Se-harian Eksplore Destinasi Populer Pulau Bintan

Nama Pulau Bintan mulai dilirik oleh wisatawan dalam Negeri, meskipun sebelumnya orang orang dari negeri jiran seperti Singapura dan malaysia telah lebih dahulu mengenal Pulau bintan sebagai tempat pelesir . Pesona pantai pantai indah  di pulau bintan menjadi salah satu pemikat para pelancong datang ke salah satu pulau di Provinsi Kepulauan Riau ini.

Bicara tentang wisata pulau bintan, tidak melulu hanya tentang pantai pantai indah  dan resort resort  Mewah, jika kamu tak memiliki banyak waktu untuk menjelajah bintan,  berikut adalah beberapa Destinasi wisata yang popular bagi wisatawan yang bisa kamu ekplore  dalam satu hari saja,

 

 Gurun Pasir & Telaga Biru Busung

Gurun-Pasir1

 

Tidak sukar menemukan Gurun Pasir dan telaga Biru tersebut, terletak di tepi jalan lintas Barat Tanjunguban – Tanjungpinang tepatnya di desa busung. Di kanan jalan akan terdapat penujuk arah menuju tempat tersebut. jika berkendara dari Tanjunguban, kamu  hanya mengambil masa  15 menit saja.

Dahulu, sebagain orang hanya menganggap hamparan pasir  yang terletak di jalan lintas Tanjunguban -Tanjungpinang itu  sebagai pemandangan yang biasa saja, hanya sebuah area bekas tambang. Akan tetapi, sebagian lagi melihat dari sudut pandang yang berbeda, melihat dengan sudut pandang artistik, dan kemudian  merekam pemandangan unik itu dalam bentuk foto yang di komposisikan sedemikian rupa sehingga menghasilkan foto pemandangan layaknya gurun yang fotogenik. apalagi ketika di potret dengan komposisi dan pencahayaan yang baik, sehingga menghasilkan foto yang ciamik nan Instagenik, waktu terbaik adalah pagi dan sore hari.

 

Treasurebay Bintan

Treasurebay

Terletak di kawasan Wisata terpadu Lagoi, Treasurebay menjadi salah satu tujuan wisata favorit di  pulau bintan, dengan membayar Rp100.000 untuk dewasa dan Rp50.000 untuk anak-anak. Dari nominal tersebut, 20%- adalah sebagai tiket masuk dan 80% sisanya menjadi deposit yang bisa kamu  digunakan untuk mencoba beragam water activities yang ada di sana, atau untuk membeli makanan dan minuman yang tersedia di lingkungan Treausrebay Bintan. Nah…Deposit ini tidak bisa direfund, jadi sebaiknya  di gunakan saja.  Crystal Lagoon ini memiliki panjang sekitar 800 meter dengan luas yang mencapai sekitar 6 hektar, dinobatkan sebagai kolam renan dengan air laut terbesar di asia tenggara.

 

Lagoibay

36097378883_8f4d82a792_o

Di kenal dengan kawasan resort dengan privasi tinggi, membuat tak sembarangan orang bisa menikmati keindahan pantai di utara bintan itu. Hanya para tamu dan yang memiliki kepetingan saja yang dapat melongok keindahan lagoi. Namun tidak semua area di berlakukan secara ekslusif, sebagai mana Lagoibay di design sebagai area untuk public, wisatawan domestic dan macanegara berbaur di lokasi ini, di sana juga terdapat sebuah plaza yang menjual beraneka macam kebutuhan para pelancong. Disamping itu banyak aktivitas dan arena bermain yang di tawarkan oleh Lagoibay, pengunjung memungkinkan untuk mencoba berbagai aktivitas seperti olahraga air seperti kayak, jet ski, snorkeling, voli pantai, dan sepak bola pantai dan berkeliling menggunakan kendaraan ATV.  Pantai nya pun sangat mewakili keindahan pantai-pantai di lagoi yang terkenal itu.

 

Pemancingan Poyotomo

poyotomo

Sejatinya sebuah Taman Pemancingan, namun karena area yang sangat luas, view alam yang menawan serta fasilitas yang memadai, sehingga tempat ini cocok di jadikan taman rekreasi untuk keluarga dengan nuansa perkebunan, Selain memancing, kamu juga memungkinkan untuk melakukan kegiatan camping di sini, cukup dengan menyewa Tenda yang telah di lengkapi dengan sliping bad, kamu bisa melewati malam di taman yang indah ini, Sewa untuk sebuah Tenda “Dome” dengan kapasita tiga orang hanya 80 ribu rupiah saja.

Pemancingan Poyotomo terletak di Desa Skuning, sebuah Desa dengan udara sejuk tepat di kaki gunung bintan.  kamu dapat mencapai Poyotomo Dari Tanjunguban maupun dari Kota tanjungpinang melalui Jalan Lintas Barat Pulau Bintan, Tiket masuk relative terjangkau, 10rb untuk Dewasa dan 5rb untuk anak anak.

Pantai Trikora

destinasi

Hamparan pasir putih di garis pantai yang panjang, laut berwarna biru dgn gradasi toska, dan batu batu granit yang besar di tepian pantai, menjadi ciri khas dari pantai trikora di Pulau Bintan. Trikora adalah salah satu pantai yang wajib kamu kunjungi jika berpelesir ke bintan. Pantai terbentang memanjang sejauh 25 kilometer, hingga terbagi menjadi empat bagian, orang local mengenal dengan sebutan Trikora 1, Trikora 2, Trikora 3 dan trikora 4, Trikora 4 adalah yang paling terkenal banyak di kunjungi wisatawan. Sementara dari Trikora 1 hingga tiga berdiri di tepian pantai resort resort dan juga kampong nelayan.

Dari kota tanjungpinang kamu akan menempuh jarak kurang lebih 45 Km untuk sampai diujung trikora. Trasnportasi umum sangat terbatas disana, untuk kesana dengan waktu yang leluasa, kamu harus menyewa kendaraan.

 

Vihara Patung 1000

Viharapatung1000

Kita Disambut oleh sederetan para arahat  yang ditemukan di dalam Vihara Ksitigarbha Bodhisattva. Setiap patung batu  seperti hidup, dengan ekspresi dan mimic muka yang unik satu sama lain. Suasana di lingkungan vihara seakan akan membawa seakan akan melancong ke negeri tiongkok, Vihara patung seribu terletak di dataran tinggi, sehingga suasana di vihara ini cukup unik. Sejatinya jumlah patung tidaklah mencapai 1000 patung, namun hanyalah sebutan saja, mengingat jumlahnya terlihat sangat banyak, padahal jumlah patung hanyalah ratusan saja.

Vihara Patung seribu anda dapat capai hanya 15Km dari pusat kota tanjungpinang, jika dari bandara Raja Haji Fisabilillah sangat dekat sekali, Vihara Terletak di jalan Asia Afrika Kota Tanjungpinang.

 

 

 

 

Note : Kamu butuh local guide atau sewa kendaraan di bintan, call / WhatsApp +6281372670414

 

 

Memberi Ruh Wayang Cecak

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Zulfianda memukul gendang dengan tempo pelan, sementara gesekan biola Azni melantunkan nada lirih membuka pertunjukan wayang cecak petang hari itu.

Di tangan Rizwan dua boneka terpasang, kedua boneka kayu itu di gerakkan kedua tangannya, seakan akan ditiupkan ruh kepada kedua boneka itu.

Alkisah berabat lalu, Chadijah Terong, memulai memainkan wayang cecek untuk anak anak tionghoa di tanjungpinang, chadijah terispirasi memainkan wayang dari opera cina yg di mainkan orang orang keturunan tionghoa di tanjungpinang.

dalam pertunjukan wayang cecak, pesan pesan dan nilai luhur kehidupan kerap ia sampaikan. Namun sayang, Setelah Chadijah wafat, tiada seseorang pun yang meneruskannya , hingga wayang cecak pun tan pernah dimainkan lagi berabad lamanya. sehingga suatu ketika di tahun 2017 pada saat Festival Pulau penyengat, Pertunjukan wayang ini kembali di gelar.

Hingga kini, generasi penerus di pulau penyengat seperti Azni, zulfiandi,Rizwan dan pemuda pulau penyengat lainnya, tengah berjuang untuk selalu memberi ruh kepada wayang cecak yang hampir mati itu.

Pantai Telok Diraja, Pesona baru di desa busung

_DSC0030.jpg

“Apabila kamu berkerja dengan cara kreatif , maka akan lahir nilai tambah yang baru” begitu kata sebuah ungkapan. Melalui proses Kreatifitas kamu mampu merubah sesuatu yang mungkin saja awalnya tak bernilai, menjadi lebih bernilai. Fenomena bermunculan nya tempat wisatapun demikian,  contohnya, siapa sangka lahan bekas tambang pasir  di desa busung pulau bintan akhirnya menjadi object wisata yang tiap akhir pekan di singgahi banyak penacong, Danau bekas galian pasir yang terbengkalai di kampung lepan di sulap oleh sentuhan kreatif  menjadi  danau Lepan yang instagenik, kemudian bukit bukit yang telah terkelupas karena penambangan pasir di desa kuala sempang yang  di namai secara unik dengan nama bukit eskrim,  karena warna warni yang unik pada tebing bukitnya nya yang seperti lapisan eskrim itu kini menjadi tempat wisata foto foto nan isntagenik pula.

Perlahan masyarakat mulai sadar akan manisnya berkah dari pariwisata, kampung dan desa di bintan saat ini seakan berlomba  menemukan, menciptakan nilai pariwisata yang diharapkan dapat mendatangkan tamu dan menjadikan tuah bagi mereka.

Adalah Telok Diraja salah satu contohnya. sebuah produk kreatif dari kelompok sadar wisata dari desa busung itu. Zul dan 12 rekannya masyarakat tempatan secara swadaya menggarap lahan kosong yang awalnya tak begitu terlirik keindahan nya itu kemudian di garap dengan pemikiran dan tindakan yang kreatif sehingga menghasilkan sebuah nilai baru dari sebuah lahan kosong tak awalnya tak terlalu bernilai.

Pemandangan yang indah dan masih alami dari pantai Telok Diraja akan menjadi penawar penat mu setelah berkativitas sepekan,  pohon pohon yang rindang di tepi pantai menyediakan kenyamanan bagi kamu untuk bercengrama bersama keluarga dan kolega di bawah  rindang nya. Pantai nya yang  cukup bersih dan tenang  sangat menggoda pagi pengunjung untuk berenang ketika air laut pasang. Penat berenang hingga perut terasa lapar…? jangan khawatir, disana mereka telah menyiapkan beberapa jenis makanan dan minuman yang dapat kamu pesan kapan saja. Namun di karenakan lokasi ini baru di buka dan masih banyak pekerjaan disana sini , sehingga masih ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian pengelola agar tempat ini menjadi lebih baik lagi, terutama masalah penataan dan kebersihan nya.

Telok Diraja terletak di desa busung puau bintan. Jika kamu berkendara dari arah  tanjunguban cukup memakan waktu 15 menit saja, sebelum memasuki desa busung kamu menemukan sign atau tanda penujuk arah di sebelah kanan jalan yang menunjukkan arah menuju pantai Telok Diraja, dan Jika kamu datang dari arah tanjungpinang  pun tak cukup sulit menemukan pantai ini, setelah melewati jembatan busung akan ada  penunjuk arah di sebelah kiri jalan yang akan memandu kamu sampai ke pantai Telok Diraja. Cukup membayar 5000 rupiah untuk parkir kendaraan roda empat dan 1000 rupiah untuk kendaraan roda dua.

 

 

Ingin tahu tempat menarik lain nya di pulau bintan lainya….? silahkan juga singgah di tautan berikut;

Omjay Trip – Bintan One Day

[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 13)

Rupanya “LP” itu tak begitu jauh dari Museum Linggam cahaya. Tentu saja… jika masih di dalam kota daek ini kemana mana tak terasa jauh, karena kotanya kecil saja. Bang Fauzi memandu kami dengan sepeda motor  menuju Penginapan., kami diantarkan nya ke Wisma Lingga pesona di Jl. Datuk Laksamana No 09 Daek lingga. Sebuah Wisma tua dengan bangunan kayu yang lebih menyerupai kedai kedai pencinaan disebuah kota lama.

Menurut bang Fauzi, Lingga pesona adalah penginapan yang pertama yang ada Daek. Bangunan Wisma lama terletak di jalan Datuk Laksamana no 09 ini. sampai sekarang, bangunan wisma lama tersebut masih di pertahankan hingga kini dan masih di gunakan untuk pengunjung,  Sedangkan bangunan wisma baru di bangun memanjang tersambung dengan bangunan wisma lama, sehingga kedua bangunan tersebut terhubung. Saya masuk dari pintu bangunan wisma lama dan berjalan menuju reception yang berada di bangunan wisama baru, suasana perubahan bangunan ini dari waktu kewaktu amat sangat terasa ketika saya menelusurinya. Sebuah kamar dengan harga sewa 70 ribu rupiah permalam yang terletak di bangunan wisma lama kami pesan, kamar hanya terdiri dari dua tempat tidur sebuah lemari dengan kipas angin tergantung di langit langit kamar, cukup nyaman buat pe-“touring” “budget mepet” seperti kami.

Sepeda kami parkirkan di dalam gudang wisma yang berada di lantai dasar, semua barang bawaan telah di turunkan dari rak, sepeda telah di kunci dan pannier kami pindahkan kedalam kamar.

Bang Fauzi pun berpamitan setelah semua perlengkapan kami simpan di dalam kamar. “nah… silahkan istirahat dulu, nanti malam kita wisata kuliner ” tandas nya mengakhiri perjumpaan dengan kami senja hari itu.

Magrib telah usai, namun rintik hujan terus saja membasahi bumi bunda tanah melayu itu, awan seperti tak kuasa menahan bebannya, seperti air mata bunda yang mengiringi kepergian anak nya untuk selama lamanya, , kadang dapat di tahan, tapi kemudian mengalir jua.

 

Makan malam “hikmat”, ayam goreng sambal Mercon

Hari mulai gelap, angin dingin dari dinding dinding bukit yang melingkungi kota daek berhembus hingga dinginnya menusuk sampai ke tulang, perut yang sudah kosong membuat situasi seakan makin “sempurna” nelangsanya. Saya dan pak Budi memutuskan untuk tidak menunggu ajakan bang Fauzi, urusan perut ini sepertinya tidak dapat di tunda lagi.kami bergegas tinggakan kamar wisma untuk mencari penambal dinding dinding lambung ini.  Bersamaan dengan itu pula bang Fauzi baru saja tiba di depan wisma hendak menjemput kami, dayung ternyata bersambut.

Bang Fauzi dan seorang teman bernama Ferdy menjemput kami dengan sepeda motor untuk berwisata kuliner di kota daek. Pak Budi di bonceng oleh bang fauzi sedangkan saya bersama Ferdy. Di atas kendaraan yang melaju,  Ferdy dan saya berkenalan untuk pertama kali,  saya ketahui beliau berkerja untuk pemerintah mengawasi terumbu karang di perairan kabupaten lingga, sebenarnya bang Fauzi dan bg ferdy ini penjelajah alam lingga,  sudut mana yang mereka belum pernah jelajahi di lingga ini, dari daratannya  hingga dasar laut telah di telusurinya.

Sepeda motor berhenti di sebuah halaman rumah yang telah di tata sedemikian rupa hingga menjadi kedai makan, “Kedai sambal Mercon” namanya. Mendengar namanya saja air liur saya seakan tak sadar meleleh. Ini sepertinya akan menjadi makan malam yang “serius”, panas dan berkeringat.

Kami memilih duduk disebuah gazebo di halaman kedai, ukurnnya satu meja pas untuk kami ber-empat. Bang fauzi menepukkan kedua tangganya memanggil pelayan kedai, seketika dengan sigap pelayan kedai datang membawa daftar menu dan sebuah buku catatan, 3 porsi ayam goreng dengan sambal mercon di pesan bang Fauzi, sedangkan bg Ferdy memesan semangkok mie rebus. di gazebo kami “berbual” mengulur-ulur rasa lapar, namun  menu yang di pesan tak secepat datangnya si pelayan pembawa daftar menu itu. Sungguh kesabaran sang kelapran ini sedang diuji.

Akhirnya yang di tunggu tunggu pun datang, “Nah…jom kita makan” kata bang Fauzi, tanpa menunda waktu urusan mengisi perut segera kami tuntaskan, hening tanpa bersuara. hanya terderngar sesekali suara benturan gelas dan piring dari meja makan. Sambal mercon ini jadi pelampiasan hasrat “makan Besar” seharian ini, seingat saya seharian ini hanya makan mie instan tengah hari tadi di Air terjun resun. pantas saja rasanya dua orang pesepeda ini terlihat kalap  malam ini, sampai sampai pak budi pun meminta tambah satu porsi.

 

Jelajah Lingga dari Meja Makan

Kami berdua tak akan banyak punya waktu untuk berkeliling kota Daek, dikarenakan waktu yang terbatas . Esok pagi pagi sekali kami harus mengejar penyebrangan menuju Pulau singkep dengan menumpang kapal Roll and Roll (RORO) dari pelabuhan Penarik. Menurut bang Fauzi, kapal akan berangkat pukul 11 siang dari pelabuhan penarik (Lingga) ke Pelabuhan Jagoh (Pulau Singkep),

Saya hanya memendam harapan untuk mengenal lebih jauh negeri bunda tanah melayu ini, tapi beruntung nya saya berjumpa dengan dua orang yang akan membawa saya “berkelana” imajinasinya  menelusuir kepulauan lingga dengan kisah perjalanan mereka dari meja makan ini. Bang fauzi dan Ferdy adalah sebagian dari generasi muda lingga yang aktif memperkenalkan keindahan alam dan budaya Lingga lewat media internet. Jangkauan jejalah mereka akan kepulauan  Lingga  tiada yang meragukan , daratan hingga dasar laut kepulauan lingga telah mereka sambangi. Jika tak percaya coba singgahi akun Instagram mereka @said_fauzi_dive dan @ferdyoi.

Dari meja makan malam itu mereka bercerita bagaimana mereka hidup beberapa hari di perkampungan suku laut di kepulauan senanyang, menyelami dasar laut menemukan warna warni terumbu karang, menari nari dengan berbagai jenis ikan dan menikmati keheningan di dasar laut kepulauan lingga. Menikmati indahnya matahari terbit di puncak permata, kisah kisah ekpedisi pendakian gunung Daek, serta pantai pantai indah nan sepi, tersebunyi dan tak terjamah di kabupaten kepulaun Lingga. Sungguh cerita mereka membuat perasaan ingin kembali lagi suatu hari.

 

Melewatkan Malam Di Taman Tanjungbuton

Sudah pukul 10 malam, bang fauzi dan Ferdy menawarkan saya untuk menikmati suasana malam di kota nya, meskipun kantuk sudah menyerang namun saya terima saja tawaran mereka. Tak ada salahnya melawan kantuk sejenak untuk sebuah cerita yang akan di bawa pulang tentang daerah yang baru saya  kenal ini. Bang Fauzi dan Ferdy mengajak kami ke tempat dimana orang orang kota daek “kongkow” melewatkan waktu malam sebelum mata mengantuk, Mereka ajak kami ke sebuah taman terbuka, sebuah taman bernama “TB” alias Taman Tanjungbuton

Taman Tanjung buton adalah sebuah taman yang terletak persis di depan pelabuhan Tanjung Buton. Pelabuhan ini merupakan salah satu gerbang utama untuk menuju Daek, meskipun keberadaan pelabuhan penarik juga menjadi alternatifnya sebagai pintu masuk ke pulau lingga, namun nama pelabuhan tanjungbuton lebih populer sebagai sebuah pintu gerbang.

Warga tampak bersantai di sekitaran taman yang di kiri dan kanan nya adalah lautan itu, muda mudi bercengkrama, sebagian dari mereka duduk duduk diatas sepeda motor yang terparkir di pinggir pinggir jalan. “ini adalah salah satu tempat terbaik menikmati sunset di kota ini” ujar bang Fauzi. Namun di kiri dan kanan jalan saya tak melihat apa apa melaikan gelap lautan.

Malam itu terdapat suatu keramaian di tengah jalan, tepat di depan gerbang pelabuhan tanjungbuton, sebuah panggung hiburan sederhana berdiri,  panggung dengan banner besar bermotif warna merah kuning hijau layaknya bendera negara Jamaica, jelas sepertinya akan ada pertunjukan musik Reggae disini, saya sempat berfikir bagaimana musik dari benua afrika itu bisa sampai ke negeri yang tersuruk di seberang laut dan di balik gunung ini, ah sudahlah… kabar  seperti apa sekarang ini yang tak dapat di ketahui sampai ke pelosok negeri, kalau jaringan internet sudah menjangkaunya, segala informasi bahkan idologi macam apapun akan sampai jua ke ujung negeri. Kami memilih untuk menikmati sajian musik yang dekat dengan kaum Rastafarian itu

Di atas panggung berdiri pria dengan suara lantang, tanpa pengeras suara pun suaranya terdengar keras, ia  berbicara laksana orator demonstrasi, ucapan ucapan menyuarakan perlawanan generasi muda terhadap generasi generasi tua yang korup, penindasan, dan ke-tidakadilan pemimpin. namun entah siapa orator itu, dan  pada siapa orasinya ia tujukan saya tidak memahaminya, yang jelas panggung musik reggae belum juga kunjung dimulai.

Tak lama setelah orasi, beberapa bujang dan gadis belia berbusana melayu meliuk liuk menari dengan tarian melayu yang lincah di depan panggung. Meksipun panggungnya ber-“aroma” Jamaica, namun Identitas melayu tetap di taruh di muka. Setelah semarak musik dan gerakan tarian melayu yang enerjik tampil di hadapan masyarakat kota daek, suasana seketika hening, seorang penyair tampak bersiap membacakan sajak

 

“Puncak Permata”

Di ketinggian ini
ingin kuceritakan kepadamu tentang isyarat langit yang bercakap-cakap dengan laut, sejauh mata memandang semuanya hijau dan biru.

 

Seketika saya ingat penggalan bait sajak itu, rasanya pernah saya baca sebelumnya, dimana saya membaca pun saya tidak ingat. “Ia adalah Nofriadi Putra, ia piawai menulis syair dan puisi  ”  kata bang Fauzi, “Pria berdarah minang yang sudah lama tinggal di sini, mungkin cinta nya akan tanah kelahirannya serupa sebagaimana ia mencintai tanah rantaunya ini” bang fauzi menjelaskan. Wah… saya sungguh merasa beruntung, bisa mendengarkan lantunan sajak indah yang pernah say abaca,  yang kemudian di bacakan oleh penulisnya sendiri, dan sungguh tidak terduga.

Nofriandi membacakan bait-bait sajak dengan nada tenang, Saya menikmati bait demi bait sajak berjudul “Puncak Permata” itu.  Saya membayangkan, mungkin saja Nofriadi menulis bait bait sajak itu ketika ia sedang duduk menikmati indahnya bentang alam kepulauan lingga dari puncak permata itu.  Mungkin saja…

Nofriandi mekahiri puisinya, suasana hening berganti riuh tepukan tangan penonton yang berkumpul di depan panggung. Mata saya mengantuk di buai angin bait bait sajak Nofriandi dan juga henbusan angin laut. Karena tak kuasa lagi menahan kantuk, kami pun bergegas pulang meninggalkan panggung musik  ber aliran impor dari benua afrika itu.

Esok Pagi pagi sekali kami harus mengayuh sepeda kembali menuju Pulau singkep.

Terima kasih bang Fauzi dan Ferdy atas satu malam di Daek Lingga yang tak terlupakan…

 

Bersambung…..

Update : Wisma Lingga Pesona (LP) sebagain bangunannya telah habis terbakar pada sebuah kebakaran hebat yang melanda perkampungan cina di Kota Daek pada tanggal 28 november 2017). termasuk kamar kami menginap dan bangunan yang terdapat pada foto diatas

Ini alasan kenapa kamu harus ke tanjungpinang Pekan Depan

 

Pekan depan, akan di gelar sebuah “pesta besar” masyarakat provinsi Kepulauan Riau (kepri). Gelaran acara selama Sembilan hari berturut-turut  bertajuk “Festival Bahari Kepri” itu akan di laksanakan di ibukota provinsi KEPRI,  Tanjungpinang. Festival bahari KEPRI  di buka  pada 13 oktober dan puncaknya adalah  22 Oktober 2017.

Lalu apa istimewanya acara ini…? Dan kenapa kamu harus kesana…? Tentu saja sangat istimewa, dalam Festival selama Sembilan hari tersebut kamu akan disuguhkan beragam pertunjukan seni, budaya serta permainan tradisional yang mungkin saja sudah sukar untuk kamu jumpai di hari-hari biasa, Festival sembilan hari tersebut adalah ungkapan suka ria, seluruh masyarakat akan tumpah ruah di jalanan dan vanue acara di beberapa lokasi di kota tanjungpinang.

Festival di buka dengan aksi bersih-bersih bertajuk Eco Heroes. Sebuah kegiatan yang menujukkan semangat kepedulian akan lingkungan berbagai elemen masyarakat kota tanjungpinang, yang di gelar di kota Rebah. Sebuah situs sejarah peninggalan kerajaan riau johor lingga di kota tanjungpinang. Lalu keseruan akan terus berlanjut. Kamu akan menjadi saksi dari semangat bertanding pada peserta Dragon boat race ber-adu cepat mendayung perahu secara beregu dalam “Sungai Carang Dragon Boat Race” di sungai carang. Kemudian yang paling amat sangat di tunggu tunggu adalah pergelaran busana unik karya para designer –designer berbakat yang bertajuk “KEPRI Fashion Carnival” yang akan di gelar di jalanan kota tanjungpinang

Keseruan belum akan berhenti, masih banyak pertunjukan Seni yang akan di gelar di daerah sekitaran Tepi laut kota tanjungpinang, baik itu seni musik, tari, pembacaan syair dan seni pertunjukan tradisional melayu yang sudah jarang kamu saksikan. Pada Festival di Sembilan hari itu kamu akan benar-benar merasakan bagaimana suasana melayu kembali dihidupkan oleh masyarakatnya. Permainan-permainan dan lomba tradisional akan kembali di mainkan dan di perlombakan pada saat itu, seperti lomba pangkah gasing, lomba perahu jong, lomba perahu layar, perahu dayung dan masih banyak lagi.  Kamu tidak hanya akan di hibur dengan pertunjukan yang memanjakan mata dan telinga saja, 10 kampung sudah siap memanjakan lidah kamu dengan aneka ragam makanan tradisional  dalam festival kulliner tradisonal melayu.

Nah… Jika pekan depan kamu belum punya rencana hendak mau kemana, pastikan kamu ada di tanjungpinang pekan depan, sederetan kegiatan di festival itu  akan meninggalkan kesan yang tak terlupakan, tidak juga percaya…? Buktikan saja pekan depan.

Berikut jadwal rangkaian acara Festival Bahari Kepri 2017 :

1. Sabtu, 7 & 14 Oktober 2017 jam 08-11 WIB

Eco Heroes adalah aksi kepedulian masyarakat untuk membersihkan sampah di Kota Rebah, Tanjungpinang. Kota rebah adalah situs bersejarah yang merupakan saksi bisu kejayaan kerajaan riau johor lingga.

2. Jumat, 13 Oktober 2017 jam 19.00-22.00 wib
Dangkong Dance Festival di Kabupaten Tanjungbalai Karimun. Festival dangkung ini adalah satu satunya rangkaian festival bahari yang dilaksanakan di luar kota tanjungpinang. Dangkung adalah tarian muda mudi yang sudah jarang di jumpai saat ini.

3. Sabtu s/d Senin, 14 s/d 16 Oktober jam 08.00-16.00 wib
Permainan Tradisional di Tepi Laut Tanjungpinang. Akan ada banyak permainan tradisional di lombakan pada hari hari tersebut. Yang pasti permainan permainan ini sudah aman jarang di jumpai, seperti permainan Gasing, Lomba perahu jong banyak lagi.

4. Sabtu & Minggu, 14 & 15 Oktober 2017, jam 19.30 – 22.00 wib
Pentas Seni di Gedung Daerah Tanjungpinang. Pertujukan kesenian berupa tarian lagu dan seni pertunjukan tradisonal, diantaranya ada pertunjukan opera tradisional melayu dari Natuna bernama Mendu.

5. Senin s/d Jumat, 16 s/d 20 Oktober 2017, jam 08 – 22.00 wib
Wonderfull Indonesia Sailing ( Sail Sabang ) di Perairan Tanjungpinang. Atraksi para yachter dari berbagai negara mengarungi perarian tanjungpinang dan bintan.

6. Senin, 16 Oktober 2017, jam 19.00- 22.00  wib
Sound From Motherland of Malay di Gedung Daerah. Penampilan panggung musik tradisional melayu.

7. Selasa, 17 Oktober 2017, jam 19.00 – 22.00 wib
Festival Gurindam 12 di Gedung Daerah.

8. Selasa, 17 Oktober, jam 19.00 – 22.00 wib
Festival Drumband di Anjung Cahaya

9. Rabu, 18 Oktober, jam 19.00 – 22.00 wib
Panggung Penyair di Gedung Daerah

10. Kamis s/d Sabtu, 19 s/d 21 Oktober jam 08.00 – 22.00
Kepri Expo di Tepi Laut Tanjungpinang

11. Kamis, s/d Minggu, 08.00 – 22.00 j
Wonderful Sail to Bintan di Perairan Bintan

12. Kamis, 19 Oktober 2017, jam 07.00 – 14.00 wib
Pawai Budaya & Mobil Hias

14. Kamis, 19 Oktober 2017, jam 19.00 – 22. 00 wib
Festival Rebana dan Zikir di Gedung Daerah

15 . Jumat, 20 Oktober 2017
Jam 08.00 – 16.00 Festival Kuliner 10 Kampung di Tepi Laut
Jam 15.00 – 18.00 Parade Kapal Hias di Sungai Carang
Jam 19.00 – 18.00 Yatchers Dinner
Jam 19.00 – 20.00 Malam Puncak FBK di Gedung Daerah

16. Sabtu, 21 Oktober 2017
jam 11.00-17.00 wib Cycosports (eksebisi sepeda) start di gedung daerah – Dompak
Jam 11.00- 17.00 wib Kepri Carnival start dan finish di gedung daerah
jam 19.00 – 22.00 wib Malam Hiburan Rakyat di gedung daerah

 

 

[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 12)

 

pak Budi Berpose di sebuah penjara tua peninggalan Belanda di tengah kota Daek-Lingga

 

Menginap Di LP

Gunung yang juga di kenal sebagai sebutan gigi naga itu masih tampak tersamar oleh kabut. Pukul empat lebih tigapuluh menit, kota Daek masih terus di guyur hujan, sementara itu kami menunggu hujan reda di beranda museum linggam cahaya. Sementara itu, diantara derasnya hujan dari kejauhan tampak seorang menunggang sepeda motor, dengan tubuh di balut jas hujan jenis ponco, pria itu menghampiri kami yang sedang duduk di depan pintu museum, ternyata dia bang Fauzi yang kami tunggu tunggu.

 

“Luar Biase, akhirnye bise berjumpe lagi” ucap bang Fauzi dalam logat melayu menyapa saya. “Ape kaba…?” kami berjabat tangan , “Allhamdulillah baek bang….” Jawab saya. Saya dan bang Fauzi sudah lama tidak bertemu. Kami pertama kali bertemu dan saling mengenal  pada sebuah acara fotografi setahun yang lalu di Surabaya. Beliau sosok yang ramah, rendah  hati, apa adanya, serta piawai memotret. Kepiawaian nya dalam bermain kamera sudah terbukti dalam berbagai prestasi, salah satu yang saya sangat ingat sekali adalah, ketika karya nya berjudul “dumped off” terpilih menjadi juara pertama kategori Landscape pada gelaran kontes foto internasional “ Kuwait Grand Photography Contest 2016 ” tahun lalu. Prestasi ini pula yang membawanya melawat ke negeri nan kaya miyak, Kuwait 2016 lalu. Itu pengalaman yang tidak pernah terlupakan dan sangat berkesan katanya. “Tak pernah terbayangkan sebelumnye, saye anak kampong ni bise berdiri sejajar menerime Award bersame fotografer dari berbagai negare waktu itu” kenang nya.  Menang di kancah internasional adalah sebuah pengalaman yang tidak pernah terlupakan dan ia duga-duga sebelumnya, jangankan Ia, kami sesama warga KEPRI pun turut merasa bangga.

 

Dari kiri: Saya, Bang Fauzi dan pak Budi

 

Angin laut berhembus menuju darat, dinding dinding bukit dan gunung itu memantulkannya  kembali menuju lembah, hingga menerpa tubuh kami yang tengah kedinginan. Kami masih menunggu hujan reda di beranda museum, bang Fauzi membakar sebatang Dji Sam Soe  dan mengisapkanya dalam sebelum mulai bercerita. “Mike kurang beruntung datang kali ini, beberape hari ni cuace disini tak bagos…, tak bise dapat foto cantek untuk di bawa balek hehe…” sambil mengepulkan asap dari mulutnya ia berseloroh, ia  mungkin sedang menganggap saya sedang melancong saat itu, mendung dan hujan seperti ini adalah kabar buruk bagi pelancong yang datang dari jauh, pelancong yang datang disaat seperti itu adalah kesia siaan saja, mungkin lebih baik tidur saja dirumah. Namun perjalanan ini sudah saya niatkan dari awal bukan sebagai kegiatan pelancongan. Perjalanan ini adalah cara saya menarik diri dari “kelelahan” saya. saya butuh istirahat, saya butuh ruang bagi jiwa, raga dan fikiran saya untuk mendapatkan kembali hak nya, saya butuh  pengalaman baru yang memperkaya pengalaman dan pemikiran saya yang atas izin yang kuasa mungkin saja saya dapatkan dalam perjalanan ini, Saya butuh bertemu orang orang baru dan belajar hal hal baik dari mereka yang saya temui di perjalanan. Saya ingin berada di tempat yang asing bagi saya,  jika kesusahan yang saya dapati, mudah mudahan itu akan menjadikan saya lebih dekat kepada Tuhan, sedangkan jika kesenangan dan kemudahan yang saya dapatkan, maka itu adalah alasan saya untuk lebih bersyukur pada Nya.

 

Bang fauzi banyak bercerita tentang keindahan negerinya pulau Lingga pada kami. Ia bercerita tentang masyarakat yang bersahaja, tradisi melayu yang selalu terjaga, misteriusnya gunung daek yang bercabang tiga, Suku Laut, pantai serta pulau-pulau indah yang masih belum terjamah di lingga, Sedikit banyak kisah dan ceritanya itu yang menuntun saya ke perjalanan yang entah berantah ini.Obrolan kami semakin jauh berkelana entah kemana, hingga tak terasa hari sudah hampir gelap di Daek, sepertinya kita butuh waktu lebih lama untuk bercerita, di situasi yang lebih baik dari ini, tidak dengan pakaian basah hingga membuat tubuh menggigil seperti ini. Akhirnya bang Fauzi Menitipkan kami untuk menginap di LP, seperti pertama kali saya mendengar isitlah LP ini, and Jangan terkejut dahulu, kami tidak menginap di Lembaga Permasyarakat (LP), tapi di sebuah wisma tua bernama Lingga Pesona, orang disini menyebutnya LP. Sepeda kami kayuh menuju LP.

Update : Wisma Lingga Pesona (LP) sebagain bangunannya telah habis terbakar pada sebuah kebakaran hebat yang melanda perkampungan cina di Kota Daek pada tanggal 28 november 2017). termasuk kamar kami menginap dan bangunan yang terdapat pada foto dibawah

Bersambung….

 

[CATPER] Jelajah Lingga Bersepeda (Bagian 11)

Jauh-jauh hari sebelum menjelajah pulau lingga , saya sempat menghubungi seorang sahabat lama di pulau tersebut. Ia adalah Bang Fauzi, saya mengenal beliau sebagai seorang juru foto dari kabupaten lingga. Lewat aplikasi “chatting” saya ungkapkan niat saya kepada beliau untuk menjelajah pulau lingga dengan sepeda, dan sekaligus saya meminta saran dari beliau tentang rute yang akan dilewati. Jadi, salah satu sumber informasi tentang perjalanan ini saya dapatkan salah satunya dari beliau, dan saya berjanji untuk menjumpai beliau di kota Daek ketika saya sampai disana kelak.

Tak ada tanda tanda sepertinya hari ini akan cerah, sepanjang perjalanan dari pancur hingga ke kota daek hari ini selalu di guyur hujan.  Waktu telah menujukkan pukul 3 petang, kami memutuskan untuk berhenti dan berteduh dari hujan di sebuah halaman “markas bomba” kantor pemadam kebakaran kota Daek.

Hendak apa dan kemana setelah sampai di kota ini, kami pun tidak tahu, satu satunya yang terlintas di benak saya adalah segera menelepon bang Fauzi. Lewat sambungan telepon saya berbicara dengan bang fauzi, celakanya beliau belum bisa menjembut kami lantaran hujan begitu deras saat itu. Bang Fauzi mengarahkan kami untuk datang ke komplek Istana Damnah Kota Daek, beliau sedang disana dan kami janjian untuk berjumpa.

Dalam hujan deras, saya dan pak Budi mengayuh sepeda meluncur di jalanan kota daek yang sepi. beruntung penunjuk arah di dalam kota ini cukup jelas, sebelum menuju komplek Istana Damnah kami sempatkan berkeliling kota meskipun dalam guyuran hujan. kami mengamati dan menikmati suasana kota sembari mengayuh sepeda. Meriam tua di tepi jalan, jejeran bangunan toko-toko tua di Jln, datuk Laksamana, sebuah bangunan bekas penjara, dan rumah-rumah tradisional  melayu yang berupa rumah panggung, banyak di temui disini dan terawat. Sebuah pemandangan yang langka di ata saya.

 

Nostalgia di Linggam Cahaya,

 

Sebuah Gapura di depan kami. Sebuah keterangan menujukkan gapura tersebut sebagai pintu masuk komplek istana Damnah. Komplek Istana Damnah adalah salah satu tujuan wisatawan di kota Daek, di komlpek istana  tersebut terdapat situs Puing istana Damnah itu sendiri, benda-benda peninggalan sejarah dan bukti sejarah lainnya tentang peninggalan kesulatan Lingga di Kota Daek, termasuk keberadaan Museum Linggam cahaya di Kompel terebut.

 

Sepeda kami kayuh memasuki komplek tersebut, jalanan lurus dan lebar, di ujung jalan dari kejauhan tampak bediri gagah gunung daek, ikon kota Lingga. Hujan dan cuara mendung membuat gunung daek tidak tampak begitu jelas, tersamarkan wujudnya oleh kabut. Di kiri jalan berdiri beberapa kantor, semua nya tampak sudah tutup, mungkin karena saat ini telah lewat jam kantor, namun pintu museum masih tampak terbuka, kami berdua memutuskan untuk masuk ke bangunan museum untuk berteduh sembari menunggu bang Fauzi disana.

 

Kami berdua menunggu di halaman depan museum, karena badan telah basah kuyub, kami pun enggan untuk masuk kedalam museum, kami hanya berdiri saja di beranda. Namun bertahan diluar sini membuat kami berdua menggigil kedinginan. Petugas Museum yang baik hati mempersilahkan kami mesuk ke museum, tahu kami adalah pendatang, sang penjaga museum mengantarkan kami berkeliling melongok isi  museum yang berlantai dua itu. Tiada siapapun pengunjung waktu itu selain kami berdua. Saya dan pak budi terkagum kagum melihat koleksi museum, banyak benda benda peninggalan zaman kerajaan masih tersimpan dengan baik disana, seperti perhiasan, senjata, mesin ketik kuno, radio kuno, peralatan makan, dokumen-dokumen lama dan lain lain.

 

Pria muda petugas museum itu mengantarkan kami menaiki lantai dua, di lantai dua museum kala itu cahanyanya remang remang karena sebagian besar jendela di tutup karena hujan. Suasana di lantai dua terasa begitu berdeba, imajinasi saya melayang jauh seperti dalam buku buku sejarah tentang kerajaan lingga. Pria penjaga Museum itu mengoceh bagai tanpa jeda, menjelaskan segala sesuatu tentang museum dan sejarah lingga.

Dinding-dingin di lantai dua dihiasi dengan figura-figura berukuran besar,  terpasang berjejer di tiap sisi dinding musem, figura figura tersebut memuat foto foto dan lukisan wajah tokoh tokoh kerajaan pada zaman dahulu, saya menatap lama lama wajah tiap foto dan lukisan tersebut, suasana ruangan seketika menjadi dingin ketika petugas museum memutarkan sebuah lagu dengan menggunakan gramophone, entah sebab apa bulu kuduk saya berdiri dan saya seketika merinding.

Bersambung….