Ini alasan kenapa kamu harus ke tanjungpinang Pekan Depan

 

Pekan depan, akan di gelar sebuah “pesta besar” masyarakat provinsi Kepulauan Riau (kepri). Gelaran acara selama Sembilan hari berturut-turut  bertajuk “Festival Bahari Kepri” itu akan di laksanakan di ibukota provinsi KEPRI,  Tanjungpinang. Festival bahari KEPRI  di buka  pada 13 oktober dan puncaknya adalah  22 Oktober 2017.

Lalu apa istimewanya acara ini…? Dan kenapa kamu harus kesana…? Tentu saja sangat istimewa, dalam Festival selama Sembilan hari tersebut kamu akan disuguhkan beragam pertunjukan seni, budaya serta permainan tradisional yang mungkin saja sudah sukar untuk kamu jumpai di hari-hari biasa, Festival sembilan hari tersebut adalah ungkapan suka ria, seluruh masyarakat akan tumpah ruah di jalanan dan vanue acara di beberapa lokasi di kota tanjungpinang.

Festival di buka dengan aksi bersih-bersih bertajuk Eco Heroes. Sebuah kegiatan yang menujukkan semangat kepedulian akan lingkungan berbagai elemen masyarakat kota tanjungpinang, yang di gelar di kota Rebah. Sebuah situs sejarah peninggalan kerajaan riau johor lingga di kota tanjungpinang. Lalu keseruan akan terus berlanjut. Kamu akan menjadi saksi dari semangat bertanding pada peserta Dragon boat race ber-adu cepat mendayung perahu secara beregu dalam “Sungai Carang Dragon Boat Race” di sungai carang. Kemudian yang paling amat sangat di tunggu tunggu adalah pergelaran busana unik karya para designer –designer berbakat yang bertajuk “KEPRI Fashion Carnival” yang akan di gelar di jalanan kota tanjungpinang

Keseruan belum akan berhenti, masih banyak pertunjukan Seni yang akan di gelar di daerah sekitaran Tepi laut kota tanjungpinang, baik itu seni musik, tari, pembacaan syair dan seni pertunjukan tradisional melayu yang sudah jarang kamu saksikan. Pada Festival di Sembilan hari itu kamu akan benar-benar merasakan bagaimana suasana melayu kembali dihidupkan oleh masyarakatnya. Permainan-permainan dan lomba tradisional akan kembali di mainkan dan di perlombakan pada saat itu, seperti lomba pangkah gasing, lomba perahu jong, lomba perahu layar, perahu dayung dan masih banyak lagi.  Kamu tidak hanya akan di hibur dengan pertunjukan yang memanjakan mata dan telinga saja, 10 kampung sudah siap memanjakan lidah kamu dengan aneka ragam makanan tradisional  dalam festival kulliner tradisonal melayu.

Nah… Jika pekan depan kamu belum punya rencana hendak mau kemana, pastikan kamu ada di tanjungpinang pekan depan, sederetan kegiatan di festival itu  akan meninggalkan kesan yang tak terlupakan, tidak juga percaya…? Buktikan saja pekan depan.

Berikut jadwal rangkaian acara Festival Bahari Kepri 2017 :

1. Sabtu, 7 & 14 Oktober 2017 jam 08-11 WIB

Eco Heroes adalah aksi kepedulian masyarakat untuk membersihkan sampah di Kota Rebah, Tanjungpinang. Kota rebah adalah situs bersejarah yang merupakan saksi bisu kejayaan kerajaan riau johor lingga.

2. Jumat, 13 Oktober 2017 jam 19.00-22.00 wib
Dangkong Dance Festival di Kabupaten Tanjungbalai Karimun. Festival dangkung ini adalah satu satunya rangkaian festival bahari yang dilaksanakan di luar kota tanjungpinang. Dangkung adalah tarian muda mudi yang sudah jarang di jumpai saat ini.

3. Sabtu s/d Senin, 14 s/d 16 Oktober jam 08.00-16.00 wib
Permainan Tradisional di Tepi Laut Tanjungpinang. Akan ada banyak permainan tradisional di lombakan pada hari hari tersebut. Yang pasti permainan permainan ini sudah aman jarang di jumpai, seperti permainan Gasing, Lomba perahu jong banyak lagi.

4. Sabtu & Minggu, 14 & 15 Oktober 2017, jam 19.30 – 22.00 wib
Pentas Seni di Gedung Daerah Tanjungpinang. Pertujukan kesenian berupa tarian lagu dan seni pertunjukan tradisonal, diantaranya ada pertunjukan opera tradisional melayu dari Natuna bernama Mendu.

5. Senin s/d Jumat, 16 s/d 20 Oktober 2017, jam 08 – 22.00 wib
Wonderfull Indonesia Sailing ( Sail Sabang ) di Perairan Tanjungpinang. Atraksi para yachter dari berbagai negara mengarungi perarian tanjungpinang dan bintan.

6. Senin, 16 Oktober 2017, jam 19.00- 22.00  wib
Sound From Motherland of Malay di Gedung Daerah. Penampilan panggung musik tradisional melayu.

7. Selasa, 17 Oktober 2017, jam 19.00 – 22.00 wib
Festival Gurindam 12 di Gedung Daerah.

8. Selasa, 17 Oktober, jam 19.00 – 22.00 wib
Festival Drumband di Anjung Cahaya

9. Rabu, 18 Oktober, jam 19.00 – 22.00 wib
Panggung Penyair di Gedung Daerah

10. Kamis s/d Sabtu, 19 s/d 21 Oktober jam 08.00 – 22.00
Kepri Expo di Tepi Laut Tanjungpinang

11. Kamis, s/d Minggu, 08.00 – 22.00 j
Wonderful Sail to Bintan di Perairan Bintan

12. Kamis, 19 Oktober 2017, jam 07.00 – 14.00 wib
Pawai Budaya & Mobil Hias

14. Kamis, 19 Oktober 2017, jam 19.00 – 22. 00 wib
Festival Rebana dan Zikir di Gedung Daerah

15 . Jumat, 20 Oktober 2017
Jam 08.00 – 16.00 Festival Kuliner 10 Kampung di Tepi Laut
Jam 15.00 – 18.00 Parade Kapal Hias di Sungai Carang
Jam 19.00 – 18.00 Yatchers Dinner
Jam 19.00 – 20.00 Malam Puncak FBK di Gedung Daerah

16. Sabtu, 21 Oktober 2017
jam 11.00-17.00 wib Cycosports (eksebisi sepeda) start di gedung daerah – Dompak
Jam 11.00- 17.00 wib Kepri Carnival start dan finish di gedung daerah
jam 19.00 – 22.00 wib Malam Hiburan Rakyat di gedung daerah

 

 

Iklan

[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 12)

 

pak Budi Berpose di sebuah penjara tua peninggalan Belanda di tengah kota Daek-Lingga

 

Menginap Di LP

Gunung yang juga di kenal sebagai sebutan gigi naga itu masih tampak tersamar oleh kabut. Pukul empat lebih tigapuluh menit, kota Daek masih terus di guyur hujan, sementara itu kami menunggu hujan reda di beranda museum linggam cahaya. Sementara itu, diantara derasnya hujan dari kejauhan tampak seorang menunggang sepeda motor, dengan tubuh di balut jas hujan jenis ponco, pria itu menghampiri kami yang sedang duduk di depan pintu museum, ternyata dia bang Fauzi yang kami tunggu tunggu.

 

“Luar Biase, akhirnye bise berjumpe lagi” ucap bang Fauzi dalam logat melayu menyapa saya. “Ape kaba…?” kami berjabat tangan , “Allhamdulillah baek bang….” Jawab saya. Saya dan bang Fauzi sudah lama tidak bertemu. Kami pertama kali bertemu dan saling mengenal  pada sebuah acara fotografi setahun yang lalu di Surabaya. Beliau sosok yang ramah, rendah  hati, apa adanya, serta piawai memotret. Kepiawaian nya dalam bermain kamera sudah terbukti dalam berbagai prestasi, salah satu yang saya sangat ingat sekali adalah, ketika karya nya berjudul “dumped off” terpilih menjadi juara pertama kategori Landscape pada gelaran kontes foto internasional “ Kuwait Grand Photography Contest 2016 ” tahun lalu. Prestasi ini pula yang membawanya melawat ke negeri nan kaya miyak, Kuwait 2016 lalu. Itu pengalaman yang tidak pernah terlupakan dan sangat berkesan katanya. “Tak pernah terbayangkan sebelumnye, saye anak kampong ni bise berdiri sejajar menerime Award bersame fotografer dari berbagai negare waktu itu” kenang nya.  Menang di kancah internasional adalah sebuah pengalaman yang tidak pernah terlupakan dan ia duga-duga sebelumnya, jangankan Ia, kami sesama warga KEPRI pun turut merasa bangga.

 

Dari kiri: Saya, Bang Fauzi dan pak Budi

 

Angin laut berhembus menuju darat, dinding dinding bukit dan gunung itu memantulkannya  kembali menuju lembah, hingga menerpa tubuh kami yang tengah kedinginan. Kami masih menunggu hujan reda di beranda museum, bang Fauzi membakar sebatang Dji Sam Soe  dan mengisapkanya dalam sebelum mulai bercerita. “Mike kurang beruntung datang kali ini, beberape hari ni cuace disini tak bagos…, tak bise dapat foto cantek untuk di bawa balek hehe…” sambil mengepulkan asap dari mulutnya ia berseloroh, ia  mungkin sedang menganggap saya sedang melancong saat itu, mendung dan hujan seperti ini adalah kabar buruk bagi pelancong yang datang dari jauh, pelancong yang datang disaat seperti itu adalah kesia siaan saja, mungkin lebih baik tidur saja dirumah. Namun perjalanan ini sudah saya niatkan dari awal bukan sebagai kegiatan pelancongan. Perjalanan ini adalah cara saya menarik diri dari “kelelahan” saya. saya butuh istirahat, saya butuh ruang bagi jiwa, raga dan fikiran saya untuk mendapatkan kembali hak nya, saya butuh  pengalaman baru yang memperkaya pengalaman dan pemikiran saya yang atas izin yang kuasa mungkin saja saya dapatkan dalam perjalanan ini, Saya butuh bertemu orang orang baru dan belajar hal hal baik dari mereka yang saya temui di perjalanan. Saya ingin berada di tempat yang asing bagi saya,  jika kesusahan yang saya dapati, mudah mudahan itu akan menjadikan saya lebih dekat kepada Tuhan, sedangkan jika kesenangan dan kemudahan yang saya dapatkan, maka itu adalah alasan saya untuk lebih bersyukur pada Nya.

 

Bang fauzi banyak bercerita tentang keindahan negerinya pulau Lingga pada kami. Ia bercerita tentang masyarakat yang bersahaja, tradisi melayu yang selalu terjaga, misteriusnya gunung daek yang bercabang tiga, Suku Laut, pantai serta pulau-pulau indah yang masih belum terjamah di lingga, Sedikit banyak kisah dan ceritanya itu yang menuntun saya ke perjalanan yang entah berantah ini.Obrolan kami semakin jauh berkelana entah kemana, hingga tak terasa hari sudah hampir gelap di Daek, sepertinya kita butuh waktu lebih lama untuk bercerita, di situasi yang lebih baik dari ini, tidak dengan pakaian basah hingga membuat tubuh menggigil seperti ini. Akhirnya bang Fauzi Menitipkan kami untuk menginap di LP, seperti pertama kali saya mendengar isitlah LP ini, and Jangan terkejut dahulu, kami tidak menginap di Lembaga Permasyarakat (LP), tadi di sebuah wisma tua bernama Lingga Pesona, orang disini menyebutnya LP. Sepeda kami kayuh menuju LP.

Bersambung….

 

[CATPER] Jelajah Lingga Bersepeda (Bagian 11)

Jauh-jauh hari sebelum menjelajah pulau lingga , saya sempat menghubungi seorang sahabat lama di pulau tersebut. Ia adalah Bang Fauzi, saya mengenal beliau sebagai seorang juru foto dari kabupaten lingga. Lewat aplikasi “chatting” saya ungkapkan niat saya kepada beliau untuk menjelajah pulau lingga dengan sepeda, dan sekaligus saya meminta saran dari beliau tentang rute yang akan dilewati. Jadi, salah satu sumber informasi tentang perjalanan ini saya dapatkan salah satunya dari beliau, dan saya berjanji untuk menjumpai beliau di kota Daek ketika saya sampai disana kelak.

Tak ada tanda tanda sepertinya hari ini akan cerah, sepanjang perjalanan dari pancur hingga ke kota daek hari ini selalu di guyur hujan.  Waktu telah menujukkan pukul 3 petang, kami memutuskan untuk berhenti dan berteduh dari hujan di sebuah halaman “markas bomba” kantor pemadam kebakaran kota Daek.

Hendak apa dan kemana setelah sampai di kota ini, kami pun tidak tahu, satu satunya yang terlintas di benak saya adalah segera menelepon bang Fauzi. Lewat sambungan telepon saya berbicara dengan bang fauzi, celakanya beliau belum bisa menjembut kami lantaran hujan begitu deras saat itu. Bang Fauzi mengarahkan kami untuk datang ke komplek Istana Damnah Kota Daek, beliau sedang disana dan kami janjian untuk berjumpa.

Dalam hujan deras, saya dan pak Budi mengayuh sepeda meluncur di jalanan kota daek yang sepi. beruntung penunjuk arah di dalam kota ini cukup jelas, sebelum menuju komplek Istana Damnah kami sempatkan berkeliling kota meskipun dalam guyuran hujan. kami mengamati dan menikmati suasana kota sembari mengayuh sepeda. Meriam tua di tepi jalan, jejeran bangunan toko-toko tua di Jln, datuk Laksamana, sebuah bangunan bekas penjara, dan rumah-rumah tradisional  melayu yang berupa rumah panggung, banyak di temui disini dan terawat. Sebuah pemandangan yang langka di ata saya.

 

Nostalgia di Linggam Cahaya,

 

Sebuah Gapura di depan kami. Sebuah keterangan menujukkan gapura tersebut sebagai pintu masuk komplek istana Damnah. Komplek Istana Damnah adalah salah satu tujuan wisatawan di kota Daek, di komlpek istana  tersebut terdapat situs Puing istana Damnah itu sendiri, benda-benda peninggalan sejarah dan bukti sejarah lainnya tentang peninggalan kesulatan Lingga di Kota Daek, termasuk keberadaan Museum Linggam cahaya di Kompel terebut.

 

Sepeda kami kayuh memasuki komplek tersebut, jalanan lurus dan lebar, di ujung jalan dari kejauhan tampak bediri gagah gunung daek, ikon kota Lingga. Hujan dan cuara mendung membuat gunung daek tidak tampak begitu jelas, tersamarkan wujudnya oleh kabut. Di kiri jalan berdiri beberapa kantor, semua nya tampak sudah tutup, mungkin karena saat ini telah lewat jam kantor, namun pintu museum masih tampak terbuka, kami berdua memutuskan untuk masuk ke bangunan museum untuk berteduh sembari menunggu bang Fauzi disana.

 

Kami berdua menunggu di halaman depan museum, karena badan telah basah kuyub, kami pun enggan untuk masuk kedalam museum, kami hanya berdiri saja di beranda. Namun bertahan diluar sini membuat kami berdua menggigil kedinginan. Petugas Museum yang baik hati mempersilahkan kami mesuk ke museum, tahu kami adalah pendatang, sang penjaga museum mengantarkan kami berkeliling melongok isi  museum yang berlantai dua itu. Tiada siapapun pengunjung waktu itu selain kami berdua. Saya dan pak budi terkagum kagum melihat koleksi museum, banyak benda benda peninggalan zaman kerajaan masih tersimpan dengan baik disana, seperti perhiasan, senjata, mesin ketik kuno, radio kuno, peralatan makan, dokumen-dokumen lama dan lain lain.

 

Pria muda petugas museum itu mengantarkan kami menaiki lantai dua, di lantai dua museum kala itu cahanyanya remang remang karena sebagian besar jendela di tutup karena hujan. Suasana di lantai dua terasa begitu berdeba, imajinasi saya melayang jauh seperti dalam buku buku sejarah tentang kerajaan lingga. Pria penjaga Museum itu mengoceh bagai tanpa jeda, menjelaskan segala sesuatu tentang museum dan sejarah lingga.

Dinding-dingin di lantai dua dihiasi dengan figura-figura berukuran besar,  terpasang berjejer di tiap sisi dinding musem, figura figura tersebut memuat foto foto dan lukisan wajah tokoh tokoh kerajaan pada zaman dahulu, saya menatap lama lama wajah tiap foto dan lukisan tersebut, suasana ruangan seketika menjadi dingin ketika petugas museum memutarkan sebuah lagu dengan menggunakan gramophone, entah sebab apa bulu kuduk saya berdiri dan saya seketika merinding.

Bersambung….

[CATPER] JELAJAH LINGGA BERSEPEDA ( BAGIAN 10 )

Tanpa berganti pakaian kami langsung menceburkan diri ke sungai yang jernih, sehingga pakaian di badan semua  basah. perasaan girang bukan kepalang menceburkan diri kedalam air yang sejuk dan jernih itu. Kami berdua bagai anak anak yang kegirangan bermain di sungai, melompat lompat kesana kemari  dan menceburkan diri berkali kali ke dalam airnya, untung saat itu hanya kami berdua saja pengunjung di tempat itu,  jadi serasa tempat ini seperti milik kami, tanpa perlu sungkan dengan orang lain.

 

Puas mandi mandi di bawah air terjun resun, kami beristirahat sejenak di sebuah kedai yang tak jauh dari air terjun. Mie rebus dan segelas kopi hangat kami pesan, hidangan sederhana itu rasanya menjadi santapan yang nikmatnya tak dapat di kira. Kami habiskan waktu satu jam di kedai itu, mengobrol apa saja dengan si pemilik warung , dia bercerita tak henti bagai senjata mesin yang tanpa jeda mengeluarkan peluru, dia bercerita banyak hal dan tentang apa saja mulai dari keluhan hidup nya sampai mahluk gaib tak kasat mata di air terjun Resun.

Pukul satu lewat tiga puluh menit, kami memutuskan meninggalkan Resun. Masih dalam guyuran hujan yang tak begitu deras, sepeda terus kami kayuh menelusuri jalan aspal yang mulus dan sepi. Kurang dari 15KM di depan sana dalah kota Daek. Hujan semakin deras ketika kami tiba di Daek, pemandangan hutan dan kebun di sepanjang jalan mulai berganti dengan pemandangan rumah rumah penduduk yang terlihat mulai rapat. Saat itu, kota Daek seakan masih sebuah tanda tanya dalam fikiran saya, seperti apa wujud ibukota lingga itu, sedangkan penujuk jalan menujukkan kami sudah sampai di kota pusat kota, tetapi kota ini tak seperti sebuah kota dalam pemikiran saya.

 

Kota Daek, meskipun statusnya adalah Ibukota dari Kabupaten Lingga, namun kota ini tidak  terlalu ramai, rumah rumah penduduk masih terlihat memiliki pekarangan yang luas, lingkungan yang masih asri dan tenang, juga tidak terlalu banyak kendaraan.  Pasar atau pusat keramaian terletak di kampung cina. Di kampung cina ini adalah pusat perniagaan, toko toko dan kedai kopi juga penginapan banyak terdapat disana.  Sebagai daerah otonomi yang baru saja lahir sejak tahun  2003 lalu, hingga kini kabupaten lingga dan ibukotanya terus membenahi infrastruktur.

 

 

Danau Biru Lepan yang Instagenik

DSC_0507

Ada beberapa Danau Biru Di pulau Bintan, diantaranya Danau Biru Di Desa Busung, Danau Biru di Desa kawal serta Danau biru Di desa Lepan, sedangkan dalam tulisan kali ini adalah tentang Danau Biru di Desa Lepan.

Mengapa disebut danau Biru…?

Danau danau itu tercipta lantaran dahulunya di beberapa daerah di bintan di jadikan tempat penambangan pasir, sisa sisa penambangan pasir itu meninggalkan kubangan kubangan besar dan lama kelamaan menjadi genangan. Warna biru dari danau tersebut tercipta karena dasar danau yang terdiri dari pasir dan lumpur berwarna putih dan airnya yang jernih, sehingga ketika langit cerah, permukaan nya akan memantulkan warna biru dari langit. Beberapa genangan ada yang berukuran besar berbentuk danau sehingga orang orang menyebutnya dengan danau Biru.

Apa yang bisa dilakukan di sana ?

Di sana kamu bisa berfoto foto di beberapa sudut yang sudah di buat sedemikian rupa agar foto mu tampak “kece” ketika di unggah ke halaman Instagram. Beberapa pelantar kayu bernuasa romantis menuju tengah danau di buat berbentuk tanda hati di ujung nya, dan sebuah gerbang berwarna merah bertanda hati pula. Pokoknya , jika berfoto di spot tersebut kamu terkesan romantis oleh lawan jenis mu, yakinlah dia pun ingin diajak kesana bersama mu diujung minggu. Tak hanya itu…, penat berfoto di pelantar berbentuk hati itu, kamu bisa berdayung sampan mengarungi danau biru, jangan lupa untuk singgah di rumah pohon di tepi danau, kamu bisa melihat danau secara utuh dari ketinggian dari atas rumah pohon itu. Oh iya, semua fasilitas itu bisa kamu nikmati dengan membayar “serba lima ribu”.

Bagaimana Menuju Kesana …?

Ada dua cara untuk mencapai Danau Biru Desa Lepan, diantaranya ialaha melewati jalan lintas barat tanjunguban – tanjungpinang atau via desa sungai jeram Teluk sebong, namun jalan via lintas barat tanjunguban dan tanjungpinang adalah yang paling memungkinkan di lalui semua kedaraan meskipun harus melewati sungai dengan menyeberang dengan penyebrangan (pokcay). Dengan berkendara dari tanjunguban sejauh kurang lebih 10 kilometer melewati lintas barat, kamu akan menemui persimpangan Desa Lepan jalan menuju desa lepan belum di aspal atau dengan kata lain adalah jalan tanah dan berpasir, di ujung jalan kamu harus menyeberang sungai dengan “pokcay” sebutan untuk kapal penyeberangan di desa itu, pokcay mampu membawa sebuah mobil dan beberapa kendaraan roda dua beserta penumpang diatasnya, Rp 5000 rupiah adalah ongkos untuk mengangkut penumpang dengan sepeda motor. Setelah sampai di seberang, terus ikuti jalan kampung, danau biru Sudah Dekat.

[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda ( Bagian 9 )

Desa sungai besar telah jauh kami lewati, kini di kiri dan kanan jalan hanya hutan dan kebun kebun sahang . sedangkan kami berdua terus mengayuh sepeda di jalanan tanah kuning yang basah disirami hujan. Seperti nya tak ada tanda tanda cuaca akan cerah hari itu, awan gelap seakan terus mengikuti kami sepanjang jalan, bukit dan gunung yang berdiri anggun  tampak samar tertutup kabut bagai wajah gadis yang ter-samarkan oleh cadar .

hari ini adalah hari kedua perjalanan kami bersepeda menelusuri kepulauan lingga. Sebuah perjalanan “buta” tanpa tahu arah dan tidak berbekal peta, hanya berharap pada tanya dan rambu rambu penunjuk arah sepanjang jalan pulau lingga. Setelah dua jam menelusuri jalanan tanah yang basah, akhirnya kami berjumpa dengan jalanan aspal mulus dan menurun pula, ini bagai bonus setelah betis dan paha menegang menaklukkan tanjakan, seperti quote para pesepeda,  jangan dulu menangis ketika menjumpai tanjakan, setelahnya pasti ada turunan yang menyenangkan, pak Budi sampai melepaskan tangan dari stang sepeda sembari menari-nari diatas sepeda menikmati turunan dan jalan aspal yang mulus.

Jalanan aspal mulus dan sepi, udara segar serta kicau burung sepanjang jalan, pohon pohon sahang berdaun hijau terang berjejer di kiri dan kanan, dan gemericik air sungai yang mengalir deras di bawah kolong jembatan ketika kami tiba di Resun. sambil mengayuh saya tak henti mengucap syukur kepada Sang pencipta atas segala suguhan alam yang saya dapatkan sepanjang rute ini, sungguh suatu yang diluar dugaan saya, sampai titik ini saya sudah jatuh cinta dengan pulau lingga, pe-touring sepeda mana yang tidak mendambakan suasana seperti ini.

Pukul 11.53 kami tiba di resun, di tepi jalan tampak gapura besar dengan gerbang menganga, “itu gerbang masuk menuju air terjun Resun” kata seorang warga yang kami jumpai, “tak jauh dari sini,  masuk saja, retribusi nya hanya Rp.3000 saja” beliau mengakhiri. Dari gerbang, sepeda sudah kami tuntun, sebuah tanjakan langsung menunggu di depan gerbang air terjun resun, setelah sampai di puncak tanjakan ternyata urusan menaklukkan tanjakan belum usai, paha dan betis terus di buat tegang sepanjang jalan hingga ke air terjun rusun. Saking banyak nya tanjakan sampai saya tak sempat menghitung ada berapa banyak tanjakan yang kami lalui, yang hanya saya ingat hingga saat ini adalah sebuah tanjakan yang membuat kami harus menuntun sepeda dan bejalan zigzag untuk sampai ke ujung nya.

 

Dari kejauhan sudah terdengar deru air yang jatuh dari ketinggian, entahkan itu deru dari suara air terjun  atau hanya aliran sungai, kami tak tahu, di depan hanyalah jalanan aspal yang terus menanjak. Biar semangat tetap terus menyala, anggap saja Air terjun resun telah dekat, dan sepeda terus kami kayuh meskipun lebih sering di tuntun. Disini kami hampir kehabisan tenaga, kaki sudah gemetar, nafas tersengal sengal, perut pun keroncongan, tapi syukurlah nestapa ini segera berakhir setelah sebuah papan bertuliskan “Air Terjun Resun” kami jumpai. penat penat seketika hilang ketika kami ceburkan badan di bawah air terjun resun sebagai sebuah selebrasi kami telah sampai di Resun.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Makna Tersirat Pencak Silat

Pencak silat, Seni bela diri warisan para leluhur nusantara, tersebar di banyak daerah di nusantara genap dengan khas nya, dongeng nya juga kisah nyata para pendekarnya. Seiring berjalanya waktu, keberadaan seni pencak silat ini sudah mulai kurang diminati, terutama generasi muda. Padahal di dalam pencak silat tersirat nilai-nilai luhur tentang kehidupan yang patut terus diwariskan.

Dahulu silat diajarkan sebagai bekal laki laki yang sudah masuk usia baliq, bekal bagi pemuda yang hendak merantau, sebagai pagar diri, keluarga dan saudara. Namun disamping itu, belajar silat sejatinya bukan hanya soal adu kehebatan, melainkan sbelajar tentang kehidupan. Di dalam silat, proses membentuk mental adalah satu pijakan dasar hingga terbentuk sikap spotivitas, kemandirian, kejujuran, percaya diri dan keberanian mengambil keputusan.
Nilai tersirat yang semestinya terus di sematkan dan terus melekat sepanjang hanyat.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


_____________________________________

Telah di terbitkan pada rubrik jembia Tanjungpinang Pos edisi 14 Mei 2017

terima kasih kepada sanggar silat telok sebong pulau Bintan