Dabo Singkep, dan Saksi Mata Sepeda Tua

 

Dabo, Kota ini pernah jaya lewat kandungan timah dalam buminya. Lebih dari satu setengah abad tambang memberikan kemakmuran. Tidak hanya pada tuannya, juga pada masyarakat sekitar. Pun pada hari itu, Dabo singkep dikenal satu dari sekian kota maju yang ada di daerah Riau masa itu.

Tetapi, kejataan mana yang abadi. Tidak juga dengan timah di dabo. Senjakala itu tiba pada 1992. Seketika, orang orang pergi daei sana. Kejayaan yang pernah ada dan menghidupi generasi ke generasi itu tiba tiba runtuh. Sejak itu Dabo tidak pernah lagi sama.

Setelah lebih dari satu dekade berselang, kejayaan itu belum juga terulang. Yang bisa dilihat hari ini adalah sisa sisa, puing-puing, tapak – tilas, dari sebuah kota yang pernah riuh dengan kekayaan tambang. Ada gedung gedung tua bekas pabrik yang masih berdiri kokoh, Ada pula disisi lain kantor, rumah sakit. Gereja. Tugu dan juga sepeda.

Saksi mata atas kekayaan Dabo tidak hanya melulu bangunan yang masih berdiri. Sepeda juga punya posisi yang sama. Unit demi unit didatangkan sebagai alat transportasi pekerja. Kebanyakan buatan inggris. Sebut saha jenama ternama macam Raleigh, BSA dan Philips yang usianya beda tipis dengan kemerdekaan negeri ini.

Sepeda-seped itu masih terawat di tangan-tangan warga, selain karena nilai ekonomi yang tinggi di kalangan kolektor, sebagian juga memilih merawat besi tua ini lantaran mengenangkan mereka pada kejayaan Dabo yang pernah ada. Memang, adakah yang lebih menyenangkan dari pada berkeliling kota dengan sepeda tua seraya mengingat masa-masa kejayaan yang pernah ada? Sukar di cari tandingannya.

 

——- telah di terbitkan oleh Tanjungpinang pos edisi 25/08/18

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Iklan

BAJAFASH 2018 di tutup dengan memukau

Langit senja mengankang diatas Batam view beach resort,  nada nada swing Jazz melantun dari instument instrument musik dari panggung di tepi kolam renang  Resort ternama di kota batam itu. Pertunjukan Jazz sunset memanggil pengunjung hotel untuk berkumpul menyaksikan pentas Jazz dan pagelaran Fashion dalam rangkaian BAJAFASH hari kedua. Kemeriahan panggung BAJAFASH hari pertama yang berakhir dengan spektakuler , seakan tak berhenti sampai hari itu saja, pertunjukan spektakuler akan di janjikan  tersaji malam ini,  penampilan Glen Fredly sebagai penampilan pamungkas.

Siel dan Azmi Hairudin tampil lebih awal, tembang tembang Jazz dengan lantunan Saxopone yang apik di bawakan memanjakan telinga. Self Trio dari malaysia tampil membawakan instrumen musik Jazz yang Lebih rumit, distorsi-distorsi dari keyboard Self trio memberikan pengalaman mendengarkan musik Jazz yang berbeda dan unik, Self trio melumat 3 lagi tanpa Lead Vocal. Selanjutnya Indro Harjodikoro yang berkolaborasi dengan Jazz Muda Indonesia dan Penyanyi cantik bersuara seksi Soukma berhasil membius dan membuat penonton Terkagum-kagum, Steve Thornton juga berkolaborasi dengan Indro, “Senang bisa berkolaborasi dengan teman lama”  kata  Indro. Sejauh ini, penampilan Indro dan kawan kawan mampu menjadi magnet panggung Bajafash saat itu, penonton mulai berkumpul, duduk secara lesehan diatas rumput di pinggir kolam renang Batam View Beach Resort. Saat-Saat Penampilan Indro Harjodikoro dan Pragawati melenggak lenggok memperagakan busana dengan mengusung konsep Tradisional, namun lebih “kekinian” hasil karya designer Jarit & DRU.

Semakin Malam suasana makin terasa hangat, penonton mulai makin banyak berkerumun di depan panggung, semuanya menyatu menikmati penampilan para musisi-musisi hebat dari asia tenggara, unity in diversity tema yang diusung BAJAFASH 2018 tidak hanya bertujuan menyatukan para musisi dari berbagai negara dalam satu panggung saja, penonton pun datang dari latar belakang kebangsaan yang berbeda, semua membaur , menikmati musik dan penampilan. Selanjutnya giliran ZAP (Zahid Ahmad Project) memanjakan dengan penampilan musik musik jazz yang “calm” namun dengan aransemen yang matang, berkelas dan juga mengagumkan. Band yang di motori Drummer senior asal Malaisya Zahid Ahmad itu  tampil dengan tiga lagu berturu turut, penampilan ZAP juga diselingi oleh peragaan busana oleh Tyramona.

Malam Semakin Larut namun semangat penonton tampak tidak akan surut hingga tampilnya Glen Fredly sebagai  penampilan pamungkas, sekaligus menutup panggung BAJAFASH 2018. Dalam wawancara dengan beberapa penonton, mereka mengharapakan BAJAFASH  agar terus terselenggara triap tahunnya, “semoga tahun selanjutnya akan terlaksana kembali “ kata Edi salah seorang penonton Bajafash.

Glen dan Band nya Bakucakar telah nampak di depan panggung meskipun tampak samar, penonton mulai histeris memangil-manggil Glen, “Glen…Glen…Glen…” . Tanpa menunggu Lama, Glen langsung tampil menghentak di lagu pertama “you my Everithing”, penonton sontak histeris, dan mengikuti menyanyikan syair dari lagu glen tersebut. “ sudah Lama kita tidak kebatam” kata Glen, “senang bisa menyapa kalian kembali disini” glen menyapa penggemarnya. Glen  tampil memukau di tambah pula atraksi individu dari para personel  bakucakar yang membuat penampilan glen malam itu begitu pektakuler. bersamaan dengan itu Glen juga berkolaborasi dengan penyanyi cantik Amelia Ong, dan juga sang legend, pemain perkusi dari Amerika Steve Thontorn. Peragaan busana dari Designer ARTURRO  memperindah penampilan dari Glen, busana dengan konsep tradisional namun “trendy” di peragakan oleh model model cantik dari kota batam.Pertunjukan pamungkas yang sempurna dari glen malam itu, akhir dari BAJAFASH akhirnya di yang sangat berkesan. Tak sabar menunggu kejutan BAJAFASH di tahun yang akan datang, Ibu Indina sang Founder BAJAFASH menjanjikan akan menggelar bajafash kembali di bulan Maret 2019.

[CATPER] Masjid Keramat di Kerinci

dsc_7189_34586007315_o

Mahatahari telah meninggi di atas kota sungaipenuh, Kerinci. Namun udara masih terasa sangat sejuk bagi saya ,orang pesisir  yang baru saja tiba di kota yang di kelilingi bukit barisan ini. Sudah beberapa hari ini saya, dan keluarga kecil saya tiba di Kerinci, negeri dingin yang dijuluki atap Sumatra itu. Kunjungan ke-Kerinci kali ini adalah kebiasaan tahunan  kami sebagai perantau, “pulang kampung nih”. Sebagai perantau yang dipisahkan ratusan kilometer dari rumah, tradisi pulang kampong adalah sesuatu yang sangat di dambakan, meskipun perjalanan sekali setahun itu tidak mudah untuk mewujudkannya, perlu persiapan matang akan banyak hal terutama waktu dan biaya, maka sejak jauh jauh hari, mungkin bahkan setahun sebelumnya mesti di persiapkan, Bagi perantau, Uang habis tak mengapa, asal kan bias berbagahia… melepas rindu pada ayah dan bunda, serta  nenek dan kakek terhadap cucunya

Saat pulang kampung seperti ini, saya selalu mengajak anak dan istri untuk jalan-jalan mengenal tanah kelahiran saya, mendatangi tempat tempat yang indah dan menarik serta tempat-tempat kenangan semasa saya kecil, Dengan semangat dan bangga saya selalu bercerita bak pemandu wisata setiap tempat tempat yang kami datangi. Dahulu, ketika masih tinggal di sungai penuh, saya bukanlah orang yang “suka jalan”, jadi tak banyak tempat yang saya ketahui meskipun itu di tanah kelahiran saya sendiri, Malang nya….

Pagi itu kami akan berencana menebus rasa penasaran  tentang sebuah masjid bernama “Masjid Keramat” di koto tuo Pulau Tengah, kerinci. Keramat…? Iya,  Tiga Kejadian diluar jangkauan nalar manusia pernah terjadi dahulu kala pada masjid ini, pada 1903, ketika itu penjajah belanda pernah membumi hanguskan seluruh bangunan di pulau tengah itu, namun namun masjid yang berada di detngah kampong itu bagai tak tersentuh oleh api, selanjutnya terjadi lagi kejadian yang sama pada tahun 1939, belanda membakar seluruh bangunan kampung, masjid kampung itu sepeti di lindungi, tiada tersentuh api. Selain itu, beberapa gempa besar pernah mengguncang kerinci diantaranya gempa besar pada tahun 1942 (masa pendudukan Jepang), masjid itu tetap berdiri kokoh, oleh Karena itu, hingga kini masjid tersebut dianggap keramatkan dan di beri nama masjid Keramat..

Kami Bertiga meluncur dengan “scouter matic” 110cc di jalanan kota sungai penuh yang  padat, sepeda motor pribadi, mobil, ojeg melaju seperti saling adu cepat, tak ada satupun yang ingin mengalah, semuanya seperti tergesa-gesa seperti mengejar sesuatu, entah apa yang sedang mereka kejar di kota kecil ini, saya bertanya dalam hati. Kami memilih jalan Depati Parbo menuju Desa Pulau Tengah yang terletak di arah selatan dan berjarak hanya 15Km dari kota sungai penuh itu, Jalanan mulai terasa agak “lega” ketika kami memasuki Kumun, Kiri dan kanan jalan mulai terlihat petak petak sawah yang terjepit diantara tembok tembok beton bangunan rumah, sawah sawah di kota ini telah banyak beralih fungsi sebagai  pemukiman, sebuah pemandangan yang sangat berbeda 20 tahun  yang lalu ketika saya masih di kerinci. Kami terus bergerak ke arah luar kota, semakin keluar kota pemadangan semakin membuat saya ingin memperlambat laju kendaraan, hamparan sawah yang luas membentang di kiri dan kanan jalan membuat mata tak bosan memandang, di tengah sawah terlihat berbagai aktivitas petani yang tengah menggarap lahan, sebagian  sedang menanam benih sedangkan yang lainnya tengah panen.   Memasuki Desa Semerap,  hamparan sawah tampak sedang menguning, di ujung horizon sana  tampak sisi danau kerinci dengan jejeran rumah rumah di tepi danau tertata begitu rapi dan indah, bagai pemandangan didalam lukisan… sungguh Maha besar sang pencipta alam

15 menit berkendara kami telah melewati beberapa kampong di antranyta Kumun, Semerap, Tanjung pauh dan akhirnya kami tiba di Pulau Tengah. Pengikuti penunjuk jalan yang ada di pinggir jalan , akhirnya kami menjumpai Masjid Keramat. Masjid berbentuk limas ini terletak ditengah perkampungan, Koto Tuo namanya. Di kampong tersebut saya masih melihat beberapa rumah masih menggunakan rumah larik, rumah tradisional kerinci , meskipun sebagian besar bangunan rumah telah ber- gaya minimalis, mode rumah orang orang di kota. Sungguh sangat disayangkan, identitas asli masyarakat sudah mulai terganti dengan identitas kekinian.

Saya parkirkan kendaraan di halaman masjid yang telah di kelilingi tembok setinggi daa orang dewasa itu, dua orang wanita tmpak tengah menyapu halaman masjid. Karena pintu masjid di tutup, saya meminta izin untuk masuk guna menunaikan shlalat Dzuhur, salah satu perempuan penjaga masjid tersebut membuka kan pintu dan dengan ramah dan mempersilahkan saya masuk. Sebelum masuk ruang utama masjid, saya ber-wudhu. Di tempat wudhu air senantiasa dialirkan seperti tak perlu khawatir akan kekeringan, sumber air yang berasal dari sungai masih berlimpah di desa ini. Saya kemudian shalat di ruang utama masjid sedangkan Daffa dan ibunya berkeliling mengamati masjid dari halaman.

Usai shalat, saya duduk bebera saat mengamati sekeliling ruangan utama masjid. Saya terkagum melihat sekeliling ruangan. Tiang-tiang penyangga, dinding kayu penuh ukiran yang sudah terlihat tua, namun masih sangat terawat dan kokoh. Sebuah Tiang utamam (Soko Guru)  berukuran besar, lebih besar dari semua tiang yang ada di masjid itu tertancap ditengah tengah ruangan masjid. Selain sebagai tiang utama yang menyangga bangunan masjid, Tiang tersebut  juga terdapat tempat adzan, meskipun sudah tidak di ngunakan lagi sejak lama semenjak di kenalnya pengeras suara. sebuah tangga dan selasar dihubungkan dengan tiang utama itu yang berfungsi sebagai tempat laluan bagi muadzin menuju tempat adzan. Selain satu tiang utama, terdapat empat tiang yang berfungsi menopang bangunan masjid, Tiang segi delapan, dan dinding dihiasi oleh ukiran bermotif bunga pakis merupakan identitas bangunan tradisional kerinci. Di pintu gerbang dihiasi keramik dengan motif bunga, konon keramik tersebut adalah pemberian belanda, di bawa langsung dari negeri kincir angin itu

Bangunan masjid Keramat yang dilihat pada saat ini adalah tak jauh berbeda dengan kondisi aslinya, menurut penjaga masjid, tidak dibenarkan merubah bentuk masjid ini, hanya saja bagian atapnya saja telah di ganti dengan bahan seng, dimana sebelumnya adalah ber-atap ijuk. sejak tahun 1931 pemerintah telah menetapkan masjid keramat koto tuo ini sebagai monument ordonantie yang melindungi  dan cagar Budaya, berupa Benda, Struktur, Bangunan, Situs dan Kawasan.

Pantai Telok Diraja, Pesona baru di desa busung

_DSC0030.jpg

“Apabila kamu berkerja dengan cara kreatif , maka akan lahir nilai tambah yang baru” begitu kata sebuah ungkapan. Melalui proses Kreatifitas kamu mampu merubah sesuatu yang mungkin saja awalnya tak bernilai, menjadi lebih bernilai. Fenomena bermunculan nya tempat wisatapun demikian,  contohnya, siapa sangka lahan bekas tambang pasir  di desa busung pulau bintan akhirnya menjadi object wisata yang tiap akhir pekan di singgahi banyak penacong, Danau bekas galian pasir yang terbengkalai di kampung lepan di sulap oleh sentuhan kreatif  menjadi  danau Lepan yang instagenik, kemudian bukit bukit yang telah terkelupas karena penambangan pasir di desa kuala sempang yang  di namai secara unik dengan nama bukit eskrim,  karena warna warni yang unik pada tebing bukitnya nya yang seperti lapisan eskrim itu kini menjadi tempat wisata foto foto nan isntagenik pula.

Perlahan masyarakat mulai sadar akan manisnya berkah dari pariwisata, kampung dan desa di bintan saat ini seakan berlomba  menemukan, menciptakan nilai pariwisata yang diharapkan dapat mendatangkan tamu dan menjadikan tuah bagi mereka.

Adalah Telok Diraja salah satu contohnya. sebuah produk kreatif dari kelompok sadar wisata dari desa busung itu. Zul dan 12 rekannya masyarakat tempatan secara swadaya menggarap lahan kosong yang awalnya tak begitu terlirik keindahan nya itu kemudian di garap dengan pemikiran dan tindakan yang kreatif sehingga menghasilkan sebuah nilai baru dari sebuah lahan kosong tak awalnya tak terlalu bernilai.

Pemandangan yang indah dan masih alami dari pantai Telok Diraja akan menjadi penawar penat mu setelah berkativitas sepekan,  pohon pohon yang rindang di tepi pantai menyediakan kenyamanan bagi kamu untuk bercengrama bersama keluarga dan kolega di bawah  rindang nya. Pantai nya yang  cukup bersih dan tenang  sangat menggoda pagi pengunjung untuk berenang ketika air laut pasang. Penat berenang hingga perut terasa lapar…? jangan khawatir, disana mereka telah menyiapkan beberapa jenis makanan dan minuman yang dapat kamu pesan kapan saja. Namun di karenakan lokasi ini baru di buka dan masih banyak pekerjaan disana sini , sehingga masih ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian pengelola agar tempat ini menjadi lebih baik lagi, terutama masalah penataan dan kebersihan nya.

Telok Diraja terletak di desa busung puau bintan. Jika kamu berkendara dari arah  tanjunguban cukup memakan waktu 15 menit saja, sebelum memasuki desa busung kamu menemukan sign atau tanda penujuk arah di sebelah kanan jalan yang menunjukkan arah menuju pantai Telok Diraja, dan Jika kamu datang dari arah tanjungpinang  pun tak cukup sulit menemukan pantai ini, setelah melewati jembatan busung akan ada  penunjuk arah di sebelah kiri jalan yang akan memandu kamu sampai ke pantai Telok Diraja. Cukup membayar 5000 rupiah untuk parkir kendaraan roda empat dan 1000 rupiah untuk kendaraan roda dua.

 

 

Ingin tahu tempat menarik lain nya di pulau bintan lainya….? silahkan juga singgah di tautan berikut;

Omjay Trip – Bintan One Day

[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 12)

 

pak Budi Berpose di sebuah penjara tua peninggalan Belanda di tengah kota Daek-Lingga

 

Menginap Di LP

Gunung yang juga di kenal sebagai sebutan gigi naga itu masih tampak tersamar oleh kabut. Pukul empat lebih tigapuluh menit, kota Daek masih terus di guyur hujan, sementara itu kami menunggu hujan reda di beranda museum linggam cahaya. Sementara itu, diantara derasnya hujan dari kejauhan tampak seorang menunggang sepeda motor, dengan tubuh di balut jas hujan jenis ponco, pria itu menghampiri kami yang sedang duduk di depan pintu museum, ternyata dia bang Fauzi yang kami tunggu tunggu.

 

“Luar Biase, akhirnye bise berjumpe lagi” ucap bang Fauzi dalam logat melayu menyapa saya. “Ape kaba…?” kami berjabat tangan , “Allhamdulillah baek bang….” Jawab saya. Saya dan bang Fauzi sudah lama tidak bertemu. Kami pertama kali bertemu dan saling mengenal  pada sebuah acara fotografi setahun yang lalu di Surabaya. Beliau sosok yang ramah, rendah  hati, apa adanya, serta piawai memotret. Kepiawaian nya dalam bermain kamera sudah terbukti dalam berbagai prestasi, salah satu yang saya sangat ingat sekali adalah, ketika karya nya berjudul “dumped off” terpilih menjadi juara pertama kategori Landscape pada gelaran kontes foto internasional “ Kuwait Grand Photography Contest 2016 ” tahun lalu. Prestasi ini pula yang membawanya melawat ke negeri nan kaya miyak, Kuwait 2016 lalu. Itu pengalaman yang tidak pernah terlupakan dan sangat berkesan katanya. “Tak pernah terbayangkan sebelumnye, saye anak kampong ni bise berdiri sejajar menerime Award bersame fotografer dari berbagai negare waktu itu” kenang nya.  Menang di kancah internasional adalah sebuah pengalaman yang tidak pernah terlupakan dan ia duga-duga sebelumnya, jangankan Ia, kami sesama warga KEPRI pun turut merasa bangga.

 

Dari kiri: Saya, Bang Fauzi dan pak Budi

 

Angin laut berhembus menuju darat, dinding dinding bukit dan gunung itu memantulkannya  kembali menuju lembah, hingga menerpa tubuh kami yang tengah kedinginan. Kami masih menunggu hujan reda di beranda museum, bang Fauzi membakar sebatang Dji Sam Soe  dan mengisapkanya dalam sebelum mulai bercerita. “Mike kurang beruntung datang kali ini, beberape hari ni cuace disini tak bagos…, tak bise dapat foto cantek untuk di bawa balek hehe…” sambil mengepulkan asap dari mulutnya ia berseloroh, ia  mungkin sedang menganggap saya sedang melancong saat itu, mendung dan hujan seperti ini adalah kabar buruk bagi pelancong yang datang dari jauh, pelancong yang datang disaat seperti itu adalah kesia siaan saja, mungkin lebih baik tidur saja dirumah. Namun perjalanan ini sudah saya niatkan dari awal bukan sebagai kegiatan pelancongan. Perjalanan ini adalah cara saya menarik diri dari “kelelahan” saya. saya butuh istirahat, saya butuh ruang bagi jiwa, raga dan fikiran saya untuk mendapatkan kembali hak nya, saya butuh  pengalaman baru yang memperkaya pengalaman dan pemikiran saya yang atas izin yang kuasa mungkin saja saya dapatkan dalam perjalanan ini, Saya butuh bertemu orang orang baru dan belajar hal hal baik dari mereka yang saya temui di perjalanan. Saya ingin berada di tempat yang asing bagi saya,  jika kesusahan yang saya dapati, mudah mudahan itu akan menjadikan saya lebih dekat kepada Tuhan, sedangkan jika kesenangan dan kemudahan yang saya dapatkan, maka itu adalah alasan saya untuk lebih bersyukur pada Nya.

 

Bang fauzi banyak bercerita tentang keindahan negerinya pulau Lingga pada kami. Ia bercerita tentang masyarakat yang bersahaja, tradisi melayu yang selalu terjaga, misteriusnya gunung daek yang bercabang tiga, Suku Laut, pantai serta pulau-pulau indah yang masih belum terjamah di lingga, Sedikit banyak kisah dan ceritanya itu yang menuntun saya ke perjalanan yang entah berantah ini.Obrolan kami semakin jauh berkelana entah kemana, hingga tak terasa hari sudah hampir gelap di Daek, sepertinya kita butuh waktu lebih lama untuk bercerita, di situasi yang lebih baik dari ini, tidak dengan pakaian basah hingga membuat tubuh menggigil seperti ini. Akhirnya bang Fauzi Menitipkan kami untuk menginap di LP, seperti pertama kali saya mendengar isitlah LP ini, and Jangan terkejut dahulu, kami tidak menginap di Lembaga Permasyarakat (LP), tapi di sebuah wisma tua bernama Lingga Pesona, orang disini menyebutnya LP. Sepeda kami kayuh menuju LP.

Update : Wisma Lingga Pesona (LP) sebagain bangunannya telah habis terbakar pada sebuah kebakaran hebat yang melanda perkampungan cina di Kota Daek pada tanggal 28 november 2017). termasuk kamar kami menginap dan bangunan yang terdapat pada foto dibawah

Bersambung….

 

[CATPER] JELAJAH LINGGA BERSEPEDA ( BAGIAN 10 )

Tanpa berganti pakaian kami langsung menceburkan diri ke sungai yang jernih, sehingga pakaian di badan semua  basah. perasaan girang bukan kepalang menceburkan diri kedalam air yang sejuk dan jernih itu. Kami berdua bagai anak anak yang kegirangan bermain di sungai, melompat lompat kesana kemari  dan menceburkan diri berkali kali ke dalam airnya, untung saat itu hanya kami berdua saja pengunjung di tempat itu,  jadi serasa tempat ini seperti milik kami, tanpa perlu sungkan dengan orang lain.

 

Puas mandi mandi di bawah air terjun resun, kami beristirahat sejenak di sebuah kedai yang tak jauh dari air terjun. Mie rebus dan segelas kopi hangat kami pesan, hidangan sederhana itu rasanya menjadi santapan yang nikmatnya tak dapat di kira. Kami habiskan waktu satu jam di kedai itu, mengobrol apa saja dengan si pemilik warung , dia bercerita tak henti bagai senjata mesin yang tanpa jeda mengeluarkan peluru, dia bercerita banyak hal dan tentang apa saja mulai dari keluhan hidup nya sampai mahluk gaib tak kasat mata di air terjun Resun.

Pukul satu lewat tiga puluh menit, kami memutuskan meninggalkan Resun. Masih dalam guyuran hujan yang tak begitu deras, sepeda terus kami kayuh menelusuri jalan aspal yang mulus dan sepi. Kurang dari 15KM di depan sana dalah kota Daek. Hujan semakin deras ketika kami tiba di Daek, pemandangan hutan dan kebun di sepanjang jalan mulai berganti dengan pemandangan rumah rumah penduduk yang terlihat mulai rapat. Saat itu, kota Daek seakan masih sebuah tanda tanya dalam fikiran saya, seperti apa wujud ibukota lingga itu, sedangkan penujuk jalan menujukkan kami sudah sampai di kota pusat kota, tetapi kota ini tak seperti sebuah kota dalam pemikiran saya.

 

Kota Daek, meskipun statusnya adalah Ibukota dari Kabupaten Lingga, namun kota ini tidak  terlalu ramai, rumah rumah penduduk masih terlihat memiliki pekarangan yang luas, lingkungan yang masih asri dan tenang, juga tidak terlalu banyak kendaraan.  Pasar atau pusat keramaian terletak di kampung cina. Di kampung cina ini adalah pusat perniagaan, toko toko dan kedai kopi juga penginapan banyak terdapat disana.  Sebagai daerah otonomi yang baru saja lahir sejak tahun  2003 lalu, hingga kini kabupaten lingga dan ibukotanya terus membenahi infrastruktur.

 

 

Danau Biru Lepan yang Instagenik

DSC_0507

Ada beberapa Danau Biru Di pulau Bintan, diantaranya Danau Biru Di Desa Busung, Danau Biru di Desa kawal serta Danau biru Di desa Lepan, sedangkan dalam tulisan kali ini adalah tentang Danau Biru di Desa Lepan.

Mengapa disebut danau Biru…?

Danau danau itu tercipta lantaran dahulunya di beberapa daerah di bintan di jadikan tempat penambangan pasir, sisa sisa penambangan pasir itu meninggalkan kubangan kubangan besar dan lama kelamaan menjadi genangan. Warna biru dari danau tersebut tercipta karena dasar danau yang terdiri dari pasir dan lumpur berwarna putih dan airnya yang jernih, sehingga ketika langit cerah, permukaan nya akan memantulkan warna biru dari langit. Beberapa genangan ada yang berukuran besar berbentuk danau sehingga orang orang menyebutnya dengan danau Biru.

Apa yang bisa dilakukan di sana ?

Di sana kamu bisa berfoto foto di beberapa sudut yang sudah di buat sedemikian rupa agar foto mu tampak “kece” ketika di unggah ke halaman Instagram. Beberapa pelantar kayu bernuasa romantis menuju tengah danau di buat berbentuk tanda hati di ujung nya, dan sebuah gerbang berwarna merah bertanda hati pula. Pokoknya , jika berfoto di spot tersebut kamu terkesan romantis oleh lawan jenis mu, yakinlah dia pun ingin diajak kesana bersama mu diujung minggu. Tak hanya itu…, penat berfoto di pelantar berbentuk hati itu, kamu bisa berdayung sampan mengarungi danau biru, jangan lupa untuk singgah di rumah pohon di tepi danau, kamu bisa melihat danau secara utuh dari ketinggian dari atas rumah pohon itu. Oh iya, semua fasilitas itu bisa kamu nikmati dengan membayar “serba lima ribu”.

Bagaimana Menuju Kesana …?

Ada dua cara untuk mencapai Danau Biru Desa Lepan, diantaranya ialaha melewati jalan lintas barat tanjunguban – tanjungpinang atau via desa sungai jeram Teluk sebong, namun jalan via lintas barat tanjunguban dan tanjungpinang adalah yang paling memungkinkan di lalui semua kedaraan meskipun harus melewati sungai dengan menyeberang dengan penyebrangan (pokcay). Dengan berkendara dari tanjunguban sejauh kurang lebih 10 kilometer melewati lintas barat, kamu akan menemui persimpangan Desa Lepan jalan menuju desa lepan belum di aspal atau dengan kata lain adalah jalan tanah dan berpasir, di ujung jalan kamu harus menyeberang sungai dengan “pokcay” sebutan untuk kapal penyeberangan di desa itu, pokcay mampu membawa sebuah mobil dan beberapa kendaraan roda dua beserta penumpang diatasnya, Rp 5000 rupiah adalah ongkos untuk mengangkut penumpang dengan sepeda motor. Setelah sampai di seberang, terus ikuti jalan kampung, danau biru Sudah Dekat.