Jejak Masa Lalu Tanjungpinang

Penyengat island

Dari masa lampau  kita bisa menggali pembelajaran, bahkan inspirasi. Meskipun masa lampau tak tersingkap terang, namun jejaknya akan selalu menarik  untuk di telisik dari masa ke masa . Dengan  sejarah kita  mengetahui apa yang terjadi pada masa lampau, siapa yang terlibat dari suatu peristiwa, dimana peristiwa tersebut terjadi serta dampak yang ditimbulkan atas suatu peristiwa itu bagi masa depan. Tanpa menelisik semua itu, masa lampau hanya akan hilang begitu saja seiring waktu.

235 angka yang mencatat untuk umur dari sebuah kota bernama Tanjungpinang, kota kecil di Pulau Bintan ini bahkan lebih tua dari pada kota Bandung,  diantara kota kota lama yang ter-masyur di indonesia seperti  Surabaya, Bandung dan jakarta. Nama Tanjungpinang mungkin  jarang terdengar. Meski Demikian, tak banyak masyarakat  mengetahui bahwa Kota Tanjungpinang juga menyimpan jejak jejak sejarah panjang yang luar biasa menjadi bagian catatan sejarah  Indonesia, diantaranya adalah tentang keberadaan  kerajaan Johor – Pahang – Riau Lingga.

Letak geografis Tanjungpinang sangat strategis , berdekatan dengan selat malaka,  menghubungkan antara Eropa, Timur tengah, Asia selatan, Asia tenggara dan Asia timur, membuat  selat malaka menjadi jalur yang sibuk dari zaman ke-zaman, hingga kota kota di sekitarnya tumbuh menjadi kota kota pelabuhan yang riuh, termasuk juga Tanjungpinang. Kapal kapal dagang dan penjelalah melintas dan singgah di kota ini membawa berbagai macam kepentingan pada masa itu.

Geliat kota pelabuhan tanjungpinang  sejak dahulu kala telah menimbulkan jejak keberadaan dan pertemuan berbagai bangsa di kota ini, sehingga Tanjungpinang menjadi kota yang istimewa pada masa itu. jejak jejak keberadaan bangsa asing dapat dijumpai dari keberadaan situs cagar budaya yang masih bisa di jumpai hingga saat ini. diantaranya terbagi menjadi Tiga sumber cagar budaya,   diantaranya,

1. Jejak Kerajaan Johor-Pahang-Riau Lingga Di Pulau Penyengat,

Torehan tinta sejarah  tentang kejayaan masa lampau  itu tidak hanya dalam bentuk catatan jurnal-jurnal lama dan cerita semata, jejak sejarah masih bisa dijumpai wujudnya di kota tanjungpinang , Meskipun jejak-jejak berupa situs cagar budaya itu sebagain besar terletak di Pulau penyengat.  Pulau mungil yang menyimpan catatan penting tentang keberadaan kerajaan Besar Melayu di selat Malaka, kerajaan Johor-Pahang_Riau Lingga.

2. Peninggalan masa Kolonial di kota tanjungpinang

Perkuburan Kerkhoff Belanda, Meski tidak begitu jelas informasi yang di dapat dari makam makam tua tersebut, namun tertera tahun pada nisan nisan yang menjelaskan makam tersebut di gunakan pada abad ke-19.

Rumah keresidenan belanda yang saat ini menjadi gedung daerah,  ketika pemerintahan Indonesia, Gedung yang terletak di pusat kota tanjungpinang ini pun pernah menjadi Kediaman Gubernur Riau Pertama SM. Amin (1958 –  1959)

Ada Pula Rutan kelas II tanjungpinang, yang dahulunya merupakan Rumah Jil, rumah tahanan yang tercatat menjadi penjara terbesar pada masanya di pantai timur Sumatra, mengimbangi penjara Sawah Lunto Di Sumatra barat, Rumah Jil di bangun oleh Portugis setelah Menaklukan Melaka tahun 1511.

Benteng “Prince Hendrik”, salah satu benteng yang menjadi pertahanan belanda di tanjungpinang, saat ini berubah fungsi menjadi salah satu bangunan rumah sakit Angkatan Laut

 3. Jejak Pecinaan Masa Lalu di Tanjungpinang

Kota Lama Tanjungpinang dan senggarang merupakan kota dangang yang ramai pada 1700-an sampai 1800-an , kawasan ini telah menjadi pemukiman orang-orang cina di pulau bintan sejak zaman kerajaan. Pada masa (Yang Di pertuan Muda Riau II) Daeng Celak (1728-1748) , pihak kerajaan memberikan kelonggaran kepada pendatang dari Cina untuk menempati daerah senggarang, dan pada masa tersebut di bangunlah perkampungan. Salah satu bangunan yang menjadi jejak sejarah pencinaan di Tanjungpinang adalah keberadaan bangunan  Vihara Vihara Dharma Sasana  yang masih kokoh berdiri hingga kini, vihara ini dibangun pada abada ke-18, 200-300 tahun lalu oleh imigran dari cina.

 

Upaya Penyelamatan Cagar Budaya

Amat  disayangkan memang, pada kenyataan nya tak semua bangunan cagar budaya tersebut dapat ter-selamatkan, seiring perubahan zaman, keberadaan nya terabaikan, tak dapat dikenali lagi bahkan telah berubah bentuk, .  Beberapa situs cagar budaya yang sudah berubah bentuk diantaranya Gudang Candu VOC (kemudian sempat difungsikan menjadi SMP II) yang kini telah berubah menjadi Bestari Mall di Jalan Teuku Umar, Sekolah Toan Poon, dan sejumlah cagar budaya lain yang telah berubah bentuk.

Meskipun Demikian, Tidak ada kata terlambat untuk menyelamatkan keberadaan jejak masa lalu yang merupakan bagian dari catatan penting Kota Tanjungpinang. Menyelamatkan cagar budaya sejatinya adalah andil semua pihak dan masyarakat secara bersama sama, kita memiliki kepentingan yang sama dan hak mengetahui bagian dari masa lampau kita.

Akhri-akhir ini Pemerintah telah memulai langkah langkah nya untuk menyelamatkan situs situs cagar budaya tersebut.  Sadar upaya penyelamatan ini  tidak bisa di lakukan hanya sepihak. Pemerintah menggandeng masyarakat untuk terlibat dalam bentuk Komunitas Cagar budaya. Komunitas yang terdiri dari berbagai macam kalangan di masyarakat ini di harapkan mampu meningkatkan Sikap kepedulian atas cagar budaya yang ada di kota Tanjungpinang. Komunitas bersama-sama pemerintah  diharapkan mampu untuk  mengangkat kembali ke permukaan situs-situs sejarah yang tak ternilai itu, agar tak tenggelam begitu saja oleh perubahan, dan kelak akan terus bisa di kenang dan nikmati sepanjang masa oleh generasi akan datang.

 

 

 

#tanjungpinangkampoengkite,

 

Sumber :

 

Iklan

Memberi Ruh Wayang Cecak

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Zulfianda memukul gendang dengan tempo pelan, sementara gesekan biola Azni melantunkan nada lirih membuka pertunjukan wayang cecak petang hari itu.

Di tangan Rizwan dua boneka terpasang, kedua boneka kayu itu di gerakkan kedua tangannya, seakan akan ditiupkan ruh kepada kedua boneka itu.

Alkisah berabat lalu, Chadijah Terong, memulai memainkan wayang cecek untuk anak anak tionghoa di tanjungpinang, chadijah terispirasi memainkan wayang dari opera cina yg di mainkan orang orang keturunan tionghoa di tanjungpinang.

dalam pertunjukan wayang cecak, pesan pesan dan nilai luhur kehidupan kerap ia sampaikan. Namun sayang, Setelah Chadijah wafat, tiada seseorang pun yang meneruskannya , hingga wayang cecak pun tan pernah dimainkan lagi berabad lamanya. sehingga suatu ketika di tahun 2017 pada saat Festival Pulau penyengat, Pertunjukan wayang ini kembali di gelar.

Hingga kini, generasi penerus di pulau penyengat seperti Azni, zulfiandi,Rizwan dan pemuda pulau penyengat lainnya, tengah berjuang untuk selalu memberi ruh kepada wayang cecak yang hampir mati itu.

Dabo Singkep, dan Saksi Mata Sepeda Tua

 

Dabo, Kota ini pernah jaya lewat kandungan timah dalam buminya. Lebih dari satu setengah abad tambang memberikan kemakmuran. Tidak hanya pada tuannya, juga pada masyarakat sekitar. Pun pada hari itu, Dabo singkep dikenal satu dari sekian kota maju yang ada di daerah Riau masa itu.

Tetapi, kejataan mana yang abadi. Tidak juga dengan timah di dabo. Senjakala itu tiba pada 1992. Seketika, orang orang pergi daei sana. Kejayaan yang pernah ada dan menghidupi generasi ke generasi itu tiba tiba runtuh. Sejak itu Dabo tidak pernah lagi sama.

Setelah lebih dari satu dekade berselang, kejayaan itu belum juga terulang. Yang bisa dilihat hari ini adalah sisa sisa, puing-puing, tapak – tilas, dari sebuah kota yang pernah riuh dengan kekayaan tambang. Ada gedung gedung tua bekas pabrik yang masih berdiri kokoh, Ada pula disisi lain kantor, rumah sakit. Gereja. Tugu dan juga sepeda.

Saksi mata atas kekayaan Dabo tidak hanya melulu bangunan yang masih berdiri. Sepeda juga punya posisi yang sama. Unit demi unit didatangkan sebagai alat transportasi pekerja. Kebanyakan buatan inggris. Sebut saha jenama ternama macam Raleigh, BSA dan Philips yang usianya beda tipis dengan kemerdekaan negeri ini.

Sepeda-seped itu masih terawat di tangan-tangan warga, selain karena nilai ekonomi yang tinggi di kalangan kolektor, sebagian juga memilih merawat besi tua ini lantaran mengenangkan mereka pada kejayaan Dabo yang pernah ada. Memang, adakah yang lebih menyenangkan dari pada berkeliling kota dengan sepeda tua seraya mengingat masa-masa kejayaan yang pernah ada? Sukar di cari tandingannya.

 

——- telah di terbitkan oleh Tanjungpinang pos edisi 25/08/18

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Seni memanjakan Lambung di Los Lambuang

 

Sumatra barat mungkin salah satu tempat di indonesia dimana kamu bisa berwisata dengan memanjakan seluruh panca indera.
Bentang alam nan indah, seni dan budaya nan megah sampai kuliner yang memanjakan lidah. Soal memanjakan lidah, panganan sumatra barat yang menggoda sudah bukan hal baru di dengar, kuliner pedas berlemak dan kaya rempah sangat melekat di benak setiap orang tentang masakan dari sumatra barat atau nasi padang.

Masakan padang tak hanya terkenal kaya dari cita rasa, tapi juga cara penyajiannya yang mungkin tiada dua di nusantara. Penah lihat pelayan di kedai “nasi padang” dengan sederetan piring memenuhi kedua lengannya…? Nah…”Manatiang piriang” adalah “seni” yang orang orang ingin lihat di kedai ” nasi padang” . Orang minang di kenal “nyeni” , tak hanya seni bermain saluang seni silek ataupun pandai sikek, menyajikan makanan pun ada “seni” nya.

Ngomong ngomong tentang seni menyajikan makanan ini, pernahkan kami tahu tentang Nasi kapau di “Los Lambuang” di Pasar atas Bukitinggi…? “Los Lambuang” adalah tempat sekumpulan penjaja “Nasi Kapau”, kedai nasi khas dari Nagari kapau di bukittinggi. Selain lauk pauk nya yang berdeba dengan nasi padang, penyajiannya juga unik. Lauk pauk disusun sedemikian rupa berbentuk piramida mengelilingi si penjaja, penjajaj Nasi kapau menyendokkan gulai dengan menggunakan sendok dengan tangkai yang panjang.
Pembeli duduk di depan lauk pauk sambil menikmati atraksi “etek-etek” penjaja nasi kapau menyendokkan Beragam gulai dan sambal menggugah selera ke nasi yang kamu pesan.
Gulai ayam, gulau tambonsu, dendeng lamboK, gulai tunjang, gulai kapalo ikan, rendang dan lain lain adalah salah satu menu khas nasi kapau. Mau pilih yang mana tinggal tunjuk saja mana yang kamu suka…

Selamat makan siang sobat…

Bukitinggi – sumatara 2018

 

 

BAJAFASH 2018 di tutup dengan memukau

Langit senja mengankang diatas Batam view beach resort,  nada nada swing Jazz melantun dari instument instrument musik dari panggung di tepi kolam renang  Resort ternama di kota batam itu. Pertunjukan Jazz sunset memanggil pengunjung hotel untuk berkumpul menyaksikan pentas Jazz dan pagelaran Fashion dalam rangkaian BAJAFASH hari kedua. Kemeriahan panggung BAJAFASH hari pertama yang berakhir dengan spektakuler , seakan tak berhenti sampai hari itu saja, pertunjukan spektakuler akan di janjikan  tersaji malam ini,  penampilan Glen Fredly sebagai penampilan pamungkas.

Siel dan Azmi Hairudin tampil lebih awal, tembang tembang Jazz dengan lantunan Saxopone yang apik di bawakan memanjakan telinga. Self Trio dari malaysia tampil membawakan instrumen musik Jazz yang Lebih rumit, distorsi-distorsi dari keyboard Self trio memberikan pengalaman mendengarkan musik Jazz yang berbeda dan unik, Self trio melumat 3 lagi tanpa Lead Vocal. Selanjutnya Indro Harjodikoro yang berkolaborasi dengan Jazz Muda Indonesia dan Penyanyi cantik bersuara seksi Soukma berhasil membius dan membuat penonton Terkagum-kagum, Steve Thornton juga berkolaborasi dengan Indro, “Senang bisa berkolaborasi dengan teman lama”  kata  Indro. Sejauh ini, penampilan Indro dan kawan kawan mampu menjadi magnet panggung Bajafash saat itu, penonton mulai berkumpul, duduk secara lesehan diatas rumput di pinggir kolam renang Batam View Beach Resort. Saat-Saat Penampilan Indro Harjodikoro dan Pragawati melenggak lenggok memperagakan busana dengan mengusung konsep Tradisional, namun lebih “kekinian” hasil karya designer Jarit & DRU.

Semakin Malam suasana makin terasa hangat, penonton mulai makin banyak berkerumun di depan panggung, semuanya menyatu menikmati penampilan para musisi-musisi hebat dari asia tenggara, unity in diversity tema yang diusung BAJAFASH 2018 tidak hanya bertujuan menyatukan para musisi dari berbagai negara dalam satu panggung saja, penonton pun datang dari latar belakang kebangsaan yang berbeda, semua membaur , menikmati musik dan penampilan. Selanjutnya giliran ZAP (Zahid Ahmad Project) memanjakan dengan penampilan musik musik jazz yang “calm” namun dengan aransemen yang matang, berkelas dan juga mengagumkan. Band yang di motori Drummer senior asal Malaisya Zahid Ahmad itu  tampil dengan tiga lagu berturu turut, penampilan ZAP juga diselingi oleh peragaan busana oleh Tyramona.

Malam Semakin Larut namun semangat penonton tampak tidak akan surut hingga tampilnya Glen Fredly sebagai  penampilan pamungkas, sekaligus menutup panggung BAJAFASH 2018. Dalam wawancara dengan beberapa penonton, mereka mengharapakan BAJAFASH  agar terus terselenggara triap tahunnya, “semoga tahun selanjutnya akan terlaksana kembali “ kata Edi salah seorang penonton Bajafash.

Glen dan Band nya Bakucakar telah nampak di depan panggung meskipun tampak samar, penonton mulai histeris memangil-manggil Glen, “Glen…Glen…Glen…” . Tanpa menunggu Lama, Glen langsung tampil menghentak di lagu pertama “you my Everithing”, penonton sontak histeris, dan mengikuti menyanyikan syair dari lagu glen tersebut. “ sudah Lama kita tidak kebatam” kata Glen, “senang bisa menyapa kalian kembali disini” glen menyapa penggemarnya. Glen  tampil memukau di tambah pula atraksi individu dari para personel  bakucakar yang membuat penampilan glen malam itu begitu pektakuler. bersamaan dengan itu Glen juga berkolaborasi dengan penyanyi cantik Amelia Ong, dan juga sang legend, pemain perkusi dari Amerika Steve Thontorn. Peragaan busana dari Designer ARTURRO  memperindah penampilan dari Glen, busana dengan konsep tradisional namun “trendy” di peragakan oleh model model cantik dari kota batam.Pertunjukan pamungkas yang sempurna dari glen malam itu, akhir dari BAJAFASH akhirnya di yang sangat berkesan. Tak sabar menunggu kejutan BAJAFASH di tahun yang akan datang, Ibu Indina sang Founder BAJAFASH menjanjikan akan menggelar bajafash kembali di bulan Maret 2019.

BAJAFASH 2018 Open Dialog, komitmen Memajukan Music dan Fashion Di Asia

DSC_4552

program OPEN DIALOGUE dengan tema “Sustainable Creative Industry in Diversity of South East Asia Through Jazz & Fashion” yang bertujuan akan adanya “komitmen” dari para pihak pengambil kebijakan termasuk negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura untuk bersatu dan bekerjasama melahirkan solusi-solusi untuk peningkatan industri kreatif secara berkesinambungan, membuka peluang positif bagi masing-masing pemerintahan sekaligus membuka jaringan kerjasama bisnis kreatif. Hadir Pada hari itu berbagai nara sumber seperti Khadijah Ibrahim seorang penyanyi legendaris dari Malaysia, Rudy Djoe, penyanyi Jazz Melayu dari Singapura, Datok Nik Azmi Dari komunitas Jazz Ampang Malaysia, Piyapong Muenprasertdee ( Co-founder & Community Manager of Fungjai.com ), David Siow dari singapura, Ibu Indina Putri Fajar (Founder BAJAFASH), Serta dua orang designer dari Indonesia Cossy Latu dan Wike Dwiharti, selain para seniman dan pelaku industri musik dan fashion, kehadiran pihak pemerintah juga menjadi bagian yang terpenting dalam dialog tersebut, karena dukungan pihak pemerintah adalah yang sangat penting dalam mendukung industri kreatif ini ungkap Datok Nik Azmi. Dari pihak pemerintah dihadiri oleh Khrisna K.U Hannan (perwakilan KBRI Malaysia),  M Reza Adenan (perwakilan KBRI Singapura), Rhaman Usman (Dinas pariwisata kota batam), serta  Lukita Dinarsyah Tuwo ( Kepala BP Batam ).  dialog terbuka tersebut berlangsung secara serius namun di balut suasana pantai yang santai di kelong restauran Batam view beach resort, di pandu oleh  Violinist ternama Tengku Ryo.

BAJAFASH 2018, kali ini menjadi lebih memiliki nilai berbeda dari tahun tahun sebelumnya, terutama dengan adanya Open dialog ini. Rudy Djoe, penyanyi dari singapura mengatakan, ” This is Little think that we can do before that we make  a bigger  think, that I call bajafash is Small Big Stage, “kecil tapi isinya Besar” atau “kecil kecil tapi berisi”. Betapa tidak, dengan open dialog ini para pelaku industri musik dan fashion sama sama memberikan energi positif untuk kemajuan industri  tersebut di Asia, kita bersama sama mulai dari hal yang kecil, simple namun punya tujuan dan semangat yang besar. Datuk Nik Azmi perwakilan dari komunitas Jazz Ampang malaysia mengatakan “whatever that country, Singaphore, malaysia, indonesia, thailand or philipine, Lest talk consept with Asia, we start from here, to move forward together , make our music and fashion to the world class.

Mengingat posisi Kota Batam yang sangat strategis di Wilayah perbatasan negara serumpun, Bajafash akan menjadi wadah bagi para pelaku industri musik nasional untuk dapat masuk ke pasar industri musik Asia Tenggara. Musik dan fashion merupakan komoditas industri yang menjanjikan dan mempunyai potensi untuk menjadi jauh lebih besar. Terselenggaranya Bajafash ini diharapkan juga membuka peluang bagi investor asing untuk menanamkan modalnya di batam dalam bidang ini, sekaligus meningkatkan jumlah kujungan wisata asing maupun wisatawan ke kota batam. Dalam kesempatan diskusi di batam View resort tersebut  Pyapong, pelaku industri musik dari Thailand berpendapat ,” Music and fashion is hand and hand  each other, how music can touch  people  feel inside, and how they expretion them self is how they ware they clothe. So,  Music and fashion can work together . in Bajafash, i  show mussision make traditional song and collaborate with tradtional fashion style too, this one of good sample for local music and fashion Industry”.  Selain mengutarakan optimisme untuk bisa maju bersama , dalam diskusi tersebut juga megemukakan masing masing permasalah yang di hadapi di tiap-tiap negara, untuk dapat saling mendengar dan mencari solusi bersama. Sebagai contoh dengan ada issue pembatasan musik indonesia berkembang di negara malaysia, ini tentu akan menjadi penghambat kemajuan bersama, bagaimana kita hilangkan rasa kompetisi diantara kita, mari saling berkolaborasi ungkap Bapak Khrisna K.U Hannan wakil dari KBRI Malaysia, yang menyempatkan hadir dalam diskusi tersebut.

Keterlibatan pemerintah untuk mendukung misi BAJAFASH ini tentu sangat di butuhkan, dalam diskusi tersebut nampak dukungan positif dari pemerintah yang di wakilkan oleh hadirnya pihak KBRI Malaysia dan perwakilan KBRI singapura, sedangkan dukungan dari pemerintah lokal datang dari BP Batam dan Dinas pariwisata Kota Batam. Wakil dari pemerintah ini sepakat untuk mendukung BAJAFASH sebagai program yang diandalkan dalam mendatangkan wisatawan dari luar negeri ke Indonesia secara umum dan batam khususnya. Bapak M Reza Adenan, perwakilan KBRI Singapura langsung memberikan tawaran kepada designer indonesia yang hadir saat itu untuk bergabung dalam event “Rising Fashion” yang akan di gelar bulan Agustus Tahun ini di singapura, KBRI singapura akan mengundang pelaku Fashion Indonesia untuk ikut dalam event tersebut ungkap Bapak  M Reza Adnan.

Bajafash 2018 ingin menjadi suatu upaya untuk menyatukan keragaman negara-negara di Asia Tenggara melalui musik dan fashion, begitu ungkap founder BAJAFASH, Ibu Indina. Kita ingin mengoptimalkan posisi  Batam yang stategis ini, Impian kami adalah menjadikan Batam sebagai Pusat Musik dan Fashion di Asia, Perjuangan menuju ke arah tersebut tentu tidak mudah, kami butuh dukungan dari semua pihak untuk mewujudkan nya untuk kepentingan bersama.  Ibu Indina selaku ketua Commite BAJAFASH mengatakan,  Kita “fight” agar BAJAFASH menjadi awal dari sebuah kemajuan, ini ibaratkan sebuah “snow ball”  kecil yang berukurankecil yang harus kita dorong untuk bergerak menjadi lebih besar . Menjadikan batam menjadi pusat Music dan fashion, itu impian kami. Diujung Dialog, Ibu Indiana berjanji akan mengadakan kembali BAJAFASH dengan konsep yang berbeda di bulan Maret 2019 akan datang.

Kemeriahan BAJAFASH 2018, Penantian yang Terbayar Lunas

DSC_4529

Pagelaran busana dan panggung musik Jazz tentu akan menjadi salah satu hal menarik dan unik untuk di saksikan. “Hallo Batam…..BAJAFASH is On….!”. Di buka dengan kolaborasi yang memukau dengan penampilan The Lightcraft band dan sederetan penampilan pagelaran busana yang di peragakan model model batam, hasil karya designer lokal kota batam pula, mereka adalah  Natasya Rofalina, Feby Erika dan IWAPI Batam. Acara berjeda sejenak hingga usai makan malam,  suasana senja nan temaram seketika semarak kala penampilan Janine Annice penyanyi jazz wanita asal inggris. Janine membawakan tiga lagu andalannya, meski penonton tampak tak begitu familiar dengan nama Janine, namun materi lagu yang di pilih oleh nya mampu membuat penonton hanyut dalam suara lembut nya.

Balawan dengan group musik etnik Bali nya tampil menghentak setelah penampilan Janine, permainan gamelan Bali Balwan nan energik di padu dengan teknik tapping pada gitar double neck nya mampu membuat penonton hanyut dan terpukau, “Forest” dan “Keroncong kemayoran” salah satu lagu yang di suguhkan Balawan. “Bagus Bagus”, brand busana karyaWike Dwiharti di tampilkan saat balawan tampil, perpaduan musik etnik dan fashion konsep entik yang benar benar ter-ramu dengan baik di panggung BAJAFASH malam itu. Rudy Djoe, penyanyi singapura tampil kemudian di BAJAFASH, penampilannya seakan tak menginginkan kemeriahan malam ini terhenti, Rudy Joe berhasil membuat penonton bergoyang dengan Jazz melayu ciri khas Joe. Fatwa Pujanggga adalah salah satu lagu yang dibawakan Rudy Joe. Penonton seakan tak rela Joe harus mengakhiri penampilannya, “lagi…Lagi…Lagi…” teriak penonton. Penampilan joe dilanjutkan penampilan penyanyi senior asal malaysia Kadijah Ibrahim, kontras dengan suara Djoe yang lembut, Kadhijah langsung tampil dengan lagu dengan tempo cepat dipadu dengan suaranya yang yang powerfull, penonton terpukau akan penampilan penyanyi wanita yang telah 40 tahun berkarya dibidang musik itu.

Malam memang telah larut, namun Vanue BAJAFASH masih tetap semarak, bahkan semakin semarak. Penampilan penyanyi bertubuh mungil asal singapura Amelia Ong tak lantas menurunkan gegap gempita suasana festival Jass dan Fashion itu. Amelia boleh saja tampilannya “imut”  namun iya energik diatas panggung, lagu-lagu bertempo cepat di pilih nya, seakan akan tubuhnya tak dapat berhenti dihipnotis nada nada swing jazz yang membius,  penampilan amelia memberikan energi di tengah malam itu.

Tak Terasa pesta BAJAFASH malam itu telah sampai diujung, namun justru ini lah yang sangat di nanti nanti oleh warga batam, penampilan penyanyi Jazz senior Indonesia Syaharani. Rani juga langsung tampil dengan lagu bertempo cepat, tak betah berada di lini belakang panggung bersama band, Saharani langsung memancing adrenalin penonton dengan di ujung panggung, mengajak mereka menari bersama menikmati alunan musik, penonton histeris, mereka berasa dekat dengan penyanyi legendaris itu, syaharani seakan bernyanyi bemar-benar di samping mereka. Penampilan Syaharani diikuti oleh penampilan sederetan model model yang memperagakan busana karya designer ternama Jossy Latu, Busana dengan tema “Batik history” itu di tampilkan secara bergantian. Jossy pun tampil diujung pargelaran , menari bersama syaharani.

Syaharani kemudian tampil berkolaborasi dengan seluruh bintang tamu BAJAFASH, di pada akhir pertunjukan, Steve Torhton, Rudy Joe, dan Datok Nik Azmi tampil sepanggung bersama Syaharani. Pertunjukan di tutup dengan apik, sungguh penantian beberapa bulan ini terbayar lunas malam ini, Penonton seakan tak rela pesta malam itu berakhir, tapi beruntung nya para penonton tidak perlu kecewa, karena malam selanjutnya masih akan banyak lagi musisi musisi hebat akan tampil lebih spektakuler lagi, di tambah penampilan penyanyi Glen Fredly.