Se-harian Eksplore Destinasi Populer Pulau Bintan

Nama Pulau Bintan mulai dilirik oleh wisatawan dalam Negeri, meskipun sebelumnya orang orang dari negeri jiran seperti Singapura dan malaysia telah lebih dahulu mengenal Pulau bintan sebagai tempat pelesir . Pesona pantai pantai indah  di pulau bintan menjadi salah satu pemikat para pelancong datang ke salah satu pulau di Provinsi Kepulauan Riau ini.

Bicara tentang wisata pulau bintan, tidak melulu hanya tentang pantai pantai indah  dan resort resort  Mewah, jika kamu tak memiliki banyak waktu untuk menjelajah bintan,  berikut adalah beberapa Destinasi wisata yang popular bagi wisatawan yang bisa kamu ekplore  dalam satu hari saja,

 

 Gurun Pasir & Telaga Biru Busung

Gurun-Pasir1

 

Tidak sukar menemukan Gurun Pasir dan telaga Biru tersebut, terletak di tepi jalan lintas Barat Tanjunguban – Tanjungpinang tepatnya di desa busung. Di kanan jalan akan terdapat penujuk arah menuju tempat tersebut. jika berkendara dari Tanjunguban, kamu  hanya mengambil masa  15 menit saja.

Dahulu, sebagain orang hanya menganggap hamparan pasir  yang terletak di jalan lintas Tanjunguban -Tanjungpinang itu  sebagai pemandangan yang biasa saja, hanya sebuah area bekas tambang. Akan tetapi, sebagian lagi melihat dari sudut pandang yang berbeda, melihat dengan sudut pandang artistik, dan kemudian  merekam pemandangan unik itu dalam bentuk foto yang di komposisikan sedemikian rupa sehingga menghasilkan foto pemandangan layaknya gurun yang fotogenik. apalagi ketika di potret dengan komposisi dan pencahayaan yang baik, sehingga menghasilkan foto yang ciamik nan Instagenik, waktu terbaik adalah pagi dan sore hari.

 

Treasurebay Bintan

Treasurebay

Terletak di kawasan Wisata terpadu Lagoi, Treasurebay menjadi salah satu tujuan wisata favorit di  pulau bintan, dengan membayar Rp100.000 untuk dewasa dan Rp50.000 untuk anak-anak. Dari nominal tersebut, 20%- adalah sebagai tiket masuk dan 80% sisanya menjadi deposit yang bisa kamu  digunakan untuk mencoba beragam water activities yang ada di sana, atau untuk membeli makanan dan minuman yang tersedia di lingkungan Treausrebay Bintan. Nah…Deposit ini tidak bisa direfund, jadi sebaiknya  di gunakan saja.  Crystal Lagoon ini memiliki panjang sekitar 800 meter dengan luas yang mencapai sekitar 6 hektar, dinobatkan sebagai kolam renan dengan air laut terbesar di asia tenggara.

 

Lagoibay

36097378883_8f4d82a792_o

Di kenal dengan kawasan resort dengan privasi tinggi, membuat tak sembarangan orang bisa menikmati keindahan pantai di utara bintan itu. Hanya para tamu dan yang memiliki kepetingan saja yang dapat melongok keindahan lagoi. Namun tidak semua area di berlakukan secara ekslusif, sebagai mana Lagoibay di design sebagai area untuk public, wisatawan domestic dan macanegara berbaur di lokasi ini, di sana juga terdapat sebuah plaza yang menjual beraneka macam kebutuhan para pelancong. Disamping itu banyak aktivitas dan arena bermain yang di tawarkan oleh Lagoibay, pengunjung memungkinkan untuk mencoba berbagai aktivitas seperti olahraga air seperti kayak, jet ski, snorkeling, voli pantai, dan sepak bola pantai dan berkeliling menggunakan kendaraan ATV.  Pantai nya pun sangat mewakili keindahan pantai-pantai di lagoi yang terkenal itu.

 

Pemancingan Poyotomo

poyotomo

Sejatinya sebuah Taman Pemancingan, namun karena area yang sangat luas, view alam yang menawan serta fasilitas yang memadai, sehingga tempat ini cocok di jadikan taman rekreasi untuk keluarga dengan nuansa perkebunan, Selain memancing, kamu juga memungkinkan untuk melakukan kegiatan camping di sini, cukup dengan menyewa Tenda yang telah di lengkapi dengan sliping bad, kamu bisa melewati malam di taman yang indah ini, Sewa untuk sebuah Tenda “Dome” dengan kapasita tiga orang hanya 80 ribu rupiah saja.

Pemancingan Poyotomo terletak di Desa Skuning, sebuah Desa dengan udara sejuk tepat di kaki gunung bintan.  kamu dapat mencapai Poyotomo Dari Tanjunguban maupun dari Kota tanjungpinang melalui Jalan Lintas Barat Pulau Bintan, Tiket masuk relative terjangkau, 10rb untuk Dewasa dan 5rb untuk anak anak.

Pantai Trikora

destinasi

Hamparan pasir putih di garis pantai yang panjang, laut berwarna biru dgn gradasi toska, dan batu batu granit yang besar di tepian pantai, menjadi ciri khas dari pantai trikora di Pulau Bintan. Trikora adalah salah satu pantai yang wajib kamu kunjungi jika berpelesir ke bintan. Pantai terbentang memanjang sejauh 25 kilometer, hingga terbagi menjadi empat bagian, orang local mengenal dengan sebutan Trikora 1, Trikora 2, Trikora 3 dan trikora 4, Trikora 4 adalah yang paling terkenal banyak di kunjungi wisatawan. Sementara dari Trikora 1 hingga tiga berdiri di tepian pantai resort resort dan juga kampong nelayan.

Dari kota tanjungpinang kamu akan menempuh jarak kurang lebih 45 Km untuk sampai diujung trikora. Trasnportasi umum sangat terbatas disana, untuk kesana dengan waktu yang leluasa, kamu harus menyewa kendaraan.

 

Vihara Patung 1000

Viharapatung1000

Kita Disambut oleh sederetan para arahat  yang ditemukan di dalam Vihara Ksitigarbha Bodhisattva. Setiap patung batu  seperti hidup, dengan ekspresi dan mimic muka yang unik satu sama lain. Suasana di lingkungan vihara seakan akan membawa seakan akan melancong ke negeri tiongkok, Vihara patung seribu terletak di dataran tinggi, sehingga suasana di vihara ini cukup unik. Sejatinya jumlah patung tidaklah mencapai 1000 patung, namun hanyalah sebutan saja, mengingat jumlahnya terlihat sangat banyak, padahal jumlah patung hanyalah ratusan saja.

Vihara Patung seribu anda dapat capai hanya 15Km dari pusat kota tanjungpinang, jika dari bandara Raja Haji Fisabilillah sangat dekat sekali, Vihara Terletak di jalan Asia Afrika Kota Tanjungpinang.

 

 

 

 

Note : Kamu butuh local guide atau sewa kendaraan di bintan, call / WhatsApp +6281372670414

 

 

Iklan

Memberi Ruh Wayang Cecak

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Zulfianda memukul gendang dengan tempo pelan, sementara gesekan biola Azni melantunkan nada lirih membuka pertunjukan wayang cecak petang hari itu.

Di tangan Rizwan dua boneka terpasang, kedua boneka kayu itu di gerakkan kedua tangannya, seakan akan ditiupkan ruh kepada kedua boneka itu.

Alkisah berabat lalu, Chadijah Terong, memulai memainkan wayang cecek untuk anak anak tionghoa di tanjungpinang, chadijah terispirasi memainkan wayang dari opera cina yg di mainkan orang orang keturunan tionghoa di tanjungpinang.

dalam pertunjukan wayang cecak, pesan pesan dan nilai luhur kehidupan kerap ia sampaikan. Namun sayang, Setelah Chadijah wafat, tiada seseorang pun yang meneruskannya , hingga wayang cecak pun tan pernah dimainkan lagi berabad lamanya. sehingga suatu ketika di tahun 2017 pada saat Festival Pulau penyengat, Pertunjukan wayang ini kembali di gelar.

Hingga kini, generasi penerus di pulau penyengat seperti Azni, zulfiandi,Rizwan dan pemuda pulau penyengat lainnya, tengah berjuang untuk selalu memberi ruh kepada wayang cecak yang hampir mati itu.

Dabo Singkep, dan Saksi Mata Sepeda Tua

 

Dabo, Kota ini pernah jaya lewat kandungan timah dalam buminya. Lebih dari satu setengah abad tambang memberikan kemakmuran. Tidak hanya pada tuannya, juga pada masyarakat sekitar. Pun pada hari itu, Dabo singkep dikenal satu dari sekian kota maju yang ada di daerah Riau masa itu.

Tetapi, kejataan mana yang abadi. Tidak juga dengan timah di dabo. Senjakala itu tiba pada 1992. Seketika, orang orang pergi daei sana. Kejayaan yang pernah ada dan menghidupi generasi ke generasi itu tiba tiba runtuh. Sejak itu Dabo tidak pernah lagi sama.

Setelah lebih dari satu dekade berselang, kejayaan itu belum juga terulang. Yang bisa dilihat hari ini adalah sisa sisa, puing-puing, tapak – tilas, dari sebuah kota yang pernah riuh dengan kekayaan tambang. Ada gedung gedung tua bekas pabrik yang masih berdiri kokoh, Ada pula disisi lain kantor, rumah sakit. Gereja. Tugu dan juga sepeda.

Saksi mata atas kekayaan Dabo tidak hanya melulu bangunan yang masih berdiri. Sepeda juga punya posisi yang sama. Unit demi unit didatangkan sebagai alat transportasi pekerja. Kebanyakan buatan inggris. Sebut saha jenama ternama macam Raleigh, BSA dan Philips yang usianya beda tipis dengan kemerdekaan negeri ini.

Sepeda-seped itu masih terawat di tangan-tangan warga, selain karena nilai ekonomi yang tinggi di kalangan kolektor, sebagian juga memilih merawat besi tua ini lantaran mengenangkan mereka pada kejayaan Dabo yang pernah ada. Memang, adakah yang lebih menyenangkan dari pada berkeliling kota dengan sepeda tua seraya mengingat masa-masa kejayaan yang pernah ada? Sukar di cari tandingannya.

 

——- telah di terbitkan oleh Tanjungpinang pos edisi 25/08/18

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Kemeriahan BAJAFASH 2018, Penantian yang Terbayar Lunas

DSC_4529

Pagelaran busana dan panggung musik Jazz tentu akan menjadi salah satu hal menarik dan unik untuk di saksikan. “Hallo Batam…..BAJAFASH is On….!”. Di buka dengan kolaborasi yang memukau dengan penampilan The Lightcraft band dan sederetan penampilan pagelaran busana yang di peragakan model model batam, hasil karya designer lokal kota batam pula, mereka adalah  Natasya Rofalina, Feby Erika dan IWAPI Batam. Acara berjeda sejenak hingga usai makan malam,  suasana senja nan temaram seketika semarak kala penampilan Janine Annice penyanyi jazz wanita asal inggris. Janine membawakan tiga lagu andalannya, meski penonton tampak tak begitu familiar dengan nama Janine, namun materi lagu yang di pilih oleh nya mampu membuat penonton hanyut dalam suara lembut nya.

Balawan dengan group musik etnik Bali nya tampil menghentak setelah penampilan Janine, permainan gamelan Bali Balwan nan energik di padu dengan teknik tapping pada gitar double neck nya mampu membuat penonton hanyut dan terpukau, “Forest” dan “Keroncong kemayoran” salah satu lagu yang di suguhkan Balawan. “Bagus Bagus”, brand busana karyaWike Dwiharti di tampilkan saat balawan tampil, perpaduan musik etnik dan fashion konsep entik yang benar benar ter-ramu dengan baik di panggung BAJAFASH malam itu. Rudy Djoe, penyanyi singapura tampil kemudian di BAJAFASH, penampilannya seakan tak menginginkan kemeriahan malam ini terhenti, Rudy Joe berhasil membuat penonton bergoyang dengan Jazz melayu ciri khas Joe. Fatwa Pujanggga adalah salah satu lagu yang dibawakan Rudy Joe. Penonton seakan tak rela Joe harus mengakhiri penampilannya, “lagi…Lagi…Lagi…” teriak penonton. Penampilan joe dilanjutkan penampilan penyanyi senior asal malaysia Kadijah Ibrahim, kontras dengan suara Djoe yang lembut, Kadhijah langsung tampil dengan lagu dengan tempo cepat dipadu dengan suaranya yang yang powerfull, penonton terpukau akan penampilan penyanyi wanita yang telah 40 tahun berkarya dibidang musik itu.

Malam memang telah larut, namun Vanue BAJAFASH masih tetap semarak, bahkan semakin semarak. Penampilan penyanyi bertubuh mungil asal singapura Amelia Ong tak lantas menurunkan gegap gempita suasana festival Jass dan Fashion itu. Amelia boleh saja tampilannya “imut”  namun iya energik diatas panggung, lagu-lagu bertempo cepat di pilih nya, seakan akan tubuhnya tak dapat berhenti dihipnotis nada nada swing jazz yang membius,  penampilan amelia memberikan energi di tengah malam itu.

Tak Terasa pesta BAJAFASH malam itu telah sampai diujung, namun justru ini lah yang sangat di nanti nanti oleh warga batam, penampilan penyanyi Jazz senior Indonesia Syaharani. Rani juga langsung tampil dengan lagu bertempo cepat, tak betah berada di lini belakang panggung bersama band, Saharani langsung memancing adrenalin penonton dengan di ujung panggung, mengajak mereka menari bersama menikmati alunan musik, penonton histeris, mereka berasa dekat dengan penyanyi legendaris itu, syaharani seakan bernyanyi bemar-benar di samping mereka. Penampilan Syaharani diikuti oleh penampilan sederetan model model yang memperagakan busana karya designer ternama Jossy Latu, Busana dengan tema “Batik history” itu di tampilkan secara bergantian. Jossy pun tampil diujung pargelaran , menari bersama syaharani.

Syaharani kemudian tampil berkolaborasi dengan seluruh bintang tamu BAJAFASH, di pada akhir pertunjukan, Steve Torhton, Rudy Joe, dan Datok Nik Azmi tampil sepanggung bersama Syaharani. Pertunjukan di tutup dengan apik, sungguh penantian beberapa bulan ini terbayar lunas malam ini, Penonton seakan tak rela pesta malam itu berakhir, tapi beruntung nya para penonton tidak perlu kecewa, karena malam selanjutnya masih akan banyak lagi musisi musisi hebat akan tampil lebih spektakuler lagi, di tambah penampilan penyanyi Glen Fredly.

Pinang Paleo, Outlet Oleh-Oleh “kekinian” dari Tanjungpinang

DSC_3321

Pukul 10 Pagi, Outlet Oleh-Oleh di jalan DI.Panjaitan Batu 9 Tanjungpinang itu tampak semarak dibanding toko toko di sekitarnya. Oranmen berwarna hijau muda dan putih menghiasi area outlet, balon warna-warni di rangkai sedemikian warna dan rupanya, sehingga tampak semarak. Outlet belum lagi di buka, tapi kesibukan beberapa karyawan telah nampak, sedangkan pembeli telah berkumpul sejak pagi hari di halaman Outlet, bahkan ada yang mengaku sudah datang dari pukul 8 pagi untuk mengantri. Apa yang mereka Tunggu dan seberapa pentingkah mereka datang lebih awal…?

Pagi Ini adalah Grand opening Outlet “Pinang paleo”, outlet oleh-oleh  Khas kota Tanjunginang yang telah di nanti nanti oleh penikmat kulliner tanjungpinang, Rasa penasaran akan product  Cake andalannya yang telah ramai menjadi topik perbincangan di media sosial beberapa bulan belakangan.  Sejak januari, foto-foto Cake Pinang Paleo telah beredar di laman-laman instagram para selebgram dan flood blogger kota tanjungpinang. Perpaduan warna dan bentuk pada foto foto cake  di halaman instagram tersebut amat sangat mengudang selera.  seorang warganet Ali Muakhir berkomentar di laman sebuah blog tentang Pinang Paleo  “Asli Langsung ngiler lihat jajaran tampilannya yang menggoda” .

Disamping itu, Management Pinang Paleo telah merencanakan agar hari grand Opening ini akan berkesan bagi pelanggan mereka, tak  tanggung tanggung, Artis Sinetron Tomy Kurniawan di datangkan langsung ke tanjungpinang untuk menyambut costumer pertama Pinang Paleo. Pelanggan mana yang tak berebut untuk jadi yang pertama di layani oleh artis yang tampan itu, berkorban bangun lebih pagi pun tiada masalah rasanya, asalkan dapat menjadi pembeli pertama dan dilayani Artis pula.

Pukul 10.30, Mobil Mewah berwarna putih berhenti di Depan halaman outlet Pinang paleo, seorang karyawan berseru, itu mobil Tomy, sontak saja para pengantri yang telah mengular itu bubar, ganti mengerumuni mobil yang mengantar tomy, “Tomy…Tomy…Tomy…” sorak sorai warga yang di dominasi ibu-ibu itu. Para pegawai toko harus terpaksa mengambil sikap sebagai satuan pengaman Bagi Tomy, banyak dari mereka histeris, berebut mendapatkan foto di tengah kerumunan “Tenang…. tenang… tenang…. kita kasih Tomy Lewat dulu Ya….” ucap seorang pegawai melerai.  Tomy Hermawan Di sambut oleh pimpinan Pinang Paleo di depan Outlet, Pimpinan memasangkan tanjak di kepala Tomy sebagai bentuk ucapak selamat datang dan sebuah penghotmatan. Sebelum masuk ke Toko Tomy menyapa para penggemar nya yang sekaligus para pengunjung Outlet Pinang Paleo, dan pada moment tersebut Tomy mengungkapkan kekagumannya akan KEPRI. ”Sebelum Mendarat, saya melihat banyak pulau pulau cantik dari udara, saya rasanya ingin memiliki waktu lebih lama disini untuk berkeliling menikmati keindahan alam nya ” ungkap Tomy. Selain itu Tomy menanyakan, apa nama benda yang di lekatkan di kepalanya ini, Seseorang menjelaskan itu adalah tanjak, sebuah tanda penghormtan  bagi tamu di tanah melayu, Tomy terkagum dan ia merasa lebih tampan menggunakan Tanjak.

Lepas menyapa para pelanggan, Tomy dan staff Pinang Paleo masuk kedalam outlet, para pelanggan segera membentuk antrian, seorang wanita muda telah beruntung berada di barisan paling depan menjadi pelanggan pertama, dari balik meja pejualan, Tomy telah menanti dengan karangan bunga untuk sang pelanggan pertama, keriuhan di di dalam outlet bergema, para pengunjung bersorak sorai dan antrian tetap panjang mengular, macet.. lantran pelanggan ambil kesempatan ber swafoto bersama sang arti tampan itu.

4 Maret 2018, Pinang Paleo Telah Resmi Di buka. Sekarang, Warga tanjungpinang atau para pelancong tak usah bersusah payah lagi menemukan tempat membeli oleh oleh. Cake Pinang paleo Outlet bisa menjadi buah tangan anda dari kota Tanjungpinang. Dengan Tagline “Oleh-Oleh Tanjungpinng Kampong Kite” Diharapkan  menjadi rujukan yang mudah diingat, ingin membeli Oleh-oleh di Tanjungpinang, langsung ingat Pinang Paleo.   Cream Chesee Cake  adalah Produk andalan yang di jual di Outlet ini, Cake ini Lebih  di kenal dengan istilah “Cake kekinian”. “Cake Kekinian” Pinang Paleo tersedia dalam beberapa varian  rasa, diantaranya Coklat, Hazelnut, Durian. Green teaRed Valvet dan  cheese. Disamping cake Pinang Paleo Outlet ini menyediakan beragam jenis oleh oleh dari tanjungpinang dan KEPRI, Dominasi produk adalah  produk produk UKM, jadi tak usah kemana mana lagi, mencari oleh-oleh  cukup disini, semua urusan oleh oleh Tersedia Di Pinang Paleo.

 

BAJAFASH 2018, Festival Jazz dan Fashion Internasional di KEPRI

Meskipun musik Jazz bukanlah musik yang berasal dari negeri ini, namun keberadaannya terus berkembang hingga hari ini di Indonesia. Indikasi ini terlihat dari tumbuhnya konser konser musik jazz di tengah masyarakat indonesia, sebut saja  “Java Jazz Festival” yang telah berhasil melambungkan nama indonesia di kancah musik Jazz internasional. Makin me-masyarakatnya musik Jazz di tanah air di tandai juga bermunculan nya konser konser musik Jazz dengan konsep konsep unik di bebeapa daerah di tanah air, diantaranya Jazz Gunung, konser musik Jazz diatas gunung yang dilaksanakan di Bromo, Prambanan Jazz, konser musik Jazz dengan latar bangunan bersejarah di candi Prambanan, Jazz Go To Campus oleh Universitas Indonesia dan Ngajogjazz, konser musik Jazz  dengan konsep sederhana yang dilaksanakan di desa desa wisata jogjakarta.

 

BAJAFASH, Jazz Festival nya KEPRI

Tahun ini adalah tahun ke-4 di gelarnya salah satu Festival musik Jazz tingkat international bertajuk “BAJAFASH 2018” di KEPRI, sebuah  event yang di Produksi oleh talenta lokal kota Batam, provinsi Kepulauan Riau, meng-kolaborasikan antara festival musik jazz dan peragaan Fashion show secara bersamaan. Bajafash siap mengobati kembali kerinduan penggemar-nya akan atmosfer festival Jazz yang di kemas secara baik, berkelas, sederhana, cerdas dan juga edukatif.  Ber-temakan “Representing Diversity South-East Asia”, Bajafash 2018 ingin menjadi suatu upaya untuk menyatukan keragaman negara-negara di Asia Tenggara melalui musik dan fashion .

Setiap tahun nya Bajafash berusaha menampilkan sesuatu yang baru. Di Bajafash 2018 ini telah direncanakan diselenggarakan di Batam View Beach Resort dengan konsep “Bajafash By The Sea” pada hari Sabtu dan minggu, 16-17 Maret 2018 .

Bajafash By the Sea adalah salah satu rangkaian dari Bajafash 2018 yang sangat sayang jika di lewatkan khususnya bagi musisi lokal. Pada 17 Maret 2018 , bertempat di Batam View Beach Resort, Bajafash akan membuat Music Camp untuk para pengunjung yang tertarik untuk belajar menggunakan alat musik dan atau ingin mendalami alat musik itu dengan target peserta music camp dari tanah air dan mancanegara yang akan dimentori oleh musisi musisi yang sudah mempunyai nama di wilayah ASIA. Music camp tersebut nantinya akan ditutup dengan jamming session dan dilanjutkan dengan beberapa penampilan dari musisi malaysia dan Indonesia, dan Tentunya penampilan tersebut akan dikolaborasikan dengan fashion show dari beberapa designer. di waktu yang terpisah akan di gelar pula dialog yang sangat bermanfaat bagi perkembangan industri musik negara serumpun malaysia Indonesia dan Singapura.

Mengingat posisi Kota Batam yang sangat strategis di Wilayah perbatasan negara serumpun, Bajafash akan menjadi wadah bagi para pelaku industri musik nasional untuk dapat masuk ke pasar industri musik Asia Tenggara. Musik dan fashion merupakan komoditas industri yang menjanjikan dan mempunyai potensi untuk menjadi jauh lebih besar. Terselenggaranya Bajafash ini diharapkan juga membuka peluang bagi investor asing untuk menanamkan modalnya di batam dalam bidang ini, sekaligus meningkatkan jumlah kujungan wisata asing maupun wisatawan ke kota batam.

 

 

[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 13)

Rupanya “LP” itu tak begitu jauh dari Museum Linggam cahaya. Tentu saja… jika masih di dalam kota daek ini kemana mana tak terasa jauh, karena kotanya kecil saja. Bang Fauzi memandu kami dengan sepeda motor  menuju Penginapan., kami diantarkan nya ke Wisma Lingga pesona di Jl. Datuk Laksamana No 09 Daek lingga. Sebuah Wisma tua dengan bangunan kayu yang lebih menyerupai kedai kedai pencinaan disebuah kota lama.

Menurut bang Fauzi, Lingga pesona adalah penginapan yang pertama yang ada Daek. Bangunan Wisma lama terletak di jalan Datuk Laksamana no 09 ini. sampai sekarang, bangunan wisma lama tersebut masih di pertahankan hingga kini dan masih di gunakan untuk pengunjung,  Sedangkan bangunan wisma baru di bangun memanjang tersambung dengan bangunan wisma lama, sehingga kedua bangunan tersebut terhubung. Saya masuk dari pintu bangunan wisma lama dan berjalan menuju reception yang berada di bangunan wisama baru, suasana perubahan bangunan ini dari waktu kewaktu amat sangat terasa ketika saya menelusurinya. Sebuah kamar dengan harga sewa 70 ribu rupiah permalam yang terletak di bangunan wisma lama kami pesan, kamar hanya terdiri dari dua tempat tidur sebuah lemari dengan kipas angin tergantung di langit langit kamar, cukup nyaman buat pe-“touring” “budget mepet” seperti kami.

Sepeda kami parkirkan di dalam gudang wisma yang berada di lantai dasar, semua barang bawaan telah di turunkan dari rak, sepeda telah di kunci dan pannier kami pindahkan kedalam kamar.

Bang Fauzi pun berpamitan setelah semua perlengkapan kami simpan di dalam kamar. “nah… silahkan istirahat dulu, nanti malam kita wisata kuliner ” tandas nya mengakhiri perjumpaan dengan kami senja hari itu.

Magrib telah usai, namun rintik hujan terus saja membasahi bumi bunda tanah melayu itu, awan seperti tak kuasa menahan bebannya, seperti air mata bunda yang mengiringi kepergian anak nya untuk selama lamanya, , kadang dapat di tahan, tapi kemudian mengalir jua.

 

Makan malam “hikmat”, ayam goreng sambal Mercon

Hari mulai gelap, angin dingin dari dinding dinding bukit yang melingkungi kota daek berhembus hingga dinginnya menusuk sampai ke tulang, perut yang sudah kosong membuat situasi seakan makin “sempurna” nelangsanya. Saya dan pak Budi memutuskan untuk tidak menunggu ajakan bang Fauzi, urusan perut ini sepertinya tidak dapat di tunda lagi.kami bergegas tinggakan kamar wisma untuk mencari penambal dinding dinding lambung ini.  Bersamaan dengan itu pula bang Fauzi baru saja tiba di depan wisma hendak menjemput kami, dayung ternyata bersambut.

Bang Fauzi dan seorang teman bernama Ferdy menjemput kami dengan sepeda motor untuk berwisata kuliner di kota daek. Pak Budi di bonceng oleh bang fauzi sedangkan saya bersama Ferdy. Di atas kendaraan yang melaju,  Ferdy dan saya berkenalan untuk pertama kali,  saya ketahui beliau berkerja untuk pemerintah mengawasi terumbu karang di perairan kabupaten lingga, sebenarnya bang Fauzi dan bg ferdy ini penjelajah alam lingga,  sudut mana yang mereka belum pernah jelajahi di lingga ini, dari daratannya  hingga dasar laut telah di telusurinya.

Sepeda motor berhenti di sebuah halaman rumah yang telah di tata sedemikian rupa hingga menjadi kedai makan, “Kedai sambal Mercon” namanya. Mendengar namanya saja air liur saya seakan tak sadar meleleh. Ini sepertinya akan menjadi makan malam yang “serius”, panas dan berkeringat.

Kami memilih duduk disebuah gazebo di halaman kedai, ukurnnya satu meja pas untuk kami ber-empat. Bang fauzi menepukkan kedua tangganya memanggil pelayan kedai, seketika dengan sigap pelayan kedai datang membawa daftar menu dan sebuah buku catatan, 3 porsi ayam goreng dengan sambal mercon di pesan bang Fauzi, sedangkan bg Ferdy memesan semangkok mie rebus. di gazebo kami “berbual” mengulur-ulur rasa lapar, namun  menu yang di pesan tak secepat datangnya si pelayan pembawa daftar menu itu. Sungguh kesabaran sang kelapran ini sedang diuji.

Akhirnya yang di tunggu tunggu pun datang, “Nah…jom kita makan” kata bang Fauzi, tanpa menunda waktu urusan mengisi perut segera kami tuntaskan, hening tanpa bersuara. hanya terderngar sesekali suara benturan gelas dan piring dari meja makan. Sambal mercon ini jadi pelampiasan hasrat “makan Besar” seharian ini, seingat saya seharian ini hanya makan mie instan tengah hari tadi di Air terjun resun. pantas saja rasanya dua orang pesepeda ini terlihat kalap  malam ini, sampai sampai pak budi pun meminta tambah satu porsi.

 

Jelajah Lingga dari Meja Makan

Kami berdua tak akan banyak punya waktu untuk berkeliling kota Daek, dikarenakan waktu yang terbatas . Esok pagi pagi sekali kami harus mengejar penyebrangan menuju Pulau singkep dengan menumpang kapal Roll and Roll (RORO) dari pelabuhan Penarik. Menurut bang Fauzi, kapal akan berangkat pukul 11 siang dari pelabuhan penarik (Lingga) ke Pelabuhan Jagoh (Pulau Singkep),

Saya hanya memendam harapan untuk mengenal lebih jauh negeri bunda tanah melayu ini, tapi beruntung nya saya berjumpa dengan dua orang yang akan membawa saya “berkelana” imajinasinya  menelusuir kepulauan lingga dengan kisah perjalanan mereka dari meja makan ini. Bang fauzi dan Ferdy adalah sebagian dari generasi muda lingga yang aktif memperkenalkan keindahan alam dan budaya Lingga lewat media internet. Jangkauan jejalah mereka akan kepulauan  Lingga  tiada yang meragukan , daratan hingga dasar laut kepulauan lingga telah mereka sambangi. Jika tak percaya coba singgahi akun Instagram mereka @said_fauzi_dive dan @ferdyoi.

Dari meja makan malam itu mereka bercerita bagaimana mereka hidup beberapa hari di perkampungan suku laut di kepulauan senanyang, menyelami dasar laut menemukan warna warni terumbu karang, menari nari dengan berbagai jenis ikan dan menikmati keheningan di dasar laut kepulauan lingga. Menikmati indahnya matahari terbit di puncak permata, kisah kisah ekpedisi pendakian gunung Daek, serta pantai pantai indah nan sepi, tersebunyi dan tak terjamah di kabupaten kepulaun Lingga. Sungguh cerita mereka membuat perasaan ingin kembali lagi suatu hari.

 

Melewatkan Malam Di Taman Tanjungbuton

Sudah pukul 10 malam, bang fauzi dan Ferdy menawarkan saya untuk menikmati suasana malam di kota nya, meskipun kantuk sudah menyerang namun saya terima saja tawaran mereka. Tak ada salahnya melawan kantuk sejenak untuk sebuah cerita yang akan di bawa pulang tentang daerah yang baru saya  kenal ini. Bang Fauzi dan Ferdy mengajak kami ke tempat dimana orang orang kota daek “kongkow” melewatkan waktu malam sebelum mata mengantuk, Mereka ajak kami ke sebuah taman terbuka, sebuah taman bernama “TB” alias Taman Tanjungbuton

Taman Tanjung buton adalah sebuah taman yang terletak persis di depan pelabuhan Tanjung Buton. Pelabuhan ini merupakan salah satu gerbang utama untuk menuju Daek, meskipun keberadaan pelabuhan penarik juga menjadi alternatifnya sebagai pintu masuk ke pulau lingga, namun nama pelabuhan tanjungbuton lebih populer sebagai sebuah pintu gerbang.

Warga tampak bersantai di sekitaran taman yang di kiri dan kanan nya adalah lautan itu, muda mudi bercengkrama, sebagian dari mereka duduk duduk diatas sepeda motor yang terparkir di pinggir pinggir jalan. “ini adalah salah satu tempat terbaik menikmati sunset di kota ini” ujar bang Fauzi. Namun di kiri dan kanan jalan saya tak melihat apa apa melaikan gelap lautan.

Malam itu terdapat suatu keramaian di tengah jalan, tepat di depan gerbang pelabuhan tanjungbuton, sebuah panggung hiburan sederhana berdiri,  panggung dengan banner besar bermotif warna merah kuning hijau layaknya bendera negara Jamaica, jelas sepertinya akan ada pertunjukan musik Reggae disini, saya sempat berfikir bagaimana musik dari benua afrika itu bisa sampai ke negeri yang tersuruk di seberang laut dan di balik gunung ini, ah sudahlah… kabar  seperti apa sekarang ini yang tak dapat di ketahui sampai ke pelosok negeri, kalau jaringan internet sudah menjangkaunya, segala informasi bahkan idologi macam apapun akan sampai jua ke ujung negeri. Kami memilih untuk menikmati sajian musik yang dekat dengan kaum Rastafarian itu

Di atas panggung berdiri pria dengan suara lantang, tanpa pengeras suara pun suaranya terdengar keras, ia  berbicara laksana orator demonstrasi, ucapan ucapan menyuarakan perlawanan generasi muda terhadap generasi generasi tua yang korup, penindasan, dan ke-tidakadilan pemimpin. namun entah siapa orator itu, dan  pada siapa orasinya ia tujukan saya tidak memahaminya, yang jelas panggung musik reggae belum juga kunjung dimulai.

Tak lama setelah orasi, beberapa bujang dan gadis belia berbusana melayu meliuk liuk menari dengan tarian melayu yang lincah di depan panggung. Meksipun panggungnya ber-“aroma” Jamaica, namun Identitas melayu tetap di taruh di muka. Setelah semarak musik dan gerakan tarian melayu yang enerjik tampil di hadapan masyarakat kota daek, suasana seketika hening, seorang penyair tampak bersiap membacakan sajak

 

“Puncak Permata”

Di ketinggian ini
ingin kuceritakan kepadamu tentang isyarat langit yang bercakap-cakap dengan laut, sejauh mata memandang semuanya hijau dan biru.

 

Seketika saya ingat penggalan bait sajak itu, rasanya pernah saya baca sebelumnya, dimana saya membaca pun saya tidak ingat. “Ia adalah Nofriadi Putra, ia piawai menulis syair dan puisi  ”  kata bang Fauzi, “Pria berdarah minang yang sudah lama tinggal di sini, mungkin cinta nya akan tanah kelahirannya serupa sebagaimana ia mencintai tanah rantaunya ini” bang fauzi menjelaskan. Wah… saya sungguh merasa beruntung, bisa mendengarkan lantunan sajak indah yang pernah say abaca,  yang kemudian di bacakan oleh penulisnya sendiri, dan sungguh tidak terduga.

Nofriandi membacakan bait-bait sajak dengan nada tenang, Saya menikmati bait demi bait sajak berjudul “Puncak Permata” itu.  Saya membayangkan, mungkin saja Nofriadi menulis bait bait sajak itu ketika ia sedang duduk menikmati indahnya bentang alam kepulauan lingga dari puncak permata itu.  Mungkin saja…

Nofriandi mekahiri puisinya, suasana hening berganti riuh tepukan tangan penonton yang berkumpul di depan panggung. Mata saya mengantuk di buai angin bait bait sajak Nofriandi dan juga henbusan angin laut. Karena tak kuasa lagi menahan kantuk, kami pun bergegas pulang meninggalkan panggung musik  ber aliran impor dari benua afrika itu.

Esok Pagi pagi sekali kami harus mengayuh sepeda kembali menuju Pulau singkep.

Terima kasih bang Fauzi dan Ferdy atas satu malam di Daek Lingga yang tak terlupakan…

 

Bersambung…..

Update : Wisma Lingga Pesona (LP) sebagain bangunannya telah habis terbakar pada sebuah kebakaran hebat yang melanda perkampungan cina di Kota Daek pada tanggal 28 november 2017). termasuk kamar kami menginap dan bangunan yang terdapat pada foto diatas