[catper] Jelajah Lingga Bersepeda (Bagian 5)

Sungai Tenam – Pancur

 

Sungai Tenam – Pancur

Jauh hari sebelum berangkat, saya dapat gambaran dari teman saya Roy tentang rute pancur. Roy bercerita bahwa perjalanan  dari sungai tenam ke pancur akan menelusuri tepian bukit, sementara di  kiri dan kanan jalan adalah hutan belantara, tidak ada perkampungan, separuh jalan beraspal, dan sisanya masih jalan tanah. Perkampungan hanya akan di jumpai ketika mendekati daerah pancur, “jika sudah bertemu kampung, berarti sudah dekat dengan pancur” ungkap Roy dalam Chatting room.  Lalu, Apa yang ingin kami cari di pancur..? tidak ada. Terkadang kita harus tersesat dan tanpa arah untuk menemukan hal baru bukan…? yang penting berjalan saja.

Dari pelabuhan sungai tenam, sepeda kami kayung kayuh secepat yang kami bisa agar sampai di pancur sebelum gelap, namun apa daya, alam tak mengizinkan kami memacu sepeda dengan cepat. Baru saja keluar dari pintu pelabuhan dengkul si pesepeda pemula ini telah di tunggu jalan menanjak dan berkelok meliuk liuk di tepian bukit, belum sampai satu kilometer berjalan, nafas saya sudah tersengal-sengal dan kayuhan terasa berat, mungkin karena terlalu lama duduk di kapal tadi jadi dengkul berat mengayuh, mestinya harusnya pemanasan dulu.

Mengayuh sepeda disini seketika saya jadi ingat tanah kelahiran di kerinci, tanah yang subur di “puncak Sumatra”, dari lingga utara ini, Pulau Lingga dan kerinci bagai serupa tapi tak sama,  daerah  berbukit bukit dan jalanan berkelok kelok di sisinya, kiri dan kanan jalan adalah hutan lebat, pepohonan khas hutan hujan topis berumur tua tampak tak terjamah dan terjaga. Dalam lindung hutannya yang lebat konon terdapat pula puluhan jenis tumbuhan langka yang hampir punah.  Oh iya, Lingga adalah satu satunya daerah di KEPRI yang dilalui garis ekuator, tidak banyak  yang menyadari,  mungkin tak se-tersohor tugu ekuator di kota Pontianak sana. Sebuah tugu titik nol katulistiwa di bangun di tanjung Teludas tak berapa jauh dari pelabuhan sungai tenam, jika hendak merapat ke pelabuhan sungai tenam, di sebelah kanan akan tampak tugu ekuator Tanjung Telundas. 0 sampai 11 derajat utara dan selatan wilayah yang dilalui garis ekuator adalah daerah yang di karuniai curahan hujan hampir sepanjang tahun, dan juga sinar matahari yang cukup untuk membuat tanah di lalui garis katulistiwa ini subur. Di daerah titik nol katulistiwa ini  pula dapat di saksikan fenomena  tanpa bayangan ketika matahari tepat berada di katulistiwa.

Sepeda terus kami kayuh meilntasi jalan aspal di tengah rimba pulau Lingga. Jalanan sunyi, kami mengayuh sepeda dengan nyaman di petang hari yang tengah mendung,   jalanan ini seperti hanya milik kami, setelah kapal terakhir sandar, hampir tidak ada lagi yang lewat di rute ini, selain orang kebun atau pencari kayu di hutan. Dalam suasana jalanan sepi sepeda kami kayuh, tak ada suara apa apa kecuali suara serangga uir-uir yang melengking memecah keheningan rimba. Jalan menanjak dan meliuk liuk di depan selalu memberi kejutan.

 

 

Kami menjumpai pertigaan dengan rambu rambu penunjuk arah, disana menunjukkan Pancur belok ke kiri,  sedangkan lurus adalah arah menuju ke Resun, Sei Pinang, panggak darat dan kota Daek. Kami belok ke kiri dan mengayuh sekuat tenaga, tanpa bisa memperkirakan berapa kilometer lagi pancur di depan sana, tak ada peta maupun GPS, perjalanan ini seakan penuh kejutan dan mendebarkan.

 

 

Jalan Tanah Berkerikil dan Guyuran Hujan

Setelah melewati simpang pancur barulah kami temui beberapa kebun masyarakat, sepeda terus kami kayuh dijalan aspal yang mulus, sesekali di kiri kanan jalan tampak beberapa lahan hutan yang baru saja di tebang, sepertinya akan di gunakan untuk kebun. kurang lebih 500 meter dari simpang pancur jalan aspal mulai berganti jalan tanah dan berkerikil. Wah…ini tampak akan menjadi masalah untuk sepeda saya yang ban nya tidak cocok dengan medan tanah dan berkerikil seperti ini, sedangkan pak budi meluncur tanpa masalah dengan sepeda tipe mountain bike nya. dengan sangat terpaksa saya megurangi kecepatan, sedangkan pak budi telah jauh meninggalkan saya di belakang.

 

 

Langit terlihat mulai gelap, dalam hati bergumam, di depan sepertinya akan turun hujan. Benar saja, tak berapa lama dalam gumam itu tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras dan mendadak, sampai-sampai saya tak sempat memasang raincoat pada pannier. Saya menepi, tidak ada tempat berteduh, ini hutan belantara,  raincoat saya pasang pada tas pannier dalam guyuran hujan, tak ada pilihan, selain membiarkan seluruh badan basah di guyur hujan, baru saya sadari kalau saya lupa mempersiapkan diri dalam situasi  ini, saya tidak membawa raincoat untuk diri saya sendiri selain yang dimiliki tas pannier,  apa boleh buat, saya harus terima semua situasi atas kelalaian saya, saat ini  yang penting adalah barang-barang di dalam tas jangan sampai basah pula, kamera saya simpan ,bisa kacau kalau peralatan foto, pakaian dan bekal saya basah. Dalam hati saya berdoa diberi kekuatan fisik untuk melewati situasi ini,  saya membuang jauh fikiran yang negatif, dalam hati dan fikiran saya katakana pada diri saya, bahwa saya harus tetap sehat, bersemangat untuk terus menuntaskan perjalanan ini. Saya berusaha membuat diri berbahagia dalam situasi seperti ini, saya membayangkan bagaimana senangnya bermain bola kaki di lapangan dalam guyuran hujan ketika masa kecil dulu, ini pasti menyenangkan. Dalam guyuran hujan sepeda kembali saya kayuh dengan bersemangat, saya harus mengayuh dengan lebih kuat agar badan saya tetap hangat.

 

 

Akhirnya saya mampu menyusul pak Budi yang tengah membalut tas panniernya dengan plastik. Kami saling  tertawa, menertawakan atas kelalaian diri masing masing, dia menertawakan saya yang badan nya basah kuyup  karena saya tidak pakai raincoat , sedangkan saya menertawakan pak Budi karena dia juga lupa mempersipakan raincoat untuk tas bawaan nya, namun dia sedikit beruntung dengan membawa kantong plastik yang cukup besar untuk membungkus tas pannier nya. “inilah ucapan selamat datang dari pulau Lingga untuk dua “goweser” bintan yang lalai hahaha” ungkap saya, kami saling tertawa menghibur diri.

Hari makin petang, guyuran hujan belum juga berhenti, jangankan sampai di pancur , perkampungan saja belum juga tampak, hanya hutan dan kebun sahang (lada) dikiri kanan jalan, serta jalan tanah kuning yang panjang seakan tak berunjung. Hingga akhirnya kegundahan sedikit sirna karena kami sudah menjumpai beberapa rumah penduduk, belakangan di ketahui ini adalah desa sungai besar. Kami beristirahat sejenak disni sembari bertanya bertanya arah pada seseorang pria yang tengah duduk-duduk di sebuah kedai. “ oh.. pancur tak jauh lagi… lurus je, nanti jumpe masjid, nah.. kelok ke kanan, kemudian lurus dan ikuti jalan pelantar, dah sampai pancur” ujar pria di kedai tersebut memandu kami. Mendengar penjelasan itu hati kami sudah sedikit tenang, kami tidak perlu khawatir karena tempat yang dituju sudah dekat. Pancur adalah sebuah pasar, orang orang dari pulau dan desa desa di lingga utara umumnya berbelanja ke pancur , sebagian bahan kebutuhan pokok yang  masuk ke pulau lingga salah satunya melewati daerah ini.

Kami berpamitan dan kembali mengayuh sepeda, pancur harus kami capai sebelum gelap. Akhirnya kami mulai menjumpai perkampungan yang makin rapat, Sebagian besar rumah di kampung ini adalah rumah panggung yang dibawahnya adalah rawa, sepeda kami melaju menelusuri jalanan kampung  yang terbuat dari pelantar kayu, Selamat datang di Desa Duara, tulisan pada sebuah gapura, kami berasakan semakin dekat dengan pesisir, rumah rumah pelantar mulai  berjejer rapat di kiri dan kanan jalan setapak, sesekali saya melihat lautan dari  sela-sela rumah pelantar yang rapat itu, rasanya tak lama lagi kami sampai di teluk pancur.

 

Rumah-rumah pelantar  kemudian berganti dengan rumah rumah semi permanen yang berjajar rapi di kiri kanan jalan  yang terbuat dari beton, seketika saya teringat kampung cina  di Senggrang kota tanjungpinang, bentuk rumah rumah di sini hampir sama seperti yang ada di kampung senggarang, Sebagian besar rumah rumah pelantar itu berhiaskan lampion berwarna merah. Suasana kampung terlihat semarak seperti sedang menyambut sebuah perayaan. Oh iya, saya baru teringat, besok adalah hari besar imlek, sebagian besar orang disini tanpak bercengkrama dengan hangat dengan keluarga nya di teras rumah mereka, irama riang musik khas negeri tirai bambu terdengar bersahut sahutan dari dalam rumah rumah pelantar, hari sudah senja ketika kami sampai di pasar pancur, sementara dimana kami menginap malam ini masih belum jelas…

 

 

 

 

Bersambung…..

 

simak juga cerita perjalanan menjelajah eropa mengunjungi tempat tempat menarik disana di tautan ;  www.jokka2traveller.com

[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (Bagian 4)

Tanjungpinang – Sungai Tenam (Pulau Lingga)

DSC_9396

Di dalam kapal, Penyanyi “dangdut koplo” menggoyang goyangkan pinggul nya di layar televisi, menari  mengaduk-aduk perasaan hingga tak tentu, sementara itu gelombang laut mengoyang se-isi kapal ke kiri dan kekanan. Kepala saya mulai pusing, entah karena gelombang laut atau karena “dangdut Koplo”. Meski badan terasa letih, namun mata sukar untuk di pejamkan. Disebelah saya, pak Budi terlihat tertidur, saya meninggalkan tempat duduk, berjalan kearah bealakang kapal berharap menemukan ruangan yang sedikit terbuka, pelan pelan saya terobos jalan  penuh sesak  yang diisi oleh penumpang itu, sebagian penumpang ada yang duduk di tangga yang menghubungkan dengan lantai dua. Tampak sebagian besar penumpang adalah warga keturunan tionghoa, sepertinya mereka hendak merayakan imlek dengan keluarga pulau lingga. Saya terus berjalan ke buritan kapal mencari tempat duduk yang lebih terbuka. akhirnya saya duduk di buritan bersama beberapa pria yang tengah asik mengisap tembakau. Meskipun di terpa panas dan hembusan angin yang kuat, di buritan ini saya merasa lebih nyaman, bisa memandang luas lautan, menghirup udara segar, dan sesekali di suguhi pemandangan  sederetan pulau-pulau.

DSC_9398

Satu jam berlayar, Kami sudah memasuki perarian kabupaten Lingga, dan kapal sandar di pulau pertama, pulau Benan namanya. Pulau Benan adalah salah satu andalan pariwisata kabupaten lingga, ke-elokan pantai dan pesona bawah lautnya  bagai magnet yang menarik para pelancong datang ke pulau ini, 5 tahun lalu saya pernah berkunjung ke pulau  yang indah ini dan pernah saya tulis di sini, waktu itu dalam kegiatan promosi wisata yang di gelar oleh pemerintah kabupaten Lingga. Di pulau ini  sudah di  lengkapi dengan fasilitas yang cukup memadai, sudah ada home stay dan restaurant . Meskipun demikian, listrik hanya hidup dari sore hingga tengah malam saja, paket snorkeling dan diving juga tersedia disini, tentu saja dengan seluruh kelengkapan nya, selain menginap di home stay, pengunjung bisa juga menginap di rumah penduduk.

DSC_9400

DSC_9401

MV.Arena II sudah merapat di pelabuhan pulau Benan, satu persatu barang dan penumpang turun dari kapal, sebagian penumpang banyak yang turun disini, ternyata mereka adalah wisatawan yang hendak liburan ke pulau Benan. Koper-koper dan travel bag ukuran besar diturunkan dari atas kapal, dari barang bawaan mereka terlihat para wisatawan itu sepertinya akan menetap beberapa hari di pulau itu, sebagian terlihat sangat gembira bisa menginjakkan kaki di darat setelah satu jam mengarungi lautan yang bergelombang, mereka memotret sana sini dan dan ber-selfi. Tidak hanya menurunkan penumpang tujuan pulau Benan, penumpang baru dari pulau ini pun bergantian naik, sebagai satu satunya transportasi umum antar pulau di jalur ini, MV.Arena tidak pernah sepi. Tak sampai 10 menit bersandar, kapal kemudian meniggalkan dermaga pulau Benan, MV.Arena kembali melaju membelah lautan biru.

20170130_081402

Matahari bersinar terik siang itu, Saya masih bertahan disini, di buritan kapal MV.Arena II,  lebih nyaman rasanya disini, bisa melempar pandangan ke lautan dan sesekali memotret. Di buritan kapal, pria-pria pengisap tembakau datang dan pergi silih berganti, mereka merokok sembari saling mengobrol apa saja meskipun tanpa harus mengenal nama, rokok jadi pembuka obrolan. Seorang pria agak berumur yang baru saja naik dari pulau benan bercerita bahwa  beberapa hari yang lalu iya dan beberapa rekan nelayan  baru saja memusnahkan sebuah kapal yang di duga telah melakukan pencurian ikan dengan pukat di perairan ini. Saya hanya mendengarkan saja cerita mereka , apalah yang saya tau tentang pukat, lautan  dan kehidupan nelayan. Lalu dengan logat melayu pria itu menyapa saya, “mike hendak kemane..?, mike wartawan…? Pencurian ikan itu patut mike masukkan koran”, ujar pria dengan kulit gelap tersebut. Ia mengira saya wartawan, mungkin karena kamera yang saya sandang, saya coba jelaskan bahwa tujuan saya hanya jalan-jalan ke lingga dengan sepeda sambil memotret sebagai kenang kenangan, sepertinya beliau tampak tak begitu percaya, lantas bapak yang belakangan saya ketahui adalah seorang nelayan tersebut mulai bercerita masalah politik,  tak luput pula curhatan nya tentang pemimpin yang obral janji saat PILKADA, “kalau  butuh die orang ingat kite, tapi kalau dah jadi, mane ade cerite die orang nak tengok kite kat pulau ni. Saya berusaha menjadi pendengar yang baik saja, entah berapa batang rokok yang telah ia hisap saking semangat nya bercerita, hingga akhirnya kapal merapat di Rejai, pulau kedua yang di singgahi MV.Arena II.

DSC_9407

Di Rejai langit mulai gelap, rintik-rintik hujan mulai turun, saya dan beberapa pria yang tengah mengisap tembakau kembali menempati kursi masing masing di dalam kapal, muatan kapal kini mulai berkurang beberapa orang penumpang turun di Rejai, namun lebih banyak barang barang yang di turunkan oleh anak buah kapal, barang barang tersebut merupakan kebutuhan pokok yang di suplai dari tanjungpinang. Kapal agak lama berhenti disini, namun tidak lebih dari 30 menit melaju kembali, menurut salah seorang penumpang di buritan kapal tadi, satu kali pemberhentian lagi adalah Tanjung Kelit, dan kemudian  adalah pelabuhan sungai tenam . Setelah melewati Rejai, Hujan mulai reda, gelombang laut terasa lebih tenang,  kami  melalui selat, di kiri dan kanan  pulau pulau melindungi selat ini dari gelombang. Suatu ketika kapal mengurangi kecepatan dengan tiba tiba hingga saya terperanjat, kemudian langsung berdiri melihat ke luar jendela, ada apakah di luar sana sehingga kapal tiba tiba mengurangi kecepatannya. Ternyata MV.Arena II  melewati selat yang sempit, di pesisir pulau banyak pemukiman penduduk yang berdiri diatas air, kapal harus mengurangi kecepatannya agar gelombang tak menghempas kuat perkampungan atas air itu, saya tak  ingat nama kampung tersebut, anak buah kapal menyebutnya kampung orang suku laut. Tidak ingin kehilangan moment, saya berjalan cepat menuju buritan kapal untuk dapat memotret perkampungan diatas air itu sebagai kenang kenagan.

DSC_9408

saya kembali duduk di buritan kapal, tempat pria-pria merokok dan mengobrol, seorang pria dengan atribut POLRI asik mengisap tembakau dan mengobrol dengan seorang pria lainnya di buritan, Kemudian Polisi tersebut  menghampiri saya dan bertanya kepada saya hendak kemana dengan penuh selidik, saya jelaskan  bahwa saya hanya jalan-jalan bersepeda dengan seorang rekan saya dari pulau Bintan menelusuri beberapa daerah di kepulauan Lingga, “oh…mau ngukur jalan ya…?” tandas pria berseragam POLRI itu sambal tertawa, belakangan saya ketahui polisi tersebut bertugas di POLSEK Dabo Pulau Singkep. “Disini kalian  aman dan nyaman bersepeda” ungkap-nya, bercerita meyakinkan saya bak seorang duta pariwisata, beberapa jalanan di Lingga sudah bagus, tingkat kriminal rendah disini, selain pelanggaran lalu lintas, hanya saja Kasus narkoba dan tindakan cabul menjadi masalah polisi disini. “ saya baru saja mengawal tahanan, memindahkan nya dari  Dabo singkep ke tanjungpinang dalam kasus narkoba”.

Pukul 3 sore, kapal bersandar di sebuah dermaga yang sederhana di Tanjungkelit kecamatan senayang, satu keluarga kecil turun dari kapal, di dermaga telah menanti para penjemput dengan wajah penuh harap dan gembira, penumpang yang turun kemudian berganti dengan penumpang yang baru, beberapa orang naik ke kapal dengan tas dan kardusukuran besar di naikan keatas kapal. Dari atas kapal saya melihat  rumah rumah diatas air berjejer padat di tanjungkelit, beberapa nelayan sedang merapikan jala di teras rumah yang terbuat dari papan, sedangkan sebagain nya lagi terlihat tengah memperbaiki perahu. Dari balik dapur rumah pelantar, tampak seorang ibu tengah menggendong balita, menatap harap ke arah MV.Arena  seperti sedang menanti seseorang. MV.Arena tak berhenti lama, dan kini telah berlalu dari tanjungkelit, di dalamnya membawa barang baranang kebutuhan manusia dan segudang cerita rindu orang-orang pulau.

 

DSC_9423

Berselang dua puluh menit dari tanjung kelit, anak buah kapal terlihat kembali bergegas mempersiapkan tali kapal untuk persiapan kapal sandar. “Kita sudah sampai di sungai tenam” ujar anak buah kapal kepada saya, dari kejauhan saya melihat sebuah pelabuhan beratap biru dengan menara suar di depannya, dari kejauhan terlihat bangunan pelabuhan ini cukup besar di banding pelabuhan pelabuhan di pulau-pulau sebelumnya. Inilah Sungai Tenam, pelabuhan yang baru saja resmi di gunakan tahun lalu itu. Dua pelayaran domestik dari tanjungpinang dan Batam menyinggahi pelabuhan ini tiap harinya. Konon keberadaan pelabuhan ini bertujuan untuk menampah kenyamanan dan kelancaran pelayaran menuju ibukota Daek Lingga, di saat musim angin selatan penumpang kapal kapal dari tanjung pinang dan Batam cenderung takut untuk berlayar hingga ke tanjung buton (pulau lingga) atau jagoh (pulau singkep) di karenakan gelombang yang besar, sehingga keberadaan pelabuhan sungai tenam menjadi alternatif dikala musim gelombang kuat tersebut untuk mencapai pulau Lingga. Dari sungai tenam menuju ibu kota Daek Lingga, bisa menempuh jalan darat kurang lebih 30 menit, kendaraan sewa biasanya telah standby di saat kapal dari batam dan tanjungpinang bersandar disini.

DSC_0282

Pukul 3.20, kami pertama kali menjejakkan kaki di pulau Lingga, tanah yang di juluki “Bunda Tanah Melayu”. Sepeda sudah tergeletak di pelantar beton pelabuhan, anak buah telah menurunkannya untuk kami.  Banyak penumpang turun disini, sehingga muatan MV.Arena II tampak terlihat banyak berkurang, baik manusia maupun barang barang nya. Beberapa mobil pribadi tampak berjejer menunggu penumpang di pelabuhan, para penumpang kapal langsung berpindah ke dalam mobil mobil sewa tersebut, MV.arena II pun kembali berlayar meninggalkan pelabuhan sungai tenam. Tak ada lagi keriuhan penumpang, Arena II adalah kapal terakhir yang bersandar di sungai tenam hari ini, hingga pelabuhan sungai tenam sunyi dan sepi, hanya kami berdua penumpang kapal yang tersisa di pelabuhan itu.

DSC_9426

Kami meninggalkan dermaga menuju gerbang pelabuhan. “Selamat datang di Sungai Tenam kabupaten Lingga, Bunda Tanah Melayu“ begitu isi sebuah papan ucapan selamat datang dengan memampang wajah Bupati Lingga dan wakilnya, Saya berseloroh pada pak Budi, “lihat pak, kita di sambut oleh Bupati Lingga dan wakilnya, meskipun hanya gambarnya saja, Mari kita ber-selfi, hahaha…”  saya dan pak Budi tertawa. kami berfoto di depan papan ucapan selamat datang tersebut sebagai kenang kenangan. 

DSC_9435

Saya dan pak Budi memutuskan istirahat dan mengisi perut di pelabuhan ini. Kami bertanya kepada seorang petugas, adakah ada kantin di pelabuhan ini, “Disana ada kantin dan mushala” ungkap seorang petugas pelabuhan sambil menunjukkan kearah bangunan utama pelabuhan. Namun ternyata kami tidak beruntung, “tidak ada lagi makanan” ungkap penjaga kantin, “jam segini kami sudah berkemas, berhubung sudah tidak aka nada lagi  pembeli,  Arena II tadi adalah kapal terakhir hari ini “ pungkas petugas kantin menjelaskan. Akhirnya kami hanya menumpang istirahat  sambil mengisi perut dengan bekal yg kami bawa,  dan kemudian shalat di mushala nya, ruang mushala yang terletak di sebelah kanan kantin masih terlihat sangat bersih dan nyaman layaknya bangunan yang masih baru,  namun sedikit di sayangkan keadaan toilet dan tempat wudhunya tidak terawat, dan ketersediaan air bersih pun terbatas, mungkin itu yang menyebabkan toilet kotor dan bau.

Usai shalat, saya dan pak budi segera memulai mengayuh sepeda, di dalam tas pannier persediaan makanan masih cukup menjelang sampai ke tujuan selanjutnya, sehingga kami tidak perlu khawatir,  . Tujuan kami selanjutnya adalah Pancur, sebuah daerah pesisir utara pulau lingga yang berjarak kurang lebih 14 kilometer dari pelabuhan Sungai tenam ini. menurut seorang pria yang kami jumpai usai shalat tadi, “Pancur tidak jauh dari sini, jika dengan kendaraan hanya 15 menit saja sudah sampai” ungkap nya. Ok… 15 menit, dalam hati saya bergumam, jika dengan sepeda mungkin saja akan mengabiskan waktu dua jam atau bahkan lebih, semoga kami tidak akan kemalaman sebelum mencapai Pancur”. Tanpa berbekal peta ataupun GPS, perjalanan di depan nanti adalah rangkaian  dari kejutan-kejutan, hanya berbekal arahan pria yang kami jumpai usai shalat di kantin pelabuhan tadi, kami mulai mengayuh dari sini menuju Pancur.

Besrsambung……

jangan lupa pula Simak juga catatan jalan jalan dari si pejalan cantik Choty  di  www.piknikcantik.com

[catper] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 3)

Pelabuhan Seri Bintan Pura Tanjungpinang

Pagi yang riuh di pelabuhan Sri Bintan pura. Kerumunan orang menutupi pintu utama masuk pelabuhan, calon penumpang, pengantar, supir taksi dan porter berdiri di depan gerbang  tidak terlalu jelas alasan mereka berkerumun di sana, entah apa yang mereka tunggu, mungkinkah pelabuhan ini tidak ada ruang tunggu yang memadai sehingga orang- orang menumpuk di  depan gerbang pelabuhan. Penjual tiket kapal ke berbagai pulau berteriak teriak memanggil calon penumpang dari balik loket loket yang sempit, kebisingan pelabuhan semakin sempurna.

Saya dan pak Budi menuntun sepeda mengarah ke dermaga tempat kapal sandar, menerobos kerumunan manusia di depan gerbang, semua mata tertuju pada kami yang menuntun sepeda sarat muatan, mungkin dalam hati mereke berkata “dari planet mana manusia ini”. Menjelang ujung dermga langkah kami terhenti oleh petugas boarding pass pelabuhan yang menanyakan tiket dan tujuan. kami baru sadar, telah melewati penjual tiket di tempat orang orang berkerumun di depan gerbang tadi dan kami belum membelinya, “Ya sudah… kalaian masuk saja, nanti beli tiket di sana” petugas boarding pass menunjuk ke arah dermaga, sepertinya disini tiket tidak hanya di jual di loket saja.

Sepeda kembali kami tuntun melalui koridor yang penuh sesak penumpang, dermaga yang di tunjukkan petugas tadi terletak di sebelah ruang kedatangan, tak ada tampak penjual tiket kapal beredar disini, beberapa orang kami tanyai menunjukkan jawaban yang membingungkan, bahkan jawaban dari seorang petugas syahbandar yang sempat kami tanyai membuat kami khawatir tidak dapat tiket, “ saya kurang tau juga mas, saya baru beberapa hari tugas disni, kami selalu berpindah pindah tugas, coba tanya saja kesana”  ungkap petugas berseragam itu sambil menunjukkan kearah kerumunan orang di dermaga. Saya dan pak Budi mulai khawatir, waktu keberangkatan sudah dekat namun kami belum juga mendapatkan tiket.

Hingga akhirnya kami bertanya pada seorang ibu yang sepertinya sedang menunggu keberangkatan juga,  ibu tersebut juga akan ke daerah lingga namun tidak melalui rute yang sama dengan kami, dengan logat melayu ia memberi pencerahan , “Besok imlek, biasenye hari-hari besar macam ni tiket susah nak dapat, sebab calo dah borong semue, di loket memang tak ade jual lagi, saye pon dapat beli dengan calo juge. Cube mike pegi ke kedai di dalam sane, tanye dengan orang dalam kedai tu,… mudah mudahan masih ade ” .  Saya baru sadar besok adalah hari besar imlek, saya tidak menyangka kalau akan banyak orang orang keturunan tonghoa pulang kampung ke tanah yang punya julukan bunda tanah melayu tersebut untuk merayakan imlek.
Akhirnya saya menemukan penjual tiket di dalam sebuah kedai makan di dalam bangunan utama pelabuhan, dan kami beruntung sekali, calo itu memegang dua tiket terakhir untuk hari itu, “ini tiket Arena II , kebetulan hanya tinggal dua, kamu beruntung” ungkap si calo itu, dalam hati saya bersyukur, sempat saja telat mungkin rencana perjalanan ini akan berantakan, karena tidak mungkin rasanya untuk menunda keberangkatan meskipun hanya sehari saja, jika gagal berangkat hari ini,  maka gagal pula lah perjalanan bersepeda ini. Segera dua tiket tadi saya bayar seharga Rp.320.000,-  ini adalah harga regular, tidak ada kenaikan harga meskipun ini “hari raya”. Saya kembali ke dermaga mengabari pak Budi, bahwa kita jadi berangkat, dua tiket MV.Arena II sudah ada di tangan saya. Pak Budi tampak tenang dan sumringah.

Angin dari utara berhembus cukup kuat siang itu, gelombang menghempas ke tepian, ponton tempat kapal bersandar pun begoyang goyang di terpa gelombang. Hilir mudik kapal dan perahu pompong , perahu pompong lalu-lalang mengantar penumpang dan sesekali  bersandar ke pelabuhan seri bintan pura mengantarkan penumpang yang hendak naik ke kapal. Seri Bintan Pura adalah sebuah pelabuhan yang sibuk, selain itu juga merupakan salah satu “pintu gerbang” gerbang  Indonesia di provinsi kepulauan Riau, selain sebagai tempat berlabuhnya kapal kapal penumpang dari berbagai pulau dari wilayah provinsi KEPRI dan provinsi lain, pelabuhan ini juga melayani pelayaran tanjungpinang – johor baru Malysia.

Dari pelabuhan Sri Bintan Pura menuju pulau Lingga  terdapat 3 kapal dengan jadwal keberangkatan dengan waktu yang hampir berdekatan, namun ketiga kapal ini akan menuju daerah yang berbeda beda di  pulau lingga, diantaranya,  MV. Istiqomah Jaya tujuan Pancur yang berlayar pukul 10.30. MV. Super Jet yang berlayar pukul 12.00 menuju Pulau Cempah dan Jagoh (pulau Singkep), kemudian  MV. ARENA tujuan Pulau Benan, Pulau Rejai, Tanjung Kelit (pulau Bakung), Sungai Tenam (pulau Lingga), Jagoh (pulau Singkep) dan Tanjungbuton (pulau Lingga). Kami memilih menggunakan MV.ARENA karena hanya kapal tersebut yang singgah ke sungai tenam,  sebuah daerah di ujung utara pulau lingga, dimana kami akan mulai mengayuh sepeda di pulau Lingga.

MV. ARENA II , tujuan Pulau Benan, Rejay, Tanjung Kelit, Sungai Tenam (Pulau lingga), Jagoh (pulau singkep), Tanjung Buton (Daek Lingga)

MV. Istiqomah Jaya Tujuan Pancur (pulua Lingga)

MV. Super Jet Tujuan Pulau Cempa, dan Jagoh (pulau Singkep)

Pukul 11.30, MV. Istiqomah Jaya tujuan pancur lepas dari dermaga, kapal Arena II yang akan mengangkut kami pun bersandar di dermaga. Penumpang belum saja masuk, tapi  muatan tampak sudah memenuhi lantai dua kapal itu, kardus-kardus, karung ukuran besar , serta barang barang yang sudah di pakcing sedemian rupa memenuhi deck di lantai dua, tidak hanya memuat penumpang, MV.Arena juga  juga membawa barang barang berbagai kebutuhan dari ibukota ke pulau pulau di Lingga. Terdengar kabar, ini satu satunya kapal yang bersubsidi di rute ini, dan kapal ini menjadi salah satu andalan trasnportasi antar pulau di kabupaten lingga. sepanjang pelayaran nya dari Tanjungpinang ke Daik, kapal bersubsidi ini akan berhenti di beberapa pulau ,guna menurunkan dan menaikkan penumpang demikian juga barang.

Tak berapa lama setelah sandar,  pintu kapal di buka, beberapa helai papan di bentang kan anak buah kapal dari pinggiran dermaga ke pintu kapal sebagai jembatan,  penumpang satu persatu masuk ke kapal di tengah dermaga yang bergoyang goyang di terpa gelombang., anak buah kapal dengan cekatan memuat barang bawaan penumpang, termasuk sepeda yang kami bawa, ABK meletakkan sepeda di bagain atap deck , “apakah aman…?” tanya saya, ABK mengacungkan jempol, sebuah isyarat bahwa saya untuk tidak perlu mengkhawatirkan sepeda itu.  Kami tidak dikenakan biaya tambahan untuk memuat sepeda kecuali tiket yang telah kami bayar. Ternyata disini masih ada perihal yang tidak berbayar,  meskipun mungkin bisa saja mereka lakukan, di tempat lain, menbantu memindahkan barang dengan jarak beberapa meter saja anda bisa dikenakan tarif, itu pun kadang sesukanya dan setengah memaksa pula.

Di dalam kabin kapal yang memiliki 138 jumlah kursi itu  penumpang berdesakan, tak sabar menemukan tempat duduk, saya dan pak Budi masing masing duduk di kursi nomor 32 dan 33 yang terletak di bagian depan kapal. Perkara tempat duduk, penumpang tertib. Mereka duduk sesuai nomer yang tertera pada tiket, namun muatan kapal terlihat  melebihi kapasitas, sebagain penumpang terlihat duduk di kursi-kursi plastik di bagian tengah kapal tempat biasa di gunakan penumpang berlalu-lalang. Kondisi armada yang terbatas dan jumlah penumpang yang tak sepadan terpaksa membuat penyedia jasa dan penumpang sama sama membandel memuat kapal lebih dari kapasitas nya. Meskipun demikian suasana di dalam MV.Arena cukup nyaman bagi pengembara seperti kami, ruangan dilengkapi dengan pendingin ruangan yang sejuk, televisi dengan pemutar video sepanjang pelayaran,  tempat duduk yang empuk dan nyaman.

di dalam MV. Arena II

Tepat pukul sebelas siang, sirine MV.Arena II  berbunyi memecah kebisingan pelabuhan, suara menderu di badan kapal, mesin kapal dihidupkan. Sebentar lagi kapal akan berlayar, anak buah kapal dengan sigap melepaskan tali pengikat kapal di dermaga, petugas syahbandar berdiri di dermaga mengamati kapal yang sarat muatan dan penumpang itu, badan kapal mulai merenggang dari sisi dermaga, air laut berbuih seiring deru mesin  yang memutar baling baling kapal, 11.30 MV Arena II meninggalkan Seri Bintan Pura membelah lautan.

Bersambung….

mampir dan simak juga cerita  mbak  Sri Murni, seorang ibu sang penjelajah di rumah digitalnya   http://menixnews.com/ 

[catper] Jelajah Lingga Bersepeda (Bagian 2)

Tanjunguban – Tanjungpinang (Pulau Bintan)

1st_day_1_tour_to_daek_lingga-dabo

Pukul 7.30 pagi, kami masih di bintan, tepatnya di kawasan desa toapaya, jalur lintas barat Tanjunguban – tanjungpinang mulai sibuk di lalui kendaraan, arus kendaraan lebih banyak mengalir dari kota tanjungpinang menuju tanjunguban pagi itu, di dominasi kendaraan yang mengangkut para pegawai negeri sipil  pemerintah kabupaten Bintan yang hendak mengantor di Bandar Seri Bentan, umumnya pegawai –pegawai   Bintan  ini berdomisili di kota tanjungpinang. Bandar Seri Bentan merupakan pusat pemerintahan dan juga ibukota kabupaten Bintan yang sebelumnya berada di kota kijang.  Meskipun sebutannya “Bandar” yang dalam istilah bahasa melayu adalah kota,  jangan di bayangkan Bandar Seri Bentan adalah sebuah kota  yang ramai dan sesak, namun justru sebaliknya, Sepi dan dominan  hutan belantara. Guna pemerataan pembangunan di bintan, Pusat pemerintahan bintan di bangun di tengah hutan tersebut, dan sejak tahun 2012, Bpk Ansar Ahmad bupati bintan yang menjabat pada masa itu menjadi Bupati Pertama yang  berkantor di sana, sekaligus beberapa kantor dinas pemerintah kabupaten di bangun  megah di lahan yang pernah berstatus hutan lindung itu.

untitled

Sepeda terus kami kayuh, sejak dari tanjunguban kami hanya berhenti untuk memotret, itu pun tidak lama, hanya jpret kemudian gowes kembali. Sejauh ini belum ada istirahat, pantas saja separuh badan dari pinggang ke bawah sudah mulai pegal pegal.  Pukul 07.56, akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat di “Pasar Tani Bintan“yang terletak di perempatan tembeling desa toapaya, berharap sambil istirahat kami bisa berbelanja beberapa buah buahan untuk bekal di jalan di pasar ini. Tapi yang kami jumpai adalah pasar yang kosong, meskipun bangunan pasar ini terlihat bagus untuk ukuran sebuah pasar,  tapi tidak tahu kenapa bangunan ini kosong dan tampak tak ter-urus, tidak ada pedagang, tidak ada lapak yang buka. Kemana para pedagangnya? Bukan kah jam segini adalah jam sibuk di pasar…? kami berdua seperti dua orang pembeli yang tersesat di sebuah pasar yang kosong, tidak di ketahui kemana para pedagangnya, ingin bertanya tapi entah pada siapa, hanya saya dan pak budi saja disini. Akhirnya kami hanya menumpang istirahat duduk duduk selonjor melurus kan kaki sambil meneguk air mineral di teras bangunan pasar yang kosong tak ter-urus itu.

20170127_075630

Sepeda kembali ke jalan setelah kami memutuskan untuk meninggalkan pasar tani yang kosong itu.  empat kilometer mengayuh dari pasar tani bintan, kami tiba di wilayah perbatasan antara kabupaten bintan dan kota Tanjungpiang.  Lalu lintas semakin ramai pagi itu, kami telah tiba di tepian kota, mobil dan sepeda motor berseliweran, orang orang kota berkendara dengan cepat terkesan mereka sedang terburu buru seperti di kejar sesuatu.  kami harus lebih berhati hati, ini sudah masuk jalanan kota. Sepeda kami kayuh dengan kecepatan sedang, mengambil jalur di tepi tepi,  sebuah gerbang batas wilayah bertuliskan “Bintan Bretakhing Journey” kami lewati, pertanda kami telah meninggalkan wilayah kabupaten bintan, dan beberapa ratus meter setelah itu, batas kota Tanjungpinang menyambut pula, namum suatu pemandangan tidak mengenakkan tersaji di depan saat melintasi gerbang kota tanjungpinang, tak jauh dari gerbang tersebut, tumpukan sampah berserakan di tepi jalan, meskipun terdapat sebuah bak sampah disana, sungguh sebuah sambutan selamat datang yang tidak di harapkan.

20170127_081549

Kami tiba di batas kota itu pukul 08.15. ada jarak sekitar 16 kilometer lagi untuk sampai ke pelabuhan Sri Bintan Pura yang terletak di pusat kota tanjungpinang.  Rute dalam kota tidak se-bersahabat rute lintas barat bintan tadi yang cenderung lurus, datar dan juga sepi. Untuk menuju kota ada banyak tanjakan yang akan di lalui, agar cepat sampai kami di tuntut cermat memilih rute agar tidak ketinggalan kapal, kapal tanjungpinag-lingga berlayar pukul 11 siang nanti. Untuk itu saya dan pak Budi berhenti sejenak, kami mencari tempat  teduh  di depan gerbang  vihara Avalokitesvara, disana kami beristirahat sambil merencanakan rute perjalanan ke tengah kota. Ada banyak jalur menuju kota, namun kami akan pilih yang paling cepat dan tidak terlalu banyak tanjakkan nya. Akhirnya, kami sepakat untuk melewati Jln. D.I panjaitan batu 10, memilih jalan lurus ketika bertemu  bersimpang  Hotel Comfort tanjungpinang , kemudian berbelok ke kanan menuju Jln. Gatot subroto di pertigaan batu tujuh, memintas jalan di Jln.Ahmad Yani menuju lapangan pamedan di Jln. Basuki Rachmat, melewati sebuah tanjakan Jln.Wiratno, berbelok kekiri menuju Jln. Yos Sudarso Batu Hitam, dan kemudian terus menyisir jalan tepi pantai hingga akhirnya kami sampai di tepi laut kota tanjungpinang, pelabuhan Sribintan pura sudah tampak di depan.

dsc_9382

Karena waktu yang terbatas, tidak banyak yang dapat kami lakukan di kota tanjungpinang ini, Kami berhenti melepas lelah di sebuah taman kota bernama Laman Boenda. Laman Boenda terletak di  tepi laut kota tanjungpinang tak jauh dari pelabuhan Seri Bintan Pura, di taman ini terdapat sebuah gedung unik berbentuk kerang siput bernama gedung gonggong yang merupakan salah satu ikon kota ini. Gedung ini merupakan pusat informasi pariwisata kota tanjungpinang yang baru saja di resmikan  Oktober 2016 lalu. Sebagai kenang kenangan kami berfoto di taman tersebut dengan bantuan seorang pengunjung. Waktu sudah  menunjukkan pukul 09.15, kami harus segera bergerak ke pelabuahan yang tidak berapa jauh dari taman tersebut. Urusan mendapatakan tiket untuk menyeberang adalah yang paling utama, “kalau sudah selesai urusan tiket, kita baru bisa  nyantai nyantai” kata pak Budi. Karena ini adalah pengalaman pertama kami menyeberang ke Lingga, maka datang lebih awal adalah multal untuk kelancaran urusan di pelabuhan, ketinggalan kapal atau gagal berangkat karena kehabisan tiket adalah kegagalan perjalanan ini. Sepeda segera kami kayuh menuju pelabuhan yang tidak jauh dari laman bunda tersebut.

20170127_092132

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

 

[catper] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 1)

dsc_93330

Semalam saya tidur agak telat, meskipun telah jauh jauh hari segala sesuatu di persiapkan, namun tetap saja  disana sini masih keteteran, selalu saja mulai sibuk ketika waktu sudah mepet. Banyak hal dapat di ambil sebagai pelajaran ketika melakukan perjalanan, salah satunya adalah masalah disiplin, dalam mempersiapkan perjalanan, saya di tuntut belajar disiplin lebih baik lagi.

Pukul tiga dini hari saya sudah terbangun, mata sudah tidak ingin lagi di pejamkan, lagi pula tidak beberapa jam lagi waktu subuh tiba , saya akan berangkat lepas shalat subuh. Saya memanfaatkan waktu untuk mempersipakan diri sebelum berangkat. sarapan saya siapkan sendiri, sengaja istri tidak saya bangunkan, ini terlalu pagi. Saya pun sengaja membuat suasana rumah hening, agar  Daffa (3 tahun) anak saya tidak terbangun, saya bisa telat kalau dia bangun, karena pasti butuh waktu membujuk nya, karena kalau tau saya akan pergi, Daffa selalu  ingin ikut, kalau sudah begini harus dibujuk dahulu. Semalam Daffa ikut tidur telat tidak seperti biasanya, karena ikut pula sibuk sibuk membantu saya mempersipakan sepeda dan bawaan dalam tas pannier, saya sibuk memasukkan barang barang ke dalam tas pannier, sedangkan dia pun sibuk mengeluarkan nya.

Sayup sayup adzan subuh memecah keheningan subuh, bergegas saya tunaikan niat untuk shalat, diujung shalat saya berdoa lebih lama dari biasanya, dalam Do’a saya memohon kepada Tuhan atas harapan saya akan perjalanan ini, semoga saya di berikan kelancaran dan dilindungi selama perjalanan, di lindungi keluarga yang tinggalkan, dan supaya perjalanan ini bermanfaat bagi saya sendiri maupun orang lain nantinya.

Usai shalat, Tas pannier  EIGER saya naikkan ke atas rack belakang sepeda Federal saya, berikut sebuah tenda dan “tripod”, semua saya letakkan di belakang di rak bagian belakang. Sebuah tas kamera selempang Lowepro  sengaja saya bawa untuk menyimpan peralatan fotografi, di karenakan sepeda saya belum memiliki rak depan ,  maka tas kamera saya modifikasi sebelumnya, agar dapat di gantungkan di stem sepeda, supaya saya dapat dengan mudah meraih kamera setiap saat. 35Kg adalah berat keseluruhan bawaan yang sempat saya timbang saat itu.

Saya berganti pakaian dengan “seragam gowes”  yang sudah saya siapkan, celana “jeans” pendek sedengkul dengan atasan jersey komunitas sepeda tanjunguban saya kenakan. Karena  berhubung masih pagi dan dingin, saya melapis lagi jersey sepeda dengan sehelai baju kaos untuk mengurangi rasa dingin, sehelai baju kaos bertuliskan “wonderfulKepri” dipundak. Wondefulkepri adalah slogan atau branding yang dimiliki oleh Dinas Pariwisata Provonsi kepulauan Riau (KEPRI) untuk mempromosikan potensi pariwisata KEPRI. Sengaja saya siapkan beberapa kaos dengan “branding” tersebut  yang kebetulan saya memiliki,  tujuannya agar orang-orang di sepanjang perjalanan dengan mudah mengenali saya di sepanjang perjjalanan, kalau saya adalah rombongan pe-sepeda dari provinsi kepri .

Waktu sudah menunjukan pukul lima lewat sepuluh menit, istri sudah bangun sebelum nya, dan saya berpamitan. Dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka, saya melihat Daffa anak saya masih tertidur,  saya berharap dia tidak terbangun ketika saya pergi, saya tidak akan mengusik dia, namun dalam hati saya sudah merasakan kerinduan akan tingkah polahnya yang akan selalu terbayang bayang nanti, beberapa hari mungkin dia juga tidak akan melihat saya, pasti dia akan bertanya tanya. Akhirnya saya dekati dia dan cium kening Daffa yang sedang tertidur, sesekali dia mengeliat saat kening nya di cium, saya harus segera pergi, jangan sampai Daffa terbangun dan melihat saya pergi.

Saya rasa semuanya sudah lengkap, lampu depan sepeda dan lampu hijau berkedip kedip di belakang saya hidupkan, Sepeda saya tuntun keluar rumah, saya berpamitan pada istri, ketika melewati pintu rumah, dalam hati saya berdoa sekali lagi agar di lindungi oleh Tuhan selama perjalanan dan bisa berkumpul kembali bersama keluarga. Perasaan senang, sedih, dan gundah bercampur dalam hati, apapun bisa terjadi di perjalanan nanti, namun tugas saya selain harus siap menghadapi segala sesuatu yang terjadi, juga selanjutnya berserah diri pada yang Kuasa. Sepeda mulai saya kayuh pelan meninggalkan rumah, Jln. Bakti praja yang masih lengang dan gelap saya telusuri, saya mengambil jalan ini untuk memintas jalan menuju  Jln.Indunsuri yang merupakan salah satu jalan utama keluar masuk kota tanjunguban. Saya akan memilih menggunakan jalur lintas barat untuk mencapai kota tanjungpinang, Karena jalan ini bisa di tempuh lebih cepat dibanding jalan Lintas tengah.

Sehari sebelum berangkat saya sudah janjian dengan pak Budi, partner gowes saya dalam perjalanan ini. Pak budi Tinggal di daeral Lobam, kurang lebih 15km dari tempat saya tinggal. Pagi ini, kami janjian  akan berjumpa lepas shalat subuh di halte  pertigaan RSUD tanjung uban. tak lama meninggalkan rumah menuju  halte tempat pertemuan, saya sudah diuji dengan  tanjankan panjang di depan gereja katolik Jln. Indunsuri yang berujung di tanjakan “bukit celake”, dua tanjakan tersebut berhasil membuat saya tidak kedinginan lagi, saya berkeringat dan bernafas tersengal sengal mengayuh sepeda dengan 35kg berat barang bawaan diatas nya. Sebuah penggalan nasehat pesepeda mengatakan, “jangan patah semangat  melalui tanjakan, Karena setelah tanjakan itu akan ada penurunan yang dinanti nantikan, maka bersemangatlah”. Tanjakan “bukit celake” saya sudahi, kini saatnya membalasanya di penurunan, saya menikmati penurunan, membiarkan angin meniup badan dan mengeringkan keringat, sepeda sengaja saya biarkan meluncur dengan pedal tidak di kayuh.

Kurang lebih pukul 5.20 Saya tiba di halte tempat saya dan pak Budi janji bertemu, saya tiba lebih awal dan suasana di sekitaran  halte masih gelap,  ternyata di halte saya tidak sendiri, ada seorang  terlihat tertidur di halte, sepertinya tukang ojeg yang mangkal disini,  tidurnya seakan akan nyenyak sekali,  tidak terusik sedikitpun akan kedatangan saya. Tak lebih dari lima menit menunggu,  dari kejauhan saya melihat di persimpangan terlihat kerlap kelip lampu ber-warna merah, lampu indicator sepeda, cahaya merah itu menuju arah saya, bisa di pastikan itu adalah cahaya dari sepeda pak budi, saya beri sinyal penanda dengan lonceng sepeda, dan ia pun membalas dari kejauhan. Pak Budi sampai di Halte, dan kami berbincang sebentar, ia  mengutarakan kalau lampu sepeda nya tiba tiba ber masalah, tidak bisa menyala maksimal, “tidak masalah pak”, ungkap saya,  “biar saya di depan, ini lampu saya masih baru, semalam baru beli dari toko pak sonny” ungkap saya. Kami tak terlalu lama di halte itu, mengingat  harus segera sampai di pelabuhan Sri bintan pura tanjung pinang tepat waktu untuk mendapatkan kapal yang akan menyeberang ke Lingga pukul 11 nanti, maka kami bergegas pergi  meninggalkan halte beserta tukang ojeg yang masih sedang tertidur pulas itu.

Dalam gelap, saya dan pak Budi terus mengayuh sepeda, di bantu lampu senter LED yang membuka jarak pandang  hanya sekitar 2 meter saja, kami meluncur di jalur lintas barat bintan yang masih sepi dan gelap. Semenjak resmi di buka pada tahun 2009, jalur lintas barat bintan ini kini lebih ramai di gunakan sebagai jalan lintas untuk menuju  kota tanjungpinang  ketimbang jalur lama lintas tengah yang memakan waktu tempuh lebih lama, Sebelum jalan sepanjang 45 kilometer ini di resmikan, lama perjalanan dari tanjunguban ke kota tanjungpinang  via lintas tengah adalah 1.5 hingga 2 jam, namun saat ini  waktu tempuh bisa di pangkas lebih banyak, waktu tempuh dari tanjunguban ke kota tanjungpinang kini hanya 45 menit saja, itu tentu saja jika menggunakan kendaraan bermotor, namun jika bersepeda seperti kami pemula ini bisa 3 atau 4 jam.

Sepeda terus meluncur hingga akhirnya kami berjumpa dengan jembatan pertama,  jembatan ini sebagai penghubung antara desa Busung dan Kuala Sempang dengan panjang 260m di atas sungai busung. Bias mentari mulai tampak memancarkan rona merah menerpa awan awan tipis di sebelah timur pulau bintan, nelayan busung dan kuala sempang tampak telah hilir mudik se-pagi ini, beberapa perahu pompong membelah sungai busung yang tenang pagi itu , ada yang baru saja pulang dari melaut semalam, ada pula yang hendak menyeberang dari kuala sempang ke busung maupun sebaliknya dari desa  busung, meskipun jembatan telah menghubungkan kedua desa tersebut, namun sampan  terkadang masih di gunakan untum menyeberang bagi sebagian mereka. Pemandangan sangat bagus dari atas jembatan ini, namun saya enggan untuk berhenti, karena jika berhenti, saya khawatir akan telat sampai di tanjungpinang, lagi pula, ini baru saja 16 kilometer dari rumah, terlalu awal untuk berhenti disini dan sepeda terus kami kayuh.

Jalan lintas barat cenderung lurus dan datar, hanya akan ada empat tanjakan sepanjang jalan lintas ini menjelang sampai ke batas kota tanjung pinang, di samping itu terdapat  6 jembatan yang menghubungkan jalur lintas barat ini hingga sampai ke tanjung pinang., sesekali ketika melintasi jembatan kita akan di suguhi pemandangan indah dari atas jembatan, air sungai  yang tenang memantulkan bias cahaya matahari bagaikan kaca, liukan alirannya membelah rimbun hutan bakau yang menghijau, di suatu sudut  di kejauhan saya melihat gunung bintan yang dari baliknya  muncul dari s warna kuning keemasan bias sinar dari matahari pagi, masyaallah indahnya… Kami sempat berhenti beberapa kali, namun bukan karena lelah mengayuh sepeda, tapi rasanya tidak ingin membiarkan begitu saja pemandangan indah  ini terlewatkan , belum tentu suatu saat bisa berada di moment seperti ini.

 

Besrsambung….

Jelajah Lingga Bersepeda ( Persiapan II )

Salah satu hal yang paling mengasyikan dalam sebuah perjalanan selain perjalanan itu sendiri ialah ketika melakukan persiapan perjalanan. Persiapan  menyusun “itinerary” akan membiarkan  fikiran ber-imajinasi sejauh jauhnya, berandai-andai, bahkan sebagian orang di fase ini muncul perasaan bersemangat,  meledak ledak, ,  kadang seperti orang jatuh Cinta, menunggu seminggu saja rasanya begitu lama,  “over exiting” istilahnya.

Waktu yang di rencanakan semakin dekat, perasaan makin “exited”.  Tanggal keberangkatan  sudah saya  tentukan 27 januari 2017, cuti pun  sudah saya ajukan ke bagian personalia, sengaja saya pilih tanggal tersebut karena berbagai hal, salah satu pertimbangan utama ialah alasan kesiapan keuangan, dari awal saya rencanakan perjalanan ini akan di selesaikan dalam tiga hari saja, saya akan ambil jatah cuti satu hari di hari jumat, dan sisanya saya gunakan jatah libur saat weekend sabtu dan minggu, jadi saya bisa berhemat cuti yang akan saya gunakan di hari jumat tersebut.

Memilih Rute terbaik

1st_day_2_tour_daek_lingga_-_dabo

 

Saya melakukan reset kecil kecilan, salah satunya dengan mencari sumber sumber  di internet tentang catatan perjalanan ke pulau Lingga dan Singkep. Ada banyak catatan yang saya temukan di internet, informasi wisata sepertinya tidak susah di dapatkan tentang kabupaten lingga, kebanyakan catatan perjalanan bercerita tentang tempat tempat menarik yang dapat di kunjungi di kabupaten lingga, namun bagi saya informasi jalur bersepeda dan keadaan jalan di sana adalah yang utama harus saya ketahui lebih dulu. Akhirnya saya menemukan beberapa catatan perjalanan dari pesepeda, namun catatan rute  mereka umumnya  hanya langsung menuju kota atau tempat tempat wisata saja, sementara dalam  perjalnan ini saya berharap bisa menelusuri pulau Lingga dan Singkep.

Akhirnya saya minta saran dari sahabat saya  mas Roy Fadli. Mas Roy adalah  pemuda asal pulau Lingga. Ia  sering bolak balik Lingga dan tanjungpinang, karena kampung halaman nya di Lingga dan saat ini ia berkerja di kota tanjungpinang. Beberapa minggu sebelum berangkat saya kontak kontak dengan mas Roy, saya utarakan niat saya bersepeda kepadanya, kepada mas Roy saya sampaikan harapan untuk dapat bersepeda dari ujung utara pulau Lingga ke selatan dan meyeberang ke pulau singkep hingga berakhir di Kota Dabo Singkep. Dalam “chat” ia memandu saya memilihkan rute,  menyebutkan beberapa nama kampong yang dilalui sepanjang rute yang saya sendiri belum ketahui sebelumnya, saya catat nama nama kampong itu  dan telusuri dengan fasilitas “google Map”,  Ternyata saya beruntung, mas Roy  memilihkan saya rute  seperti yang saya harapakan, dari utara ke selatan, hingga saya bisa jelajahi pulau tersebut sekali jalan tanpa bolak-balik. Mas Roy menyarankan saya untuk memulai bersepeda Dari sungai Tenam, sebuah daerah di utara pulau Lingga.  Dengan beroperasinya pelabuhan Sungai tenam, maka memungkinkan saya untuk menjelajahi pulau ini dari utara ke selatan dengan sakali jalan, perjalanan akan di mulai dari Pelabuhan Sungai Tenam, Pancur, Resun dan Kota Daek sebagai pemberhentian terakhir di Pulau Lingga, dan kemudian menyeberang ke pulau singkep melalui pelabuhan penarik Di lingga menuju Jagoh (pulau Singkep) dan berakhir di Kota Dabo singkep di selatan pulau Singkep.

 

 “Partner” Menjelajah Jelajah Lingga,

Processed with VSCO with b1 preset

Satria Budi, Partner Jelajah Lingga

 

Dari awal saya yakinkan diri saya kalau saya akan memalukan perjalanan ini  hanya seorang diri. Sebenarnya bukan betul betul  niat untuk pergi sendiri, tepatnya saya pasrah. Karena saya fikir siapa sih yang mau menemani saya bersepeda sejauh itu, lagian ini misi pribadi, belum tentu orang lain mau ikut dalam misi ini, karena setiap orang tentu punya “goal” masing masing dalam perjalanan nya. Meskipun saya punya banyak rekan pesepeda, namun “goal” mereka bersepeda belum tentu cocok dengan tujuan saya bersepeda. Di perjalanan ini saya tidak menargetkan untuk sampai di suatu tempat dengan waktu tertentu, karena sepanjang perjalanan saya akan berhenti sesukanya, saya akan berhenti kalau fisik saya sudah letih, berhenti untuk memotret di tempat yang menurut saya menarik untuk di potret, berhenti untuk mengobrol dengan siapa saja yang asik diajak mengobrol yang saya jumpai sepanjang perjalanan, kalau bisa saya akan menikmati setiap jengkal perjalanan saya ini. Mungkin saja teman teman pesepeda saya yang lain bakal suntuk ngikutin saya, jarak cuma 30-an kilometer mungkin bisa jadi seharian jika bersepeda seperti saya. Saya tidak ingin egois memaksakan kehendak atau memanfaatkan orang lain untuk mencapai “goal” saya. Akhirnya, mau tidak mau saya harus yakin kan dan persiapkan diri maupun mental  untuk pergi seorang diri.

Rencana perjalanan ini hanya saya beritahukan kepada beberapa orang saja yang saya anggap perlu untuk saya beri tahu demi kelancaran perjalanan saya, yang terutama adalah istri, beberapa teman di Lingga, dan seorang teman komunitas sepeda. Pada suatu kesempatan, saya bercerita niat saya untuk bersepeda ke pulau lingga dengan Pak Budi, salah soerang rekan kerja yang juga aktif bersepeda, tujuan saya minimal minta “advice” dari  beliau yang lebih lebih dahulu kenal dunia sepeda jauh sebelum saya bersepeda. Di luar dugaan, pak Budi malah tertarik untuk ikut,“ biar saya kawal kamu” begitu katanya. Saya pun terkejut  tak menyangka beliau mau ikut, saya pun tegaskan kembali misi saya bersepeda  agar dia tidak salah pemahaman,  pak Budi pun menyatakan, “tidak ada masalah bagi saya, saya juga ingin bersepeda ke sana, belum pernah” katanya.  Saya pun tentu senang dapat partner, perjalanan akan makin seru sepertinya.

 

Perlengkapan Diri, Perlengkapan “camping”,  alat fotografi dan , “Lifie Jacket”

 

20161225_155251

mencoba Loading beban ke sepeda

 

Satu minggu sebelum berangkat saya telah menyiapkan “list” barang bawaan, barang bawaan saya kelompokan menjadi tiga, diantaranya perlengkapan diri seperti , sepeti pakaian ganti, peralatan mandi, beberapa peralatan P3K, dan beberapa bekal makanan buat mengganjal perut buat jaga jaga jika tak berjumpa penjual makanan. Selanjutnya adalah perlengkapan menginap. Saya sengaja menyiapkan perlengkapan menginap untuk jaga jaga sekiranya situasi memaksa saya menginap di jalan. Saya  bawa tenda kecil kapasitas dua orang, Matras tidur, sleeping bag. Dan yang terakir adalah peralatan fotografi.  perlengkapan fotografi saya bawa untuk mengabadi perjalanan dan memotret hal hal menarik yang saya jumpai di sepanjang perjalanan. Peralatan foto ini saya usahakan bawa seperlunya, menginat perlengkapan ini akan jadi beban saya yang paling berat diatas sepeda, saat itu saya membawa satu kamera DSLR, dengan 3 lensa diantara lensa dengan “range” lebar, lensa “zoom”, dan sebuah lensa tele, saat itu juga saya melengkapi dengan sebauh tripod dan sebuah filter lensa yang keduanya saya pinjam dari mas Arry dan Mas Heru, teman fotografer.

Selain terus latihan bersepeda tiap hari dalam jarak dekat tiap pagi sebelum berangkat kerja, saya juga sembari melengkapi semua kebutuhan perjalanan dan mempesiapkan segala sesuatu nya menjelang hari keberangkatan tiba. Hari yang di nanti nanti akhirnya akan datang, besok pagi adalah hari keberangkatan yang sudah di rencanakan. Perlengakapan mulai saya kumpulkan dan  masukkan kedalam tas pannier, Satu tas pannier penuh berisi perlengkapan diri, peralatan fotografi saya muat dalam tas kamera tipe selempang yang saya modifikasi agar bisa di gantung di depan stem sepeda. Tripod dan Tenda saya letakkan diatas “rack” belakang diantara dua tas pannier.

Satu lagi tas pannier berisikan matras dan sebuah “lifejacket” . Lifejacket…? Iya, saya juga membawa sebuah pelampung untuk keselamatan saat berlayar. Tinggal di kepualaun bertahun tahun tidak serta merta membuat saya berani untuk berpergian hilir mudik menggunakan alat ransportasi laut, malah jika musim sedang tidak bersahabat, jika tidak ada keperluan yang amat sangat penting sekali, saya tidak akan mau menyeberang. Beberapa hari sebelum hari keberangkatan, saya selalu memantau perkiraan cuaca dan gelobang laut yang selalu di “update” BMG, dalam kendaraan jemputan, tiap pagi  saya selalu  simak laporan BMG “via” radio, saat itu ada memang ada peringatan tentang gelombang dan arus laut yang kuat di perarain Natuna, anambas, bintan serta perairan Lingga, di tambah pula beberapa hari sebelum berangkat tersiar kabar sebuah kabal pengankut barang di kabarkan tenggelam di perarian Lingga saat berlayar dari Jambi menuju Tanjungpinang.  Ini bukan masalah takut atau berani mati, setiap orang, dimana saja, dan kapan saja tentua bisa saja tertimpa musibah, saya hanya berusaha membekalkan diri sebaik baik nya agar selamat, setelah itu biarlah Tuhan yang menentukan selanjutnya….

 

 Sepeda Masuk Bengkel Dinamo 

Sehari sebelum berangkat, sepeda saya kirim ke bengkel “Dimano”, Dinamo adalah nama sebuah bengkel sepeda di tanjunguban. kota kecil dimana saya tinggal. Sebelum berangkat, pak Sonny  pemilik bengkel mengecek kondisi sepeda, termasuk kerusakan yang terjadi saat touring tanjungpinang – tanjung uban beberapa minggu sebelum nya. Pada saat touring tersebut saya sengaja menjajal sepeda lawas merk Federal ini agar tampak “penyakit “nya, dan ternyata saya pun menjumpai “trouble”  pada sepeda saya saat touring itu , beruntung saat itu rombongan touring di dampingi oleh pak Sonny, sepeda saya di perbaiki “on the spot”, hingga bisa meluncur kembali. Saya bersyukur masalah pada sepeda saya sudah jumpai sebelum perjalanan yang sebenarnya.

Pak Sonny, telah mengecek semua kondisi sepeda, kondisi sudah siap untuk di ajak jalan. Sebelum berangkat saya membekalkan sepeda dengan sebuah ban dalam  untuk jaga jaga jika bocor , dan sebuah lampu senter LED yang keduanya saya beli dari bengkel pak Sonny. Saya membayar sebesar 120 ribu rupiah untuk dua item yang saya beli itu, sementara ongkos service di berikan gratis oleh pak Sonny, “ini sebagai bentuk support saya untuk kamu , saya juga dulu suka touring dan ingin melakukan touring sambil memotret, namun belum tersampaikan, semoga kamu sukses “ tutup pak Sonny.

Sepeda sudah “ready”, Besok pagi pagi sekali saya berangkat, meskipun telah larut malam saya baru bisa istirahat karena masih persiapan sana sini.

 

 

Bersambung….

Jelajah Lingga Bersepeda ( Persiapan I )

Di restui untuk touring

Satu minggu berselang pengumuman cuti wajib dari personalia, saya minta izin kepada istri untuk  rencana tersebut. Istri hanya diam saja ketika mendengar saya menyampaikan niat , saya pun tidak memaksakan untuk membahas tuntas niat saya pada saat itu juga, mungkin saja dia kaget karena saya tidak pernah melakukan perjalanan jauh bersepeda seperti ini sebelumnya, apalagi sendirian, topik pembicaraan saya alihkan pada hal lain.

Beberapa hari setelah itu, saya menanyakan rencana istri dalam akhir pekan depan, biasanya pada pertengahan minggu, jika ada rencana kegiatan akhir pekan, kita rencanakan di pertengahan pekan itu, tujuannya agar akhir pekan bersama sama keluarga dapat diatur atau di tangguhkan jika ada pekerjaan yang harus di selesaikan di akhir pekan di akhir pekan. Istri menjawab untuk tidak kemana mana akhir pekan ini, alasannya ingin membereskan urusan pekerjaan rumah tangga sebelum saya berangkat touring sepeda itu, Nah… saya berkata dalam hati,  ternyata istri sudah memahami  niat touring sepeda yang sempat di bicarakan beberapa hari itu, meskipun belum sempat lagi sya tanyakan dan di sampaikannya. akhirnya  bagian terpenting dalam rencana ini telah di selesaikan, perjalanan telah di restui Istri. Allhamdulillah….

c1kbme_uaaalnfg

 

Persiapan Fisik

sebagai pesepeda touring pemula, untuk mewujudkan niatan touring tersebut , maka saya harus mengukur kemampuan fisik terlebih dahulu, saya tidak ingin memaksakan diri jika fisik tidak kuat melakukan perjalanan ini, meskipun jaraknya yang akan di tempuh  tak seberapa di banding jarak yang di tempuh para bikepacker berpengalaman yang bisa ratusan mencapai 100 kilometer sehari, namun sebagai pemula dan pertama kali melakukan perjalanan jauh bersepeda, maka saya tetap harus sadar diri.

Bertahun tahun tanpa olah raga membuat saya merasa banyak keluhan di badan, di tambah pula kebiasaan buruk  merokok , meskipun bisa dikatakan saya bukan perokok berat, namun kebiasaan dan pola hidup buruk seperti itu tentu mempengaruhi daya tahan tubuh. Semenjak memiliki sepeda, perlahan lahan pola hidup saya rubah, saya  menghentikan rokok secara total ketika mengenal sepeda, di tambah lagi dengan niat saya touring sepeda, saya butuh kondisi fisik yang lebih baik dari sebelumnya. saya harus berubah.

Tiap pagi  saya melakukan adaptasi bersepeda dengan “track” yang ringan, di bawah 10 kilometer saja, beberapa kali saya terus ulangi hingga saya merasa cukup percaya diri untuk memutuskan menambah jarak tempuh dan medan yang lebih berat. Beberapa minggu berlatih sendiri, kemudian mulai berani untuk mencoba bersepeda ke tempat kerja, saya ikut bergabung dengan komunitas “bike to work” di tempat kerja saya, jarak antara rumah ke tempat kerja dari tanjunguban ke lobam adalah sekitar 15 kilometer, setiap senin dan rabu adalah jadwal rutin kami berangkat kerja dengan sepeda.

 

img_20170112_103402

“Bike To Work” bagian dari  latihan berkala menambah daya jelajah

 

Setelah terbiasa dengan rute bersepeda ke tempat kerja, saya mencari kesempatan untuk meningkatkan lagi jarak tempuh bersepeda, saya ikut komunitas sepeda di kota tempat saya menetap ,  beberapa kali saya ikut kegiatan touring bersepeda dengan komunitas tersebut meskpun jarak nya hanya sekitar 30-45 kilometer, pengalaman saya touring bersepeda bersama komunitas diantaranya pernah saya tuliskan di postingan ini dan ini. Saat gowes bareng dengan komunitas  saya menerapkan disiplin pada diri saya sendiri agar tidak memaksakan diri jika tidak sanggup, karena memaksakan diri bakal berakibat fatal bagi pemula seperti saya, namun tetap bertekad meningkatkan kemampuan secara bertahap, akhirnya perlahan lahan saya berhasil menambah daya jelajah saya.

Bersepeda secara bersama sama mampu memotivasi dan memberi semangat. Biasanya, mengayuh sepeda dalam jarak jauh dengan group tidak begitu terasa melelahkan, karena selain saling menyemangati satu sama lain , kebersamaan mampu menghilangkan kejenuhan saat touring jauh, yaitu dengan mengobrol dan bercanda. Namun saat melakukan touring sepeda sendirian mungkin situasinya akan berbeda, kejenuhan dan perasaan sepi adalah musuh utama dalam bersepeda sendirian,  untuk itu,  disuatu kesempatan saya mencoba melakukan latihan  bersepeda sendiri dengan jarak yang cukup jauh bagi  saya, yaitu  55km, dimulai  dari tanjung uban – Sungai Jeram – Simpang Lagoi – Ekang anculai – simpang penaga – kuala sempang – Desa busung dan kembali lagi ke tanjunguban.  Saya tak perduli berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan rute tersebut, yang terpenting adalah bagaimana melewati semua “tekanan” dalam perjalanan ini sendirian, perasaan jenuh, kelelahan, perasaan “was was” harus saya coba kendalikan,  dan bagaimana caranya saya harus memotivasi diri sendiri saat bersepeda sendirian, Lulus dalam tahapan ini akan jadi bekal penting saat menghadapi touring.

robbicycling_excercise1

salah satu rute latihan

15748026_10202886261954237_453998918_o

 

 

 

waktu tinggal dua minggu lagi jelang rencana menjelajah ke pulau Lingga dan Singkep, masih ada satu lagi rute yang menurut saya patut saya coba sebelum benar benar memutuskan berangkat, rute ini saya anggap sebagai ujian terakhir dalam rencana perjalanan ini, jika saya mampu melewatinya, insyaallah bekal “kilometer” saya sudah cukup.   suatu ketika, saya mencoba ikut touring bersepeda dari kota tanjungpinang ke tanjunguban bersama komunitas, jarak kedua kota itu di perkirakan sejauh kurang lebih 62 kilometer. kebetulan pada saat itu komunitas menghadiri acara Funbike yang di adakan di kota tanjungpinang, saat berangkat ke kota tanjungpinang kami memutuskan untuk “loading” sepeda dengan mobil pickup dan kembali ke tanjunguban dengan mengayuh sepeda.  Allhamdulillah saya bisa menyelesaikan perjalanan 62 kilometer dari kota tanjungpinang ke tanjunguban, meskipun tidak  betul betul 62 kilometer, karena sempat kehilangan moment beberapa kilometer  dikarenakan kerusakan pada sepeda, terpaksa saya harus naik pickup. pada tahapan ini bukan hanya kondisi fisik saya yang harus saya pastikan sudah “ok” , kondisi sepeda pun saya uji di momen ini. Beruntung  di pickup saya di bantu oleh pak Sonny sang mekanik sepeda untuk memperbaiki kerusakan di sepeda di atas mobil pickup, hingga akhirnya saya dapat meluncur kembali menyusul rombongan.

Momentum bersepeda antara kota Tanjungpinang dan kota tanjunguban itu menjadi tolak ukur kesiapan saya untuk bersepeda antara pulau bintan, pulau Lingga dan pulau singkep, saya anggap ini adalah ujian akhir bagi saya sebelum perjalanan yang sebenanrnya.

 

Besambung…..