Se-harian Eksplore Destinasi Populer Pulau Bintan

Nama Pulau Bintan mulai dilirik oleh wisatawan dalam Negeri, meskipun sebelumnya orang orang dari negeri jiran seperti Singapura dan malaysia telah lebih dahulu mengenal Pulau bintan sebagai tempat pelesir . Pesona pantai pantai indah  di pulau bintan menjadi salah satu pemikat para pelancong datang ke salah satu pulau di Provinsi Kepulauan Riau ini.

Bicara tentang wisata pulau bintan, tidak melulu hanya tentang pantai pantai indah  dan resort resort  Mewah, jika kamu tak memiliki banyak waktu untuk menjelajah bintan,  berikut adalah beberapa Destinasi wisata yang popular bagi wisatawan yang bisa kamu ekplore  dalam satu hari saja,

 

 Gurun Pasir & Telaga Biru Busung

Gurun-Pasir1

 

Tidak sukar menemukan Gurun Pasir dan telaga Biru tersebut, terletak di tepi jalan lintas Barat Tanjunguban – Tanjungpinang tepatnya di desa busung. Di kanan jalan akan terdapat penujuk arah menuju tempat tersebut. jika berkendara dari Tanjunguban, kamu  hanya mengambil masa  15 menit saja.

Dahulu, sebagain orang hanya menganggap hamparan pasir  yang terletak di jalan lintas Tanjunguban -Tanjungpinang itu  sebagai pemandangan yang biasa saja, hanya sebuah area bekas tambang. Akan tetapi, sebagian lagi melihat dari sudut pandang yang berbeda, melihat dengan sudut pandang artistik, dan kemudian  merekam pemandangan unik itu dalam bentuk foto yang di komposisikan sedemikian rupa sehingga menghasilkan foto pemandangan layaknya gurun yang fotogenik. apalagi ketika di potret dengan komposisi dan pencahayaan yang baik, sehingga menghasilkan foto yang ciamik nan Instagenik, waktu terbaik adalah pagi dan sore hari.

 

Treasurebay Bintan

Treasurebay

Terletak di kawasan Wisata terpadu Lagoi, Treasurebay menjadi salah satu tujuan wisata favorit di  pulau bintan, dengan membayar Rp100.000 untuk dewasa dan Rp50.000 untuk anak-anak. Dari nominal tersebut, 20%- adalah sebagai tiket masuk dan 80% sisanya menjadi deposit yang bisa kamu  digunakan untuk mencoba beragam water activities yang ada di sana, atau untuk membeli makanan dan minuman yang tersedia di lingkungan Treausrebay Bintan. Nah…Deposit ini tidak bisa direfund, jadi sebaiknya  di gunakan saja.  Crystal Lagoon ini memiliki panjang sekitar 800 meter dengan luas yang mencapai sekitar 6 hektar, dinobatkan sebagai kolam renan dengan air laut terbesar di asia tenggara.

 

Lagoibay

36097378883_8f4d82a792_o

Di kenal dengan kawasan resort dengan privasi tinggi, membuat tak sembarangan orang bisa menikmati keindahan pantai di utara bintan itu. Hanya para tamu dan yang memiliki kepetingan saja yang dapat melongok keindahan lagoi. Namun tidak semua area di berlakukan secara ekslusif, sebagai mana Lagoibay di design sebagai area untuk public, wisatawan domestic dan macanegara berbaur di lokasi ini, di sana juga terdapat sebuah plaza yang menjual beraneka macam kebutuhan para pelancong. Disamping itu banyak aktivitas dan arena bermain yang di tawarkan oleh Lagoibay, pengunjung memungkinkan untuk mencoba berbagai aktivitas seperti olahraga air seperti kayak, jet ski, snorkeling, voli pantai, dan sepak bola pantai dan berkeliling menggunakan kendaraan ATV.  Pantai nya pun sangat mewakili keindahan pantai-pantai di lagoi yang terkenal itu.

 

Pemancingan Poyotomo

poyotomo

Sejatinya sebuah Taman Pemancingan, namun karena area yang sangat luas, view alam yang menawan serta fasilitas yang memadai, sehingga tempat ini cocok di jadikan taman rekreasi untuk keluarga dengan nuansa perkebunan, Selain memancing, kamu juga memungkinkan untuk melakukan kegiatan camping di sini, cukup dengan menyewa Tenda yang telah di lengkapi dengan sliping bad, kamu bisa melewati malam di taman yang indah ini, Sewa untuk sebuah Tenda “Dome” dengan kapasita tiga orang hanya 80 ribu rupiah saja.

Pemancingan Poyotomo terletak di Desa Skuning, sebuah Desa dengan udara sejuk tepat di kaki gunung bintan.  kamu dapat mencapai Poyotomo Dari Tanjunguban maupun dari Kota tanjungpinang melalui Jalan Lintas Barat Pulau Bintan, Tiket masuk relative terjangkau, 10rb untuk Dewasa dan 5rb untuk anak anak.

Pantai Trikora

destinasi

Hamparan pasir putih di garis pantai yang panjang, laut berwarna biru dgn gradasi toska, dan batu batu granit yang besar di tepian pantai, menjadi ciri khas dari pantai trikora di Pulau Bintan. Trikora adalah salah satu pantai yang wajib kamu kunjungi jika berpelesir ke bintan. Pantai terbentang memanjang sejauh 25 kilometer, hingga terbagi menjadi empat bagian, orang local mengenal dengan sebutan Trikora 1, Trikora 2, Trikora 3 dan trikora 4, Trikora 4 adalah yang paling terkenal banyak di kunjungi wisatawan. Sementara dari Trikora 1 hingga tiga berdiri di tepian pantai resort resort dan juga kampong nelayan.

Dari kota tanjungpinang kamu akan menempuh jarak kurang lebih 45 Km untuk sampai diujung trikora. Trasnportasi umum sangat terbatas disana, untuk kesana dengan waktu yang leluasa, kamu harus menyewa kendaraan.

 

Vihara Patung 1000

Viharapatung1000

Kita Disambut oleh sederetan para arahat  yang ditemukan di dalam Vihara Ksitigarbha Bodhisattva. Setiap patung batu  seperti hidup, dengan ekspresi dan mimic muka yang unik satu sama lain. Suasana di lingkungan vihara seakan akan membawa seakan akan melancong ke negeri tiongkok, Vihara patung seribu terletak di dataran tinggi, sehingga suasana di vihara ini cukup unik. Sejatinya jumlah patung tidaklah mencapai 1000 patung, namun hanyalah sebutan saja, mengingat jumlahnya terlihat sangat banyak, padahal jumlah patung hanyalah ratusan saja.

Vihara Patung seribu anda dapat capai hanya 15Km dari pusat kota tanjungpinang, jika dari bandara Raja Haji Fisabilillah sangat dekat sekali, Vihara Terletak di jalan Asia Afrika Kota Tanjungpinang.

 

 

 

 

Note : Kamu butuh local guide atau sewa kendaraan di bintan, call / WhatsApp +6281372670414

 

 

Iklan

Dabo Singkep, dan Saksi Mata Sepeda Tua

 

Dabo, Kota ini pernah jaya lewat kandungan timah dalam buminya. Lebih dari satu setengah abad tambang memberikan kemakmuran. Tidak hanya pada tuannya, juga pada masyarakat sekitar. Pun pada hari itu, Dabo singkep dikenal satu dari sekian kota maju yang ada di daerah Riau masa itu.

Tetapi, kejataan mana yang abadi. Tidak juga dengan timah di dabo. Senjakala itu tiba pada 1992. Seketika, orang orang pergi daei sana. Kejayaan yang pernah ada dan menghidupi generasi ke generasi itu tiba tiba runtuh. Sejak itu Dabo tidak pernah lagi sama.

Setelah lebih dari satu dekade berselang, kejayaan itu belum juga terulang. Yang bisa dilihat hari ini adalah sisa sisa, puing-puing, tapak – tilas, dari sebuah kota yang pernah riuh dengan kekayaan tambang. Ada gedung gedung tua bekas pabrik yang masih berdiri kokoh, Ada pula disisi lain kantor, rumah sakit. Gereja. Tugu dan juga sepeda.

Saksi mata atas kekayaan Dabo tidak hanya melulu bangunan yang masih berdiri. Sepeda juga punya posisi yang sama. Unit demi unit didatangkan sebagai alat transportasi pekerja. Kebanyakan buatan inggris. Sebut saha jenama ternama macam Raleigh, BSA dan Philips yang usianya beda tipis dengan kemerdekaan negeri ini.

Sepeda-seped itu masih terawat di tangan-tangan warga, selain karena nilai ekonomi yang tinggi di kalangan kolektor, sebagian juga memilih merawat besi tua ini lantaran mengenangkan mereka pada kejayaan Dabo yang pernah ada. Memang, adakah yang lebih menyenangkan dari pada berkeliling kota dengan sepeda tua seraya mengingat masa-masa kejayaan yang pernah ada? Sukar di cari tandingannya.

 

——- telah di terbitkan oleh Tanjungpinang pos edisi 25/08/18

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

BAJAFASH 2018 di tutup dengan memukau

Langit senja mengankang diatas Batam view beach resort,  nada nada swing Jazz melantun dari instument instrument musik dari panggung di tepi kolam renang  Resort ternama di kota batam itu. Pertunjukan Jazz sunset memanggil pengunjung hotel untuk berkumpul menyaksikan pentas Jazz dan pagelaran Fashion dalam rangkaian BAJAFASH hari kedua. Kemeriahan panggung BAJAFASH hari pertama yang berakhir dengan spektakuler , seakan tak berhenti sampai hari itu saja, pertunjukan spektakuler akan di janjikan  tersaji malam ini,  penampilan Glen Fredly sebagai penampilan pamungkas.

Siel dan Azmi Hairudin tampil lebih awal, tembang tembang Jazz dengan lantunan Saxopone yang apik di bawakan memanjakan telinga. Self Trio dari malaysia tampil membawakan instrumen musik Jazz yang Lebih rumit, distorsi-distorsi dari keyboard Self trio memberikan pengalaman mendengarkan musik Jazz yang berbeda dan unik, Self trio melumat 3 lagi tanpa Lead Vocal. Selanjutnya Indro Harjodikoro yang berkolaborasi dengan Jazz Muda Indonesia dan Penyanyi cantik bersuara seksi Soukma berhasil membius dan membuat penonton Terkagum-kagum, Steve Thornton juga berkolaborasi dengan Indro, “Senang bisa berkolaborasi dengan teman lama”  kata  Indro. Sejauh ini, penampilan Indro dan kawan kawan mampu menjadi magnet panggung Bajafash saat itu, penonton mulai berkumpul, duduk secara lesehan diatas rumput di pinggir kolam renang Batam View Beach Resort. Saat-Saat Penampilan Indro Harjodikoro dan Pragawati melenggak lenggok memperagakan busana dengan mengusung konsep Tradisional, namun lebih “kekinian” hasil karya designer Jarit & DRU.

Semakin Malam suasana makin terasa hangat, penonton mulai makin banyak berkerumun di depan panggung, semuanya menyatu menikmati penampilan para musisi-musisi hebat dari asia tenggara, unity in diversity tema yang diusung BAJAFASH 2018 tidak hanya bertujuan menyatukan para musisi dari berbagai negara dalam satu panggung saja, penonton pun datang dari latar belakang kebangsaan yang berbeda, semua membaur , menikmati musik dan penampilan. Selanjutnya giliran ZAP (Zahid Ahmad Project) memanjakan dengan penampilan musik musik jazz yang “calm” namun dengan aransemen yang matang, berkelas dan juga mengagumkan. Band yang di motori Drummer senior asal Malaisya Zahid Ahmad itu  tampil dengan tiga lagu berturu turut, penampilan ZAP juga diselingi oleh peragaan busana oleh Tyramona.

Malam Semakin Larut namun semangat penonton tampak tidak akan surut hingga tampilnya Glen Fredly sebagai  penampilan pamungkas, sekaligus menutup panggung BAJAFASH 2018. Dalam wawancara dengan beberapa penonton, mereka mengharapakan BAJAFASH  agar terus terselenggara triap tahunnya, “semoga tahun selanjutnya akan terlaksana kembali “ kata Edi salah seorang penonton Bajafash.

Glen dan Band nya Bakucakar telah nampak di depan panggung meskipun tampak samar, penonton mulai histeris memangil-manggil Glen, “Glen…Glen…Glen…” . Tanpa menunggu Lama, Glen langsung tampil menghentak di lagu pertama “you my Everithing”, penonton sontak histeris, dan mengikuti menyanyikan syair dari lagu glen tersebut. “ sudah Lama kita tidak kebatam” kata Glen, “senang bisa menyapa kalian kembali disini” glen menyapa penggemarnya. Glen  tampil memukau di tambah pula atraksi individu dari para personel  bakucakar yang membuat penampilan glen malam itu begitu pektakuler. bersamaan dengan itu Glen juga berkolaborasi dengan penyanyi cantik Amelia Ong, dan juga sang legend, pemain perkusi dari Amerika Steve Thontorn. Peragaan busana dari Designer ARTURRO  memperindah penampilan dari Glen, busana dengan konsep tradisional namun “trendy” di peragakan oleh model model cantik dari kota batam.Pertunjukan pamungkas yang sempurna dari glen malam itu, akhir dari BAJAFASH akhirnya di yang sangat berkesan. Tak sabar menunggu kejutan BAJAFASH di tahun yang akan datang, Ibu Indina sang Founder BAJAFASH menjanjikan akan menggelar bajafash kembali di bulan Maret 2019.

Mengenang pak Hatta di tempat kelahirannya

dsc_6705_34473056791_o

Pagi itu saya sengaja berjalan kaki keluar penginapan untuk menikmati suasana kota bukittinggi,  fajar mulai menyingsing di bukittinggi, pengeras suara dari masjid-masjid seperti bersahut sahutan  menyiarkan ceramah agama lepas shalat subuh,  sementara turis turis tengah mulai mendatangi halaman jam gadang, bus bus besar telah terparkir pinggir pinggir jalan sekitaran jam gadang mengantarkan turis turis yang hendak berpelesir melihat salah satu landmark sumatra barat itu. hembusan angin dingin menambah kesejukan udara kota yang dijuluki kota wisata dan  yang pernah menjadi ibukota sementara negara indonesia saat perang kemerdekaan dulu kala

Kaki saya terus menelusuri sudut kota bukittinggi, saya telusuri sebuah jalan dengan ratusan anak tangga yang sangat masyur di kota,  Janjang ampek puluah, yang menghubungkan pasar atas dan pasa banto. Langit masih gelap, namun pasa banto sudah terdengar riuh oleh suara pedagang. Pedagang tumpah ruah hingga ke badan jalan menjajakan segala macam hasil bumi dari tanah agam nan subur. Sorak sorai para pedagang seperti suara orang tengah  berkelahi adu mulut.”dipilih…dipilih…dipilih…” dengan nada lantang. Langkah sengaja saya sesatkan, kemana saja saya melangkah tak sa fikirkan, bukankah dengan tersesat kita akan menemuka  hal baru…?

Langkah saya terhenti di depan sebuah rumah yang tampak sudah tua namun masih tampak terawat.  Sebuah gambar seorang tokoh nasional yang tidak tampak  terpasang di halaman, tidak asing lagi gambar tokoh itu, ternyata rumah yang terletak di jalan Soekarno Hatta no 37 bukittinggi ini adalah rumah kelahiran  Bapak Mohhamad Hatta, salah satu proklamator RI. Saya sangat Penasaran dan ingin mengetahui isi rumah tersebut, pasti akan banyak hal menarik dapat di didalam sama fikir saya. Namun sayang, rasa penasaran saya tidak bisa segera terlampiaskan, ini masih sangat pagi, masih pukul 6, dalam hati saya membatin. Pengunjung baru di perbolehkan masuk setelah pukul 8 pagi, sebuah papan pengumuman yang terdapat di dinding rumah menerangkan demikian. Saya akan kembali ke sini pukul 8 nanti, dalam hati saya membatin.

Dalam perjalanan pulang ke penginapan, tiba tiba seakan tergiang sair lagu ciptaan seniman Virgiawan Listanto (Iwan Fals) yang berjudul bung hatta. Kepiawaian Iwan fals menghadirkan suasana duka saat pak Hatta mangkat lewat syair dan lirik seakan mampu menyentuh hati siapa saja yang mendengarkannya, saya sendiri pernah meneteskan air mata larut dalam syair yang begitu dalam, meski saya adalah generasi yang tidak pernah bertemu, dan melihat sosok Pak hatta secara langsung, namun dari buku buku tentang bung hatta dan syair lagu tersebut mampu membawa saya merasakan kehilangan pada sosok yang sangat dirindukan. Terbayang bakti nya, terbayang jasa nya terhadap negeri, serta dan jiwa sederhana pak hatta.

Pukul delapan tiga puluh menit, akhirnya saya kembali mendatangi rumah kelahiran Pak Hatta. Suasana sudah tampak berbeda ketika telah beranjak siang, jalan Sokearno Hatta yang tadinya di kerumuni pedagang dan pembeli sekarang di penuhi dengan kendaraan, angkot, sepeda motor, mobil dan bendi. Pagar telah dibuka, saya melihat seorang  seorang perempuan paruh baya tengah membersihkan halaman rumah, dia adalah petugas yang menjaga rumah kelahiran pak Hatta tersebut.

Rumah ini sejatinya adalah rumah kakek Pak Hatta, Ilyas Bagindo Marah atau Pak gaek. Pak Hatta di besarkan di lingkungan keluarga ibunya dikarenakan umur 8 bulan pak pak Hatta telah di tinggal sang ayah H.Mohhamad Djamil.  Masa kecilnya lebih banyak bersama keluarga kakek dan paman paman pak hatta. Dalam buku momoar Bung hatta, sosok pak gaek disebut sebagai seorang yang berpengaruh dalam pemahaman pak hatta tentang agama islam, pak gaek berprofesi sebagai pengantar surat  yang di kenal disiplin, mungkin sikap disiplin  itulah yang juga di tanamkan oleh sang pak gaek kepada hatta kecil.

saya mengucapkan salam dan perempuan itu membalas salam dan mempersilahkan saya masuk, “silahkan masuk… silahkan saja berkeliling, ibu masih beres beres dulu ya… “ ujar nya dengan ramah. Karena saya datang terlalu awal dan ibu penjaga rumah belum menyelesaikan tugasnya, saya tour seorang diri saja.

Ruangan yang pertama saya masuki adalah sebuah ruangan yang dekat dengan teras rumah, ruangan tersebut adalah ruangan baca pak hatta, sebuah meja baca terletak di depan jendela dengan pemandangan langsung ke jalanan Soekarno Hatta yang padat dengan latar belakang gunung marapi.  Sejak muda pak Hatta telah di kenal akrab dengan buku dan penulisan, mengutip keterangan pada buku “Hatta-pemikiran yang melampaui zaman” karya tempo, menyebutkan bahwa pada usia 18 tahun tulisannya di muat dalam sebuah majalah (Jong Sumatra) yang berjudul “Hindania“. Sebuah kisah cinta yang terkesan picisan namun memiliki makna tersirat di balik kisah tersebut. Hindania adalah figur wanita yang dijadikan Hatta sebagai personifikasi dari Indonesia. Hindania di tinggal mati oleh suaminya bernama Brahmana dari Hindustan, dan kemudian Hindania bertemu dengan musafir dari barat bernama Wolandia. Wolandia ternyata hanya mencintai kekayaan Hindania saja, hingga kekayaan wanita malang itu ia kuras habis dan kemudian di tinggal nya pergi. Tokoh Wolandia dipersonifikasikan hatta sebagai penjajah dalam kisah tersebut.

Seketika  hayalan saya terbang ke-masa lampau, hatta muda duduk diruang  baca tengah membalik balik lembaran buku dengan sesekali melemparkan pandangan kebalik jendela, pemadangan hilir mudik bendi dan pedati berlatar gunung marapi. Diruang baca pak Hatta hanya terdapat sebuah meja baca dan di letakkan persis di dekat jendela, ada sebuah ranjang sederhana, dan sebuah lemari, di dinding ruangan terpajang foto foto lama dan lambang negara.

Saya kemudian memasuki ruangan utama di lantai dasar rumah dua lantai itu. Lantai dan langit langit rumah dilapisi dengan tikar, satu set meja dan kuris tertata di tengah ruangan, sebuah lampu gantung antik terpasang di tengah ruangan, seketika saya merasakan seperti berada pada  suasana masa lampau,  zaman kemerdekaan.

Dinding rumah banyak terdapat foto foto kenangan pak hatta dan keluarga, silsilah keluarga pak hatta, serta beberapa dokumen dan surat surat, banyak sekali yang menarik perhatian saya sehingga saya harus berhenti lama memperhatikan dengan seksama foto foto dan dokumen yang di pajang di dinding pada ruang utama itu. Saya sangat terkesan ketika memperhatikan foto pak Hatta dan ibu Rahmi Rachim saat baru saja menjadi pengantin baru, tampak sederhana dan bersahaja dari sepasang pengantin baru tersebut, pak hatta tampak sumringah. Sebuah foto dengan ekspresi yang amat jarang saya lihat Sebelumnya.

Ruangan di lantai dasar terdiri dari ruang utama dan  dua kamar, salah satunya adalah kamar tempat kelahiran pak Hatta, sebuah ranjang antik dengan atap yang bergaya lama dan sebuah lemari tua,  saya melihat tempat tidur tersebut di terpa cahaya matahari yang masuk dari jendela, angan saya melayang kembali, seakan melihat tubuh mungil hatta yang masih bayi itu dibaringkan di tempat tidur itu.

Kemudian saya benelusuri rumah lebih dalam, saya menuju area belakang rumah, disana terdapat kamar tidur bung hatta dan terdapat sepeda yang selalu di gunakan pak hatta, kamar tidur itu bernama kamar bujang, kamar bujang bersebelahan dengan dapur dan kamar mandi, sebuah lumbung padi terdapat di dekat kamar bunjang pak Hatta. Di area belakang juga terdapat pedati milik keluarga pak Hatta.

Saya kemudian penasaran untuk melongok lantai dua, untuk sampai ke lantai dua, saya harus melewati ruang makan, di dekat ruang makan terdapat sebuah tangga sebagai penghubung ke lantai dua.  saya berhenti sejenak di ruang makan, saya perhatikan  perangkat makan yang antik pula,   piring kanso, gelas yang terbuat dari bahan alumunium, ceret tempat air minum dari bahan logam, meja makan dari bahan kayu dan kursi yang ber alasakan ayaman rotan, sungguh saya mengingat-ingat entah kapan terakhir saya melihat barang barang antik seperti ini.

Di lantai dua tata ruang tak begitu berbeda seperti di lantai dasar, terdapat dua kamar pula dilantai dua, satu set meja dan tiga buah kuris di tata sedemikian rupa di tengah ruangan, sebuah lampu gantung seperti  lampu terdapat pada ruangan keraton juga terpasang di langit langit lantai dua,  diding rumah dari kayu di tempeli foto foto kenangan bung hatta dan keluarga, serta sebuah lukisan besar bung hatta di salah satu dinding ruangan yang sangat menarik perhatian.

Menelusuri rumah kelahiran pak Hatta  memberi  pengalaman berbeda bagi siapa saja yang ingin mengetahui sejarah pak hatta, pengunjung disajikan pengalaman visual yang mungkin  tidak bisa didapatkan dari buku buku yang menuliskan tentang pak Hatta. Rasa bangga dan kecintaan terhadap bangsa sejatinya harus tetap tumbuh di dalam jiwa generasi muda, Pak Mohammad Hatta sampai kapanpun akan terus dikenang sebagai pemberi panutan bagi bangsa. Melalui pemikirannya yang bernas beliau berjuang untuk kemaslahatan banyak orang, seperti contoh sistem koperasi yang masih di manfaatkan hingga sekarang ini.  lewat goresan penanya yang tajam ia berjuang untuk kemerdekaan, dalam tulisannya yang berjudul sangat provokatif berhasil membuat gerah penjajah dan membangkitkan gerakan bagi rakyat indonesia, sebuah tulisan yang berjudul “Indonesia Merdeka” yang beliau tulis dalam berbagai bahasa diantaranya dalam bahasa  inggris, perancis, belanda dan jerman.  Penjajah pun sempat meragukan tulisan yang mengusik dunia internasional itu adalah tulusan dari orang indonesia.  Pak Hatta memang dikenal memiliki kemampuan berbagai bahasa asing. Mengutip tulisan pada buku “Hatta-jejak jejak yang melampaui zaman” yg di tulis oleh tempo menyebutkan bahwa “ketajaman pena Hatta lebih digdaya ketimbang senjata”.

Meski demikian, pak hatta tetaplah pribadi yang sederhana. Kisah sepatu billy yang tak mampu ia beli dan tunggakan tagihan telepon yang tak mampu ia bayar meskipun ia popularitas sebagai wakil presiden, hal tersebut menggambarkan betapa sederhananya pribadi pak Hatta sebagai seorang pejabat negara.

Tidak hanya di dalam negeri, di negeri penjajah sekalipun pak Hatta di segani dan di hormati. Sebuah jalan di kota Harrlem, Rotterdam belanda diabadikan dengan nama beliau, konon ada cerita menarik di balik keberadaan jnama jalan tersebut. jalan tersebut tak begitu panjang, namun sederhana lurus dan di tumbuhi pohon pohon yang rindang di kiri kanan nya, seakan merepresentasika  sosok kepribadian pak Hatta yang jujur, lurus dan sederhana.

Jika kamu ke bukittingi, sempatkanlah untuk singgah kerumah kelahiran pak hatta yang beralamat di Jln. Soekarno Hatta, mandiangin – Kota bukittinggi. Tidak dipungut biaya untuk mengunjungi rumah tersebut, namun jika kamu berniat ingin menderma, pengurus siap mengelola. Rumah kelahiran Mohhammad Hatta di buka dari setiap hari mulai pukul delapan pagi.

Pantai Telok Diraja, Pesona baru di desa busung

_DSC0030.jpg

“Apabila kamu berkerja dengan cara kreatif , maka akan lahir nilai tambah yang baru” begitu kata sebuah ungkapan. Melalui proses Kreatifitas kamu mampu merubah sesuatu yang mungkin saja awalnya tak bernilai, menjadi lebih bernilai. Fenomena bermunculan nya tempat wisatapun demikian,  contohnya, siapa sangka lahan bekas tambang pasir  di desa busung pulau bintan akhirnya menjadi object wisata yang tiap akhir pekan di singgahi banyak penacong, Danau bekas galian pasir yang terbengkalai di kampung lepan di sulap oleh sentuhan kreatif  menjadi  danau Lepan yang instagenik, kemudian bukit bukit yang telah terkelupas karena penambangan pasir di desa kuala sempang yang  di namai secara unik dengan nama bukit eskrim,  karena warna warni yang unik pada tebing bukitnya nya yang seperti lapisan eskrim itu kini menjadi tempat wisata foto foto nan isntagenik pula.

Perlahan masyarakat mulai sadar akan manisnya berkah dari pariwisata, kampung dan desa di bintan saat ini seakan berlomba  menemukan, menciptakan nilai pariwisata yang diharapkan dapat mendatangkan tamu dan menjadikan tuah bagi mereka.

Adalah Telok Diraja salah satu contohnya. sebuah produk kreatif dari kelompok sadar wisata dari desa busung itu. Zul dan 12 rekannya masyarakat tempatan secara swadaya menggarap lahan kosong yang awalnya tak begitu terlirik keindahan nya itu kemudian di garap dengan pemikiran dan tindakan yang kreatif sehingga menghasilkan sebuah nilai baru dari sebuah lahan kosong tak awalnya tak terlalu bernilai.

Pemandangan yang indah dan masih alami dari pantai Telok Diraja akan menjadi penawar penat mu setelah berkativitas sepekan,  pohon pohon yang rindang di tepi pantai menyediakan kenyamanan bagi kamu untuk bercengrama bersama keluarga dan kolega di bawah  rindang nya. Pantai nya yang  cukup bersih dan tenang  sangat menggoda pagi pengunjung untuk berenang ketika air laut pasang. Penat berenang hingga perut terasa lapar…? jangan khawatir, disana mereka telah menyiapkan beberapa jenis makanan dan minuman yang dapat kamu pesan kapan saja. Namun di karenakan lokasi ini baru di buka dan masih banyak pekerjaan disana sini , sehingga masih ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian pengelola agar tempat ini menjadi lebih baik lagi, terutama masalah penataan dan kebersihan nya.

Telok Diraja terletak di desa busung puau bintan. Jika kamu berkendara dari arah  tanjunguban cukup memakan waktu 15 menit saja, sebelum memasuki desa busung kamu menemukan sign atau tanda penujuk arah di sebelah kanan jalan yang menunjukkan arah menuju pantai Telok Diraja, dan Jika kamu datang dari arah tanjungpinang  pun tak cukup sulit menemukan pantai ini, setelah melewati jembatan busung akan ada  penunjuk arah di sebelah kiri jalan yang akan memandu kamu sampai ke pantai Telok Diraja. Cukup membayar 5000 rupiah untuk parkir kendaraan roda empat dan 1000 rupiah untuk kendaraan roda dua.

 

 

Ingin tahu tempat menarik lain nya di pulau bintan lainya….? silahkan juga singgah di tautan berikut;

Omjay Trip – Bintan One Day

[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 12)

 

pak Budi Berpose di sebuah penjara tua peninggalan Belanda di tengah kota Daek-Lingga

 

Menginap Di LP

Gunung yang juga di kenal sebagai sebutan gigi naga itu masih tampak tersamar oleh kabut. Pukul empat lebih tigapuluh menit, kota Daek masih terus di guyur hujan, sementara itu kami menunggu hujan reda di beranda museum linggam cahaya. Sementara itu, diantara derasnya hujan dari kejauhan tampak seorang menunggang sepeda motor, dengan tubuh di balut jas hujan jenis ponco, pria itu menghampiri kami yang sedang duduk di depan pintu museum, ternyata dia bang Fauzi yang kami tunggu tunggu.

 

“Luar Biase, akhirnye bise berjumpe lagi” ucap bang Fauzi dalam logat melayu menyapa saya. “Ape kaba…?” kami berjabat tangan , “Allhamdulillah baek bang….” Jawab saya. Saya dan bang Fauzi sudah lama tidak bertemu. Kami pertama kali bertemu dan saling mengenal  pada sebuah acara fotografi setahun yang lalu di Surabaya. Beliau sosok yang ramah, rendah  hati, apa adanya, serta piawai memotret. Kepiawaian nya dalam bermain kamera sudah terbukti dalam berbagai prestasi, salah satu yang saya sangat ingat sekali adalah, ketika karya nya berjudul “dumped off” terpilih menjadi juara pertama kategori Landscape pada gelaran kontes foto internasional “ Kuwait Grand Photography Contest 2016 ” tahun lalu. Prestasi ini pula yang membawanya melawat ke negeri nan kaya miyak, Kuwait 2016 lalu. Itu pengalaman yang tidak pernah terlupakan dan sangat berkesan katanya. “Tak pernah terbayangkan sebelumnye, saye anak kampong ni bise berdiri sejajar menerime Award bersame fotografer dari berbagai negare waktu itu” kenang nya.  Menang di kancah internasional adalah sebuah pengalaman yang tidak pernah terlupakan dan ia duga-duga sebelumnya, jangankan Ia, kami sesama warga KEPRI pun turut merasa bangga.

 

Dari kiri: Saya, Bang Fauzi dan pak Budi

 

Angin laut berhembus menuju darat, dinding dinding bukit dan gunung itu memantulkannya  kembali menuju lembah, hingga menerpa tubuh kami yang tengah kedinginan. Kami masih menunggu hujan reda di beranda museum, bang Fauzi membakar sebatang Dji Sam Soe  dan mengisapkanya dalam sebelum mulai bercerita. “Mike kurang beruntung datang kali ini, beberape hari ni cuace disini tak bagos…, tak bise dapat foto cantek untuk di bawa balek hehe…” sambil mengepulkan asap dari mulutnya ia berseloroh, ia  mungkin sedang menganggap saya sedang melancong saat itu, mendung dan hujan seperti ini adalah kabar buruk bagi pelancong yang datang dari jauh, pelancong yang datang disaat seperti itu adalah kesia siaan saja, mungkin lebih baik tidur saja dirumah. Namun perjalanan ini sudah saya niatkan dari awal bukan sebagai kegiatan pelancongan. Perjalanan ini adalah cara saya menarik diri dari “kelelahan” saya. saya butuh istirahat, saya butuh ruang bagi jiwa, raga dan fikiran saya untuk mendapatkan kembali hak nya, saya butuh  pengalaman baru yang memperkaya pengalaman dan pemikiran saya yang atas izin yang kuasa mungkin saja saya dapatkan dalam perjalanan ini, Saya butuh bertemu orang orang baru dan belajar hal hal baik dari mereka yang saya temui di perjalanan. Saya ingin berada di tempat yang asing bagi saya,  jika kesusahan yang saya dapati, mudah mudahan itu akan menjadikan saya lebih dekat kepada Tuhan, sedangkan jika kesenangan dan kemudahan yang saya dapatkan, maka itu adalah alasan saya untuk lebih bersyukur pada Nya.

 

Bang fauzi banyak bercerita tentang keindahan negerinya pulau Lingga pada kami. Ia bercerita tentang masyarakat yang bersahaja, tradisi melayu yang selalu terjaga, misteriusnya gunung daek yang bercabang tiga, Suku Laut, pantai serta pulau-pulau indah yang masih belum terjamah di lingga, Sedikit banyak kisah dan ceritanya itu yang menuntun saya ke perjalanan yang entah berantah ini.Obrolan kami semakin jauh berkelana entah kemana, hingga tak terasa hari sudah hampir gelap di Daek, sepertinya kita butuh waktu lebih lama untuk bercerita, di situasi yang lebih baik dari ini, tidak dengan pakaian basah hingga membuat tubuh menggigil seperti ini. Akhirnya bang Fauzi Menitipkan kami untuk menginap di LP, seperti pertama kali saya mendengar isitlah LP ini, and Jangan terkejut dahulu, kami tidak menginap di Lembaga Permasyarakat (LP), tapi di sebuah wisma tua bernama Lingga Pesona, orang disini menyebutnya LP. Sepeda kami kayuh menuju LP.

Update : Wisma Lingga Pesona (LP) sebagain bangunannya telah habis terbakar pada sebuah kebakaran hebat yang melanda perkampungan cina di Kota Daek pada tanggal 28 november 2017). termasuk kamar kami menginap dan bangunan yang terdapat pada foto dibawah

Bersambung….

 

Danau Biru Lepan yang Instagenik

DSC_0507

Ada beberapa Danau Biru Di pulau Bintan, diantaranya Danau Biru Di Desa Busung, Danau Biru di Desa kawal serta Danau biru Di desa Lepan, sedangkan dalam tulisan kali ini adalah tentang Danau Biru di Desa Lepan.

Mengapa disebut danau Biru…?

Danau danau itu tercipta lantaran dahulunya di beberapa daerah di bintan di jadikan tempat penambangan pasir, sisa sisa penambangan pasir itu meninggalkan kubangan kubangan besar dan lama kelamaan menjadi genangan. Warna biru dari danau tersebut tercipta karena dasar danau yang terdiri dari pasir dan lumpur berwarna putih dan airnya yang jernih, sehingga ketika langit cerah, permukaan nya akan memantulkan warna biru dari langit. Beberapa genangan ada yang berukuran besar berbentuk danau sehingga orang orang menyebutnya dengan danau Biru.

Apa yang bisa dilakukan di sana ?

Di sana kamu bisa berfoto foto di beberapa sudut yang sudah di buat sedemikian rupa agar foto mu tampak “kece” ketika di unggah ke halaman Instagram. Beberapa pelantar kayu bernuasa romantis menuju tengah danau di buat berbentuk tanda hati di ujung nya, dan sebuah gerbang berwarna merah bertanda hati pula. Pokoknya , jika berfoto di spot tersebut kamu terkesan romantis oleh lawan jenis mu, yakinlah dia pun ingin diajak kesana bersama mu diujung minggu. Tak hanya itu…, penat berfoto di pelantar berbentuk hati itu, kamu bisa berdayung sampan mengarungi danau biru, jangan lupa untuk singgah di rumah pohon di tepi danau, kamu bisa melihat danau secara utuh dari ketinggian dari atas rumah pohon itu. Oh iya, semua fasilitas itu bisa kamu nikmati dengan membayar “serba lima ribu”.

Bagaimana Menuju Kesana …?

Ada dua cara untuk mencapai Danau Biru Desa Lepan, diantaranya ialaha melewati jalan lintas barat tanjunguban – tanjungpinang atau via desa sungai jeram Teluk sebong, namun jalan via lintas barat tanjunguban dan tanjungpinang adalah yang paling memungkinkan di lalui semua kedaraan meskipun harus melewati sungai dengan menyeberang dengan penyebrangan (pokcay). Dengan berkendara dari tanjunguban sejauh kurang lebih 10 kilometer melewati lintas barat, kamu akan menemui persimpangan Desa Lepan jalan menuju desa lepan belum di aspal atau dengan kata lain adalah jalan tanah dan berpasir, di ujung jalan kamu harus menyeberang sungai dengan “pokcay” sebutan untuk kapal penyeberangan di desa itu, pokcay mampu membawa sebuah mobil dan beberapa kendaraan roda dua beserta penumpang diatasnya, Rp 5000 rupiah adalah ongkos untuk mengangkut penumpang dengan sepeda motor. Setelah sampai di seberang, terus ikuti jalan kampung, danau biru Sudah Dekat.