Dabo Singkep, dan Saksi Mata Sepeda Tua

 

Dabo, Kota ini pernah jaya lewat kandungan timah dalam buminya. Lebih dari satu setengah abad tambang memberikan kemakmuran. Tidak hanya pada tuannya, juga pada masyarakat sekitar. Pun pada hari itu, Dabo singkep dikenal satu dari sekian kota maju yang ada di daerah Riau masa itu.

Tetapi, kejataan mana yang abadi. Tidak juga dengan timah di dabo. Senjakala itu tiba pada 1992. Seketika, orang orang pergi daei sana. Kejayaan yang pernah ada dan menghidupi generasi ke generasi itu tiba tiba runtuh. Sejak itu Dabo tidak pernah lagi sama.

Setelah lebih dari satu dekade berselang, kejayaan itu belum juga terulang. Yang bisa dilihat hari ini adalah sisa sisa, puing-puing, tapak – tilas, dari sebuah kota yang pernah riuh dengan kekayaan tambang. Ada gedung gedung tua bekas pabrik yang masih berdiri kokoh, Ada pula disisi lain kantor, rumah sakit. Gereja. Tugu dan juga sepeda.

Saksi mata atas kekayaan Dabo tidak hanya melulu bangunan yang masih berdiri. Sepeda juga punya posisi yang sama. Unit demi unit didatangkan sebagai alat transportasi pekerja. Kebanyakan buatan inggris. Sebut saha jenama ternama macam Raleigh, BSA dan Philips yang usianya beda tipis dengan kemerdekaan negeri ini.

Sepeda-seped itu masih terawat di tangan-tangan warga, selain karena nilai ekonomi yang tinggi di kalangan kolektor, sebagian juga memilih merawat besi tua ini lantaran mengenangkan mereka pada kejayaan Dabo yang pernah ada. Memang, adakah yang lebih menyenangkan dari pada berkeliling kota dengan sepeda tua seraya mengingat masa-masa kejayaan yang pernah ada? Sukar di cari tandingannya.

 

——- telah di terbitkan oleh Tanjungpinang pos edisi 25/08/18

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Iklan

Jelajah Lingga Bersepeda (prolog)

img_20170131_130339_801_wm

Keseimbangan Hidup

Jika hidup ibaratkan sebuah perjalanan,  tidak ada yang bisa menjamin selalu di jumpai jalan yang mulus dan menyenangkan, terkadang jalan yang dilalui terjal berliku dan melelahkan, penuh kerikil bebatuan, jatuh terluka meskipun telah berhati hati, tersesat pun kadang sesuatu yang mungkin saja terjadi terjadi. Ada kalanya kita berbahagia dan bersuka cita ketika dihadapi  jalan yang mulus dan menyenangkan, tapi tak jarang pula ratap dan tangis ketika yang dihadapi adalah  perjalanan yang sulit. Sering kali kita dihadapi dalam pilihan yang sulit dalam perjalanan hidup, tak dapat menghindar dan menolak  kesukaran yang dijumpai, tiada pilihan, jika ingin tetap sampai ke tujuan, mau tidak mau harus dilewati. Sebagai manusia, hanya bisa berusaha sekuat tenaga melewati setiap halang rintang, terus berusaha ketika gagal, berhenti sejenak ketika lelah, kemudian terus mencoba berjalan kembali.

Di suatu ketika, saya berada di fase perjalanan kehidupan yang melelahkan, kondisi stagnan berkepanjangan menghasilkan perasaan jenuh dan bosan, membuat hari hari rasanya begitu melelahkan, jenuh akan pekerjaan, rutinitas dan lingkungan yang tidak menyenangkan. Meskipun perasaan demikian  adalah hal wajar, namun Jenuh dan bosan dalam waktu berkepanjangan perlahan lahan di rasakan memperlihatkan gejala yang tidak baik bagi kehidupan saya, turun nya motivasi, rasa malas yang akut serta merenggang nya hubungan dengan orang lain.

Saya menyadari  diri saya telah lelah,  saya butuh istirahat, saya butuh ruang bagi jiwa, raga dan fikiran saya untuk mendapatkan kembali hak nya, saya butuh  pengalaman baru yang memperkaya pengalaman dan fikiran saya, saya butuh keseimbangan hidup. Untuk itu saya memutuskan untuk menarik diri  dari rutinitas kehidupan, saya butuh waktu untuk menyendiri, butuh ruang  untuk bercakap cakap dengan diri saya, merasakan kedekatan dengan sang pencipta dan mendapatkan kekuatan baru ketika kembali ke rutinitas semula.

Bersepeda Bintan- Lingga

suatu ketika saya pernah berangan-agan ingin mengunjungi pulau pulau di  KEPRI  ini dengan bersepeda, terutama pulau pulau besarnya.  meskipun saya sendiri tidak tahu pasti kapan niat tersebut saya mewujdkan , jangankan hendak mewujdkan, memulai nya saja belum  tahu kapan akan saya lakukan.  Akhirnya,  beberapa bulan yang lalu, perusahaan tempat saya berkerja mengumumkan untuk melakukan efisiensi, bagian personalia  meminta secara sukarela kepada karyawan untuk mengambil hak cutinya, minimal  satu hari di bulan itu. Nah… ini saat yang saya nanti nanti, akhirnya saya di beri kesempatan untuk  beristirahat keluar dari rutinitas, sekaligus saya berencana memanfaat kan kesempatan ini untuk dapat  mewujudkan niat  yang sudah lama saya agan agankan itu,  sadar tidak sepenuhnya niatan itu rasanya dapat di wujudkan dalam jatah cuti yang singkat itu, tapi  paling tidak saya sudah mencoba mewujdukan, ketimbang agan-angan itu saya kubur dan menua bersama saya.

Dengan menimbang jatah waktu libur yang hanya empat hari , akhirnya bersepeda menuju Pulau Lingga dan pulau Singkep adalah yang paling memungkin kan saat itu.. Perjalanan dimulai  dari Tanjunguban, kota kecil  di sebelah utara pulau Bintan  tempat saya menetap 10 tahun terakhir ini. dalam perjalanan yang telah di lalui itu, tercatat  257 kilometer selama 4 hari  bersepeda antara pulau Bintan, Pulau Lingga dan pulau Singkep. Tiga kali menyebrang laut dari tanjungpinang ke Sungai Tenam (Pulau Lingga),  Penarik (pulau Lingga) ke Jagoh (pulau Singkep), dan kembali pulang melewati  Jagoh (pulau Singkep) ke tanjungpinang (pulau Bintan).

Travelling give you cool story,  sebuah kalilmat yang saya selalu teringat ketika usai melakukan sebuah perjalanan. Pengalaman, cerita  dan pelajaran  dalam sebuah perjalanan biasanya begitu sulit dilupakan  dan akan  membekas diingatan sampai kapanpun bagi yang melakukannya, maka dari itu, kenangan selama 4 hari bersepeda ini selain akan selalu saya simpan dalam ingatan, juga akan coba saya tuliskan dalam sebuah catatan perjalanan pribadi, meskipun saya tak begitu piawai dalam menulis, harapan saya semoga catatan ini dapat memberi  bermanfaat bagi  diri saya pribadi dan teman teman pembaca lainnya…

Bersambung…..

Gowes Gembira, Tanjunguban-Lagoi

Pagi pagi sekali pukul setengah enam, matahari sudah memantulkan cahaya merah di langit sebelah timur, kurang lebih 27 orang telah berkumpul di halaman Pak Rudi, semuanya lengkap berkostum layaknya pembalap sepeda dan tentu saja dengan sepeda nya juga. mereka berkumpul pagi ini yang pasti tidak untuk parade sepeda hias atau bahkan unjuk rasa menuntut apa atas siapa,  pagi itu para “goweser” (penghobi bersepeda) yang tergabung dalam komunitas sepeda bernama “Uban Go” itu hendak  melakukan kegiatna gowes bareng dengan misi “Gowes Gembira”. Tidak perlu cepat cepatan, yg pentin, semua bahagia dan menikmati perjalanan touring sepeda sambil berwisata rute Tanjung Uban – Lagoi, sejauh 70an kilometer pulang pergi pagi ini.

dsc_7332

dsc_7338

Pukul 07.00 usai sarapan bubur kacang hijau yang sudah di siapkan koordinator gowes bareng, peserta berkumpul berdiri membentuk lingkaran, sedikit  mendengarkan breafing untuk kelancaran kegiatan gowes dari pak Rudi  yang kebetulan waktu itu selaku “komandan regu” kami. Usai brefing dilanjutkan berdoa bersama sebelum memulai perjalanan. Do’a usai, peserta membubarkan diri meraih sepeda masing masing dan membentuk barisan membentuk dua banjar memanjang ke belakang, pertanda sebentar lagi gowes gembira bareng menuju Lagoi di mulai. semua peserta tampak bersemangat dan kompak.

dsc_7335

20161225_063533.jpg

10 Kilometer pertama, Rute yang Memanjakan Mata

Pesarta Gowes meninggalkan halaman pak rudi secara tertib dan rapi, barisan pesepeda “Uban Go” menelusuri jalanan mulus kota tanjung uban, konvoi barisan sepeda yang panjang di jalanan  mencuri perhatian para pengguna jalan, berharap kegiatan berkonvoi ini juga akan menjadi bentuk kampanye komunitas “uban Go” mengajak masyarakat untuk menggunakan sepeda  sebagai alat trasportasi yang murah, menyehatkan dan ramah lingkungan ini.

 

20161225_0652240

Rombongan konvoi mulai keluar dari wilayah kota tanjunguban menuju lagoi. Sebagai informasi… rute Tanjung Uban – Lagoi adalah salah satu penggalan dari Rute dalam balap sepeda Tour De Bintan, salah satu jalur dengan view pantai yang indah dalam race tersebut. kita akan melewati tepian pantai kampong bugis, pantai sekera, pantai sebong pereh dan sungai kecil, Kurang lebih 10 kilometer ini adalah rute  yang memanjakan mata, deretan nyiur melambai dengan horizon garis pantai berpasir putih dan  laut berwarna toska terlihat dari tepi jalan. Rombongan gowes gembira berhenti sejenak disini menikmati suasana. Jalanan cenderung datar dan mulus, goweser pasti suka rute ini.

dsc_7361

dsc_7435

Tanjakan Ketiga mulai kocar kacir

10 kilometer pertama dengan kontur datar sudah di lewati, cukup gowes cantik, 10 kilometer tak terasa. Meskipun sebelum pantai ada dua tanjakan yang cukup memacu nafas juga bikin pegal betis dan paha, namun karena baru pemanasan jadi tidak terlalu terasa, pegal dan penat pulih seketika melewati jalur cantik di tepi pantai itu. Lepas daerah pantai jalan mulai menanjak, melewati darah yang mulai naik turun.

Di tanjakan Desa sungai kecil, rombongan mulai kocar kacir meladeni tanjakan. mohon maklumkan saja, sebagain besar peserta bukan lah atlet sepeda yang terlatih, dan usia pun sudah bukan belia. Beberapa kilometer setelah tanjakan sungai kecil, rombongan berhenti sejenak sembari istirahat dan menunggu beberapa rekan yang masih tertinggal akibat menaklukan tanjakan tadi. Menunggu adalah hal yang biasa dalam gowes bareng, mengingat kemampuan peserta tidaklah semua sama, karena dalam gowes bareng kebersamaan lebih di utamakan.

Setelah semuanya berkumpul dan istirahat sebentar, rombongan kembali melanjutkan perjalanan, 5 kilometer di depan gerbang kawasan wisata lagoi akan kita jumpa, pertanda separo perjalanan menuju kawasan wisata lagoi akan di capai. Peserta masih mengayuh dengan semangat.

20161225_075232.jpg

Lagoi, I’m coming ..…!

Kurang lebih lima kilometer dari  tempat terakhir tadi beristirahat, pejalanan cukup berat bagi saya yang pemula ini, beberapa tanjakan panjang membuat saya dan rombongan konvoi terputus cukup berjarak, saya termasuk di barisan belakang, paling akhir malahan. Namun demikian saya dan peserta lain mampu menuntaskan hingga sampai di gerbang kawasan wisata terpadu Lagoi. Dan kami pun beristirahat menjelang masuk gerbang.

dsc_7523

Lagoi di kenal dengan kawasan wisata terpadu nya, disini banyak terdapat resort resort mewah, tujuan bagi wisatawan asing dan dalam juga dalam negeri, kawasan ini sangat di rawat dan di jaga dengan baik, privasi dan keamanan para tamu adalah prioritas, beberapa resort membatasi orang umum masuk ke area fasilitasnya terkecuali para tamunya. Namun saat ini kawasan Lagoi telah memiliki area yang terbuka untuk umum siapa saja boleh berkunjung. Lagoi Bay namanya, dan daerah itulah tujuan gowes gembira kami saat itu. Untuk masuk kawasan, kendaraan di kenai biaya parkir, sedangkan kami rombongan sepeda di persilahkan masuk tanpa membayar pada saat itu… Simpang Lagoi, Kami sudah sampai di  setengah perjalanan menuju tujuan.

dsc_7521

dsc_7543

Tinggal setengah perjalanan lagi menuju Lagoi bay. Kualitas aspal dan Jalan kawasan Lagoi sangat berbeda dengan jalanan di luar kawasan Lagoi, aspal jalan mulus dan juga lebar. Suasana terasa sejuk, kiri kanan jalan adalah  hutan, suasananya yang asik buat gowes. Namun kewaspadaan harus di tingkatkan ketika memasuki daerah ini, dikarenakan jalanan mulus dan lebar, tak jarang pengendara memacu kendaraan nya dalam kecepatan tinggi, dan lagi pula,  sering saya dengar terjadi kecelakaan di beberapa titik,  goweser pun harus eksta hati hati. Kurang lebih 15 kilometer kedepan adalah Lagoi bay, rute  dari simpang lagoi menuju lagoi bay adalah yang terberat sepanjang perjalanan tadi. Tanjakan dan turunan sambut menyambut, saya mencatat empat tanjakan yang bikin kaki saya lemah hingga harus berhenti mengayuh dan turun menuntun sepeda hingga ke ujung tanjakan. Rombongan gowes gembira kembali kocar kacir, di simpang Safari Lagoi kami kembali beristirahat, menunggu teman teman lain yang tercecer di belakang. Kami berteduh di bawah selangkangan orang hutan raksasa.

DSC_7598.JPG

DSC_7559.JPG

Tidak berlama lama untuk beristirahat di bawah patung raksasa orang hutan, rombongan goweser pun kembali melanjutkan mengayuh sepeda. Dua tanjakan terakhir sebelum mencapai persimpangan sebelum lagoi bay kembali membuat rombongan kocar kacir, saya si pemula selalu di urutan paling belakang. Pak Rudi yang sudah sering mengikuti Tour De Bintan dan Triatlon bintan sempat bercerita sambil gowes, kalau untuk rute bersepeda di Lagoi memang di beberapa tanjakan ini yang paling berat. Rombongan pun kembali berhenti, ini adalah pemberhentian ke enam kami setelah bersepeda dgn jarak hampir 30km, cukup pendek memang bagi yang profesional, tapi yang penting Happy, namanya juga Gowes Gembira, banyak berhenti tidak apa apa, yang penting selalu bersama sama.

Setelah pemberhentian ke enam tadi, jalan mulai bersahabat, karena kita sudah mendekati daerahi pantai, jalan cenderung datar, lagoi bay tidak beberapa jauh lagi di depan, rombongan “Uban Go” makin semangat semangat mengayuh sepeda untuk segera sampai di Lagoi Bay. Sekitar 1,5 kilometer mengayuh sepeda, rombongan goweser sampai di gerbang masuk Lagoi bay, rombongan langsung masuk saja, tidak ada tiket masuk atau pemeriksaan dari petugas keamanan, karena ini adalah kawasan untuk umum, siapa saja boleh masuk.

DSC_7614.JPG

dsc_7645

dsc_7654dsc_7656

Sepeda meluncur di jalanan beton yang mulus dan lebar, kiri kanan jalan hutan yang masih asri, tepian jalan di tanami tumbuhan hias dan rumput yang seperti taman, beberapa saat rombongan melintasi danau buatan di tepian lagoi bay, sungguh sebuah spot mengayuh dan juga joging yang ideal, alam yang asri,tepian danau di tanami rumput yang menghijau laksana bukit di film teletubish, udara segar karena sebagian hutan masih di jaga,  minim kendaraan dan polusi karena Lagoi memang jauh dari keramaian kota. Tergolong kawasan yang masih baru, Lagoi bay di sana sini masih banyak pembangunan, Lagoi Bay di resmikan tahun 2015 yang lalu oleh Bpk. WAPRES RI Yusuf Kala, di kawasan ini akan dijadikan kawasan wisata baru, sebagai alternatif untuk wisatawan domestik dan mancanegera di pulau bintan. Lagoi Bay juga akan di kembangkan pusat rekreasi, Hotel berbintang, Hunian mewah dan pusat perbelanjaan. Lagoi bay jadi tujuan Favorit di Bintan saat ini

 

Bergantian “Naik Podium”

Kurang lebih 30 kilometer jarak yang ditempuh dari tanjunguban ke lagoi bay,kami selesaikan dalam waktu 3 jam, akhirnya rombongan konvoi sepeda sampai di lagoi bay. Sebagai salah satu ritual wajib, kami berfoto bersama di beberapa spot foto yang ikonik, sebagian lainnya mengeluarkan telepon selulernya untuk foto selfi, memotret, sebagai bukti kami telah sampai di lagoi bay. Rombongan menuju tepi pantai lagoi bay  untuk beristirahat dan menikmati suasana pantai.

dsc_7677

dsc_7687

dsc_7707

Tak sampai satu jam, pak Rudi ketua rombongan kami mengingatkan untuk segera bersiap untuk kembali ke tanjung uban, karena beristirahat terlalu lama tidak baik untuk goweser yang ingin menuntaskan rute pulang pergi  seperti ini, lagian jika terlalu siang untuk kembali ke titik keberangkatan akan semakin menguras tenaga, matahari semakin terik dan tenaga sudah mulai terkuras.

Peserta mulai mengayuh meninggalkan Lagoi Bay, seorang berceloteh sebelum rombongan bergerak, rute pulang pasti akan lebih berat, selain tenaga sudah mulai terkuras, matahari pun mulai terik,  tanjakan yang akan di lewati pun lebih berat meskipun melewati jalur yang sama saat berangkat tadi. Ternyata benar, kurang dari 10Km meninggalkan Lagoi Bay, beberapa peserta sudah mulai “naik podium”, istilah bagi  yang menyerah, kemudian menaikkan sepeda nya ke mobil pickup. Mobil pickup sengaja disiapkan untuk membawa konsumsi peserta dan sekedar  jaga jaga jika ada peserta yang kelelahan.

dsc_7698

dsc_7731

dsc_7735

dsc_7749

dsc_7756

Kurang lebih sejauh 35km rute pulang, beberapa peserta bergantiaan “naik podium”. Tidak  perlu memaksakan diri, begitu pesan pak Rudi ketua rombongan ketika breafing sebelum berangkat dari tanjung uban tadi. Memaksakan diri akan mengakibatkan cidera pada otot, keram dan bahkan bisa berakibat kematian, jangan sampai kegiatan bersepeda yang tujuan nya menyehatkan dan bergembira malah mengakibatkan masalah pada fisik.

dsc_7758

20161225_104826.jpg

Diperkirakan kurang lebih 70km jarak antara Tanjunguban dan lagoi, kami tempuh dalam waktu 6 jam pulang pergi, Allhamdulillah… semua berjalan lancar, kembali ke rumah masing masing dengan selamat dengan gembira. Tidak terlalu penting berapa jauh jarak yang di tempuh dan waktu yang di habiskan hari itu, yang terpenting “misi” gowes komunitas “uban Go” terselesaikan dengan baik, yaitu Gowes Gembira .