Mengenang pak Hatta di tempat kelahirannya

dsc_6705_34473056791_o

Pagi itu saya sengaja berjalan kaki keluar penginapan untuk menikmati suasana kota bukittinggi,  fajar mulai menyingsing di bukittinggi, pengeras suara dari masjid-masjid seperti bersahut sahutan  menyiarkan ceramah agama lepas shalat subuh,  sementara turis turis tengah mulai mendatangi halaman jam gadang, bus bus besar telah terparkir pinggir pinggir jalan sekitaran jam gadang mengantarkan turis turis yang hendak berpelesir melihat salah satu landmark sumatra barat itu. hembusan angin dingin menambah kesejukan udara kota yang dijuluki kota wisata dan  yang pernah menjadi ibukota sementara negara indonesia saat perang kemerdekaan dulu kala

Kaki saya terus menelusuri sudut kota bukittinggi, saya telusuri sebuah jalan dengan ratusan anak tangga yang sangat masyur di kota,  Janjang ampek puluah, yang menghubungkan pasar atas dan pasa banto. Langit masih gelap, namun pasa banto sudah terdengar riuh oleh suara pedagang. Pedagang tumpah ruah hingga ke badan jalan menjajakan segala macam hasil bumi dari tanah agam nan subur. Sorak sorai para pedagang seperti suara orang tengah  berkelahi adu mulut.”dipilih…dipilih…dipilih…” dengan nada lantang. Langkah sengaja saya sesatkan, kemana saja saya melangkah tak sa fikirkan, bukankah dengan tersesat kita akan menemuka  hal baru…?

Langkah saya terhenti di depan sebuah rumah yang tampak sudah tua namun masih tampak terawat.  Sebuah gambar seorang tokoh nasional yang tidak tampak  terpasang di halaman, tidak asing lagi gambar tokoh itu, ternyata rumah yang terletak di jalan Soekarno Hatta no 37 bukittinggi ini adalah rumah kelahiran  Bapak Mohhamad Hatta, salah satu proklamator RI. Saya sangat Penasaran dan ingin mengetahui isi rumah tersebut, pasti akan banyak hal menarik dapat di didalam sama fikir saya. Namun sayang, rasa penasaran saya tidak bisa segera terlampiaskan, ini masih sangat pagi, masih pukul 6, dalam hati saya membatin. Pengunjung baru di perbolehkan masuk setelah pukul 8 pagi, sebuah papan pengumuman yang terdapat di dinding rumah menerangkan demikian. Saya akan kembali ke sini pukul 8 nanti, dalam hati saya membatin.

Dalam perjalanan pulang ke penginapan, tiba tiba seakan tergiang sair lagu ciptaan seniman Virgiawan Listanto (Iwan Fals) yang berjudul bung hatta. Kepiawaian Iwan fals menghadirkan suasana duka saat pak Hatta mangkat lewat syair dan lirik seakan mampu menyentuh hati siapa saja yang mendengarkannya, saya sendiri pernah meneteskan air mata larut dalam syair yang begitu dalam, meski saya adalah generasi yang tidak pernah bertemu, dan melihat sosok Pak hatta secara langsung, namun dari buku buku tentang bung hatta dan syair lagu tersebut mampu membawa saya merasakan kehilangan pada sosok yang sangat dirindukan. Terbayang bakti nya, terbayang jasa nya terhadap negeri, serta dan jiwa sederhana pak hatta.

Pukul delapan tiga puluh menit, akhirnya saya kembali mendatangi rumah kelahiran Pak Hatta. Suasana sudah tampak berbeda ketika telah beranjak siang, jalan Sokearno Hatta yang tadinya di kerumuni pedagang dan pembeli sekarang di penuhi dengan kendaraan, angkot, sepeda motor, mobil dan bendi. Pagar telah dibuka, saya melihat seorang  seorang perempuan paruh baya tengah membersihkan halaman rumah, dia adalah petugas yang menjaga rumah kelahiran pak Hatta tersebut.

Rumah ini sejatinya adalah rumah kakek Pak Hatta, Ilyas Bagindo Marah atau Pak gaek. Pak Hatta di besarkan di lingkungan keluarga ibunya dikarenakan umur 8 bulan pak pak Hatta telah di tinggal sang ayah H.Mohhamad Djamil.  Masa kecilnya lebih banyak bersama keluarga kakek dan paman paman pak hatta. Dalam buku momoar Bung hatta, sosok pak gaek disebut sebagai seorang yang berpengaruh dalam pemahaman pak hatta tentang agama islam, pak gaek berprofesi sebagai pengantar surat  yang di kenal disiplin, mungkin sikap disiplin  itulah yang juga di tanamkan oleh sang pak gaek kepada hatta kecil.

saya mengucapkan salam dan perempuan itu membalas salam dan mempersilahkan saya masuk, “silahkan masuk… silahkan saja berkeliling, ibu masih beres beres dulu ya… “ ujar nya dengan ramah. Karena saya datang terlalu awal dan ibu penjaga rumah belum menyelesaikan tugasnya, saya tour seorang diri saja.

Ruangan yang pertama saya masuki adalah sebuah ruangan yang dekat dengan teras rumah, ruangan tersebut adalah ruangan baca pak hatta, sebuah meja baca terletak di depan jendela dengan pemandangan langsung ke jalanan Soekarno Hatta yang padat dengan latar belakang gunung marapi.  Sejak muda pak Hatta telah di kenal akrab dengan buku dan penulisan, mengutip keterangan pada buku “Hatta-pemikiran yang melampaui zaman” karya tempo, menyebutkan bahwa pada usia 18 tahun tulisannya di muat dalam sebuah majalah (Jong Sumatra) yang berjudul “Hindania“. Sebuah kisah cinta yang terkesan picisan namun memiliki makna tersirat di balik kisah tersebut. Hindania adalah figur wanita yang dijadikan Hatta sebagai personifikasi dari Indonesia. Hindania di tinggal mati oleh suaminya bernama Brahmana dari Hindustan, dan kemudian Hindania bertemu dengan musafir dari barat bernama Wolandia. Wolandia ternyata hanya mencintai kekayaan Hindania saja, hingga kekayaan wanita malang itu ia kuras habis dan kemudian di tinggal nya pergi. Tokoh Wolandia dipersonifikasikan hatta sebagai penjajah dalam kisah tersebut.

Seketika  hayalan saya terbang ke-masa lampau, hatta muda duduk diruang  baca tengah membalik balik lembaran buku dengan sesekali melemparkan pandangan kebalik jendela, pemadangan hilir mudik bendi dan pedati berlatar gunung marapi. Diruang baca pak Hatta hanya terdapat sebuah meja baca dan di letakkan persis di dekat jendela, ada sebuah ranjang sederhana, dan sebuah lemari, di dinding ruangan terpajang foto foto lama dan lambang negara.

Saya kemudian memasuki ruangan utama di lantai dasar rumah dua lantai itu. Lantai dan langit langit rumah dilapisi dengan tikar, satu set meja dan kuris tertata di tengah ruangan, sebuah lampu gantung antik terpasang di tengah ruangan, seketika saya merasakan seperti berada pada  suasana masa lampau,  zaman kemerdekaan.

Dinding rumah banyak terdapat foto foto kenangan pak hatta dan keluarga, silsilah keluarga pak hatta, serta beberapa dokumen dan surat surat, banyak sekali yang menarik perhatian saya sehingga saya harus berhenti lama memperhatikan dengan seksama foto foto dan dokumen yang di pajang di dinding pada ruang utama itu. Saya sangat terkesan ketika memperhatikan foto pak Hatta dan ibu Rahmi Rachim saat baru saja menjadi pengantin baru, tampak sederhana dan bersahaja dari sepasang pengantin baru tersebut, pak hatta tampak sumringah. Sebuah foto dengan ekspresi yang amat jarang saya lihat Sebelumnya.

Ruangan di lantai dasar terdiri dari ruang utama dan  dua kamar, salah satunya adalah kamar tempat kelahiran pak Hatta, sebuah ranjang antik dengan atap yang bergaya lama dan sebuah lemari tua,  saya melihat tempat tidur tersebut di terpa cahaya matahari yang masuk dari jendela, angan saya melayang kembali, seakan melihat tubuh mungil hatta yang masih bayi itu dibaringkan di tempat tidur itu.

Kemudian saya benelusuri rumah lebih dalam, saya menuju area belakang rumah, disana terdapat kamar tidur bung hatta dan terdapat sepeda yang selalu di gunakan pak hatta, kamar tidur itu bernama kamar bujang, kamar bujang bersebelahan dengan dapur dan kamar mandi, sebuah lumbung padi terdapat di dekat kamar bunjang pak Hatta. Di area belakang juga terdapat pedati milik keluarga pak Hatta.

Saya kemudian penasaran untuk melongok lantai dua, untuk sampai ke lantai dua, saya harus melewati ruang makan, di dekat ruang makan terdapat sebuah tangga sebagai penghubung ke lantai dua.  saya berhenti sejenak di ruang makan, saya perhatikan  perangkat makan yang antik pula,   piring kanso, gelas yang terbuat dari bahan alumunium, ceret tempat air minum dari bahan logam, meja makan dari bahan kayu dan kursi yang ber alasakan ayaman rotan, sungguh saya mengingat-ingat entah kapan terakhir saya melihat barang barang antik seperti ini.

Di lantai dua tata ruang tak begitu berbeda seperti di lantai dasar, terdapat dua kamar pula dilantai dua, satu set meja dan tiga buah kuris di tata sedemikian rupa di tengah ruangan, sebuah lampu gantung seperti  lampu terdapat pada ruangan keraton juga terpasang di langit langit lantai dua,  diding rumah dari kayu di tempeli foto foto kenangan bung hatta dan keluarga, serta sebuah lukisan besar bung hatta di salah satu dinding ruangan yang sangat menarik perhatian.

Menelusuri rumah kelahiran pak Hatta  memberi  pengalaman berbeda bagi siapa saja yang ingin mengetahui sejarah pak hatta, pengunjung disajikan pengalaman visual yang mungkin  tidak bisa didapatkan dari buku buku yang menuliskan tentang pak Hatta. Rasa bangga dan kecintaan terhadap bangsa sejatinya harus tetap tumbuh di dalam jiwa generasi muda, Pak Mohammad Hatta sampai kapanpun akan terus dikenang sebagai pemberi panutan bagi bangsa. Melalui pemikirannya yang bernas beliau berjuang untuk kemaslahatan banyak orang, seperti contoh sistem koperasi yang masih di manfaatkan hingga sekarang ini.  lewat goresan penanya yang tajam ia berjuang untuk kemerdekaan, dalam tulisannya yang berjudul sangat provokatif berhasil membuat gerah penjajah dan membangkitkan gerakan bagi rakyat indonesia, sebuah tulisan yang berjudul “Indonesia Merdeka” yang beliau tulis dalam berbagai bahasa diantaranya dalam bahasa  inggris, perancis, belanda dan jerman.  Penjajah pun sempat meragukan tulisan yang mengusik dunia internasional itu adalah tulusan dari orang indonesia.  Pak Hatta memang dikenal memiliki kemampuan berbagai bahasa asing. Mengutip tulisan pada buku “Hatta-jejak jejak yang melampaui zaman” yg di tulis oleh tempo menyebutkan bahwa “ketajaman pena Hatta lebih digdaya ketimbang senjata”.

Meski demikian, pak hatta tetaplah pribadi yang sederhana. Kisah sepatu billy yang tak mampu ia beli dan tunggakan tagihan telepon yang tak mampu ia bayar meskipun ia popularitas sebagai wakil presiden, hal tersebut menggambarkan betapa sederhananya pribadi pak Hatta sebagai seorang pejabat negara.

Tidak hanya di dalam negeri, di negeri penjajah sekalipun pak Hatta di segani dan di hormati. Sebuah jalan di kota Harrlem, Rotterdam belanda diabadikan dengan nama beliau, konon ada cerita menarik di balik keberadaan jnama jalan tersebut. jalan tersebut tak begitu panjang, namun sederhana lurus dan di tumbuhi pohon pohon yang rindang di kiri kanan nya, seakan merepresentasika  sosok kepribadian pak Hatta yang jujur, lurus dan sederhana.

Jika kamu ke bukittingi, sempatkanlah untuk singgah kerumah kelahiran pak hatta yang beralamat di Jln. Soekarno Hatta, mandiangin – Kota bukittinggi. Tidak dipungut biaya untuk mengunjungi rumah tersebut, namun jika kamu berniat ingin menderma, pengurus siap mengelola. Rumah kelahiran Mohhammad Hatta di buka dari setiap hari mulai pukul delapan pagi.

Iklan

Pria Berkamera, Fotografer dan tukang pijat

886627_3016531708972_481090110_o

Suatu ketika dalam sambungan telepon, seorang fotografer dan calon client sedang melakukan percakapan.

Calon klien : Mas fotografer, saya mau tanya-tanya paket foto wedding.

Fotografer: ok, Baik mbak… silahkan…

Calon klien: paket nya apa aja ya mas?

Fotografer : Baik mbak…, kita kebetulan punya paket wedding bla bla bla….. ( mas fotografer menjelaskan  dengan detail paket )

Calon klien : Oh begitu ya mas…?,    Jadi gini mas, saya tu acara wedding nya sederhana saja, nga pakai resepsi-resepsi gitu, jadi paling sebentar doang sudah selesai, fotografer bakalan nga perlu standby lama kok mas.

Fotografer: Hmm…Oh baiklah mbak… saya aturkan secara fleksibel, kebetulan kita sudah siapkan paket per jam, bagaimana…?

Calon klien : nah, berapa itu budget paket per jam nya?

Fotografer : baik mbak… untuk paket per jam nya adalah bla bla bla….. ( fotografer menyebutkan nominal dan detail paket per jam )

Calon klien: Ooo… bgtu ya mas.     Bgini mas… saya kebetulan kemarin baru beli kamera juga, bagus juga kameranya, bisa di putar putar itu lensanya kayak kamera wartawan itu.. nah.., kalau nanti mas motretnya pas waktu acara saya pakai kamera saya aja gimana mas? harganya boleh kurang lagi nga? (calon client mulai bicara dengan tersendat sendat seperti sedang mikir sesuatu)

Fotografer: (di balik telepon fotografer menarik nafas dalam sembari mengurut dada, ) Hhm… bgini mbak.., harganya sudah di ditetapkan sekian ya mbak…, masalah kamera yang saya gunakan, boleh boleh saja mbak menawarkan kamera tapi, jasanya tetap demikian mbak…

Calon client: Oooo…. ya udah, nanti saya telepon lagi ya. Terima kasih

Fotografer : baiklah mbak….

Dan calon client tidak pernah kembali menelepon.

Teman teman fotografer mungkin pernah mengalami kejadian seperti ini, dan respon nya bisa bermacam macam, ada yang malas malasan melayani clinet seperti ini, ada yang mengurut dada sabar melayani, ada juga mungkin yang  jutek  dan galak hingga bilang seperti ini ke calon client, “Ya udah…, motret pakai HP aja sendiri ”.  semoga saja teman teman fotografer tidak seperti contoh yang ketiga itu, bagaimanapun fotografer harus menyadari calon client bisa datang dari latar belakang yang berbeda beda. Tidak semua client mengerti tetang layanan jasa fotografi, mungkin saja client orang awam atau belum pernah menggunakan jasa fotografi sebelumnya. Contoh saja untuk acara wedding, mungkin saja sebagian besar orang yang memesan jasa foto wedding adalah belum pernah menjalani wedding atau mengurus wedding dan ber urusan dengan fotografer sebelumnya. Tugas fotografer adalah memberi penjelasan dengan baik kepada calon client.

Bukan hal yang suatu hal yang baru disadari lagi kalau era digital menjadi tantangan sendiri bagi fotografer. Mengutip pernyataan dari arbain fotografer senior yang bertugas pada harian kompas,  Perbandingan era kamera film dan digital, perbedaan nya sudah seperti bumi dan langit dari sisi kemudahan memotret, demikian ungkapan beliau.

Dengan munculnya teknologi  kamera DSLR tugas fotografer agak lebih terbantu dan mudah, muncul fenomena hampir kebanyakan orang bisa memiliki kamera dengan harga kamera yang semakin terjangkau pula, semua orang bisa memotret, bahkan anak taman kanak kanak saja kalau di berikan kamera digital sudah bisa menghasilkan gambar.  Kembali mengutip pernyataan jurnalis foto senior kompas Arbain Rambe, orang berkamera dan fotografer itu bagaikan fenomena tukang pijat, “semua orang punya tangan, tapi nga semuanya pintar mijat, yang membedakan mereka adalah skill dan pengalaman”

Dari percakapan client dan fotografer tadi mungkin bisa disimpulkan kalau calon client masih awam dengan tugas fotografer. Dia berfikir tugas memotret tak lebih dari berhitung dari angka satu ke  tiga kemudian menekan shutter saja, client tidak mengerti untuk melaksanakan tugas memotret perlu keahlian dan pengalaman untuk bisa memutuskan kapan saat terbaik menekan tombol shutter yang terlihat pekerjaan itu tampak mudah.

Dan kemudian, sebagian client mungkin bertanya “kok tarif foto terlalu mahal…?”, “ah.. apa sih susahnya motret, tinggal jpret jpret aja kok bayarnya mahal gitu”.  Sekali lagi…, mungkin client tidak faham bagaimana proses dari memotret hingga album mereka terima. Di balik proses memotret Fotografer melakukan pekerjaan kreatif yang melibatkan ide dan imajinasi, bukan kah imajinasi itu lebih berharga dari ilmu pasti…? Fotografer perlu banyak belajar, berlatih dan proses tersebut tentu tidak di dapati dengan mudah atau pun gratis…, disisi lain dalam tugas fotografi, fotografer harus memikirkan biaya operasional (transport,makan,dll), biaya produksi (jasa editor, biaya listrik saat editing, cetak foto, album dsb) , biaya penyusutan alat fotografi yang jika semakin sering di gunakan makin berkurang pula daya alat tersebut beroperasi seperti contoh kamera dan lampu flash…, ada lagi biaya peningkatan skill fotografi, kadang fotografer belajar dalam wokshop workshop fotografi agar hasil karya  yang di hasilkan untuk client menjadi lebih baik, ataupun ia belajar dari secara mandiri melalui internet dll, semua hal tersebut tentu butuh biaya. , belum lagi biaya operasional toko yang harus di perhirungkan jika memiliki toko, dan yang terpenting perlu sadari adalah fotografer juga adalah suatu profesi, fotografer berkerja tentu untuk penghidupannya dan keluarganya.

Mencari referensi, informasi atau pun survey adalah ciri klien yang bijak. Semestinya tidak ada fotografer yang memberikan harga tidak masuk akal kepada client nya, dan semestinya pula tidak akan ada client yang kecewa atas layanan fotografer jika client telah melalui riset seperti yang di sebutkan di awal paragraf ini. What you pay is what you get.  Mahal adalah relatif. Mungkin anda akan menemui dilapangan tarif dari jasa fotografi yang sangat beragam, mulai dari yang ratusan ribu bahkan hingga puluhan juta rupiah, yang perlu anda cermati adalah apa yang akan anda dapatkan dari paket yang di tawarkan fotografer tersebut. Mungkin fotograger A lebih mahal dari fotografer B, tapi coba anda telusuri mengapa paketnya lebih mahal, hak anda sebagai client meminta penjelasan paket fotografi yang di tawarkannya. Satu hal yang tak kalah penting lagi yang perlu anda lakukan sebagai client adalah melakukan riset terhadap hasil karya dari calon fotografer anda, fotografer yang baik biasanya memiliki porfolio yang baik dan mudah diakses oleh client nya. Seperti trend saat ini, fotografer merangkum karyanya dalam akun media sosial nya seperti facebook ataupun instagram. Anda bisa mengamati karya karya atau pekerjaan yang telah mereka lakukan dalam tugas fotografi. Pilihlah fotografer yang sesuai dengan harapan anda hasil karyanya.

Klien yang kurang referensi kadang dipengaruhi oleh fotografer yang mematok tarif dibawah pasaran, fotografer yang melakukan tindakan seperti ini berkemungkinan adalah yang sedang belajar dibidang usaha jasa fotografi. Fotografer yang tengah dalam tahapan belajar terkadang tidak terlalu memikirkan materi, hal yang lebih utama baginya adalah mendapatkan portfolio, pengalaman memotret, dan meraih perhatian klien ketimbang memikirkan materi seperti halnya pelaku usaha fotografi. Sah sah saja kalau alasan belajar untuk bertindak demikian. Toh nanti tiba saatnya fotografer tersebut akan meningkatkan level nya tadinya dalam tahap belajar, kemdian terjun menjadi pelaku usaha fotografi, sehingga mereka pun akan memikirkan dan melakukan hal-hal bagaimana seorang profesional berkerja. Tipikal fotografer yang belajar seperti  tadi patut mendapat arahan dan pembinaan dari senior agak lebih baik . Tapi yang berbahaya justru adalah yang melakukan nya dengan tidak serius atau iseng iseng aja. Hanya bermodal kamera kemudian tanpa bekal pengetahuan fotografi yang memadai cetak kartu kemudian berjualan jasa fotografi. Fenomena seperti ini kadang menciptakan situasi buruk bagi usaha fotografi. Usaha fotografi menjadi tidak sehat, kualitas jasa fotografi yang menurun, pemahaman masyarakat tentang seni fotografi rendah, dan kurang di hargai nya profesi fotografi. Sebagai mana sebuah ungkapan lama, “orang lain akan menghargai anda sebagaimana anda menghargai diri anda sendiri”

 

Pantai Telok Diraja, Pesona baru di desa busung

_DSC0030.jpg

“Apabila kamu berkerja dengan cara kreatif , maka akan lahir nilai tambah yang baru” begitu kata sebuah ungkapan. Melalui proses Kreatifitas kamu mampu merubah sesuatu yang mungkin saja awalnya tak bernilai, menjadi lebih bernilai. Fenomena bermunculan nya tempat wisatapun demikian,  contohnya, siapa sangka lahan bekas tambang pasir  di desa busung pulau bintan akhirnya menjadi object wisata yang tiap akhir pekan di singgahi banyak penacong, Danau bekas galian pasir yang terbengkalai di kampung lepan di sulap oleh sentuhan kreatif  menjadi  danau Lepan yang instagenik, kemudian bukit bukit yang telah terkelupas karena penambangan pasir di desa kuala sempang yang  di namai secara unik dengan nama bukit eskrim,  karena warna warni yang unik pada tebing bukitnya nya yang seperti lapisan eskrim itu kini menjadi tempat wisata foto foto nan isntagenik pula.

Perlahan masyarakat mulai sadar akan manisnya berkah dari pariwisata, kampung dan desa di bintan saat ini seakan berlomba  menemukan, menciptakan nilai pariwisata yang diharapkan dapat mendatangkan tamu dan menjadikan tuah bagi mereka.

Adalah Telok Diraja salah satu contohnya. sebuah produk kreatif dari kelompok sadar wisata dari desa busung itu. Zul dan 12 rekannya masyarakat tempatan secara swadaya menggarap lahan kosong yang awalnya tak begitu terlirik keindahan nya itu kemudian di garap dengan pemikiran dan tindakan yang kreatif sehingga menghasilkan sebuah nilai baru dari sebuah lahan kosong tak awalnya tak terlalu bernilai.

Pemandangan yang indah dan masih alami dari pantai Telok Diraja akan menjadi penawar penat mu setelah berkativitas sepekan,  pohon pohon yang rindang di tepi pantai menyediakan kenyamanan bagi kamu untuk bercengrama bersama keluarga dan kolega di bawah  rindang nya. Pantai nya yang  cukup bersih dan tenang  sangat menggoda pagi pengunjung untuk berenang ketika air laut pasang. Penat berenang hingga perut terasa lapar…? jangan khawatir, disana mereka telah menyiapkan beberapa jenis makanan dan minuman yang dapat kamu pesan kapan saja. Namun di karenakan lokasi ini baru di buka dan masih banyak pekerjaan disana sini , sehingga masih ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian pengelola agar tempat ini menjadi lebih baik lagi, terutama masalah penataan dan kebersihan nya.

Telok Diraja terletak di desa busung puau bintan. Jika kamu berkendara dari arah  tanjunguban cukup memakan waktu 15 menit saja, sebelum memasuki desa busung kamu menemukan sign atau tanda penujuk arah di sebelah kanan jalan yang menunjukkan arah menuju pantai Telok Diraja, dan Jika kamu datang dari arah tanjungpinang  pun tak cukup sulit menemukan pantai ini, setelah melewati jembatan busung akan ada  penunjuk arah di sebelah kiri jalan yang akan memandu kamu sampai ke pantai Telok Diraja. Cukup membayar 5000 rupiah untuk parkir kendaraan roda empat dan 1000 rupiah untuk kendaraan roda dua.

 

 

Ingin tahu tempat menarik lain nya di pulau bintan lainya….? silahkan juga singgah di tautan berikut;

Omjay Trip – Bintan One Day

[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 13)

Rupanya “LP” itu tak begitu jauh dari Museum Linggam cahaya. Tentu saja… jika masih di dalam kota daek ini kemana mana tak terasa jauh, karena kotanya kecil saja. Bang Fauzi memandu kami dengan sepeda motor  menuju Penginapan., kami diantarkan nya ke Wisma Lingga pesona di Jl. Datuk Laksamana No 09 Daek lingga. Sebuah Wisma tua dengan bangunan kayu yang lebih menyerupai kedai kedai pencinaan disebuah kota lama.

Menurut bang Fauzi, Lingga pesona adalah penginapan yang pertama yang ada Daek. Bangunan Wisma lama terletak di jalan Datuk Laksamana no 09 ini. sampai sekarang, bangunan wisma lama tersebut masih di pertahankan hingga kini dan masih di gunakan untuk pengunjung,  Sedangkan bangunan wisma baru di bangun memanjang tersambung dengan bangunan wisma lama, sehingga kedua bangunan tersebut terhubung. Saya masuk dari pintu bangunan wisma lama dan berjalan menuju reception yang berada di bangunan wisama baru, suasana perubahan bangunan ini dari waktu kewaktu amat sangat terasa ketika saya menelusurinya. Sebuah kamar dengan harga sewa 70 ribu rupiah permalam yang terletak di bangunan wisma lama kami pesan, kamar hanya terdiri dari dua tempat tidur sebuah lemari dengan kipas angin tergantung di langit langit kamar, cukup nyaman buat pe-“touring” “budget mepet” seperti kami.

Sepeda kami parkirkan di dalam gudang wisma yang berada di lantai dasar, semua barang bawaan telah di turunkan dari rak, sepeda telah di kunci dan pannier kami pindahkan kedalam kamar.

Bang Fauzi pun berpamitan setelah semua perlengkapan kami simpan di dalam kamar. “nah… silahkan istirahat dulu, nanti malam kita wisata kuliner ” tandas nya mengakhiri perjumpaan dengan kami senja hari itu.

Magrib telah usai, namun rintik hujan terus saja membasahi bumi bunda tanah melayu itu, awan seperti tak kuasa menahan bebannya, seperti air mata bunda yang mengiringi kepergian anak nya untuk selama lamanya, , kadang dapat di tahan, tapi kemudian mengalir jua.

 

Makan malam “hikmat”, ayam goreng sambal Mercon

Hari mulai gelap, angin dingin dari dinding dinding bukit yang melingkungi kota daek berhembus hingga dinginnya menusuk sampai ke tulang, perut yang sudah kosong membuat situasi seakan makin “sempurna” nelangsanya. Saya dan pak Budi memutuskan untuk tidak menunggu ajakan bang Fauzi, urusan perut ini sepertinya tidak dapat di tunda lagi.kami bergegas tinggakan kamar wisma untuk mencari penambal dinding dinding lambung ini.  Bersamaan dengan itu pula bang Fauzi baru saja tiba di depan wisma hendak menjemput kami, dayung ternyata bersambut.

Bang Fauzi dan seorang teman bernama Ferdy menjemput kami dengan sepeda motor untuk berwisata kuliner di kota daek. Pak Budi di bonceng oleh bang fauzi sedangkan saya bersama Ferdy. Di atas kendaraan yang melaju,  Ferdy dan saya berkenalan untuk pertama kali,  saya ketahui beliau berkerja untuk pemerintah mengawasi terumbu karang di perairan kabupaten lingga, sebenarnya bang Fauzi dan bg ferdy ini penjelajah alam lingga,  sudut mana yang mereka belum pernah jelajahi di lingga ini, dari daratannya  hingga dasar laut telah di telusurinya.

Sepeda motor berhenti di sebuah halaman rumah yang telah di tata sedemikian rupa hingga menjadi kedai makan, “Kedai sambal Mercon” namanya. Mendengar namanya saja air liur saya seakan tak sadar meleleh. Ini sepertinya akan menjadi makan malam yang “serius”, panas dan berkeringat.

Kami memilih duduk disebuah gazebo di halaman kedai, ukurnnya satu meja pas untuk kami ber-empat. Bang fauzi menepukkan kedua tangganya memanggil pelayan kedai, seketika dengan sigap pelayan kedai datang membawa daftar menu dan sebuah buku catatan, 3 porsi ayam goreng dengan sambal mercon di pesan bang Fauzi, sedangkan bg Ferdy memesan semangkok mie rebus. di gazebo kami “berbual” mengulur-ulur rasa lapar, namun  menu yang di pesan tak secepat datangnya si pelayan pembawa daftar menu itu. Sungguh kesabaran sang kelapran ini sedang diuji.

Akhirnya yang di tunggu tunggu pun datang, “Nah…jom kita makan” kata bang Fauzi, tanpa menunda waktu urusan mengisi perut segera kami tuntaskan, hening tanpa bersuara. hanya terderngar sesekali suara benturan gelas dan piring dari meja makan. Sambal mercon ini jadi pelampiasan hasrat “makan Besar” seharian ini, seingat saya seharian ini hanya makan mie instan tengah hari tadi di Air terjun resun. pantas saja rasanya dua orang pesepeda ini terlihat kalap  malam ini, sampai sampai pak budi pun meminta tambah satu porsi.

 

Jelajah Lingga dari Meja Makan

Kami berdua tak akan banyak punya waktu untuk berkeliling kota Daek, dikarenakan waktu yang terbatas . Esok pagi pagi sekali kami harus mengejar penyebrangan menuju Pulau singkep dengan menumpang kapal Roll and Roll (RORO) dari pelabuhan Penarik. Menurut bang Fauzi, kapal akan berangkat pukul 11 siang dari pelabuhan penarik (Lingga) ke Pelabuhan Jagoh (Pulau Singkep),

Saya hanya memendam harapan untuk mengenal lebih jauh negeri bunda tanah melayu ini, tapi beruntung nya saya berjumpa dengan dua orang yang akan membawa saya “berkelana” imajinasinya  menelusuir kepulauan lingga dengan kisah perjalanan mereka dari meja makan ini. Bang fauzi dan Ferdy adalah sebagian dari generasi muda lingga yang aktif memperkenalkan keindahan alam dan budaya Lingga lewat media internet. Jangkauan jejalah mereka akan kepulauan  Lingga  tiada yang meragukan , daratan hingga dasar laut kepulauan lingga telah mereka sambangi. Jika tak percaya coba singgahi akun Instagram mereka @said_fauzi_dive dan @ferdyoi.

Dari meja makan malam itu mereka bercerita bagaimana mereka hidup beberapa hari di perkampungan suku laut di kepulauan senanyang, menyelami dasar laut menemukan warna warni terumbu karang, menari nari dengan berbagai jenis ikan dan menikmati keheningan di dasar laut kepulauan lingga. Menikmati indahnya matahari terbit di puncak permata, kisah kisah ekpedisi pendakian gunung Daek, serta pantai pantai indah nan sepi, tersebunyi dan tak terjamah di kabupaten kepulaun Lingga. Sungguh cerita mereka membuat perasaan ingin kembali lagi suatu hari.

 

Melewatkan Malam Di Taman Tanjungbuton

Sudah pukul 10 malam, bang fauzi dan Ferdy menawarkan saya untuk menikmati suasana malam di kota nya, meskipun kantuk sudah menyerang namun saya terima saja tawaran mereka. Tak ada salahnya melawan kantuk sejenak untuk sebuah cerita yang akan di bawa pulang tentang daerah yang baru saya  kenal ini. Bang Fauzi dan Ferdy mengajak kami ke tempat dimana orang orang kota daek “kongkow” melewatkan waktu malam sebelum mata mengantuk, Mereka ajak kami ke sebuah taman terbuka, sebuah taman bernama “TB” alias Taman Tanjungbuton

Taman Tanjung buton adalah sebuah taman yang terletak persis di depan pelabuhan Tanjung Buton. Pelabuhan ini merupakan salah satu gerbang utama untuk menuju Daek, meskipun keberadaan pelabuhan penarik juga menjadi alternatifnya sebagai pintu masuk ke pulau lingga, namun nama pelabuhan tanjungbuton lebih populer sebagai sebuah pintu gerbang.

Warga tampak bersantai di sekitaran taman yang di kiri dan kanan nya adalah lautan itu, muda mudi bercengkrama, sebagian dari mereka duduk duduk diatas sepeda motor yang terparkir di pinggir pinggir jalan. “ini adalah salah satu tempat terbaik menikmati sunset di kota ini” ujar bang Fauzi. Namun di kiri dan kanan jalan saya tak melihat apa apa melaikan gelap lautan.

Malam itu terdapat suatu keramaian di tengah jalan, tepat di depan gerbang pelabuhan tanjungbuton, sebuah panggung hiburan sederhana berdiri,  panggung dengan banner besar bermotif warna merah kuning hijau layaknya bendera negara Jamaica, jelas sepertinya akan ada pertunjukan musik Reggae disini, saya sempat berfikir bagaimana musik dari benua afrika itu bisa sampai ke negeri yang tersuruk di seberang laut dan di balik gunung ini, ah sudahlah… kabar  seperti apa sekarang ini yang tak dapat di ketahui sampai ke pelosok negeri, kalau jaringan internet sudah menjangkaunya, segala informasi bahkan idologi macam apapun akan sampai jua ke ujung negeri. Kami memilih untuk menikmati sajian musik yang dekat dengan kaum Rastafarian itu

Di atas panggung berdiri pria dengan suara lantang, tanpa pengeras suara pun suaranya terdengar keras, ia  berbicara laksana orator demonstrasi, ucapan ucapan menyuarakan perlawanan generasi muda terhadap generasi generasi tua yang korup, penindasan, dan ke-tidakadilan pemimpin. namun entah siapa orator itu, dan  pada siapa orasinya ia tujukan saya tidak memahaminya, yang jelas panggung musik reggae belum juga kunjung dimulai.

Tak lama setelah orasi, beberapa bujang dan gadis belia berbusana melayu meliuk liuk menari dengan tarian melayu yang lincah di depan panggung. Meksipun panggungnya ber-“aroma” Jamaica, namun Identitas melayu tetap di taruh di muka. Setelah semarak musik dan gerakan tarian melayu yang enerjik tampil di hadapan masyarakat kota daek, suasana seketika hening, seorang penyair tampak bersiap membacakan sajak

 

“Puncak Permata”

Di ketinggian ini
ingin kuceritakan kepadamu tentang isyarat langit yang bercakap-cakap dengan laut, sejauh mata memandang semuanya hijau dan biru.

 

Seketika saya ingat penggalan bait sajak itu, rasanya pernah saya baca sebelumnya, dimana saya membaca pun saya tidak ingat. “Ia adalah Nofriadi Putra, ia piawai menulis syair dan puisi  ”  kata bang Fauzi, “Pria berdarah minang yang sudah lama tinggal di sini, mungkin cinta nya akan tanah kelahirannya serupa sebagaimana ia mencintai tanah rantaunya ini” bang fauzi menjelaskan. Wah… saya sungguh merasa beruntung, bisa mendengarkan lantunan sajak indah yang pernah say abaca,  yang kemudian di bacakan oleh penulisnya sendiri, dan sungguh tidak terduga.

Nofriandi membacakan bait-bait sajak dengan nada tenang, Saya menikmati bait demi bait sajak berjudul “Puncak Permata” itu.  Saya membayangkan, mungkin saja Nofriadi menulis bait bait sajak itu ketika ia sedang duduk menikmati indahnya bentang alam kepulauan lingga dari puncak permata itu.  Mungkin saja…

Nofriandi mekahiri puisinya, suasana hening berganti riuh tepukan tangan penonton yang berkumpul di depan panggung. Mata saya mengantuk di buai angin bait bait sajak Nofriandi dan juga henbusan angin laut. Karena tak kuasa lagi menahan kantuk, kami pun bergegas pulang meninggalkan panggung musik  ber aliran impor dari benua afrika itu.

Esok Pagi pagi sekali kami harus mengayuh sepeda kembali menuju Pulau singkep.

Terima kasih bang Fauzi dan Ferdy atas satu malam di Daek Lingga yang tak terlupakan…

 

Bersambung…..

Update : Wisma Lingga Pesona (LP) sebagain bangunannya telah habis terbakar pada sebuah kebakaran hebat yang melanda perkampungan cina di Kota Daek pada tanggal 28 november 2017). termasuk kamar kami menginap dan bangunan yang terdapat pada foto diatas

Ini alasan kenapa kamu harus ke tanjungpinang Pekan Depan

 

Pekan depan, akan di gelar sebuah “pesta besar” masyarakat provinsi Kepulauan Riau (kepri). Gelaran acara selama Sembilan hari berturut-turut  bertajuk “Festival Bahari Kepri” itu akan di laksanakan di ibukota provinsi KEPRI,  Tanjungpinang. Festival bahari KEPRI  di buka  pada 13 oktober dan puncaknya adalah  22 Oktober 2017.

Lalu apa istimewanya acara ini…? Dan kenapa kamu harus kesana…? Tentu saja sangat istimewa, dalam Festival selama Sembilan hari tersebut kamu akan disuguhkan beragam pertunjukan seni, budaya serta permainan tradisional yang mungkin saja sudah sukar untuk kamu jumpai di hari-hari biasa, Festival sembilan hari tersebut adalah ungkapan suka ria, seluruh masyarakat akan tumpah ruah di jalanan dan vanue acara di beberapa lokasi di kota tanjungpinang.

Festival di buka dengan aksi bersih-bersih bertajuk Eco Heroes. Sebuah kegiatan yang menujukkan semangat kepedulian akan lingkungan berbagai elemen masyarakat kota tanjungpinang, yang di gelar di kota Rebah. Sebuah situs sejarah peninggalan kerajaan riau johor lingga di kota tanjungpinang. Lalu keseruan akan terus berlanjut. Kamu akan menjadi saksi dari semangat bertanding pada peserta Dragon boat race ber-adu cepat mendayung perahu secara beregu dalam “Sungai Carang Dragon Boat Race” di sungai carang. Kemudian yang paling amat sangat di tunggu tunggu adalah pergelaran busana unik karya para designer –designer berbakat yang bertajuk “KEPRI Fashion Carnival” yang akan di gelar di jalanan kota tanjungpinang

Keseruan belum akan berhenti, masih banyak pertunjukan Seni yang akan di gelar di daerah sekitaran Tepi laut kota tanjungpinang, baik itu seni musik, tari, pembacaan syair dan seni pertunjukan tradisional melayu yang sudah jarang kamu saksikan. Pada Festival di Sembilan hari itu kamu akan benar-benar merasakan bagaimana suasana melayu kembali dihidupkan oleh masyarakatnya. Permainan-permainan dan lomba tradisional akan kembali di mainkan dan di perlombakan pada saat itu, seperti lomba pangkah gasing, lomba perahu jong, lomba perahu layar, perahu dayung dan masih banyak lagi.  Kamu tidak hanya akan di hibur dengan pertunjukan yang memanjakan mata dan telinga saja, 10 kampung sudah siap memanjakan lidah kamu dengan aneka ragam makanan tradisional  dalam festival kulliner tradisonal melayu.

Nah… Jika pekan depan kamu belum punya rencana hendak mau kemana, pastikan kamu ada di tanjungpinang pekan depan, sederetan kegiatan di festival itu  akan meninggalkan kesan yang tak terlupakan, tidak juga percaya…? Buktikan saja pekan depan.

Berikut jadwal rangkaian acara Festival Bahari Kepri 2017 :

1. Sabtu, 7 & 14 Oktober 2017 jam 08-11 WIB

Eco Heroes adalah aksi kepedulian masyarakat untuk membersihkan sampah di Kota Rebah, Tanjungpinang. Kota rebah adalah situs bersejarah yang merupakan saksi bisu kejayaan kerajaan riau johor lingga.

2. Jumat, 13 Oktober 2017 jam 19.00-22.00 wib
Dangkong Dance Festival di Kabupaten Tanjungbalai Karimun. Festival dangkung ini adalah satu satunya rangkaian festival bahari yang dilaksanakan di luar kota tanjungpinang. Dangkung adalah tarian muda mudi yang sudah jarang di jumpai saat ini.

3. Sabtu s/d Senin, 14 s/d 16 Oktober jam 08.00-16.00 wib
Permainan Tradisional di Tepi Laut Tanjungpinang. Akan ada banyak permainan tradisional di lombakan pada hari hari tersebut. Yang pasti permainan permainan ini sudah aman jarang di jumpai, seperti permainan Gasing, Lomba perahu jong banyak lagi.

4. Sabtu & Minggu, 14 & 15 Oktober 2017, jam 19.30 – 22.00 wib
Pentas Seni di Gedung Daerah Tanjungpinang. Pertujukan kesenian berupa tarian lagu dan seni pertunjukan tradisonal, diantaranya ada pertunjukan opera tradisional melayu dari Natuna bernama Mendu.

5. Senin s/d Jumat, 16 s/d 20 Oktober 2017, jam 08 – 22.00 wib
Wonderfull Indonesia Sailing ( Sail Sabang ) di Perairan Tanjungpinang. Atraksi para yachter dari berbagai negara mengarungi perarian tanjungpinang dan bintan.

6. Senin, 16 Oktober 2017, jam 19.00- 22.00  wib
Sound From Motherland of Malay di Gedung Daerah. Penampilan panggung musik tradisional melayu.

7. Selasa, 17 Oktober 2017, jam 19.00 – 22.00 wib
Festival Gurindam 12 di Gedung Daerah.

8. Selasa, 17 Oktober, jam 19.00 – 22.00 wib
Festival Drumband di Anjung Cahaya

9. Rabu, 18 Oktober, jam 19.00 – 22.00 wib
Panggung Penyair di Gedung Daerah

10. Kamis s/d Sabtu, 19 s/d 21 Oktober jam 08.00 – 22.00
Kepri Expo di Tepi Laut Tanjungpinang

11. Kamis, s/d Minggu, 08.00 – 22.00 j
Wonderful Sail to Bintan di Perairan Bintan

12. Kamis, 19 Oktober 2017, jam 07.00 – 14.00 wib
Pawai Budaya & Mobil Hias

14. Kamis, 19 Oktober 2017, jam 19.00 – 22. 00 wib
Festival Rebana dan Zikir di Gedung Daerah

15 . Jumat, 20 Oktober 2017
Jam 08.00 – 16.00 Festival Kuliner 10 Kampung di Tepi Laut
Jam 15.00 – 18.00 Parade Kapal Hias di Sungai Carang
Jam 19.00 – 18.00 Yatchers Dinner
Jam 19.00 – 20.00 Malam Puncak FBK di Gedung Daerah

16. Sabtu, 21 Oktober 2017
jam 11.00-17.00 wib Cycosports (eksebisi sepeda) start di gedung daerah – Dompak
Jam 11.00- 17.00 wib Kepri Carnival start dan finish di gedung daerah
jam 19.00 – 22.00 wib Malam Hiburan Rakyat di gedung daerah

 

 

[CatPer] Jelajah Lingga Bersepeda (bagian 12)

 

pak Budi Berpose di sebuah penjara tua peninggalan Belanda di tengah kota Daek-Lingga

 

Menginap Di LP

Gunung yang juga di kenal sebagai sebutan gigi naga itu masih tampak tersamar oleh kabut. Pukul empat lebih tigapuluh menit, kota Daek masih terus di guyur hujan, sementara itu kami menunggu hujan reda di beranda museum linggam cahaya. Sementara itu, diantara derasnya hujan dari kejauhan tampak seorang menunggang sepeda motor, dengan tubuh di balut jas hujan jenis ponco, pria itu menghampiri kami yang sedang duduk di depan pintu museum, ternyata dia bang Fauzi yang kami tunggu tunggu.

 

“Luar Biase, akhirnye bise berjumpe lagi” ucap bang Fauzi dalam logat melayu menyapa saya. “Ape kaba…?” kami berjabat tangan , “Allhamdulillah baek bang….” Jawab saya. Saya dan bang Fauzi sudah lama tidak bertemu. Kami pertama kali bertemu dan saling mengenal  pada sebuah acara fotografi setahun yang lalu di Surabaya. Beliau sosok yang ramah, rendah  hati, apa adanya, serta piawai memotret. Kepiawaian nya dalam bermain kamera sudah terbukti dalam berbagai prestasi, salah satu yang saya sangat ingat sekali adalah, ketika karya nya berjudul “dumped off” terpilih menjadi juara pertama kategori Landscape pada gelaran kontes foto internasional “ Kuwait Grand Photography Contest 2016 ” tahun lalu. Prestasi ini pula yang membawanya melawat ke negeri nan kaya miyak, Kuwait 2016 lalu. Itu pengalaman yang tidak pernah terlupakan dan sangat berkesan katanya. “Tak pernah terbayangkan sebelumnye, saye anak kampong ni bise berdiri sejajar menerime Award bersame fotografer dari berbagai negare waktu itu” kenang nya.  Menang di kancah internasional adalah sebuah pengalaman yang tidak pernah terlupakan dan ia duga-duga sebelumnya, jangankan Ia, kami sesama warga KEPRI pun turut merasa bangga.

 

Dari kiri: Saya, Bang Fauzi dan pak Budi

 

Angin laut berhembus menuju darat, dinding dinding bukit dan gunung itu memantulkannya  kembali menuju lembah, hingga menerpa tubuh kami yang tengah kedinginan. Kami masih menunggu hujan reda di beranda museum, bang Fauzi membakar sebatang Dji Sam Soe  dan mengisapkanya dalam sebelum mulai bercerita. “Mike kurang beruntung datang kali ini, beberape hari ni cuace disini tak bagos…, tak bise dapat foto cantek untuk di bawa balek hehe…” sambil mengepulkan asap dari mulutnya ia berseloroh, ia  mungkin sedang menganggap saya sedang melancong saat itu, mendung dan hujan seperti ini adalah kabar buruk bagi pelancong yang datang dari jauh, pelancong yang datang disaat seperti itu adalah kesia siaan saja, mungkin lebih baik tidur saja dirumah. Namun perjalanan ini sudah saya niatkan dari awal bukan sebagai kegiatan pelancongan. Perjalanan ini adalah cara saya menarik diri dari “kelelahan” saya. saya butuh istirahat, saya butuh ruang bagi jiwa, raga dan fikiran saya untuk mendapatkan kembali hak nya, saya butuh  pengalaman baru yang memperkaya pengalaman dan pemikiran saya yang atas izin yang kuasa mungkin saja saya dapatkan dalam perjalanan ini, Saya butuh bertemu orang orang baru dan belajar hal hal baik dari mereka yang saya temui di perjalanan. Saya ingin berada di tempat yang asing bagi saya,  jika kesusahan yang saya dapati, mudah mudahan itu akan menjadikan saya lebih dekat kepada Tuhan, sedangkan jika kesenangan dan kemudahan yang saya dapatkan, maka itu adalah alasan saya untuk lebih bersyukur pada Nya.

 

Bang fauzi banyak bercerita tentang keindahan negerinya pulau Lingga pada kami. Ia bercerita tentang masyarakat yang bersahaja, tradisi melayu yang selalu terjaga, misteriusnya gunung daek yang bercabang tiga, Suku Laut, pantai serta pulau-pulau indah yang masih belum terjamah di lingga, Sedikit banyak kisah dan ceritanya itu yang menuntun saya ke perjalanan yang entah berantah ini.Obrolan kami semakin jauh berkelana entah kemana, hingga tak terasa hari sudah hampir gelap di Daek, sepertinya kita butuh waktu lebih lama untuk bercerita, di situasi yang lebih baik dari ini, tidak dengan pakaian basah hingga membuat tubuh menggigil seperti ini. Akhirnya bang Fauzi Menitipkan kami untuk menginap di LP, seperti pertama kali saya mendengar isitlah LP ini, and Jangan terkejut dahulu, kami tidak menginap di Lembaga Permasyarakat (LP), tapi di sebuah wisma tua bernama Lingga Pesona, orang disini menyebutnya LP. Sepeda kami kayuh menuju LP.

Update : Wisma Lingga Pesona (LP) sebagain bangunannya telah habis terbakar pada sebuah kebakaran hebat yang melanda perkampungan cina di Kota Daek pada tanggal 28 november 2017). termasuk kamar kami menginap dan bangunan yang terdapat pada foto dibawah

Bersambung….

 

[CATPER] Jelajah Lingga Bersepeda (Bagian 11)

Jauh-jauh hari sebelum menjelajah pulau lingga , saya sempat menghubungi seorang sahabat lama di pulau tersebut. Ia adalah Bang Fauzi, saya mengenal beliau sebagai seorang juru foto dari kabupaten lingga. Lewat aplikasi “chatting” saya ungkapkan niat saya kepada beliau untuk menjelajah pulau lingga dengan sepeda, dan sekaligus saya meminta saran dari beliau tentang rute yang akan dilewati. Jadi, salah satu sumber informasi tentang perjalanan ini saya dapatkan salah satunya dari beliau, dan saya berjanji untuk menjumpai beliau di kota Daek ketika saya sampai disana kelak.

Tak ada tanda tanda sepertinya hari ini akan cerah, sepanjang perjalanan dari pancur hingga ke kota daek hari ini selalu di guyur hujan.  Waktu telah menujukkan pukul 3 petang, kami memutuskan untuk berhenti dan berteduh dari hujan di sebuah halaman “markas bomba” kantor pemadam kebakaran kota Daek.

Hendak apa dan kemana setelah sampai di kota ini, kami pun tidak tahu, satu satunya yang terlintas di benak saya adalah segera menelepon bang Fauzi. Lewat sambungan telepon saya berbicara dengan bang fauzi, celakanya beliau belum bisa menjembut kami lantaran hujan begitu deras saat itu. Bang Fauzi mengarahkan kami untuk datang ke komplek Istana Damnah Kota Daek, beliau sedang disana dan kami janjian untuk berjumpa.

Dalam hujan deras, saya dan pak Budi mengayuh sepeda meluncur di jalanan kota daek yang sepi. beruntung penunjuk arah di dalam kota ini cukup jelas, sebelum menuju komplek Istana Damnah kami sempatkan berkeliling kota meskipun dalam guyuran hujan. kami mengamati dan menikmati suasana kota sembari mengayuh sepeda. Meriam tua di tepi jalan, jejeran bangunan toko-toko tua di Jln, datuk Laksamana, sebuah bangunan bekas penjara, dan rumah-rumah tradisional  melayu yang berupa rumah panggung, banyak di temui disini dan terawat. Sebuah pemandangan yang langka di ata saya.

 

Nostalgia di Linggam Cahaya,

 

Sebuah Gapura di depan kami. Sebuah keterangan menujukkan gapura tersebut sebagai pintu masuk komplek istana Damnah. Komplek Istana Damnah adalah salah satu tujuan wisatawan di kota Daek, di komlpek istana  tersebut terdapat situs Puing istana Damnah itu sendiri, benda-benda peninggalan sejarah dan bukti sejarah lainnya tentang peninggalan kesulatan Lingga di Kota Daek, termasuk keberadaan Museum Linggam cahaya di Kompel terebut.

 

Sepeda kami kayuh memasuki komplek tersebut, jalanan lurus dan lebar, di ujung jalan dari kejauhan tampak bediri gagah gunung daek, ikon kota Lingga. Hujan dan cuara mendung membuat gunung daek tidak tampak begitu jelas, tersamarkan wujudnya oleh kabut. Di kiri jalan berdiri beberapa kantor, semua nya tampak sudah tutup, mungkin karena saat ini telah lewat jam kantor, namun pintu museum masih tampak terbuka, kami berdua memutuskan untuk masuk ke bangunan museum untuk berteduh sembari menunggu bang Fauzi disana.

 

Kami berdua menunggu di halaman depan museum, karena badan telah basah kuyub, kami pun enggan untuk masuk kedalam museum, kami hanya berdiri saja di beranda. Namun bertahan diluar sini membuat kami berdua menggigil kedinginan. Petugas Museum yang baik hati mempersilahkan kami mesuk ke museum, tahu kami adalah pendatang, sang penjaga museum mengantarkan kami berkeliling melongok isi  museum yang berlantai dua itu. Tiada siapapun pengunjung waktu itu selain kami berdua. Saya dan pak budi terkagum kagum melihat koleksi museum, banyak benda benda peninggalan zaman kerajaan masih tersimpan dengan baik disana, seperti perhiasan, senjata, mesin ketik kuno, radio kuno, peralatan makan, dokumen-dokumen lama dan lain lain.

 

Pria muda petugas museum itu mengantarkan kami menaiki lantai dua, di lantai dua museum kala itu cahanyanya remang remang karena sebagian besar jendela di tutup karena hujan. Suasana di lantai dua terasa begitu berdeba, imajinasi saya melayang jauh seperti dalam buku buku sejarah tentang kerajaan lingga. Pria penjaga Museum itu mengoceh bagai tanpa jeda, menjelaskan segala sesuatu tentang museum dan sejarah lingga.

Dinding-dingin di lantai dua dihiasi dengan figura-figura berukuran besar,  terpasang berjejer di tiap sisi dinding musem, figura figura tersebut memuat foto foto dan lukisan wajah tokoh tokoh kerajaan pada zaman dahulu, saya menatap lama lama wajah tiap foto dan lukisan tersebut, suasana ruangan seketika menjadi dingin ketika petugas museum memutarkan sebuah lagu dengan menggunakan gramophone, entah sebab apa bulu kuduk saya berdiri dan saya seketika merinding.

Bersambung….