Memberi Ruh Wayang Cecak

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Zulfianda memukul gendang dengan tempo pelan, sementara gesekan biola Azni melantunkan nada lirih membuka pertunjukan wayang cecak petang hari itu.

Di tangan Rizwan dua boneka terpasang, kedua boneka kayu itu di gerakkan kedua tangannya, seakan akan ditiupkan ruh kepada kedua boneka itu.

Alkisah berabat lalu, Chadijah Terong, memulai memainkan wayang cecek untuk anak anak tionghoa di tanjungpinang, chadijah terispirasi memainkan wayang dari opera cina yg di mainkan orang orang keturunan tionghoa di tanjungpinang.

dalam pertunjukan wayang cecak, pesan pesan dan nilai luhur kehidupan kerap ia sampaikan. Namun sayang, Setelah Chadijah wafat, tiada seseorang pun yang meneruskannya , hingga wayang cecak pun tan pernah dimainkan lagi berabad lamanya. sehingga suatu ketika di tahun 2017 pada saat Festival Pulau penyengat, Pertunjukan wayang ini kembali di gelar.

Hingga kini, generasi penerus di pulau penyengat seperti Azni, zulfiandi,Rizwan dan pemuda pulau penyengat lainnya, tengah berjuang untuk selalu memberi ruh kepada wayang cecak yang hampir mati itu.

Iklan

BAJAFASH 2018 di tutup dengan memukau

Langit senja mengankang diatas Batam view beach resort,  nada nada swing Jazz melantun dari instument instrument musik dari panggung di tepi kolam renang  Resort ternama di kota batam itu. Pertunjukan Jazz sunset memanggil pengunjung hotel untuk berkumpul menyaksikan pentas Jazz dan pagelaran Fashion dalam rangkaian BAJAFASH hari kedua. Kemeriahan panggung BAJAFASH hari pertama yang berakhir dengan spektakuler , seakan tak berhenti sampai hari itu saja, pertunjukan spektakuler akan di janjikan  tersaji malam ini,  penampilan Glen Fredly sebagai penampilan pamungkas.

Siel dan Azmi Hairudin tampil lebih awal, tembang tembang Jazz dengan lantunan Saxopone yang apik di bawakan memanjakan telinga. Self Trio dari malaysia tampil membawakan instrumen musik Jazz yang Lebih rumit, distorsi-distorsi dari keyboard Self trio memberikan pengalaman mendengarkan musik Jazz yang berbeda dan unik, Self trio melumat 3 lagi tanpa Lead Vocal. Selanjutnya Indro Harjodikoro yang berkolaborasi dengan Jazz Muda Indonesia dan Penyanyi cantik bersuara seksi Soukma berhasil membius dan membuat penonton Terkagum-kagum, Steve Thornton juga berkolaborasi dengan Indro, “Senang bisa berkolaborasi dengan teman lama”  kata  Indro. Sejauh ini, penampilan Indro dan kawan kawan mampu menjadi magnet panggung Bajafash saat itu, penonton mulai berkumpul, duduk secara lesehan diatas rumput di pinggir kolam renang Batam View Beach Resort. Saat-Saat Penampilan Indro Harjodikoro dan Pragawati melenggak lenggok memperagakan busana dengan mengusung konsep Tradisional, namun lebih “kekinian” hasil karya designer Jarit & DRU.

Semakin Malam suasana makin terasa hangat, penonton mulai makin banyak berkerumun di depan panggung, semuanya menyatu menikmati penampilan para musisi-musisi hebat dari asia tenggara, unity in diversity tema yang diusung BAJAFASH 2018 tidak hanya bertujuan menyatukan para musisi dari berbagai negara dalam satu panggung saja, penonton pun datang dari latar belakang kebangsaan yang berbeda, semua membaur , menikmati musik dan penampilan. Selanjutnya giliran ZAP (Zahid Ahmad Project) memanjakan dengan penampilan musik musik jazz yang “calm” namun dengan aransemen yang matang, berkelas dan juga mengagumkan. Band yang di motori Drummer senior asal Malaisya Zahid Ahmad itu  tampil dengan tiga lagu berturu turut, penampilan ZAP juga diselingi oleh peragaan busana oleh Tyramona.

Malam Semakin Larut namun semangat penonton tampak tidak akan surut hingga tampilnya Glen Fredly sebagai  penampilan pamungkas, sekaligus menutup panggung BAJAFASH 2018. Dalam wawancara dengan beberapa penonton, mereka mengharapakan BAJAFASH  agar terus terselenggara triap tahunnya, “semoga tahun selanjutnya akan terlaksana kembali “ kata Edi salah seorang penonton Bajafash.

Glen dan Band nya Bakucakar telah nampak di depan panggung meskipun tampak samar, penonton mulai histeris memangil-manggil Glen, “Glen…Glen…Glen…” . Tanpa menunggu Lama, Glen langsung tampil menghentak di lagu pertama “you my Everithing”, penonton sontak histeris, dan mengikuti menyanyikan syair dari lagu glen tersebut. “ sudah Lama kita tidak kebatam” kata Glen, “senang bisa menyapa kalian kembali disini” glen menyapa penggemarnya. Glen  tampil memukau di tambah pula atraksi individu dari para personel  bakucakar yang membuat penampilan glen malam itu begitu pektakuler. bersamaan dengan itu Glen juga berkolaborasi dengan penyanyi cantik Amelia Ong, dan juga sang legend, pemain perkusi dari Amerika Steve Thontorn. Peragaan busana dari Designer ARTURRO  memperindah penampilan dari Glen, busana dengan konsep tradisional namun “trendy” di peragakan oleh model model cantik dari kota batam.Pertunjukan pamungkas yang sempurna dari glen malam itu, akhir dari BAJAFASH akhirnya di yang sangat berkesan. Tak sabar menunggu kejutan BAJAFASH di tahun yang akan datang, Ibu Indina sang Founder BAJAFASH menjanjikan akan menggelar bajafash kembali di bulan Maret 2019.

Kemeriahan BAJAFASH 2018, Penantian yang Terbayar Lunas

DSC_4529

Pagelaran busana dan panggung musik Jazz tentu akan menjadi salah satu hal menarik dan unik untuk di saksikan. “Hallo Batam…..BAJAFASH is On….!”. Di buka dengan kolaborasi yang memukau dengan penampilan The Lightcraft band dan sederetan penampilan pagelaran busana yang di peragakan model model batam, hasil karya designer lokal kota batam pula, mereka adalah  Natasya Rofalina, Feby Erika dan IWAPI Batam. Acara berjeda sejenak hingga usai makan malam,  suasana senja nan temaram seketika semarak kala penampilan Janine Annice penyanyi jazz wanita asal inggris. Janine membawakan tiga lagu andalannya, meski penonton tampak tak begitu familiar dengan nama Janine, namun materi lagu yang di pilih oleh nya mampu membuat penonton hanyut dalam suara lembut nya.

Balawan dengan group musik etnik Bali nya tampil menghentak setelah penampilan Janine, permainan gamelan Bali Balwan nan energik di padu dengan teknik tapping pada gitar double neck nya mampu membuat penonton hanyut dan terpukau, “Forest” dan “Keroncong kemayoran” salah satu lagu yang di suguhkan Balawan. “Bagus Bagus”, brand busana karyaWike Dwiharti di tampilkan saat balawan tampil, perpaduan musik etnik dan fashion konsep entik yang benar benar ter-ramu dengan baik di panggung BAJAFASH malam itu. Rudy Djoe, penyanyi singapura tampil kemudian di BAJAFASH, penampilannya seakan tak menginginkan kemeriahan malam ini terhenti, Rudy Joe berhasil membuat penonton bergoyang dengan Jazz melayu ciri khas Joe. Fatwa Pujanggga adalah salah satu lagu yang dibawakan Rudy Joe. Penonton seakan tak rela Joe harus mengakhiri penampilannya, “lagi…Lagi…Lagi…” teriak penonton. Penampilan joe dilanjutkan penampilan penyanyi senior asal malaysia Kadijah Ibrahim, kontras dengan suara Djoe yang lembut, Kadhijah langsung tampil dengan lagu dengan tempo cepat dipadu dengan suaranya yang yang powerfull, penonton terpukau akan penampilan penyanyi wanita yang telah 40 tahun berkarya dibidang musik itu.

Malam memang telah larut, namun Vanue BAJAFASH masih tetap semarak, bahkan semakin semarak. Penampilan penyanyi bertubuh mungil asal singapura Amelia Ong tak lantas menurunkan gegap gempita suasana festival Jass dan Fashion itu. Amelia boleh saja tampilannya “imut”  namun iya energik diatas panggung, lagu-lagu bertempo cepat di pilih nya, seakan akan tubuhnya tak dapat berhenti dihipnotis nada nada swing jazz yang membius,  penampilan amelia memberikan energi di tengah malam itu.

Tak Terasa pesta BAJAFASH malam itu telah sampai diujung, namun justru ini lah yang sangat di nanti nanti oleh warga batam, penampilan penyanyi Jazz senior Indonesia Syaharani. Rani juga langsung tampil dengan lagu bertempo cepat, tak betah berada di lini belakang panggung bersama band, Saharani langsung memancing adrenalin penonton dengan di ujung panggung, mengajak mereka menari bersama menikmati alunan musik, penonton histeris, mereka berasa dekat dengan penyanyi legendaris itu, syaharani seakan bernyanyi bemar-benar di samping mereka. Penampilan Syaharani diikuti oleh penampilan sederetan model model yang memperagakan busana karya designer ternama Jossy Latu, Busana dengan tema “Batik history” itu di tampilkan secara bergantian. Jossy pun tampil diujung pargelaran , menari bersama syaharani.

Syaharani kemudian tampil berkolaborasi dengan seluruh bintang tamu BAJAFASH, di pada akhir pertunjukan, Steve Torhton, Rudy Joe, dan Datok Nik Azmi tampil sepanggung bersama Syaharani. Pertunjukan di tutup dengan apik, sungguh penantian beberapa bulan ini terbayar lunas malam ini, Penonton seakan tak rela pesta malam itu berakhir, tapi beruntung nya para penonton tidak perlu kecewa, karena malam selanjutnya masih akan banyak lagi musisi musisi hebat akan tampil lebih spektakuler lagi, di tambah penampilan penyanyi Glen Fredly.

Empat hal menarik di bajafash 2018

IMG-20180221-WA0010

Pulau Batam,  salah satu wilayah provionsi kepulauan Riau yang berbatasan langsung dengan beberapa negara tetangga, menjadikan Batam  menjadi salah satu pulau dengan posisi yang disebut sebut  paling strategis untuk investasi. Peluang ini dibaca dan dimanfaatkan oleh talenta talenta lokal batam yang tergabung dalam “Batam Jazz Socity” untuk mendevelope sebuah Event musik Jazz bertaraf internasional di Pulau Batam tersebut.   Bajafash diharapkan  akan menjadi wadah bagi para pelaku industri musik nasiona umumnya, serta kota batam pada khususnya.

Bajafash akan menjadi peluang untuk musisi lokal  masuk ke pasar industri musik Asia Tenggara. Konsep yang unik dari Bajafash yang menggabungkan antara Musik dan fashion  dikarenakan industri musik dan fashion di indonesia saat ini masih sangat  menjanjikan dan mempunyai potensi untuk menjadi jauh lebih besar. Terselenggaranya Bajafash ini diharapkan juga membuka peluang bagi investor asing untuk menanamkan modalnya di batam dalam bidang ini, sekaligus meningkatkan jumlah kujungan wisata asing maupun wisatawan ke kota batam.

Tentu kamu sudah tidak sabar lagi menantikan event besar ini. Tahun 2018 menjadi tahun ke-3 pelaksanaan festival ini di batam. Kali ini,  Bajafast akan mengambil tempat  di salah satu resort dengan view pantai terbaik di pulau batam, yaitu  Batam view Bech Resrot. Ingin tahu apa saja keseruan yang akan kamu temukan di Bajafast tahun ini…? Berikut empat hal menarik yang akan kamu jumpai di bajafash 2018;

                                                           

  • Bajafash 2018 Bertabur Bintang

Bajafash 2018 akan menyajikan pertunjukan spektakuler yang dimeriahkan oleh para musisi jazz profesional dari berbagai negara. Dari Indonesia yaitu Glenn Fredly dan Baku Cakar, Balawan dan Batuan Etnik, Syaharani, Soukma, Light Craft beserta para musisi lokal Batam seperti Bajafash All Star, Cheppy & friends, 4 Pieces Batam Percussion, Royal Coustic, ASAP feat Choir dan Sakazada. Sementara itu para performer dari Malaysia juga akan tampil diatranya  penyanyi legendaris Khadijah Ibrahim, Siel dan Slef Trio. Sedangkan dari Singapura akan menghadirkan Rudy Djoe penyanyi Jazz Melayu dan juga semakin luar biasa dengan penampilan dari Steve Thornton dari USA dan Janine Annice dari UK.

 

  • Klinik musik bertajuk “Music Camp” , Dengan Mentor Ternama

Kegiatan klinik MUSIC CAMP akan memberikan kesempatan terbuka kepada para peserta dari berbagai negara untuk dapat belajar secara langsung bagaimana memainkan alat musik dengan baik bersama para mentor ahli dan sekaligus dapat berbagi pengalaman dengan para peserta lainnya. Bahkan para peserta juga bisa melihat langsung para mentor ahli beraksi memainkan alat musik dihadapan mereka pada saat jam session. Nama besar seperti Indro Hardjodikoro ( Jazz Bass Class ), Balawan ( Jazz Guitar Class ), Andy Gomez ( Jazz Piano Class ) dan ketiganya dari Indonesia. Semakin luar biasa dengan kehadiran mentor-mentor dari Malaysia yaitu Zahid Ahmad ( Drum Class ), Azmi Hairudin ( Saxophone Class ), Stan Calvin ( Tabla & Music Apps ). Peserta juga bisa menggali ilmu dari Steve Thornton yang berasal dari USA ( Percussions Class ). Kegiatan music camp berlangsung dua hari dan ditutup dengan sajian sunset jazz

Pangelaran Fashion Show dari Designer-Designer  Berbakat 

Pagelaran busana tentu juga akan menjadi salah satu hal menarik bagi pengunjung yang hadir, menampilkan koleksi-koleksi terbaik dari para fashion designer seperti Chossy Latu, Arturro dari Seminyak Bali, Wieke Dwiharti, Didit Jarit, Anda Nasution, Decy Tyramona dan juga tidak ketinggalan menampilkan koleksi dari fashion designer lokal Batam yaitu Natasya Rofalina dan Febby Erika yang disupport oleh Iwapi Batam sehingga para pengunjung bukan hanya bisa menikmati musik jazz dan peragaan busana tapi juga dapat berbelanja beragam produk dari para peserta EXIBITION dengan penawaran harga terbaiknya.

 

Dialog Terbuka Tentang Industri Musik dan Fashion Asia tenggara  

program OPEN DIALOGUE dengan tema “Sustainable Creative Industry in Diversity of South East Asia Through Jazz & Fashion” yang bertujuan akan adanya “komitmen” dari para pihak pengambil kebijakan termasuk negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura untuk bersatu dan bekerjasama melahirkan solusi-solusi untuk peningkatan industri kreatif secara berkesinambungan, membuka peluang positif bagi masing-masing pemerintahan sekaligus membuka jaringan kerjasama bisnis kreatif. Akan hadir berbagai nara sumber seperti Khadijah Ibrahim seorang penyanyi legendaris dari Malaysia, Rudy Djoe seorang penyanyi Jazz Melayu dari Singapura serta hadir juga Indro Hardjodikoro dan  Glenn Fredly dari Indonesia. Selain itu sebagai nara sumber lainnya yaitu Sigit S. Widiyanto ( Minister Counselor Economic Fair KBRI Singapura ), Lukita Dinarsyah Tuwo ( Kepala BP Batam ), Teguh Wicaksono ( Founder Archipelago Festival ), Piyapong Muenprasertdee ( Co-founder & Community Manager of Fungjai.com ) dari Thailand dan beberapa nara sumber hebat lainnya. Open dialogue akan dipandu oleh dua orang moderator handal yaitu Guntur Sakti yang sebelumnya pernah menjabat sebagai kepala Dinas Pariwisata dan Kepala Dinas Kominfo Provinsi Kepulauan Riau yang akan berkolaborasi dengan Tengku Ryo seorang Violinist yang telah menampilkan kebolehannya dalam menggesek biola di berbagai negara dan hampir semua benua telah didatanginya.

Rangkaian Bajafash 2018 memberikan suguhan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, mulai dari pemilihan lokasi yang berada di Batam View Beach Resort Nongsa akan memberikan pengalaman yang berbeda dengan indahnya suasana alam terbuka di samping kolam renang dan juga di theme park.  Batam View Bech resort akan menjadi  Vanue  Music Camp selama dua hari itu,  yaitu pada  tanggal 16-17 Maret 2018, dan bukan itu saja, keseruan kolaborasi musisi-musisi  hebat pengisi Bajafash 2018 akan tampil  dalam jamming session bersamaan dengan peragaan  fashion show hasil karya  para designer ternama pula, sebuah kolaborasi dalam satu panggung yang tentu akan menjadi moment yang sangat dinantikan.

 

 

 

Mengenang pak Hatta di tempat kelahirannya

dsc_6705_34473056791_o

Pagi itu saya sengaja berjalan kaki keluar penginapan untuk menikmati suasana kota bukittinggi,  fajar mulai menyingsing di bukittinggi, pengeras suara dari masjid-masjid seperti bersahut sahutan  menyiarkan ceramah agama lepas shalat subuh,  sementara turis turis tengah mulai mendatangi halaman jam gadang, bus bus besar telah terparkir pinggir pinggir jalan sekitaran jam gadang mengantarkan turis turis yang hendak berpelesir melihat salah satu landmark sumatra barat itu. hembusan angin dingin menambah kesejukan udara kota yang dijuluki kota wisata dan  yang pernah menjadi ibukota sementara negara indonesia saat perang kemerdekaan dulu kala

Kaki saya terus menelusuri sudut kota bukittinggi, saya telusuri sebuah jalan dengan ratusan anak tangga yang sangat masyur di kota,  Janjang ampek puluah, yang menghubungkan pasar atas dan pasa banto. Langit masih gelap, namun pasa banto sudah terdengar riuh oleh suara pedagang. Pedagang tumpah ruah hingga ke badan jalan menjajakan segala macam hasil bumi dari tanah agam nan subur. Sorak sorai para pedagang seperti suara orang tengah  berkelahi adu mulut.”dipilih…dipilih…dipilih…” dengan nada lantang. Langkah sengaja saya sesatkan, kemana saja saya melangkah tak sa fikirkan, bukankah dengan tersesat kita akan menemuka  hal baru…?

Langkah saya terhenti di depan sebuah rumah yang tampak sudah tua namun masih tampak terawat.  Sebuah gambar seorang tokoh nasional yang tidak tampak  terpasang di halaman, tidak asing lagi gambar tokoh itu, ternyata rumah yang terletak di jalan Soekarno Hatta no 37 bukittinggi ini adalah rumah kelahiran  Bapak Mohhamad Hatta, salah satu proklamator RI. Saya sangat Penasaran dan ingin mengetahui isi rumah tersebut, pasti akan banyak hal menarik dapat di didalam sama fikir saya. Namun sayang, rasa penasaran saya tidak bisa segera terlampiaskan, ini masih sangat pagi, masih pukul 6, dalam hati saya membatin. Pengunjung baru di perbolehkan masuk setelah pukul 8 pagi, sebuah papan pengumuman yang terdapat di dinding rumah menerangkan demikian. Saya akan kembali ke sini pukul 8 nanti, dalam hati saya membatin.

Dalam perjalanan pulang ke penginapan, tiba tiba seakan tergiang sair lagu ciptaan seniman Virgiawan Listanto (Iwan Fals) yang berjudul bung hatta. Kepiawaian Iwan fals menghadirkan suasana duka saat pak Hatta mangkat lewat syair dan lirik seakan mampu menyentuh hati siapa saja yang mendengarkannya, saya sendiri pernah meneteskan air mata larut dalam syair yang begitu dalam, meski saya adalah generasi yang tidak pernah bertemu, dan melihat sosok Pak hatta secara langsung, namun dari buku buku tentang bung hatta dan syair lagu tersebut mampu membawa saya merasakan kehilangan pada sosok yang sangat dirindukan. Terbayang bakti nya, terbayang jasa nya terhadap negeri, serta dan jiwa sederhana pak hatta.

Pukul delapan tiga puluh menit, akhirnya saya kembali mendatangi rumah kelahiran Pak Hatta. Suasana sudah tampak berbeda ketika telah beranjak siang, jalan Sokearno Hatta yang tadinya di kerumuni pedagang dan pembeli sekarang di penuhi dengan kendaraan, angkot, sepeda motor, mobil dan bendi. Pagar telah dibuka, saya melihat seorang  seorang perempuan paruh baya tengah membersihkan halaman rumah, dia adalah petugas yang menjaga rumah kelahiran pak Hatta tersebut.

Rumah ini sejatinya adalah rumah kakek Pak Hatta, Ilyas Bagindo Marah atau Pak gaek. Pak Hatta di besarkan di lingkungan keluarga ibunya dikarenakan umur 8 bulan pak pak Hatta telah di tinggal sang ayah H.Mohhamad Djamil.  Masa kecilnya lebih banyak bersama keluarga kakek dan paman paman pak hatta. Dalam buku momoar Bung hatta, sosok pak gaek disebut sebagai seorang yang berpengaruh dalam pemahaman pak hatta tentang agama islam, pak gaek berprofesi sebagai pengantar surat  yang di kenal disiplin, mungkin sikap disiplin  itulah yang juga di tanamkan oleh sang pak gaek kepada hatta kecil.

saya mengucapkan salam dan perempuan itu membalas salam dan mempersilahkan saya masuk, “silahkan masuk… silahkan saja berkeliling, ibu masih beres beres dulu ya… “ ujar nya dengan ramah. Karena saya datang terlalu awal dan ibu penjaga rumah belum menyelesaikan tugasnya, saya tour seorang diri saja.

Ruangan yang pertama saya masuki adalah sebuah ruangan yang dekat dengan teras rumah, ruangan tersebut adalah ruangan baca pak hatta, sebuah meja baca terletak di depan jendela dengan pemandangan langsung ke jalanan Soekarno Hatta yang padat dengan latar belakang gunung marapi.  Sejak muda pak Hatta telah di kenal akrab dengan buku dan penulisan, mengutip keterangan pada buku “Hatta-pemikiran yang melampaui zaman” karya tempo, menyebutkan bahwa pada usia 18 tahun tulisannya di muat dalam sebuah majalah (Jong Sumatra) yang berjudul “Hindania“. Sebuah kisah cinta yang terkesan picisan namun memiliki makna tersirat di balik kisah tersebut. Hindania adalah figur wanita yang dijadikan Hatta sebagai personifikasi dari Indonesia. Hindania di tinggal mati oleh suaminya bernama Brahmana dari Hindustan, dan kemudian Hindania bertemu dengan musafir dari barat bernama Wolandia. Wolandia ternyata hanya mencintai kekayaan Hindania saja, hingga kekayaan wanita malang itu ia kuras habis dan kemudian di tinggal nya pergi. Tokoh Wolandia dipersonifikasikan hatta sebagai penjajah dalam kisah tersebut.

Seketika  hayalan saya terbang ke-masa lampau, hatta muda duduk diruang  baca tengah membalik balik lembaran buku dengan sesekali melemparkan pandangan kebalik jendela, pemadangan hilir mudik bendi dan pedati berlatar gunung marapi. Diruang baca pak Hatta hanya terdapat sebuah meja baca dan di letakkan persis di dekat jendela, ada sebuah ranjang sederhana, dan sebuah lemari, di dinding ruangan terpajang foto foto lama dan lambang negara.

Saya kemudian memasuki ruangan utama di lantai dasar rumah dua lantai itu. Lantai dan langit langit rumah dilapisi dengan tikar, satu set meja dan kuris tertata di tengah ruangan, sebuah lampu gantung antik terpasang di tengah ruangan, seketika saya merasakan seperti berada pada  suasana masa lampau,  zaman kemerdekaan.

Dinding rumah banyak terdapat foto foto kenangan pak hatta dan keluarga, silsilah keluarga pak hatta, serta beberapa dokumen dan surat surat, banyak sekali yang menarik perhatian saya sehingga saya harus berhenti lama memperhatikan dengan seksama foto foto dan dokumen yang di pajang di dinding pada ruang utama itu. Saya sangat terkesan ketika memperhatikan foto pak Hatta dan ibu Rahmi Rachim saat baru saja menjadi pengantin baru, tampak sederhana dan bersahaja dari sepasang pengantin baru tersebut, pak hatta tampak sumringah. Sebuah foto dengan ekspresi yang amat jarang saya lihat Sebelumnya.

Ruangan di lantai dasar terdiri dari ruang utama dan  dua kamar, salah satunya adalah kamar tempat kelahiran pak Hatta, sebuah ranjang antik dengan atap yang bergaya lama dan sebuah lemari tua,  saya melihat tempat tidur tersebut di terpa cahaya matahari yang masuk dari jendela, angan saya melayang kembali, seakan melihat tubuh mungil hatta yang masih bayi itu dibaringkan di tempat tidur itu.

Kemudian saya benelusuri rumah lebih dalam, saya menuju area belakang rumah, disana terdapat kamar tidur bung hatta dan terdapat sepeda yang selalu di gunakan pak hatta, kamar tidur itu bernama kamar bujang, kamar bujang bersebelahan dengan dapur dan kamar mandi, sebuah lumbung padi terdapat di dekat kamar bunjang pak Hatta. Di area belakang juga terdapat pedati milik keluarga pak Hatta.

Saya kemudian penasaran untuk melongok lantai dua, untuk sampai ke lantai dua, saya harus melewati ruang makan, di dekat ruang makan terdapat sebuah tangga sebagai penghubung ke lantai dua.  saya berhenti sejenak di ruang makan, saya perhatikan  perangkat makan yang antik pula,   piring kanso, gelas yang terbuat dari bahan alumunium, ceret tempat air minum dari bahan logam, meja makan dari bahan kayu dan kursi yang ber alasakan ayaman rotan, sungguh saya mengingat-ingat entah kapan terakhir saya melihat barang barang antik seperti ini.

Di lantai dua tata ruang tak begitu berbeda seperti di lantai dasar, terdapat dua kamar pula dilantai dua, satu set meja dan tiga buah kuris di tata sedemikian rupa di tengah ruangan, sebuah lampu gantung seperti  lampu terdapat pada ruangan keraton juga terpasang di langit langit lantai dua,  diding rumah dari kayu di tempeli foto foto kenangan bung hatta dan keluarga, serta sebuah lukisan besar bung hatta di salah satu dinding ruangan yang sangat menarik perhatian.

Menelusuri rumah kelahiran pak Hatta  memberi  pengalaman berbeda bagi siapa saja yang ingin mengetahui sejarah pak hatta, pengunjung disajikan pengalaman visual yang mungkin  tidak bisa didapatkan dari buku buku yang menuliskan tentang pak Hatta. Rasa bangga dan kecintaan terhadap bangsa sejatinya harus tetap tumbuh di dalam jiwa generasi muda, Pak Mohammad Hatta sampai kapanpun akan terus dikenang sebagai pemberi panutan bagi bangsa. Melalui pemikirannya yang bernas beliau berjuang untuk kemaslahatan banyak orang, seperti contoh sistem koperasi yang masih di manfaatkan hingga sekarang ini.  lewat goresan penanya yang tajam ia berjuang untuk kemerdekaan, dalam tulisannya yang berjudul sangat provokatif berhasil membuat gerah penjajah dan membangkitkan gerakan bagi rakyat indonesia, sebuah tulisan yang berjudul “Indonesia Merdeka” yang beliau tulis dalam berbagai bahasa diantaranya dalam bahasa  inggris, perancis, belanda dan jerman.  Penjajah pun sempat meragukan tulisan yang mengusik dunia internasional itu adalah tulusan dari orang indonesia.  Pak Hatta memang dikenal memiliki kemampuan berbagai bahasa asing. Mengutip tulisan pada buku “Hatta-jejak jejak yang melampaui zaman” yg di tulis oleh tempo menyebutkan bahwa “ketajaman pena Hatta lebih digdaya ketimbang senjata”.

Meski demikian, pak hatta tetaplah pribadi yang sederhana. Kisah sepatu billy yang tak mampu ia beli dan tunggakan tagihan telepon yang tak mampu ia bayar meskipun ia popularitas sebagai wakil presiden, hal tersebut menggambarkan betapa sederhananya pribadi pak Hatta sebagai seorang pejabat negara.

Tidak hanya di dalam negeri, di negeri penjajah sekalipun pak Hatta di segani dan di hormati. Sebuah jalan di kota Harrlem, Rotterdam belanda diabadikan dengan nama beliau, konon ada cerita menarik di balik keberadaan jnama jalan tersebut. jalan tersebut tak begitu panjang, namun sederhana lurus dan di tumbuhi pohon pohon yang rindang di kiri kanan nya, seakan merepresentasika  sosok kepribadian pak Hatta yang jujur, lurus dan sederhana.

Jika kamu ke bukittingi, sempatkanlah untuk singgah kerumah kelahiran pak hatta yang beralamat di Jln. Soekarno Hatta, mandiangin – Kota bukittinggi. Tidak dipungut biaya untuk mengunjungi rumah tersebut, namun jika kamu berniat ingin menderma, pengurus siap mengelola. Rumah kelahiran Mohhammad Hatta di buka dari setiap hari mulai pukul delapan pagi.

Pantai Telok Diraja, Pesona baru di desa busung

_DSC0030.jpg

“Apabila kamu berkerja dengan cara kreatif , maka akan lahir nilai tambah yang baru” begitu kata sebuah ungkapan. Melalui proses Kreatifitas kamu mampu merubah sesuatu yang mungkin saja awalnya tak bernilai, menjadi lebih bernilai. Fenomena bermunculan nya tempat wisatapun demikian,  contohnya, siapa sangka lahan bekas tambang pasir  di desa busung pulau bintan akhirnya menjadi object wisata yang tiap akhir pekan di singgahi banyak penacong, Danau bekas galian pasir yang terbengkalai di kampung lepan di sulap oleh sentuhan kreatif  menjadi  danau Lepan yang instagenik, kemudian bukit bukit yang telah terkelupas karena penambangan pasir di desa kuala sempang yang  di namai secara unik dengan nama bukit eskrim,  karena warna warni yang unik pada tebing bukitnya nya yang seperti lapisan eskrim itu kini menjadi tempat wisata foto foto nan isntagenik pula.

Perlahan masyarakat mulai sadar akan manisnya berkah dari pariwisata, kampung dan desa di bintan saat ini seakan berlomba  menemukan, menciptakan nilai pariwisata yang diharapkan dapat mendatangkan tamu dan menjadikan tuah bagi mereka.

Adalah Telok Diraja salah satu contohnya. sebuah produk kreatif dari kelompok sadar wisata dari desa busung itu. Zul dan 12 rekannya masyarakat tempatan secara swadaya menggarap lahan kosong yang awalnya tak begitu terlirik keindahan nya itu kemudian di garap dengan pemikiran dan tindakan yang kreatif sehingga menghasilkan sebuah nilai baru dari sebuah lahan kosong tak awalnya tak terlalu bernilai.

Pemandangan yang indah dan masih alami dari pantai Telok Diraja akan menjadi penawar penat mu setelah berkativitas sepekan,  pohon pohon yang rindang di tepi pantai menyediakan kenyamanan bagi kamu untuk bercengrama bersama keluarga dan kolega di bawah  rindang nya. Pantai nya yang  cukup bersih dan tenang  sangat menggoda pagi pengunjung untuk berenang ketika air laut pasang. Penat berenang hingga perut terasa lapar…? jangan khawatir, disana mereka telah menyiapkan beberapa jenis makanan dan minuman yang dapat kamu pesan kapan saja. Namun di karenakan lokasi ini baru di buka dan masih banyak pekerjaan disana sini , sehingga masih ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian pengelola agar tempat ini menjadi lebih baik lagi, terutama masalah penataan dan kebersihan nya.

Telok Diraja terletak di desa busung puau bintan. Jika kamu berkendara dari arah  tanjunguban cukup memakan waktu 15 menit saja, sebelum memasuki desa busung kamu menemukan sign atau tanda penujuk arah di sebelah kanan jalan yang menunjukkan arah menuju pantai Telok Diraja, dan Jika kamu datang dari arah tanjungpinang  pun tak cukup sulit menemukan pantai ini, setelah melewati jembatan busung akan ada  penunjuk arah di sebelah kiri jalan yang akan memandu kamu sampai ke pantai Telok Diraja. Cukup membayar 5000 rupiah untuk parkir kendaraan roda empat dan 1000 rupiah untuk kendaraan roda dua.

 

 

Ingin tahu tempat menarik lain nya di pulau bintan lainya….? silahkan juga singgah di tautan berikut;

Omjay Trip – Bintan One Day

[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 13)

Rupanya “LP” itu tak begitu jauh dari Museum Linggam cahaya. Tentu saja… jika masih di dalam kota daek ini kemana mana tak terasa jauh, karena kotanya kecil saja. Bang Fauzi memandu kami dengan sepeda motor  menuju Penginapan., kami diantarkan nya ke Wisma Lingga pesona di Jl. Datuk Laksamana No 09 Daek lingga. Sebuah Wisma tua dengan bangunan kayu yang lebih menyerupai kedai kedai pencinaan disebuah kota lama.

Menurut bang Fauzi, Lingga pesona adalah penginapan yang pertama yang ada Daek. Bangunan Wisma lama terletak di jalan Datuk Laksamana no 09 ini. sampai sekarang, bangunan wisma lama tersebut masih di pertahankan hingga kini dan masih di gunakan untuk pengunjung,  Sedangkan bangunan wisma baru di bangun memanjang tersambung dengan bangunan wisma lama, sehingga kedua bangunan tersebut terhubung. Saya masuk dari pintu bangunan wisma lama dan berjalan menuju reception yang berada di bangunan wisama baru, suasana perubahan bangunan ini dari waktu kewaktu amat sangat terasa ketika saya menelusurinya. Sebuah kamar dengan harga sewa 70 ribu rupiah permalam yang terletak di bangunan wisma lama kami pesan, kamar hanya terdiri dari dua tempat tidur sebuah lemari dengan kipas angin tergantung di langit langit kamar, cukup nyaman buat pe-“touring” “budget mepet” seperti kami.

Sepeda kami parkirkan di dalam gudang wisma yang berada di lantai dasar, semua barang bawaan telah di turunkan dari rak, sepeda telah di kunci dan pannier kami pindahkan kedalam kamar.

Bang Fauzi pun berpamitan setelah semua perlengkapan kami simpan di dalam kamar. “nah… silahkan istirahat dulu, nanti malam kita wisata kuliner ” tandas nya mengakhiri perjumpaan dengan kami senja hari itu.

Magrib telah usai, namun rintik hujan terus saja membasahi bumi bunda tanah melayu itu, awan seperti tak kuasa menahan bebannya, seperti air mata bunda yang mengiringi kepergian anak nya untuk selama lamanya, , kadang dapat di tahan, tapi kemudian mengalir jua.

 

Makan malam “hikmat”, ayam goreng sambal Mercon

Hari mulai gelap, angin dingin dari dinding dinding bukit yang melingkungi kota daek berhembus hingga dinginnya menusuk sampai ke tulang, perut yang sudah kosong membuat situasi seakan makin “sempurna” nelangsanya. Saya dan pak Budi memutuskan untuk tidak menunggu ajakan bang Fauzi, urusan perut ini sepertinya tidak dapat di tunda lagi.kami bergegas tinggakan kamar wisma untuk mencari penambal dinding dinding lambung ini.  Bersamaan dengan itu pula bang Fauzi baru saja tiba di depan wisma hendak menjemput kami, dayung ternyata bersambut.

Bang Fauzi dan seorang teman bernama Ferdy menjemput kami dengan sepeda motor untuk berwisata kuliner di kota daek. Pak Budi di bonceng oleh bang fauzi sedangkan saya bersama Ferdy. Di atas kendaraan yang melaju,  Ferdy dan saya berkenalan untuk pertama kali,  saya ketahui beliau berkerja untuk pemerintah mengawasi terumbu karang di perairan kabupaten lingga, sebenarnya bang Fauzi dan bg ferdy ini penjelajah alam lingga,  sudut mana yang mereka belum pernah jelajahi di lingga ini, dari daratannya  hingga dasar laut telah di telusurinya.

Sepeda motor berhenti di sebuah halaman rumah yang telah di tata sedemikian rupa hingga menjadi kedai makan, “Kedai sambal Mercon” namanya. Mendengar namanya saja air liur saya seakan tak sadar meleleh. Ini sepertinya akan menjadi makan malam yang “serius”, panas dan berkeringat.

Kami memilih duduk disebuah gazebo di halaman kedai, ukurnnya satu meja pas untuk kami ber-empat. Bang fauzi menepukkan kedua tangganya memanggil pelayan kedai, seketika dengan sigap pelayan kedai datang membawa daftar menu dan sebuah buku catatan, 3 porsi ayam goreng dengan sambal mercon di pesan bang Fauzi, sedangkan bg Ferdy memesan semangkok mie rebus. di gazebo kami “berbual” mengulur-ulur rasa lapar, namun  menu yang di pesan tak secepat datangnya si pelayan pembawa daftar menu itu. Sungguh kesabaran sang kelapran ini sedang diuji.

Akhirnya yang di tunggu tunggu pun datang, “Nah…jom kita makan” kata bang Fauzi, tanpa menunda waktu urusan mengisi perut segera kami tuntaskan, hening tanpa bersuara. hanya terderngar sesekali suara benturan gelas dan piring dari meja makan. Sambal mercon ini jadi pelampiasan hasrat “makan Besar” seharian ini, seingat saya seharian ini hanya makan mie instan tengah hari tadi di Air terjun resun. pantas saja rasanya dua orang pesepeda ini terlihat kalap  malam ini, sampai sampai pak budi pun meminta tambah satu porsi.

 

Jelajah Lingga dari Meja Makan

Kami berdua tak akan banyak punya waktu untuk berkeliling kota Daek, dikarenakan waktu yang terbatas . Esok pagi pagi sekali kami harus mengejar penyebrangan menuju Pulau singkep dengan menumpang kapal Roll and Roll (RORO) dari pelabuhan Penarik. Menurut bang Fauzi, kapal akan berangkat pukul 11 siang dari pelabuhan penarik (Lingga) ke Pelabuhan Jagoh (Pulau Singkep),

Saya hanya memendam harapan untuk mengenal lebih jauh negeri bunda tanah melayu ini, tapi beruntung nya saya berjumpa dengan dua orang yang akan membawa saya “berkelana” imajinasinya  menelusuir kepulauan lingga dengan kisah perjalanan mereka dari meja makan ini. Bang fauzi dan Ferdy adalah sebagian dari generasi muda lingga yang aktif memperkenalkan keindahan alam dan budaya Lingga lewat media internet. Jangkauan jejalah mereka akan kepulauan  Lingga  tiada yang meragukan , daratan hingga dasar laut kepulauan lingga telah mereka sambangi. Jika tak percaya coba singgahi akun Instagram mereka @said_fauzi_dive dan @ferdyoi.

Dari meja makan malam itu mereka bercerita bagaimana mereka hidup beberapa hari di perkampungan suku laut di kepulauan senanyang, menyelami dasar laut menemukan warna warni terumbu karang, menari nari dengan berbagai jenis ikan dan menikmati keheningan di dasar laut kepulauan lingga. Menikmati indahnya matahari terbit di puncak permata, kisah kisah ekpedisi pendakian gunung Daek, serta pantai pantai indah nan sepi, tersebunyi dan tak terjamah di kabupaten kepulaun Lingga. Sungguh cerita mereka membuat perasaan ingin kembali lagi suatu hari.

 

Melewatkan Malam Di Taman Tanjungbuton

Sudah pukul 10 malam, bang fauzi dan Ferdy menawarkan saya untuk menikmati suasana malam di kota nya, meskipun kantuk sudah menyerang namun saya terima saja tawaran mereka. Tak ada salahnya melawan kantuk sejenak untuk sebuah cerita yang akan di bawa pulang tentang daerah yang baru saya  kenal ini. Bang Fauzi dan Ferdy mengajak kami ke tempat dimana orang orang kota daek “kongkow” melewatkan waktu malam sebelum mata mengantuk, Mereka ajak kami ke sebuah taman terbuka, sebuah taman bernama “TB” alias Taman Tanjungbuton

Taman Tanjung buton adalah sebuah taman yang terletak persis di depan pelabuhan Tanjung Buton. Pelabuhan ini merupakan salah satu gerbang utama untuk menuju Daek, meskipun keberadaan pelabuhan penarik juga menjadi alternatifnya sebagai pintu masuk ke pulau lingga, namun nama pelabuhan tanjungbuton lebih populer sebagai sebuah pintu gerbang.

Warga tampak bersantai di sekitaran taman yang di kiri dan kanan nya adalah lautan itu, muda mudi bercengkrama, sebagian dari mereka duduk duduk diatas sepeda motor yang terparkir di pinggir pinggir jalan. “ini adalah salah satu tempat terbaik menikmati sunset di kota ini” ujar bang Fauzi. Namun di kiri dan kanan jalan saya tak melihat apa apa melaikan gelap lautan.

Malam itu terdapat suatu keramaian di tengah jalan, tepat di depan gerbang pelabuhan tanjungbuton, sebuah panggung hiburan sederhana berdiri,  panggung dengan banner besar bermotif warna merah kuning hijau layaknya bendera negara Jamaica, jelas sepertinya akan ada pertunjukan musik Reggae disini, saya sempat berfikir bagaimana musik dari benua afrika itu bisa sampai ke negeri yang tersuruk di seberang laut dan di balik gunung ini, ah sudahlah… kabar  seperti apa sekarang ini yang tak dapat di ketahui sampai ke pelosok negeri, kalau jaringan internet sudah menjangkaunya, segala informasi bahkan idologi macam apapun akan sampai jua ke ujung negeri. Kami memilih untuk menikmati sajian musik yang dekat dengan kaum Rastafarian itu

Di atas panggung berdiri pria dengan suara lantang, tanpa pengeras suara pun suaranya terdengar keras, ia  berbicara laksana orator demonstrasi, ucapan ucapan menyuarakan perlawanan generasi muda terhadap generasi generasi tua yang korup, penindasan, dan ke-tidakadilan pemimpin. namun entah siapa orator itu, dan  pada siapa orasinya ia tujukan saya tidak memahaminya, yang jelas panggung musik reggae belum juga kunjung dimulai.

Tak lama setelah orasi, beberapa bujang dan gadis belia berbusana melayu meliuk liuk menari dengan tarian melayu yang lincah di depan panggung. Meksipun panggungnya ber-“aroma” Jamaica, namun Identitas melayu tetap di taruh di muka. Setelah semarak musik dan gerakan tarian melayu yang enerjik tampil di hadapan masyarakat kota daek, suasana seketika hening, seorang penyair tampak bersiap membacakan sajak

 

“Puncak Permata”

Di ketinggian ini
ingin kuceritakan kepadamu tentang isyarat langit yang bercakap-cakap dengan laut, sejauh mata memandang semuanya hijau dan biru.

 

Seketika saya ingat penggalan bait sajak itu, rasanya pernah saya baca sebelumnya, dimana saya membaca pun saya tidak ingat. “Ia adalah Nofriadi Putra, ia piawai menulis syair dan puisi  ”  kata bang Fauzi, “Pria berdarah minang yang sudah lama tinggal di sini, mungkin cinta nya akan tanah kelahirannya serupa sebagaimana ia mencintai tanah rantaunya ini” bang fauzi menjelaskan. Wah… saya sungguh merasa beruntung, bisa mendengarkan lantunan sajak indah yang pernah say abaca,  yang kemudian di bacakan oleh penulisnya sendiri, dan sungguh tidak terduga.

Nofriandi membacakan bait-bait sajak dengan nada tenang, Saya menikmati bait demi bait sajak berjudul “Puncak Permata” itu.  Saya membayangkan, mungkin saja Nofriadi menulis bait bait sajak itu ketika ia sedang duduk menikmati indahnya bentang alam kepulauan lingga dari puncak permata itu.  Mungkin saja…

Nofriandi mekahiri puisinya, suasana hening berganti riuh tepukan tangan penonton yang berkumpul di depan panggung. Mata saya mengantuk di buai angin bait bait sajak Nofriandi dan juga henbusan angin laut. Karena tak kuasa lagi menahan kantuk, kami pun bergegas pulang meninggalkan panggung musik  ber aliran impor dari benua afrika itu.

Esok Pagi pagi sekali kami harus mengayuh sepeda kembali menuju Pulau singkep.

Terima kasih bang Fauzi dan Ferdy atas satu malam di Daek Lingga yang tak terlupakan…

 

Bersambung…..

Update : Wisma Lingga Pesona (LP) sebagain bangunannya telah habis terbakar pada sebuah kebakaran hebat yang melanda perkampungan cina di Kota Daek pada tanggal 28 november 2017). termasuk kamar kami menginap dan bangunan yang terdapat pada foto diatas