyak kendaraan.  Pasar atau pusat keramaian terletak di kampung cina. Di kampung cina ini adalah pusat perniagaan, toko toko dan kedai kopi juga penginapan banyak terdapat disana.  Sebagai daerah otonomi yang baru saja lahir sejak tahun  2003 lalu, hingga kini kabupaten lingga dan ibukotanya terus membenahi infrastruktur.

 

 

[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda ( Bagian 9 )

Desa sungai besar telah jauh kami lewati, kini di kiri dan kanan jalan hanya hutan dan kebun kebun sahang . sedangkan kami berdua terus mengayuh sepeda di jalanan tanah kuning yang basah disirami hujan. Seperti nya tak ada tanda tanda cuaca akan cerah hari itu, awan gelap seakan terus mengikuti kami sepanjang jalan, bukit dan gunung yang berdiri anggun  tampak samar tertutup kabut bagai wajah gadis yang ter-samarkan oleh cadar .

hari ini adalah hari kedua perjalanan kami bersepeda menelusuri kepulauan lingga. Sebuah perjalanan “buta” tanpa tahu arah dan tidak berbekal peta, hanya berharap pada tanya dan rambu rambu penunjuk arah sepanjang jalan pulau lingga. Setelah dua jam menelusuri jalanan tanah yang basah, akhirnya kami berjumpa dengan jalanan aspal mulus dan menurun pula, ini bagai bonus setelah betis dan paha menegang menaklukkan tanjakan, seperti quote para pesepeda,  jangan dulu menangis ketika menjumpai tanjakan, setelahnya pasti ada turunan yang menyenangkan, pak Budi sampai melepaskan tangan dari stang sepeda sembari menari-nari diatas sepeda menikmati turunan dan jalan aspal yang mulus.

Jalanan aspal mulus dan sepi, udara segar serta kicau burung sepanjang jalan, pohon pohon sahang berdaun hijau terang berjejer di kiri dan kanan, dan gemericik air sungai yang mengalir deras di bawah kolong jembatan ketika kami tiba di Resun. sambil mengayuh saya tak henti mengucap syukur kepada Sang pencipta atas segala suguhan alam yang saya dapatkan sepanjang rute ini, sungguh suatu yang diluar dugaan saya, sampai titik ini saya sudah jatuh cinta dengan pulau lingga, pe-touring sepeda mana yang tidak mendambakan suasana seperti ini.

Pukul 11.53 kami tiba di resun, di tepi jalan tampak gapura besar dengan gerbang menganga, “itu gerbang masuk menuju air terjun Resun” kata seorang warga yang kami jumpai, “tak jauh dari sini,  masuk saja, retribusi nya hanya Rp.3000 saja” beliau mengakhiri. Dari gerbang, sepeda sudah kami tuntun, sebuah tanjakan langsung menunggu di depan gerbang air terjun resun, setelah sampai di puncak tanjakan ternyata urusan menaklukkan tanjakan belum usai, paha dan betis terus di buat tegang sepanjang jalan hingga ke air terjun rusun. Saking banyak nya tanjakan sampai saya tak sempat menghitung ada berapa banyak tanjakan yang kami lalui, yang hanya saya ingat hingga saat ini adalah sebuah tanjakan yang membuat kami harus menuntun sepeda dan bejalan zigzag untuk sampai ke ujung nya.

 

Dari kejauhan sudah terdengar deru air yang jatuh dari ketinggian, entahkan itu deru dari suara air terjun  atau hanya aliran sungai, kami tak tahu, di depan hanyalah jalanan aspal yang terus menanjak. Biar semangat tetap terus menyala, anggap saja Air terjun resun telah dekat, dan sepeda terus kami kayuh meskipun lebih sering di tuntun. Disini kami hampir kehabisan tenaga, kaki sudah gemetar, nafas tersengal sengal, perut pun keroncongan, tapi syukurlah nestapa ini segera berakhir setelah sebuah papan bertuliskan “Air Terjun Resun” kami jumpai. penat penat seketika hilang ketika kami ceburkan badan di bawah air terjun resun sebagai sebuah selebrasi kami telah sampai di Resun.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

[catper] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 8)

kami terus mengayuh sepeda di tengah rintik hujan meninggalkan pancur,  sepeda meluncur diatas jalan setapak yang membelah kampung Duara, sebagain jalan setapak terbuat dari beton sedangkan sebagian nya lagi terdiri dari pelantar papan, sepeda bergetar ketika melintasi jalan pelantar papan. Di ujung kampung kami berhenti sejenak di sebuah masjid, ada tulisan yang menarik hingga kami berhenti di masjid ini.  pada papan nama masjid tertera tulisan yang menyatakan masjid ini didirikan pada 10 November 1957, sama umurnya dengan ibukota KEPRI tanjungpinang, dari tulisan pada masjid tersebut memberi tanda bahwa kampung kecil ini sudah di huni sejak lama. Meskipun demikian suasana kampung ini tetap  seperti suasana kampung kampung melayu tempo dulu seperti  dalam film-film P.Ramlee.

Setelah berhenti sebentar mengambil foto sebagai kenang kenangan, sepeda kembali kami kayuh keluar kampung Duara menuju Resun. Jalanan tanah kuning yang basah disiram hujan seharian membuat kami harus mengurangi laju sepeda agar tidak terpeleset di jalanan yang licin, sementara itu laju sepeda yang pelan serasa jalan yang di tempuh ini bagai tak berujung, jalan tanah kuning terus membentang panjang membelah bukit naik dan turun.

 

 

 

Rasa letih dan jenuh mulai menyerang, hingga akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah kebun Lada di tepi jalan.  di kiri dan kanan jalan dari desa Duara menuju Resun banyak terdapat kebun lada, orang disini menyebutnya sahang. Konon sahang telah di budidayakan sejak lama di Lingga, dalam sejarah kerajaan Riau-Lingga juga tercatat bahwa jenis rempah rempah ini adalah salah satu komoditas  perdagangan pada masa itu selain timah.

Sepeda kami sandarkan di pepohonan di sebuah kebun milik pak eko, lahan kebun sahang milik keluarga nya ini ia garap sebagai usaha sampingan, kala waktu senggang berkeja sebagai honorer di kantor desa  ia manfaatkan untuk merawat kebun sahang bersama saudaranya, “hasilnya lumayan” ungkap pria berkulit gelap itu. “Beberapa tahun belakangan orang-orang di lingga utara ini mulai giat kembali menanam sahang” ujar nya.  Geliat Sahang memang terlihat sepanjang jalan ini, punggung punggung bukit digarap menjadi  lahan lahan baru untuk menanam sahang.

 

Setelah beristirahat kami kembali melanjutkan gowes ke Resun, jarak pancur dan resun semestinya hanya kurang lebih 15 kilometer, bagi pesepeda yang terlatih, jarak itu mungkin hanya memakan waktu tempuh dalam satu jam atau satu jam setengah jam saja, sedangkan kami hingga saat itu telah memakan waktu satu jam, namun belum juga separuh rute yang kami lalui. Namun menikmati perjalanan ini adalah hal yang lebih penting ketimbang mengejar-ngenar waktu, tidak ada garis finish di ujung sana, jadi tidak pelu buru-buru, nikmatilah…..

Hujan mulai reda dan kami sampai di sungai besar, waktu menunjukkan pukul 10 pagi, tak jauh setelah melewati perkampungan di sungai besar. Kami menjumpai hamparan sawah yang tengah menghijau menyambut kami di depan. Inilah persawahan Desa sungai besar, yang menjadi sentra produksi padi di lingga, bahkan bupati Lingga menargetkan bahwa Lingga akan menjadi lumbung beras nya provinsi KEPRI. Hamparan sawah itu  konon adalah mimpi sang bupati sebagai “anak pulau” , ia merasakan betul betapa susahnya hidup sebagai “orang pulau” untuk mendapatkan  pasokan bahan pokok terutama beras, ketika musim gelombang laut sedang tidak bersahabat, kapal kapal pembawa kebutuhan pokok dari sumatra enggan berlayar. Sehingga, dari latar belakang tersebut sang bupati betul betul serius mewujudkan impiannya tersebut. Terdengar kabar bahwa bupati tersebut tak segan-segan mengelontorkan dana dari kantong pribadinya untuk mewujudkan persawahan itu. Dalam hati saya bergumam, jika memang benar adanya, sungguh beliau sosok pemimpin yang langka. Kami berhenti sejenak di persawahan Sungai Besar, sambil mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan, tak lama kemudian perjalanan kami lanjutkan, persawahan sawah sungai besar kami tinggalkan dengan rasa kagum dan bangga atas kegigihan pak bupati.

 

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

[Catper] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 7)

Pagi Di Pancur

Hari ini tanggal 28 februari 2017, merupakan  hari kedua kami di pulau lingga. Pagi itu, kira kira kurang lebih pukul lima  pagi saya sudah terjaga, kumandang adzan subuh dari pengeras suara masjid di tengah pasar pancur memecah keheningan pagi ,  malam ini saya merasakan tidur berkualitas sekali, badan terasa segar ketika bangun tidur, pegal pegal dan penat setelah gowes kemarin tiada terasa lagi, meskipun kuantitas tidur nya kurang.

Setelah urusan kamar mandi dan ibadah subuh, saya tinggalkan ruang kamar dan pak budi yang masih tertidur lelap, saya berniat hendak jalan jalan pagi di sekitaran pasar . Matahari sudah tampak memancarkan cahaya nya, meskipun berselimut mendung. Sepertinya hari ini juga akan turun hujan sama seperti hari kemarin, langit terlihat samar samar di tutupi awan gelap yang bergumpal. Saya seorang diri berkeliling pasar pancur yang masih lengang, menikmati suasana pagi yang tenang. saya memandang ke arah lautan.  dari pelantar pasar pancur ini panorama alam terlihat begitu menawan,  sampan nelayan terlihat melintas di atas laut yang tenang dengan latar belakang bukit dan gunung menjulang yang puncaknya berselimut kabut. dalam hati saya terkagum dan takjub, saya mengucapkan pujian dan kalimat syukur kepada sang pencipta atas indah  ciptaan-Nya…

Hari ini sebagian pasar akan tutup, menurut ibu maria pedagang  libur lantaran hari ini adalah puncak perayaan IMLEK, meski demikian ada beberapa kedai tampak buka, yaitu kedai kopi dan penjual sarapan pagi.  Setelah puas berkeliling pasar saya berhenti di sebuah lapak penjual sarapan  di pangkal jembatan pasar pancur. Saya pesan sepiring lontong sayur dan secangkir teh hangat, Teh hangat sudah di seduh di dalam sebuah ceret, pembeli boleh menuang kan nya sendiri. Saya duduk di kursi yang ter-susun di kedai kedai yang masih tutup itu sambil menikmati tenangnya sungai pancur dan aktivitas di sekitaran sungai dan pasar.  Dari kejauhan tampak penghuni rumah rumah pelantar  tengah bercengrama di teras rumah masing masing sementara perahu pompong satu persatu terlihat hilir mudik di sungai pancur.

Tak sampai menunggu lama, sepiring lontong sayur di hantarkan ibu pemilik kedai ke meja saya, potongan lontong, buncis dan kentang bercampur dalam kuah gulai yang kental, aroma makanan laut pun tercium dari kuah gulai yang mengepulkan asap, ternyata di dalam nya juga terdapat irisan sotong yang di potong dadu. Ini pertama kali saya temukan lontong sayur bercampur olahan seafood, rasanya tiada masalah dan enak saja. Saya menikmati lontong sayur seafood ala pasar pancur ini sambil memandang pompong yang lalu lalang.

Lotong sayur seafood ala pasar pancur dan secangkir the hangat saya bayar seharga 7000 rupiah, sangat murah jika di banding harga lontong sayur di  bintan ataupun tanjungping. Usai sarapan saya kembali ke penginapan untuk segera mempersipakan seluruh barang bawaan  guna persiapan sebelum melanjutkan perjalanan hari ini. Pak Budi sudah bangun dan mandi, saya sarankan iya untuk sarapan di pasar saja karena kedai ibu maria belum buka. Pak Budi pergi mencari sarapan, sedangkan saya mempersiapkan seluruh barang bawaan di kamar.

Seluruh barang bawaan saya masukkan kedalam tas pannier, batrai cadangan kamera dan handphone telah di charge semalaman.  Kamera saya simpan di dalam tas yang dilidungi raincoat. Dalam perjalanan hari ini sepertinya kami akan  lalui dalam guyuran hujan, karena pagi pagi langit sudah terlihat gelap dilapisi awan tebal sekeliling. Pakaian yang di jemur semalaman tidak kering sempurna, masih terasa lembab, saya hanya membawa pakaian secukupnya untuk perjalanan 3 hari ini, guna menghemat pakaian, terpaksa harus pakai pakaian lembab.  pukul 8 hujan gerimis mulai menguyur pasar pancur, sementara saya terus mempersipakan sepeda di teras kedai ibu Maria, tak lama pak budi pun menyusul mempesiapkan barang bawaan dan sepeda.

Semua barang bawaan telah siap diatas sepeda. Kami berpamitan kepada pemilik kedai., saat itu Kami tak jumpa bu Maria atau pun Hellen, hanya ada saudara bu Maria saat itu. kami membayar sewa kamar, makan dan minuman kami malam tadi, 90ribu rupiah untuk semuanya. Sebuah angka yang cukup bersahabat bagi kantong kami. Sebelum berangkat tak lupa kami mengucapkan terima kasih telah di perbolehkan untuk menginap disini,  “sama sama….semoga kita berjumpa lagi di lain kesempatan” tutup ibu itu sembari tersenyum.

20170128_081048.jpg

Dalam rintik rintik hujan sepeda kami kayuh perlahan meninggalkan pancur, meskipun hanya semalam disini, namun suasana tenang dan tentram disini memberikan kenangan yang membekas , semoga suatu saat bisa berkunjung lagi.  Sepeda kami meluncur di jalan pelantar yang di penuhi sesak rumah di kiri dan kanan nya, setelah pancur kami memasuki kampung Duara, di kampung ini suasana melayu kental terasa,  rumah-rumah di bangun di sepanjang pesisir pantai berbentuk rumah panggung yang terbuat dari papan.

sepeda kami kayuh menelusuri jalan kampung, sebagian warga kampung masih  terlihat enggan keluar rumah  karena hujan. Selanjutnya tujuan kami berikutnya Resun. Dari pancur menuju resun kami pilih jalan darat, meskipun lebih dekat jika menggunakan jalur laut dengan pilihan menaikkan sepeda keatas perahu pompong dari pasar pancur.  namun kami memutuskan untuk memilih jalur darat saja, kami masih banyak waktu untuk menempuh Resun, tidak ada yang harus di kejar dengan tergesa gesa,  di hari kedua ini kami masih merencanakan untuk berada di pulau lingga, kami akan bermalam di kota daek hari ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Besambung…..

[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (Bagian 6)

 

Sore hari  yang mendung di pancur, sepeda kami kayuh pelan menelusuri pelantar beton di tengah pasar pancur yang sepi, toko toko di pasar pancur  sore itu tampak telah banyak yang tutup, kami berdua terus mengayuh  menuju ujung pelantar yang mengarah ke laut. Di mana tempat menginap malam ini belum juga pasti. Sampai di ujung pelantar kami berhenti, sejenak melepaskan lelah, melempar pandangan ke teluk pancur yang indah, perpaduan laut dan pegunungan  menciptakan panorama yang indah dari pancur. Tak jauh di ujung pelantar , kami menemukan satu satunya kedai makan yang masih tampak buka petang hari itu, tanpa fikir panjang kami singgah di kedai tersebut, berharap bisa menyelesaikan urusan mengisi perut yang sempat tertunda sejak dari pelabuhan sungai tenam tadi, meskipun telah di “ganjal” oleh roti dan makanan ringan, namanya juga orang Indonesia, tetap belum makan rasanya kalau tidak makan nasi. Sepeda kami  tuntun dan parkirkan di halaman kedai yang menghadap tepi laut itu, dengan pandangan tajam ibu si pemilik warung menatap heran, mungkin dalam hati-nya bertanya, datang dari mana dua orang aneh bersepeda ini…?

 

 

 

Menginap di Rumah Ibu Maria,

 

“Wah… bersepeda dari mana dan mau kemana ini abang abang berdua…?”  dengan logat jawa ibu pemilik warung itu bertanya. ”Kami dari sungai tenam mau ke kota daek, tapi  ingin singgah di pancur ini”. Jawab saya. ”trus, dalam rangka apa ini bersepeda…? berdua saja…?”  tanya si ibu penuh selidik.  “Ia, kami hanya berdua saja dari tanjunguban  pulau bintan, kesini  ingin bersepeda berkeliling lingga,”. saya mencoba menjelaskan kepada . wanita paruh baya itu yang belakangan saya ketahui bernama Maria.

Pakaian basah karena sepanjang jalan di guyur hujan, namun kini telah kering di badan. Berniat menghangatkan badan, saya dan pak budi masing masing memesan secangkir teh hangat kepada ibu Maria, ia kemudian meneriaki seseorang di dapur, “chong no pue teh o lai”,  ibu maria berseru,  seketika saya terkejut, ternyata ibu ini berbahasa hokkien. Sembari menunggu teh hangat dari dapur, ibu Maria bercerita tentang banyak hal, ia bercerita tentang keluarga nya,  kenangan masa ke-emasan pasar pancur yang dahulunya ramai di datangi orang orang pencari ikan, serta bagaimana suku apa saja disini mampu berbahasa Hokkien. Penghuni pasar pancur mayoritas adalah warga keturunan toinghoa, ada yang menyebut pancur dengan istilah “Macau” nya pulau lingga , meskipun demikian, mereka hidup dengan tentram dan damai bersama suku lainya. selain mayoritas keturunan Tionghoa, pancur  juga di huni  oleh  suku Melayu, minang, jawa, dan flores.

Ibu Maria telah tinggal di pancur sejak puluhan tahun lalu. Jodoh telah mempertemukan wanita muslim asal jawa timur ini dengan seorang pria keturunan TiongHoa, mereka menikah di Surabaya, kemudian merantau hingga ke lingga utara, dari pernikahan dengan latar belakang berbeda, ibu Maria dan suami mampu hidup berbahagia, hingga suatu ketika, beberapa tahun lalu sang suami mangkat.  Almarhum suami meninggalkan ibu maria dan dua anak laki laki serta satu perempuan yang kesemuanya sudah tumbuh dewasa.  Dua anak laki laki nya juga telah berkeluarga, hidup merantau ke luar provinsi, sedangkan si bungus merantau ke ibu kota provinsi tanjungpinang. Ibu maria hidup berdua dengan seorang saudari iparnya yg keturunan tionghoa , rumah kedai peninggalan sang suami menjadi  satu satunya pengharapan ibu  maria menggantungkan hidup di sisa hari tuanya.

setelah panjang Lebar bercerita kesana kemari, teh yang di pesan pun datang. Dari balik pintu dapur mucul seorang perempuan muda berbaju biru berwajah sendu, ia membawa nampan yang berisikan dua cangkir teh hangat  yang mengepulkan asap. Seketika suara bu maria seakan tersamar di telinga saya, perempuan muda pembawa teh itu membuyarkan obrolan kami dengan ibu maria, kehadirannya bagai magnet besar yang menarik sebuah paku. “Ini Hellen… anak bungsu saya”, dia tinggal dan berkerja di tanjungpinang” ibu maria memperkenalkan putri bungsunya itu. Hellen si bungsu merantau meninggalkan kampung, ia berkerja sebagai personalia di sebuah perusahaan swasta  kota tanjungpinang,  iya baru saja datang tak lama berselang kedatangan kami, hellen pulang ke pancur dalam rangka libur Imlek, seperti warga keturunan tionghoa yang lainnya, momen ini ia jadikan sebagai kesempatan untuk bertemu sanak keluarga. Perempuan muda itu sekarang duduk di bangku panjang disamping saya, ikut nimbrung obrolan bersama kami.

Seperti ibunya, helen  juga suka ngobrol dan bercerita. Ia bercerita apa saja, tentang kehidupan, pekerjaan hingga kisah asmaranya dengan calon suaminya yang jauh di pulau Sumatra sana. sebagai si bungsu dan masih tergolong muda tak lantas membuat nya jadi anak gadis manja.  dari pembawaan dan pemikirannya ia tampil sebagai perempuan dewasa. “tak mungkin terus bergantung hidup dengan ibu disini, minimal bisa cari uang untuk kebutuhan sendiri “ ia menjelaskan alasannya merantau.  Tak lama lagi Hellen berencana akan menikah dengan pilihan hatinya itu, itu pertanda hellen akan merantau lebih jauh lagi, pergi meninggalkan ibu maria beserta bibinya di teluk pancur.

 

Langit senja sudah mulai Gelap, tempat menginap belum juga dapat. keasikan mengobrol dengan hellen membuat lupa waktu, teh hangat yang di bawa nya tadi pun belum tersentuh meskipun sudah terasa dingin. “abang berdua mau nginap dimana…?” tanya hellen,  saya menggeleng. “adakah penginapan di daerah sini….?”pak Budi bertanya pada hellen. “Di ujung pelantar sana ada penginapan, tapi kalau abang abang mau menginap disini boleh juga, meskipun kamarnya sederhana saja, tidak ada AC, hanya  kipas angin. 50 ribu satu malam, seperti kamar kost lah…” hellen menawarkan. Tanpa fikir panjang kami menerima tawaran hellen, Allhamdulillah, tidak susah susah lagi mencari tempat menginap, sepertinya mengingap disini pun cukup nyaman, ibu maria menjual makanan di kedainya, sehingga kami pun tak perlu khawatir kelaparan.

Rumah toko berlantai dua milik ibu maria ini dahulunya adalah penginapan, semenjak suami mangkat, ibu maria kesusahan untuk mengurusinya hingga akhirnya di tutup, tapi kadang kamar kamar di lantai dua itu masih di sewakan untuk anak anak buah kapal yang singgah di sini. dari ibu  maria saya ketahui bahwa disini ada beberapa penginapan, dalam hati saya bertanya heran, pasar kecil seperti ini ada banyak penginapan, siapa yang hendak menginap disini…?

Hellen meninggalkan kami menuju ke dalam rumah toko, tak lama kemudian ia keluar dengan ibu maria sembari menyodorkan kunci kamar, “ini kunci kamarnya, abang abang silahkan bersih bersih dan istirahat diatas”. Kami berkemas menuju kamar, tas pannier satu persatu kami turunkan dari sepeda,  dan minta izin kepada ibu maria untuk memarkirkan sepeda di teras toko, sepeda kami parkirkan dan kunci di teras toko, kami berpamitan pada bu Mari dan hellen untuk membersihkan diri dan istirahat di kamar.

 

 

 

Malam Imlek Di Pancur, 

Disini tenang sekali, hanya suara perahu pompong yang sesekali terdengar melintasi perairan yang tepat berada di depan penginapan kami, setelah itu hanyalah sunyi. Adzan isya’ berkumandang memecah keheningan malam di pancur, kami telah siap bersih bersih dan berbenah untuk shalat dan kemudian makan malam. Kami turun ke lantai dasar mencari makan malam, hari sudah malam, tapi kedai ibu maria masih tetap buka, beberapa orang pria tampak duduk duduk sambil menyeruput kopi didalam kedai, .  belakang saya ketahui mereka adalah crew kapal penyebrangan tanjungpinang-pancur yang menginap juga disini. Para ABK itu tampak  tengah serius memperhatikan televisi yang menyiarkan secara langsung debat terbuka PILKADA DKI episode dua. Sungguh begitu hebohnya kisah pilkada DKI itu sehingga menyita seluruh perhatian orang Indonesia hingga ke pelosok pulau ini, termasuk para ABK ini.

”Mau makan dengan lauk apa…?”  tanya adik ipar ibu maria yang berwajah oriental itu. Di etalase makanan saya melihat  beberapa lauk pauk sudah terhidang, tidak heran kalau dominasi makanan olahan hasil laut, karena begitu berlimpahnya hasil laut disini, ada ikan goreng sambal, gulai sotong,  udang  dan lain lain, ikan goreng sambal saya pilihan, saya minta di campurkan dengan orak arik tempe dan beberapa sendok kuah gulai. Kami menyantap hidangan makan malam yang sederhana ini, Entah kenapa makan disini terasa nikmat sekali, oh ya… saya baru sadar seharian ini baru kali ini kami berdua makan nasi, pantas saja.

Kami menyelesaikan makan dengan cepat, pria pria pengamat politik Jakarta masih asik memelototi debat di layar kaca. Kami segera berpamitan kepada adik ipar bu maria yang menjaga kedai malam itu, saya mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu untuk membayar makan malam dan minum kami saat itu, ibu penjaga warung itu menolak “sudah…Nanti saja sekalian  di bayar ketika checkout” ujarnya. “di vihara malam ini ada acara menyambut imlek, orang ramai berkumpul disana, mana tau kalian mau jalan jalan ” ujar ibu penjaga kedai itu, Saya dan pak budi berpamitan dan meninggaklan kedai itu berjalan kaki menelusuri pasar pancur sembari menikmati suasana malam di pancur.

 

Kami berjalan kaki menelusuri jalanan pasar pancur menuju vihara, sesekali kembang api meluncur dan meledak di udara, anak anak bersorak sorai menyaksikan kembang api, musik musik khas negeri tirai bambu bersahut sahutan dari dalam rumah pelantar, orang orang berkumpul di depan terasa rumah nya masing masing, saling bercengkrama dengan sanak keluarga, suasana malam imlek terasa sangat meriah meskipun dalam suasana sederhana di kampung  kecil ini. Saya menelusuri gang gang sempit yang diapit oleh rumah rumah pelantar, setiap rumah memasang lampion yang memancarkan cahaya warna merah dan keemeasan membuat semarak malam Imlek, masyarakat tampak berjalan beramai ramai menuju vihara, saya dan pak budi pun mengikuti mereka dari belakang. Entah apa yang kami cari di vihara itu, yang penting jalan jalan saja sampai mata mengantuk. Setelah sampai di vihara dan tidak tentu apa yang hendak kami tunggu dan ingin kami lihat disana, akhirnya kami memutuskan pulang ke penginapan ibu maria, mata sudah mulai terasa mengantuk. Malam ini adalah malam pertama dalam perjalanan kami menjelajah kepulauan lingga, kami beristirahat dengan nyaman malam ini di pancur dalam hingar bingar kembang api malam imlek

 

 

Bersambung……

[catper] Jelajah Lingga Bersepeda (Bagian 5)

Sungai Tenam – Pancur

 

Sungai Tenam – Pancur

Jauh hari sebelum berangkat, saya dapat gambaran dari teman saya Roy tentang rute pancur. Roy bercerita bahwa perjalanan  dari sungai tenam ke pancur akan menelusuri tepian bukit, sementara di  kiri dan kanan jalan adalah hutan belantara, tidak ada perkampungan, separuh jalan beraspal, dan sisanya masih jalan tanah. Perkampungan hanya akan di jumpai ketika mendekati daerah pancur, “jika sudah bertemu kampung, berarti sudah dekat dengan pancur” ungkap Roy dalam Chatting room.  Lalu, Apa yang ingin kami cari di pancur..? tidak ada. Terkadang kita harus tersesat dan tanpa arah untuk menemukan hal baru bukan…? yang penting berjalan saja.

Dari pelabuhan sungai tenam, sepeda kami kayung kayuh secepat yang kami bisa agar sampai di pancur sebelum gelap, namun apa daya, alam tak mengizinkan kami memacu sepeda dengan cepat. Baru saja keluar dari pintu pelabuhan dengkul si pesepeda pemula ini telah di tunggu jalan menanjak dan berkelok meliuk liuk di tepian bukit, belum sampai satu kilometer berjalan, nafas saya sudah tersengal-sengal dan kayuhan terasa berat, mungkin karena terlalu lama duduk di kapal tadi jadi dengkul berat mengayuh, mestinya harusnya pemanasan dulu.

Mengayuh sepeda disini seketika saya jadi ingat tanah kelahiran di kerinci, tanah yang subur di “puncak Sumatra”, dari lingga utara ini, Pulau Lingga dan kerinci bagai serupa tapi tak sama,  daerah  berbukit bukit dan jalanan berkelok kelok di sisinya, kiri dan kanan jalan adalah hutan lebat, pepohonan khas hutan hujan topis berumur tua tampak tak terjamah dan terjaga. Dalam lindung hutannya yang lebat konon terdapat pula puluhan jenis tumbuhan langka yang hampir punah.  Oh iya, Lingga adalah satu satunya daerah di KEPRI yang dilalui garis ekuator, tidak banyak  yang menyadari,  mungkin tak se-tersohor tugu ekuator di kota Pontianak sana. Sebuah tugu titik nol katulistiwa di bangun di tanjung Teludas tak berapa jauh dari pelabuhan sungai tenam, jika hendak merapat ke pelabuhan sungai tenam, di sebelah kanan akan tampak tugu ekuator Tanjung Telundas. 0 sampai 11 derajat utara dan selatan wilayah yang dilalui garis ekuator adalah daerah yang di karuniai curahan hujan hampir sepanjang tahun, dan juga sinar matahari yang cukup untuk membuat tanah di lalui garis katulistiwa ini subur. Di daerah titik nol katulistiwa ini  pula dapat di saksikan fenomena  tanpa bayangan ketika matahari tepat berada di katulistiwa.

Sepeda terus kami kayuh meilntasi jalan aspal di tengah rimba pulau Lingga. Jalanan sunyi, kami mengayuh sepeda dengan nyaman di petang hari yang tengah mendung,   jalanan ini seperti hanya milik kami, setelah kapal terakhir sandar, hampir tidak ada lagi yang lewat di rute ini, selain orang kebun atau pencari kayu di hutan. Dalam suasana jalanan sepi sepeda kami kayuh, tak ada suara apa apa kecuali suara serangga uir-uir yang melengking memecah keheningan rimba. Jalan menanjak dan meliuk liuk di depan selalu memberi kejutan.

 

 

Kami menjumpai pertigaan dengan rambu rambu penunjuk arah, disana menunjukkan Pancur belok ke kiri,  sedangkan lurus adalah arah menuju ke Resun, Sei Pinang, panggak darat dan kota Daek. Kami belok ke kiri dan mengayuh sekuat tenaga, tanpa bisa memperkirakan berapa kilometer lagi pancur di depan sana, tak ada peta maupun GPS, perjalanan ini seakan penuh kejutan dan mendebarkan.

 

 

Jalan Tanah Berkerikil dan Guyuran Hujan

Setelah melewati simpang pancur barulah kami temui beberapa kebun masyarakat, sepeda terus kami kayuh dijalan aspal yang mulus, sesekali di kiri kanan jalan tampak beberapa lahan hutan yang baru saja di tebang, sepertinya akan di gunakan untuk kebun. kurang lebih 500 meter dari simpang pancur jalan aspal mulai berganti jalan tanah dan berkerikil. Wah…ini tampak akan menjadi masalah untuk sepeda saya yang ban nya tidak cocok dengan medan tanah dan berkerikil seperti ini, sedangkan pak budi meluncur tanpa masalah dengan sepeda tipe mountain bike nya. dengan sangat terpaksa saya megurangi kecepatan, sedangkan pak budi telah jauh meninggalkan saya di belakang.

 

 

Langit terlihat mulai gelap, dalam hati bergumam, di depan sepertinya akan turun hujan. Benar saja, tak berapa lama dalam gumam itu tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras dan mendadak, sampai-sampai saya tak sempat memasang raincoat pada pannier. Saya menepi, tidak ada tempat berteduh, ini hutan belantara,  raincoat saya pasang pada tas pannier dalam guyuran hujan, tak ada pilihan, selain membiarkan seluruh badan basah di guyur hujan, baru saya sadari kalau saya lupa mempersiapkan diri dalam situasi  ini, saya tidak membawa raincoat untuk diri saya sendiri selain yang dimiliki tas pannier,  apa boleh buat, saya harus terima semua situasi atas kelalaian saya, saat ini  yang penting adalah barang-barang di dalam tas jangan sampai basah pula, kamera saya simpan ,bisa kacau kalau peralatan foto, pakaian dan bekal saya basah. Dalam hati saya berdoa diberi kekuatan fisik untuk melewati situasi ini,  saya membuang jauh fikiran yang negatif, dalam hati dan fikiran saya katakana pada diri saya, bahwa saya harus tetap sehat, bersemangat untuk terus menuntaskan perjalanan ini. Saya berusaha membuat diri berbahagia dalam situasi seperti ini, saya membayangkan bagaimana senangnya bermain bola kaki di lapangan dalam guyuran hujan ketika masa kecil dulu, ini pasti menyenangkan. Dalam guyuran hujan sepeda kembali saya kayuh dengan bersemangat, saya harus mengayuh dengan lebih kuat agar badan saya tetap hangat.

 

 

Akhirnya saya mampu menyusul pak Budi yang tengah membalut tas panniernya dengan plastik. Kami saling  tertawa, menertawakan atas kelalaian diri masing masing, dia menertawakan saya yang badan nya basah kuyup  karena saya tidak pakai raincoat , sedangkan saya menertawakan pak Budi karena dia juga lupa mempersipakan raincoat untuk tas bawaan nya, namun dia sedikit beruntung dengan membawa kantong plastik yang cukup besar untuk membungkus tas pannier nya. “inilah ucapan selamat datang dari pulau Lingga untuk dua “goweser” bintan yang lalai hahaha” ungkap saya, kami saling tertawa menghibur diri.

Hari makin petang, guyuran hujan belum juga berhenti, jangankan sampai di pancur , perkampungan saja belum juga tampak, hanya hutan dan kebun sahang (lada) dikiri kanan jalan, serta jalan tanah kuning yang panjang seakan tak berunjung. Hingga akhirnya kegundahan sedikit sirna karena kami sudah menjumpai beberapa rumah penduduk, belakangan di ketahui ini adalah desa sungai besar. Kami beristirahat sejenak disni sembari bertanya bertanya arah pada seseorang pria yang tengah duduk-duduk di sebuah kedai. “ oh.. pancur tak jauh lagi… lurus je, nanti jumpe masjid, nah.. kelok ke kanan, kemudian lurus dan ikuti jalan pelantar, dah sampai pancur” ujar pria di kedai tersebut memandu kami. Mendengar penjelasan itu hati kami sudah sedikit tenang, kami tidak perlu khawatir karena tempat yang dituju sudah dekat. Pancur adalah sebuah pasar, orang orang dari pulau dan desa desa di lingga utara umumnya berbelanja ke pancur , sebagian bahan kebutuhan pokok yang  masuk ke pulau lingga salah satunya melewati daerah ini.

Kami berpamitan dan kembali mengayuh sepeda, pancur harus kami capai sebelum gelap. Akhirnya kami mulai menjumpai perkampungan yang makin rapat, Sebagian besar rumah di kampung ini adalah rumah panggung yang dibawahnya adalah rawa, sepeda kami melaju menelusuri jalanan kampung  yang terbuat dari pelantar kayu, Selamat datang di Desa Duara, tulisan pada sebuah gapura, kami berasakan semakin dekat dengan pesisir, rumah rumah pelantar mulai  berjejer rapat di kiri dan kanan jalan setapak, sesekali saya melihat lautan dari  sela-sela rumah pelantar yang rapat itu, rasanya tak lama lagi kami sampai di teluk pancur.

 

Rumah-rumah pelantar  kemudian berganti dengan rumah rumah semi permanen yang berjajar rapi di kiri kanan jalan  yang terbuat dari beton, seketika saya teringat kampung cina  di Senggrang kota tanjungpinang, bentuk rumah rumah di sini hampir sama seperti yang ada di kampung senggarang, Sebagian besar rumah rumah pelantar itu berhiaskan lampion berwarna merah. Suasana kampung terlihat semarak seperti sedang menyambut sebuah perayaan. Oh iya, saya baru teringat, besok adalah hari besar imlek, sebagian besar orang disini tanpak bercengkrama dengan hangat dengan keluarga nya di teras rumah mereka, irama riang musik khas negeri tirai bambu terdengar bersahut sahutan dari dalam rumah rumah pelantar, hari sudah senja ketika kami sampai di pasar pancur, sementara dimana kami menginap malam ini masih belum jelas…

 

 

 

 

Bersambung…..

 

simak juga cerita perjalanan menjelajah eropa mengunjungi tempat tempat menarik disana di tautan ;  www.jokka2traveller.com

[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (Bagian 4)

Tanjungpinang – Sungai Tenam (Pulau Lingga)

DSC_9396

Di dalam kapal, Penyanyi “dangdut koplo” menggoyang goyangkan pinggul nya di layar televisi, menari  mengaduk-aduk perasaan hingga tak tentu, sementara itu gelombang laut mengoyang se-isi kapal ke kiri dan kekanan. Kepala saya mulai pusing, entah karena gelombang laut atau karena “dangdut Koplo”. Meski badan terasa letih, namun mata sukar untuk di pejamkan. Disebelah saya, pak Budi terlihat tertidur, saya meninggalkan tempat duduk, berjalan kearah bealakang kapal berharap menemukan ruangan yang sedikit terbuka, pelan pelan saya terobos jalan  penuh sesak  yang diisi oleh penumpang itu, sebagian penumpang ada yang duduk di tangga yang menghubungkan dengan lantai dua. Tampak sebagian besar penumpang adalah warga keturunan tionghoa, sepertinya mereka hendak merayakan imlek dengan keluarga pulau lingga. Saya terus berjalan ke buritan kapal mencari tempat duduk yang lebih terbuka. akhirnya saya duduk di buritan bersama beberapa pria yang tengah asik mengisap tembakau. Meskipun di terpa panas dan hembusan angin yang kuat, di buritan ini saya merasa lebih nyaman, bisa memandang luas lautan, menghirup udara segar, dan sesekali di suguhi pemandangan  sederetan pulau-pulau.

DSC_9398

Satu jam berlayar, Kami sudah memasuki perarian kabupaten Lingga, dan kapal sandar di pulau pertama, pulau Benan namanya. Pulau Benan adalah salah satu andalan pariwisata kabupaten lingga, ke-elokan pantai dan pesona bawah lautnya  bagai magnet yang menarik para pelancong datang ke pulau ini, 5 tahun lalu saya pernah berkunjung ke pulau  yang indah ini dan pernah saya tulis di sini, waktu itu dalam kegiatan promosi wisata yang di gelar oleh pemerintah kabupaten Lingga. Di pulau ini  sudah di  lengkapi dengan fasilitas yang cukup memadai, sudah ada home stay dan restaurant . Meskipun demikian, listrik hanya hidup dari sore hingga tengah malam saja, paket snorkeling dan diving juga tersedia disini, tentu saja dengan seluruh kelengkapan nya, selain menginap di home stay, pengunjung bisa juga menginap di rumah penduduk.

DSC_9400

DSC_9401

MV.Arena II sudah merapat di pelabuhan pulau Benan, satu persatu barang dan penumpang turun dari kapal, sebagian penumpang banyak yang turun disini, ternyata mereka adalah wisatawan yang hendak liburan ke pulau Benan. Koper-koper dan travel bag ukuran besar diturunkan dari atas kapal, dari barang bawaan mereka terlihat para wisatawan itu sepertinya akan menetap beberapa hari di pulau itu, sebagian terlihat sangat gembira bisa menginjakkan kaki di darat setelah satu jam mengarungi lautan yang bergelombang, mereka memotret sana sini dan dan ber-selfi. Tidak hanya menurunkan penumpang tujuan pulau Benan, penumpang baru dari pulau ini pun bergantian naik, sebagai satu satunya transportasi umum antar pulau di jalur ini, MV.Arena tidak pernah sepi. Tak sampai 10 menit bersandar, kapal kemudian meniggalkan dermaga pulau Benan, MV.Arena kembali melaju membelah lautan biru.

20170130_081402

Matahari bersinar terik siang itu, Saya masih bertahan disini, di buritan kapal MV.Arena II,  lebih nyaman rasanya disini, bisa melempar pandangan ke lautan dan sesekali memotret. Di buritan kapal, pria-pria pengisap tembakau datang dan pergi silih berganti, mereka merokok sembari saling mengobrol apa saja meskipun tanpa harus mengenal nama, rokok jadi pembuka obrolan. Seorang pria agak berumur yang baru saja naik dari pulau benan bercerita bahwa  beberapa hari yang lalu iya dan beberapa rekan nelayan  baru saja memusnahkan sebuah kapal yang di duga telah melakukan pencurian ikan dengan pukat di perairan ini. Saya hanya mendengarkan saja cerita mereka , apalah yang saya tau tentang pukat, lautan  dan kehidupan nelayan. Lalu dengan logat melayu pria itu menyapa saya, “mike hendak kemane..?, mike wartawan…? Pencurian ikan itu patut mike masukkan koran”, ujar pria dengan kulit gelap tersebut. Ia mengira saya wartawan, mungkin karena kamera yang saya sandang, saya coba jelaskan bahwa tujuan saya hanya jalan-jalan ke lingga dengan sepeda sambil memotret sebagai kenang kenangan, sepertinya beliau tampak tak begitu percaya, lantas bapak yang belakangan saya ketahui adalah seorang nelayan tersebut mulai bercerita masalah politik,  tak luput pula curhatan nya tentang pemimpin yang obral janji saat PILKADA, “kalau  butuh die orang ingat kite, tapi kalau dah jadi, mane ade cerite die orang nak tengok kite kat pulau ni. Saya berusaha menjadi pendengar yang baik saja, entah berapa batang rokok yang telah ia hisap saking semangat nya bercerita, hingga akhirnya kapal merapat di Rejai, pulau kedua yang di singgahi MV.Arena II.

DSC_9407

Di Rejai langit mulai gelap, rintik-rintik hujan mulai turun, saya dan beberapa pria yang tengah mengisap tembakau kembali menempati kursi masing masing di dalam kapal, muatan kapal kini mulai berkurang beberapa orang penumpang turun di Rejai, namun lebih banyak barang barang yang di turunkan oleh anak buah kapal, barang barang tersebut merupakan kebutuhan pokok yang di suplai dari tanjungpinang. Kapal agak lama berhenti disini, namun tidak lebih dari 30 menit melaju kembali, menurut salah seorang penumpang di buritan kapal tadi, satu kali pemberhentian lagi adalah Tanjung Kelit, dan kemudian  adalah pelabuhan sungai tenam . Setelah melewati Rejai, Hujan mulai reda, gelombang laut terasa lebih tenang,  kami  melalui selat, di kiri dan kanan  pulau pulau melindungi selat ini dari gelombang. Suatu ketika kapal mengurangi kecepatan dengan tiba tiba hingga saya terperanjat, kemudian langsung berdiri melihat ke luar jendela, ada apakah di luar sana sehingga kapal tiba tiba mengurangi kecepatannya. Ternyata MV.Arena II  melewati selat yang sempit, di pesisir pulau banyak pemukiman penduduk yang berdiri diatas air, kapal harus mengurangi kecepatannya agar gelombang tak menghempas kuat perkampungan atas air itu, saya tak  ingat nama kampung tersebut, anak buah kapal menyebutnya kampung orang suku laut. Tidak ingin kehilangan moment, saya berjalan cepat menuju buritan kapal untuk dapat memotret perkampungan diatas air itu sebagai kenang kenagan.

DSC_9408

saya kembali duduk di buritan kapal, tempat pria-pria merokok dan mengobrol, seorang pria dengan atribut POLRI asik mengisap tembakau dan mengobrol dengan seorang pria lainnya di buritan, Kemudian Polisi tersebut  menghampiri saya dan bertanya kepada saya hendak kemana dengan penuh selidik, saya jelaskan  bahwa saya hanya jalan-jalan bersepeda dengan seorang rekan saya dari pulau Bintan menelusuri beberapa daerah di kepulauan Lingga, “oh…mau ngukur jalan ya…?” tandas pria berseragam POLRI itu sambal tertawa, belakangan saya ketahui polisi tersebut bertugas di POLSEK Dabo Pulau Singkep. “Disini kalian  aman dan nyaman bersepeda” ungkap-nya, bercerita meyakinkan saya bak seorang duta pariwisata, beberapa jalanan di Lingga sudah bagus, tingkat kriminal rendah disini, selain pelanggaran lalu lintas, hanya saja Kasus narkoba dan tindakan cabul menjadi masalah polisi disini. “ saya baru saja mengawal tahanan, memindahkan nya dari  Dabo singkep ke tanjungpinang dalam kasus narkoba”.

Pukul 3 sore, kapal bersandar di sebuah dermaga yang sederhana di Tanjungkelit kecamatan senayang, satu keluarga kecil turun dari kapal, di dermaga telah menanti para penjemput dengan wajah penuh harap dan gembira, penumpang yang turun kemudian berganti dengan penumpang yang baru, beberapa orang naik ke kapal dengan tas dan kardusukuran besar di naikan keatas kapal. Dari atas kapal saya melihat  rumah rumah diatas air berjejer padat di tanjungkelit, beberapa nelayan sedang merapikan jala di teras rumah yang terbuat dari papan, sedangkan sebagain nya lagi terlihat tengah memperbaiki perahu. Dari balik dapur rumah pelantar, tampak seorang ibu tengah menggendong balita, menatap harap ke arah MV.Arena  seperti sedang menanti seseorang. MV.Arena tak berhenti lama, dan kini telah berlalu dari tanjungkelit, di dalamnya membawa barang baranang kebutuhan manusia dan segudang cerita rindu orang-orang pulau.

 

DSC_9423

Berselang dua puluh menit dari tanjung kelit, anak buah kapal terlihat kembali bergegas mempersiapkan tali kapal untuk persiapan kapal sandar. “Kita sudah sampai di sungai tenam” ujar anak buah kapal kepada saya, dari kejauhan saya melihat sebuah pelabuhan beratap biru dengan menara suar di depannya, dari kejauhan terlihat bangunan pelabuhan ini cukup besar di banding pelabuhan pelabuhan di pulau-pulau sebelumnya. Inilah Sungai Tenam, pelabuhan yang baru saja resmi di gunakan tahun lalu itu. Dua pelayaran domestik dari tanjungpinang dan Batam menyinggahi pelabuhan ini tiap harinya. Konon keberadaan pelabuhan ini bertujuan untuk menampah kenyamanan dan kelancaran pelayaran menuju ibukota Daek Lingga, di saat musim angin selatan penumpang kapal kapal dari tanjung pinang dan Batam cenderung takut untuk berlayar hingga ke tanjung buton (pulau lingga) atau jagoh (pulau singkep) di karenakan gelombang yang besar, sehingga keberadaan pelabuhan sungai tenam menjadi alternatif dikala musim gelombang kuat tersebut untuk mencapai pulau Lingga. Dari sungai tenam menuju ibu kota Daek Lingga, bisa menempuh jalan darat kurang lebih 30 menit, kendaraan sewa biasanya telah standby di saat kapal dari batam dan tanjungpinang bersandar disini.

DSC_0282

Pukul 3.20, kami pertama kali menjejakkan kaki di pulau Lingga, tanah yang di juluki “Bunda Tanah Melayu”. Sepeda sudah tergeletak di pelantar beton pelabuhan, anak buah telah menurunkannya untuk kami.  Banyak penumpang turun disini, sehingga muatan MV.Arena II tampak terlihat banyak berkurang, baik manusia maupun barang barang nya. Beberapa mobil pribadi tampak berjejer menunggu penumpang di pelabuhan, para penumpang kapal langsung berpindah ke dalam mobil mobil sewa tersebut, MV.arena II pun kembali berlayar meninggalkan pelabuhan sungai tenam. Tak ada lagi keriuhan penumpang, Arena II adalah kapal terakhir yang bersandar di sungai tenam hari ini, hingga pelabuhan sungai tenam sunyi dan sepi, hanya kami berdua penumpang kapal yang tersisa di pelabuhan itu.

DSC_9426

Kami meninggalkan dermaga menuju gerbang pelabuhan. “Selamat datang di Sungai Tenam kabupaten Lingga, Bunda Tanah Melayu“ begitu isi sebuah papan ucapan selamat datang dengan memampang wajah Bupati Lingga dan wakilnya, Saya berseloroh pada pak Budi, “lihat pak, kita di sambut oleh Bupati Lingga dan wakilnya, meskipun hanya gambarnya saja, Mari kita ber-selfi, hahaha…”  saya dan pak Budi tertawa. kami berfoto di depan papan ucapan selamat datang tersebut sebagai kenang kenangan. 

DSC_9435

Saya dan pak Budi memutuskan istirahat dan mengisi perut di pelabuhan ini. Kami bertanya kepada seorang petugas, adakah ada kantin di pelabuhan ini, “Disana ada kantin dan mushala” ungkap seorang petugas pelabuhan sambil menunjukkan kearah bangunan utama pelabuhan. Namun ternyata kami tidak beruntung, “tidak ada lagi makanan” ungkap penjaga kantin, “jam segini kami sudah berkemas, berhubung sudah tidak aka nada lagi  pembeli,  Arena II tadi adalah kapal terakhir hari ini “ pungkas petugas kantin menjelaskan. Akhirnya kami hanya menumpang istirahat  sambil mengisi perut dengan bekal yg kami bawa,  dan kemudian shalat di mushala nya, ruang mushala yang terletak di sebelah kanan kantin masih terlihat sangat bersih dan nyaman layaknya bangunan yang masih baru,  namun sedikit di sayangkan keadaan toilet dan tempat wudhunya tidak terawat, dan ketersediaan air bersih pun terbatas, mungkin itu yang menyebabkan toilet kotor dan bau.

Usai shalat, saya dan pak budi segera memulai mengayuh sepeda, di dalam tas pannier persediaan makanan masih cukup menjelang sampai ke tujuan selanjutnya, sehingga kami tidak perlu khawatir,  . Tujuan kami selanjutnya adalah Pancur, sebuah daerah pesisir utara pulau lingga yang berjarak kurang lebih 14 kilometer dari pelabuhan Sungai tenam ini. menurut seorang pria yang kami jumpai usai shalat tadi, “Pancur tidak jauh dari sini, jika dengan kendaraan hanya 15 menit saja sudah sampai” ungkap nya. Ok… 15 menit, dalam hati saya bergumam, jika dengan sepeda mungkin saja akan mengabiskan waktu dua jam atau bahkan lebih, semoga kami tidak akan kemalaman sebelum mencapai Pancur”. Tanpa berbekal peta ataupun GPS, perjalanan di depan nanti adalah rangkaian  dari kejutan-kejutan, hanya berbekal arahan pria yang kami jumpai usai shalat di kantin pelabuhan tadi, kami mulai mengayuh dari sini menuju Pancur.

Besrsambung……

jangan lupa pula Simak juga catatan jalan jalan dari si pejalan cantik Choty  di  www.piknikcantik.com